"Di dunia para penguasa, segalanya bisa dibeli—termasuk keturunan. Namun, apa jadinya jika rahim yang disewa justru membawa cinta yang tak terduga?"
Adrian Ardilwilaga adalah definisi sempurna dari kekuasaan dan kekayaan. Sebagai CEO Miliarder dari Ardilwilaga Group, ia memiliki segalanya, kecuali satu hal yang sangat dituntut oleh dinasti keluarganya: seorang pewaris. Pernikahannya dengan Maya Zieliński, wanita sosialita kelas atas yang anggun namun menyimpan rahasia kelam tentang kesehatannya, berada di ambang kehancuran karena tekanan sang mertua yang otoriter.
Demi menjaga status dan cinta Adrian, Maya merancang sebuah rencana nekat—sebuah kontrak rahim ilegal. Pilihan jatuh kepada Sasha Vukoja, seorang mahasiswi seni berbakat asal Polandia yang sedang terdesak kesulitan ekonomi. Sasha setuju untuk menjadi ibu pengganti, tanpa pernah menyangka bahwa ia akan jatuh hati pada sang pemberi kontrak.
Ketegangan memuncak saat Arthur, sang pangeran mahkota, lahir.Bagaimana kelanjutannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permainan Api di Lantai Eksekutif
Hujan badai yang mengguyur Jakarta malam itu seolah menjadi latar musik bagi ketegangan yang kian memuncak di Suite Kepresidenan Hotel Ritz-Carlton. Di dalam ruangan bernuansa emas dan beludru gelap itu, Adrian duduk di sofa kulit dengan dasi yang sudah terlepas. Di depannya, Valerie berdiri membelakangi jendela besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu kota yang buram oleh tempias air.
Valerie mengenakan gaun sutra hitam dengan potongan punggung terbuka yang mengekspos lekuk tubuhnya yang semampai dan kulitnya yang sehalus porselen. Ia melangkah mendekat, membawa segelas wiski kristal yang denting es batunya terdengar seperti lonceng kematian bagi kesetiaan Adrian.
"Kamu terlihat seperti pria yang sedang memikul beban seluruh dunia di bahumu, Adrian," bisik Valerie, suaranya rendah dan serak, sebuah nada yang sengaja ia latih untuk menjerat mangsanya. Ia meletakkan gelas itu di meja, lalu jemarinya yang lentik dengan kuku dicat merah darah mulai memijat perlahan otot trapezius Adrian yang kaku.
Adrian memejamkan mata. Sentuhan Valerie berbeda dengan Maya yang selalu terasa menuntut, atau Sasha yang selalu terasa penuh doa. Sentuhan Valerie adalah api murni—berbahaya, egois, dan memabukkan. "Duniaku memang sedang berantakan, Valerie. Dan anehnya, hanya di sini aku tidak merasa harus menjadi seorang Ardilwilaga."
"Maka berhentilah menjadi dia malam ini," Valerie berbisik di dekat telinga Adrian, aroma parfum black opium-nya menyerang indra penciuman Adrian. "Jadilah pria biasa yang menginginkan sesuatu yang nyata."
Namun, di saat Adrian mulai kehilangan pertahanan diri, pintu suite itu terbuka dengan bantingan yang keras. Maya berdiri di sana. Ia tidak terlihat seperti ibu rumah tangga yang sedang menangis; ia berdiri dengan keanggunan seorang ratu yang baru saja memergoki pengkhianatan di dalam istananya. Matanya yang tajam langsung menusuk sosok Valerie.
"Keluar," perintah Maya. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas yang bisa membekukan darah siapa pun yang mendengarnya.
Valerie tidak langsung pergi. Ia justru berbalik perlahan, memberikan senyum tipis yang penuh ejekan. Ia merapikan gaunnya di depan Maya, seolah sedang memamerkan kemudaan yang tidak lagi dimiliki oleh istri sah di depannya. "Nyonya Ardilwilaga, saya kira Anda sedang sibuk menjaga bayi di rumah."
"Aku tidak akan mengatakannya dua kali, jalang kecil," Maya melangkah maju, langkahnya mantap meskipun hatinya sedang hancur. "Kamu mungkin berpikir Reza Mahardika akan melindungimu setelah kamu berhasil menjerat suamiku. Tapi kamu lupa, aku sudah menghancurkan pria seperti Reza jauh sebelum kamu tahu cara memakai lipstik."
Adrian berdiri, wajahnya memerah karena malu sekaligus amarah. "May, apa yang kamu lakukan di sini? Ini urusan bisnis!"
"Bisnis?" Maya tertawa getir, matanya kini beralih ke Adrian. "Bisnis jenis apa yang mengharuskanmu berada di kamar hotel dengan wanita yang dikirim oleh musuh terbesarmu? Kamu bodoh, Adrian! Dia adalah umpan dari Reza! Dia dikirim untuk membuatmu kehilangan akal sehat sementara Reza sedang melahap saham-sahammu di bursa!"
Valerie tertawa kecil, ia mengambil tas tangannya dengan tenang. "Wah, detektif yang hebat. Tapi Adrian, tanyakan pada dirimu sendiri... apakah kamu lebih suka berada di dekat 'umpan' yang menyenangkan ini, atau di dekat istri yang hidupnya penuh dengan tumpukan kebohongan?"
Setelah Valerie keluar dengan langkah yang meliuk menggoda, keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan itu. Adrian menatap Maya dengan tatapan yang dipenuhi kebencian.
"Kebohongan, May?" tanya Adrian dengan suara parau. "Bukankah itu keahlianmu? Kamu marah karena ada wanita lain yang mendekatiku, atau kamu marah karena kontrolmu atas diriku mulai lepas?"
"Aku melakukan ini untuk menyelamatkanmu, Adrian! Untuk menyelamatkan Arthur!"
"Jangan bawa-bawa nama anak itu!" bentak Adrian, ia memukul meja dengan keras hingga gelas kristal itu terguling. "Setiap kali kamu menyebut namanya, aku hanya ingat betapa mengerikannya kamu memanipulasi hidupku. Dan sekarang, musuhmu di masa lalu datang untuk menagih hutang, dan kamu menyalahkanku?"
Maya terdiam, tubuhnya sedikit gemetar. Ia menyadari bahwa permainannya dengan Reza telah menyeret Adrian ke dalam jurang yang lebih dalam. Reza berhasil. Reza tidak hanya menyerang perusahaannya, tapi telah berhasil menghancurkan sisa-sisa kepercayaan di antara mereka. Di luar sana, Reza Mahardika sedang memperhatikan dari kejauhan, memutar gelas wiskinya, menunggu saat yang tepat untuk melepaskan serangan berikutnya yang akan membawa drama ini ke titik yang tidak bisa diperbaiki lagi.