NovelToon NovelToon
Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Lahirnya Kultivator Naga Keabadian

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Ahli Bela Diri Kuno / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.

"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"

[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Pertarungan Pertama dengan Dao Es

Udara di koridor Sekte Qingyun terasa lebih berat daripada biasanya. Setiap kali Ji Zhen melangkah, suara gesekan alas kakinya dengan lantai batu seakan memicu keheningan yang dipaksakan. Murid-murid yang tadinya berkelompok langsung membubarkan diri, lagi-lagi menyisakan tatapan tajam yang menusuk punggungnya. Gosip telah berubah menjadi racun yang merayap di setiap sudut. Ada yang menyebutnya pemuja iblis, ada yang bersumpah melihat matanya berubah menjadi kirmizi atau merah tua saat di Gunung Bingfeng. Mereka tidak takut pada kekuatannya, mereka tidak nyaman pada ketidakpastian yang ia bawa.

Ji Zhen sendiri tidak membalas satu pun tatapan itu. Ia justru melangkah menuju papan pengumuman besar di pusat area murid luar. Dengan tenang ia menempelkan secarik kertas yang telah ia siapkan.

“Aku, Ji Zhen, menantang Tang Wei untuk duel terbuka di Lapangan Latihan Luar. Tiga hari dari sekarang. Jika kau punya nyali untuk menyabotase ujian orang, seharusnya kau punya nyali untuk berdiri di arena.”

Keriuhan pecah seketika. Tang Wei, yang saat itu sedang berada di kantin sekte, tertawa terpingkal-pingkal saat mendengar berita tersebut. Sebagai murid di Penghimpunan Qi Lapis Tiga, ia merasa tantangan ini adalah lelucon terbaik tahun ini. Namun, saat namanya terus diteriakkan oleh massa dan harga dirinya mulai dipertaruhkan di depan umum, ia tidak punya pilihan. Dengan rahang mengeras, Tang Wei muncul dan menandatangani tantangan itu. “Aku akan memastikan kau merangkak pulang ke ibumu, Sampah!”

Dua hari berikutnya adalah neraka pribadi bagi Ji Zhen. Ia mengunci diri di hutan belakang sekte, tempat di mana hawa malam cukup tajam untuk membantu meditasinya. Zulong tidak membiarkannya istirahat sedetik pun.

“Fokus, Bocah! Serigala Es Bayangan bukan tentang menciptakan gumpalan es yang keras!” suara Zulong menggelegar di dalam batok kepalanya. “Ini tentang memanipulasi udara dingin di sekitarmu agar mata lawan melihat apa yang ingin kau perlihatkan. Satu detik saja terlambat, kau mati. Satu detik terlalu cepat, lawan akan tahu itu hanya udara kosong.”

Ji Zhen mencoba lagi. Ia memaksakan qi naga mengalir ke ujung jari-jarinya. Jalur energinya menjerit, rasanya seperti ditarik paksa oleh kawat berduri. Setiap kali ia gagal membentuk bayangan itu, sisa energi es menghantam balik ke dalam tubuhnya. Cairan merah kental merembes dari hidungnya, menetes ke atas tanah yang membeku.

“Lagi!” teriak Ji Zhen pada dirinya sendiri. Ia tidak peduli jika nafasnya mulai terasa berat. Ia memikirkan pilar penguji yang diledakkan, memikirkan wajah Ma Yingjie. Ia memeras setiap tetes qi di pusat energinya hingga sebuah siluet buram berbentuk serigala muncul dari uap beku di sampingnya. Hanya bertahan dua detik sebelum pecah, namun itu cukup untuk memberi Ji Zhen secercah harapan.

