NovelToon NovelToon
NALA

NALA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dunia Masa Depan / Penyelamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Saqila nur sasih

Sepuluh tahun lalu, hujan merenggut segalanya dari seorang gadis lima belas tahun. Tanah longsor menelan kedua orang tuanya tanpa jejak, memaksanya tumbuh sebelum waktunya. Sejak hari itu, Nala belajar satu hal: hidup bukan tentang memilih, tapi tentang bertahan.

Bersama adiknya, Niskala, ia pindah ke ibu kota dengan harapan masa depan yang lebih baik. Namun kenyataan jauh lebih kejam. Pendidikan dirampas, masa kecil dipaksa hilang, dan mereka harus berdiri di lampu merah menjual tisu demi bertahan hidup. Hingga suatu malam, dengan uang receh yang dikumpulkan diam-diam selama bertahun-tahun, Nala memilih kabur—membawa satu-satunya hal yang tak boleh hancur: mimpi adiknya.

Di kota yang tak pernah benar-benar peduli, Nala bekerja tanpa henti. Pagi sebagai kasir, siang di minimarket, malam menjadi barista, bahkan memasak mi di warnet sempit yang pengap. Tubuhnya lelah, perutnya sering kosong, tapi satu hal tak pernah goyah: Niskala harus tetap sekolah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saqila nur sasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua peran

“Aku tak pernah menutut apapun sejak kecil, akan aku usahakan sendiri apa yang aku mau. Tapi tolong sedikit kerja samanya”

***

 Mall itu ternyata jauh lebih besar dari yang Nala bayangkan. Setelah naik eskalator ke lantai tiga, ia sempat berdiri diam beberapa detik, memandangi lorong panjang yang bercabang ke kiri dan kanan. Papan petunjuk tergantung di langit-langit, namun tetap saja membuatnya sedikit bingung.

Restoran yang ia pilih tadi terlihat dekat di peta.

Nyatanya, ia harus melewati deretan toko pakaian, area permainan anak, dan satu lorong yang ternyata buntu.

Nala menghela napas pelan, menahan tawa kecil pada dirinya sendiri.

Ia berjalan kembali, lalu menghampiri seorang petugas keamanan yang berdiri tak jauh dari lift.

“Maaf, Pak… untuk restoran ini arahnya ke mana ya?” tanyanya sopan sambil menunjukkan layar ponselnya.

Petugas itu menjelaskan dengan ramah, menunjuk ke arah lorong sebelah kanan lalu menyarankan belok setelah toko sepatu besar di ujung.

“Terima kasih, Pak,” ucap Nala tulus.

Ia melangkah lagi, kali ini lebih yakin. Namun tetap saja, ukuran mall yang luas dan keramaian orang membuat kepalanya sedikit pening. Musik dari beberapa toko bercampur dengan suara orang berbincang dan langkah kaki yang hilir mudik.

Beberapa menit kemudian—

Dari kejauhan, ia melihat sosok yang sangat ia kenal.

Kala berdiri di dekat eskalator, mengenakan ransel kuliahnya, wajahnya tampak sibuk melihat ponsel sambil sesekali menoleh ke sekitar.

Nala langsung tersenyum lebar.

Ia melambaikan tangan kecil. “Kala!”

Kala menoleh.

Mata mereka bertemu.

Ekspresi Kala berubah—dari bingung menjadi lega, lalu tersenyum lebar. Ia berjalan cepat menghampiri kakaknya.

“mbak, mall-nya gede banget,” keluhnya setengah tertawa.

“Iya, aku juga sempat nyasar,” jawab Nala jujur, masih terengah ringan karena tadi berputar-putar.

Mereka berdiri berhadapan beberapa detik, saling melihat dengan perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Tidak ada kemewahan di antara mereka—hanya dua saudara yang akhirnya bisa menepati janji sederhana.

Rasa pusing karena lorong yang berputar-putar itu seketika hilang. Karena pada akhirnya, ia berhasil menemukan tujuannya. Dan tujuannya bukan hanya restoran itu— melainkan adiknya yang kini berdiri tepat di depannya, tersenyum lebar.

Kala ikut tertawa, suaranya ringan dan lepas—tawa yang jarang terdengar akhir-akhir ini sejak kehidupan mereka berubah. Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri di tengah keramaian mall dengan senyum yang sama, seolah dunia di sekitar mengecil dan menyisakan ruang kecil hanya untuk mereka berdua.

Bagi orang lain, mungkin ini biasa saja.

Bertemu di mall. Makan bersama. Tertawa sebentar.

Namun bagi Nala dan Kala, momen ini terasa jauh lebih besar dari itu.

