Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Putri Tiba Tiba Muncul
Malam masih pekat, hanya diterangi sedikit cahaya lampu dari rumah-rumah di pinggir jalan. Aroel dan Rahman bergerak hati-hati di gang sempit, suara dedaunan bergesekan di bawah angin terdengar lebih keras dari yang seharusnya.
“Apakah kau yakin jalur ini aman?” bisik Rahman, matanya tajam menelusuri bayangan.
Aroel menunduk, menatap sekeliling. “Sejauh ini, belum ada yang mengikutiku dari belakang. Tapi jangan lengah.” Mereka melangkah pelan, memanfaatkan kegelapan. Tiba-tiba, dari ujung gang, terlihat sosok Putri. Ia berdiri diam, menatap Aroel dengan sorot mata penuh curiga. Tubuhnya tegang, namun ia mencoba menyembunyikan gerakan agar tidak terlihat oleh siapa pun di sekitarnya.
Aroel berhenti, jantungnya berdebar. “Putri?” suaranya rendah tapi jelas.
Putri tidak langsung menjawab. Ia menelan ludah, menatap Aroel. “Kenapa kau di sini?” suaranya datar, tapi nada tajamnya menyiratkan rasa curiga dan marah.
Rahman menyadari kehadirannya, tetap diam di belakang Aroel, matanya menilai situasi, siap menindak jika ada ancaman.Aroel mengangkat tangan perlahan, isyarat agar Putri tetap tenang. “Aku… aku ingin memastikan kau aman. Tidak ada yang membahayakanmu sekarang,” katanya.
Putri menatap lama, hatinya campur aduk. “Aman? Kau? Aku… tidak tahu harus percaya atau tidak.” Suaranya bergetar sedikit, meski ia berusaha tegar. “Kau… dulu, aku yang menyelamatkanmu, dan sekarang kau muncul lagi di sini… kenapa aku harus percaya padamu?”
Aroel menatap mata Putri, wajahnya serius. “Karena aku tidak ingin ada yang terjadi padamu. Tidak sekarang, tidak nanti. Percayalah… aku hanya ingin kau tetap aman.”
Putri menggeleng, menundukkan kepala sebentar. “Aku tidak bisa percaya begitu saja. Kau… selalu muncul dengan aura misterius. Aku tidak tahu siapa sebenarnya kau.”
Aroel menghela napas, menunduk sebentar. “Aku paham. Tapi kau harus tetap di sini malam ini. Ada orang yang mencariku… dan aku tidak ingin kau ikut terseret.”
Putri menatapnya tajam. “Aku bisa menjaga diri sendiri. Tapi kau… kau selalu membuat orang lain berpikir kau bos penjahat. Apakah itu benar?”
Aroel menahan napas, memilih kata-kata dengan hati-hati. “Tidak ada yang mudah dijelaskan sekarang. Aku tidak ingin kau takut, tapi kau harus tetap waspada.” Rahman menyela, suaranya rendah tapi tegas: “Dia benar. Jangan terlalu jauh dari jalur aman, dan jangan tunjukkan identitasmu pada orang lain.”Putri menatap Rahman sebentar, lalu kembali ke Aroel. “Jadi… aku harus percaya pada kalian berdua?”
Aroel tersenyum tipis, menatapnya. “Percayalah pada instingmu. Tapi malam ini, tetap dekat denganku. Aku akan melindungimu.”
Putri menelan ludah, masih ragu tapi menahan diri. Ia tahu, meski hatinya penuh prasangka, ada hal yang membuatnya menahan diri Aroel tetap menahan diri, tidak mengintimidasi, dan selalu menjaga keselamatannya.
Angin malam mengalir, dedaunan bergesekan, dan suara jauh langkah kaki terdengar samar. Ketegangan tetap terasa, namun malam itu mereka berdiri berdekatan, saling menatap, antara prasangka, ketegangan, dan rasa penasaran. Rahman tetap waspada di belakang, sementara Putri mulai menyadari satu hal sosok yang dulu ia selamatkan kini lebih kompleks, lebih misterius, dan jauh dari sekadar pria yang pernah ia kenal.
Sejak kepergian Aroel di dari saung langit,Putri beberapa kali di datangi orang tak di kenal bahkan Ia mengalami ancaman yang sewaktu-waktu merenggut nyawanya.Situasi ini sudah di Fahami oleh Aroel dan Rahman,Kejadian Penembakan terhadap mereka di Pasar Bukan Unsur ketidak sengajaan,melainkan skenario yang telah di bentuk.
Bersambung.....