Hari duel pun tiba. Lapangan Latihan Luar dipenuhi ratusan manusia. Mereka berdiri berhimpitan, menciptakan pagar manusia yang menyesakkan. Di tribun atas, Ma Yingjie duduk dengan tenang, jari-jarinya mengetuk sandaran kursi kayu, matanya mengunci sosok Ji Zhen yang baru saja masuk ke arena. Di sudut lain, Yang Huiqing berdiri diam, wajahnya menunjukkan campuran antara tidak percaya dan sesuatu yang sulit diartikan.

Tang Wei masuk dengan langkah pongah, diiringi sorakan para pengikutnya. Ia menghunus pedangnya, memamerkan kilau logam yang tajam. “Siap untuk cacat permanen, Ji Zhen?”

“Banyak bicara tidak akan menaikkan level kultivasimu, Tang Wei,” balas Ji Zhen datar.

“Mulai!” teriak wasit.

Tang Wei menerjang secepat kilat. Teknik pedang Sekte Qingyun yang ia kuasai mengalir dengan presisi. Sring! Ujung pedang itu menyayat lengan baju Ji Zhen dalam serangan pertama. Ji Zhen menghindar ke samping, namun Tang Wei jauh lebih cepat secara fisik. Sebuah tendangan mendarat telak di perut Ji Zhen, membuatnya terlempar ke tepi arena.

“Lihat, kan?! Benar-benar sampah!” ejek penonton. “Dia bahkan tidak bisa menangkis satu serangan!”

Ji Zhen bangkit, memuntahkan darah yang menyumbat mulutnya. Matanya tetap dingin, mengamati setiap gerak-gerik lawan. Sementara Tang Wei kembali menyerang, kali ini dengan rangkaian tebasan melingkar yang mengurung ruang gerak Ji Zhen. Setiap kali Ji Zhen menangkis dengan telapak tangan yang dilapisi es, benturan itu mengirim getaran yang merusak meridian di lengannya.

Tang Wei merasa kemenangan sudah di tangan. Ia mengumpulkan seluruh qi-nya untuk satu serangan penyelesaian. “Mati kau!” Ia melompat, pedangnya memancarkan cahaya putih yang menyilaukan saat ia menebas lurus ke arah kepala Ji Zhen.

Inilah saatnya.

Tang Wei terlalu yakin serangan ini akan berakhir dengan kemenangan, hingga ia mengabaikan pertahanan di sisi kirinya. Di detik yang sangat sempit itu, Ji Zhen mengaktifkan Serigala Es Bayangan.

Uap dingin mendadak memadat di belakang Tang Wei, membentuk siluet serigala yang seakan siap menerkam. Secara insting, Tang Wei merasakan hawa membunuh dari arah belakang. Ia memutar pedangnya di tengah udara untuk menangkis ancaman baru itu, hanya untuk menyadari bahwa pedangnya menembus udara kosong.

“Apa—?!”

Tang Wei kehilangan momentum. Dalam detik keraguan yang fatal itu, Ji Zhen sudah berada di bawah jangkauan pedangnya. Tangan Ji Zhen yang tertutup lapisan es kristal menghantam lutut Tang Wei dengan kekuatan penuh. Bukan pukulan berat, melainkan penyaluran hawa dingin yang mendadak.

Es menjalar begitu cepat, membekukan sendi kaki Tang Wei dalam sekejap. Setelah hilangnya keseimbangan, Tang Wei terpeleset dan terlempar keluar dari batas arena dengan cara yang sangat memalukan.

Lapangan itu mendadak sunyi. Sorak-sorai terhenti seolah diputus oleh pisau. Tang Wei merangkak bangun, wajahnya merah padam. “CURANG! Dia pakai sihir kotor! Dia pakai ilusi!” teriaknya histeris.

Wasit, seorang tetua dengan jenggot abu-abu, melangkah ke tengah arena. Ia memeriksa sisa-sisa hawa dingin di kaki Tang Wei lalu menatap Ji Zhen yang berdiri terengah-engah dengan tubuh bersimbah darah. “Tidak ada aturan yang melarang penggunaan teknik ilusi atau elemen dalam duel murid luar. Pemenangnya… Ji Zhen.”