Dulu, mereka harus menghitung uang bahkan hanya untuk membeli minum di luar. Dulu, berjalan di mall hanya sebatas melihat-lihat, lalu pulang dengan perasaan menahan. Kini mereka berdiri di sini tanpa perlu berpura-pura tidak menginginkan sesuatu.

“Kita makan sekarang?” tanya Nala lembut.

Kala mengangguk cepat. “Iya, mbak.”

Nala mengajak adiknya masuk ke restoran yang tadi ia kirimkan titiknya. Aroma makanan hangat langsung menyambut mereka, membuat perut terasa semakin lapar. Interiornya nyaman—lampu kuning temaram, meja kayu rapi, dan suara percakapan yang tidak terlalu bising.

Mereka duduk berhadapan.

Kala membuka buku menu, matanya berbinar melihat banyak pilihan. Namun di balik sorot mata itu, ada sesuatu yang tertahan. Pertanyaan-pertanyaan yang sejak beberapa minggu ini terus berputar di kepalanya.

Tentang ponsel baru yang terlalu mahal.

Tentang rumah baru yang tiba-tiba lebih layak.

Tentang pakaian kakaknya yang perlahan berubah.

Tentang malam-malam ketika Nala pulang terlalu larut dengan wajah lelah yang disembunyikan.

Ia ingin bertanya.

Sangat ingin.

Tapi melihat Nala tersenyum tulus di depannya sekarang—tanpa beban, tanpa tegang seperti biasanya—Kala menahan diri.

Hari ini terlalu hangat untuk dirusak oleh kecurigaan.

Ia menutup menu pelan.

“mbak, aku pesan ini ya,” ucapnya ringan, pura-pura fokus pada makanan.

Nala mengangguk sambil tersenyum bangga. “Pesan aja yang kamu mau. Jangan lihat harga.”

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi Kala, itu terdengar seperti sesuatu yang dulu mustahil mereka ucapkan. Ia kembali tersenyum, meski di dalam hatinya masih ada ruang kecil yang penuh tanda tanya. Tapi untuk sore ini—Ia memilih menjadi adik yang hanya ingin menikmati kebahagiaan sederhana bersama kakaknya. Dan untuk sementara, itu sudah lebih dari cukup.

***

Nala dan Kala tenggelam dalam obrolan ringan di meja mereka. Suara sendok beradu pelan dengan piring, aroma makanan hangat memenuhi ruang di antara tawa kecil yang sesekali pecah. Kala bercerita tentang dosen yang menyebalkan, tentang tugas yang menumpuk, sementara Nala mendengarkan dengan mata berbinar—benar-benar hadir sebagai seorang kakak, bukan sebagai seseorang yang sedang memainkan peran.

Ia tertawa lepas saat Kala salah mengucap nama mata kuliah.

Sederhana.

Nyaman.

Tanpa tekanan.

Namun di sisi lain lantai yang sama, sedikit tersembunyi dari sudut pandang mereka—

Seseorang mengawasi.

Di dekat pagar pembatas lantai tiga, berdiri Erlic Drilss dengan setelan formalnya yang rapi. Jas mahal itu masih melekat sempurna di tubuhnya, rambutnya tetap tersisir presisi, aura dingin dan terkontrol tak pernah benar-benar hilang.

Di sampingnya berdiri sang asisten, menjaga jarak hormat.

Tatapan Erlic terarah lurus ke satu titik.

Ke arah Nala.

Bukan Arsha.

Bukan perempuan anggun dengan sikap terlatih yang berdiri di pesta pertunangan. Melainkan Nala—yang duduk santai, tertawa tanpa beban, menyuapkan makanan sambil sesekali menggoda adiknya.

Sorot mata Erlic berubah tipis.

Tertarik.

Bukan dalam arti ringan—melainkan seperti seseorang yang baru menemukan fakta tak terduga dari teka-teki yang sedang ia susun.

“Pras” ucapnya pelan tanpa mengalihkan pandangan.

“Ya, Tuan.”

“Jangan lakukan apa pun dulu.”

Suaranya datar, tenang, namun penuh perhitungan. Ia adalah pria yang beberapa jam lalu melihat Nala dari balik mobil di lampu merah. Pria yang memperhatikan helm yang terangkat sedikit oleh angin. Pria yang mengenali wajah itu… dan kini memastikan dugaannya sendiri.

Namun ia memilih untuk tidak menunjukkan apa pun.

Tidak menyapa.

Tidak mendekat.

Tidak memberi tanda bahwa ia tahu.

Wajahnya tetap dingin seperti biasa—seolah semua ini kebetulan yang tak berarti. Padahal dalam benaknya, potongan-potongan mulai tersusun rapi. Ia kini menjadi orang pertama yang melihat dua sisi perempuan itu dalam waktu berdekatan.