Kegaduhan seketika meledak, namun kali ini ada nada ketakutan di dalamnya. Ma Yingjie di tribun berdiri, matanya tidak lagi menunjukkan ejekan. Ia menatap Ji Zhen seolah sedang melihat predator baru yang masuk ke wilayahnya. Sementara itu, Yang Huiqing tampak tertegun, tangannya menutupi mulutnya, mungkin menyadari bahwa pria yang ia campakkan bukan lagi orang yang sama.

Di sana, Ji Zhen tidak menoleh pada siapa pun. Ia berjalan keluar arena dengan langkah yang dipaksakan tetap tegak. Begitu sampai di jalur sepi menuju kamarnya, pandangannya mulai kabur.

“Kau mulai mengerti, Bocah,” bisik Zulong. “Kemenangan bukan milik mereka yang punya qi paling banyak, tapi milik mereka yang tahu kapan harus menusuk.”

Ji Zhen tidak sempat membalas. Tubuhnya ambruk. Rasa sakit dari meridian yang dipaksa bekerja melampaui batas akhirnya mengambil alih kesadarannya.

Saat Ji Zhen membuka mata, cahaya fajar sudah masuk dari celah atap. Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya karena setiap inci dagingnya terasa seperti ditusuk jarum. Di samping tempat tidurnya, Lian Shu duduk dengan tenang, meletakkan sebotol kecil cairan hijau.

“Kau benar-benar gila,” suara Lian Shu datar, meski ada nada pengakuan di sana. “Membahayakan nyawa hanya untuk membuktikan poin pada seekor kecoa seperti Tang Wei. Ini pil pemulihan. Harganya mahal, tapi anggap saja ini investasi awal dariku.”

Ji Zhen tersenyum sangat tipis, hampir tidak terlihat. “Kecoa itu… sudah diam sekarang.”

“Diam bukan berarti hilang. Ma Yingjie sekarang benar-benar menganggapmu sebagai ancaman yang harus dimusnahkan, bukan lagi bahan tertawaan. Berhati-hatilah. Langkahmu berikutnya akan jauh lebih sulit.”

Lian Shu bangkit dan pergi tanpa menoleh lagi. Ji Zhen menatap botol pil di sampingnya. Ia merasakan aliran qi naga yang perlahan mulai memperbaiki kerusakan di dalam tubuhnya. Ia bukan lagi sampah. Ia adalah Ji Zhen dengan Naga Keabadian. Dan di dunia yang kejam ini, menjadi bentuk itu adalah langkah pertama untuk menjadi legenda.

1
YunArdiYasha
gas poll
MuhFaza
gas lanjutkan
MuhFaza
lanjut bg
Tuan Belalang
😍😍👍👍💪💪
YunArdiYasha
musuh
yuzuuu ✌
bagus ini ceritanya
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
😍👍👍👍
Tuan Belalang
sehat sehat othor
DanaBrekker: semoga semua pembaca karya othor juga sehat selalu
total 1 replies
Tuan Belalang
👍👍👍😍👍
Tuan Belalang
alamak, gukguk? 🤣
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
Tuan Belalang
eyuhh najis 😄
Tuan Belalang
astoge udh gak ketolong nih anak 🤣
Tuan Belalang
pffftt mampus 👍👍🤣
DanaBrekker: /Cleaver//Gosh/
total 1 replies
Tuan Belalang
curang gak sih bangg 🤭🤭🤣
Tuan Belalang
mampus aja luu
Tuan Belalang
ji zhen nih tahan banting 💪
Tuan Belalang
mff bawell thorr abs novelmu bagus 😄😍👍🤭
DanaBrekker: terima kasih /Coffee/
total 1 replies
Tuan Belalang
🤭😍👍👍👍
Tuan Belalang
benr tu kt zilong
Tuan Belalang
😍😍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!