Arsha yang sempurna.

Dan Nala yang nyata.

Di meja restoran, Nala kembali tertawa, sama sekali tak menyadari bahwa dari kejauhan sepasang mata tajam mengamatinya dengan minat yang semakin dalam.

Erlic akhirnya mengalihkan pandangan.

“Sudah cukup,” katanya pelan.

Ia berbalik pergi, langkahnya tenang, seolah tak ada yang terjadi.

Seolah ia memang tidak tahu apa-apa.

Dan seolah semuanya… baik-baik saja.

***

 Setelah perut mereka kenyang dan hati terasa lebih ringan, Nala menarik tangan Kala menuju area permainan di lantai yang sama. Lampu warna-warni berkedip cerah, suara mesin permainan berbunyi bersahutan, dan tawa anak-anak memenuhi udara.

“Kita coba yang itu!” tunjuk Nala ke mesin basket.

Kala terkekeh. “mbak, malu tau… itu buat anak SMA.”

“Memangnya kenapa?” Nala sudah lebih dulu memasukkan kartu permainan.

Beberapa menit kemudian, keduanya tertawa tanpa jaim. Bola meleset, waktu hampir habis, dan skor mereka tidak terlalu bagus—tapi tak satu pun peduli. Nala bahkan pura-pura protes ketika Kala mencetak angka lebih banyak.

“Curang kamu!”

“ mbak aja yang nggak fokus,” balas Kala sambil tertawa lepas.

Mereka mencoba mesin capit boneka—gagal. Mencoba balap mobil virtual—Nala kalah telak. Tawa mereka pecah berkali-kali, begitu tulus dan ringan.

Di momen itu, mereka benar-benar hanya kakak dan adik. Bukan dua orang yang sedang menyembunyikan rahasia. Bukan dua orang yang dibayangi masa lalu. Hanya dua saudara yang sedang menikmati sore.

Setelah puas bermain, Nala mengajak Kala menuju deretan toko pakaian. Etalase penuh manekin dengan outfit terbaru terpajang rapi di balik kaca.

“Kita lihat-lihat ya,” ucap Nala santai.

Kala menurut, tapi langkahnya melambat ketika melihat label harga di beberapa pakaian. Tangannya sempat menyentuh satu jaket yang terlihat bagus—model simpel, warna netral yang cocok untuk kuliah.

Namun saat ia membalik labelnya, ia langsung menggeleng pelan.

“Mahal, mbak. Nggak usah.”

Nala memperhatikannya.

“Kamu suka kan?”

Kala tersenyum kecil. “Suka sih… tapi ya nggak perlu. Aku masih punya jaket.”

Nala mengambil jaket itu dan menggantungkannya di lengannya. “Sekarang nggak perlu mikir kayak dulu.”

Kala menatap kakaknya ragu. “Tapi mbak…”

Nala tersenyum lembut, meyakinkan. “Keuangan mbak stabil sekarang. Kamu nggak perlu khawatir. Ini bukan buat gaya-gayaan. Ini buat kamu nyaman.”

Ada ketegasan tipis di balik nada lembut itu. Kala masih ingin menolak, tapi melihat kesungguhan di mata Nala, ia akhirnya diam. Ia tahu kakaknya tidak mudah membujuk kalau tidak benar-benar yakin.

Beberapa potong pakaian akhirnya masuk ke kantong belanja.

Kala tetap beberapa kali berkata, “Udah cukup, mbak. Serius.”

Dan setiap kali itu juga Nala menjawab dengan senyum sabar, “Iya, cukup. Kita nggak berlebihan.”

Namun di balik semua itu, ada perasaan hangat yang mengisi dada Nala.

Ia tidak membeli kemewahan.

Ia membeli kesempatan.

Kesempatan untuk memberi adiknya hal-hal yang dulu hanya bisa mereka lihat dari luar etalase. Dan sore itu, di tengah kantong belanja dan tawa yang tersisa, mereka berjalan berdampingan—seperti biasa. Hanya saja kali ini, langkah mereka terasa sedikit lebih ringan.

Di dalam toko pakaian itu, Nala mendorong Kala dengan lembut ke arah ruang ganti.

“Coba dulu. Jangan cuma dilihat,” katanya setengah memaksa.

Kala menghela napas, tapi tetap menurut. Ia membawa beberapa potong pakaian yang tadi dipilih—jaket netral, kemeja kasual, dan satu sweater yang sebenarnya paling ia suka namun sempat ia tolak.

Tirai ruang ganti tertutup.

Nala berdiri di luar, menunggu sambil memegang beberapa gantungan lain. Ia sesekali melihat ke sekeliling toko—ramai, tapi tidak terlalu padat. Musik lembut mengalun dari speaker, aroma parfum ruangan tipis terasa.

“Gimana?” tanya Nala ketika Kala keluar dengan jaket pertama.

Kala terlihat canggung. “Kebesaran nggak?”

“Enggak. Pas,” jawab Nala cepat, tersenyum bangga melihat adiknya tampak lebih percaya diri.

Kala kembali masuk untuk mencoba yang lain. Dan saat itulah— Sebuah suara perempuan terdengar dari belakangnya.

“Arsha?”

Jantung Nala seketika seperti berhenti.

Tubuhnya menegang perlahan sebelum ia berbalik.

Di sana berdiri Kaluna, mengenakan dress anggun dengan tas mahal menggantung di lengannya. Rambutnya tertata rapi, wajahnya tampak terkejut sekaligus senang.

“Aku nggak salah lihat kan? Kamu Arsha, kan?”

Panik.

Kata itu bahkan tidak cukup menggambarkan apa yang Nala rasakan. Kepalanya mendadak kosong. Napasnya tercekat. Ia lupa satu hal penting— Mall seperti ini bukan tempat asing bagi kalangan seperti Baskara dan rekan-rekannya.

Tentu saja kemungkinan bertemu orang yang mengenal Arsha sangat besar. Tangannya yang tadi memegang gantungan terasa dingin. Namun dalam sepersekian detik, ia memaksa dirinya tersenyum.

Senyum khas Arsha.

Anggun. Terukur. Tidak terlalu lebar.

“Kaluna,” ucapnya pelan, berusaha menjaga intonasi.

Di dalam ruang ganti, Kala sedang mengganti pakaian—tidak tahu apa yang baru saja terjadi di luar. Kaluna melangkah mendekat, menatap Nala dari atas ke bawah dengan rasa penasaran tipis.

“Kamu sendirian? Aku kira kamu lagi sibuk banget setelah pengumuman pertunangan itu,” katanya ringan.

Degup jantung Nala semakin keras.

Ia baru sadar betapa cerobohnya dirinya—datang ke mall besar tanpa memikirkan risiko bertemu orang-orang dari dunia Arsha.

Dan yang lebih berbahaya— Kala bisa keluar kapan saja dari ruang ganti itu. Jika Kaluna mendengar namanya dipanggil “Mbak Nala”…

Semuanya bisa runtuh. Nala menelan ludah pelan, berusaha tetap tenang meski dalam hati ia benar-benar panik mampus. Satu kesalahan kecil saja— Dan seluruh peran yang ia bangun bisa hancur di tempat ini.

1
wasiah miska nartim
lanjut thooooooooooor
Qilass
jangan lupa, like, komen, vote dan juga subscribe ya biar aku semakin semangat buat nulis. Selamat menikmati kisah Nala
Qilass
di tunggu ya, akan ada up 3 episode sekaligus setiap harinya
Qilass
halo pembaca setia Nala 👋👋, cerita ini akan up setiap hari 3 episode ya jadi tungguin aja kelanjutannya terimakasih 🙏
falea sezi
males deh cwek oon gini jd lacur aja dripada nurutin bapakmu
falea sezi
jangan mau mending kala putus kuliah kalian pergi jauh oon bgt lemah
Qilass: haha dapet banget emosinya kak
total 1 replies
falea sezi
adek g tau diri usir aja lah
wasiah miska nartim
lanjut thoooooooor
wasiah miska nartim
mentalnya nala itu mental baja,semangat thoooooor up nya😁😁
Qilass: Nala memang harus mental Baja, karena dia ngandelin diri sendiri
total 1 replies
anymous
kasiaan banget nala
Sopo Jarwo
sukaaa banget thorr lanjut
Anonymous
nalaaa yang kuat ya
wasiah miska nartim
ko banyak bawang nya thor
Qilass: jujurly aku sebagai author aja gak tega. tapi Nala kuat kok tenang aja
total 1 replies
Sopo Jarwo
okee banget aku penasaran sama si erlic cuuy di misterius banget
anymous
suka banget sama ceritanya. nala sosok Kaka yang tegar, semua ia lakukan demi sang adik. di sisi lain dia juga ketempu sama ayah kandungnya tapi bukannya menanyakan kabar malah memanfaatkannya
Qilass: huhu iya kasian banget ya dia, ikutin ceritanya terus ya. bakal ada plot yang seru kedepannya
total 1 replies
anymous
baskara pilih kasih banget iih
Anonymous
baguss banget Nala ini tipe anak perempuan pertama yang gak mau nyusahin orang
Anonymous
gass up crazy thor
Qilass
semangat dong, tungguin terus up cerita selanjutnya ya. bakal crazy up aku
wasiah miska nartim
semangat up nya thor,ceritanyaaaaaaaaa wooooow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!