NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit gua terdengar seperti detak jam dinding yang menghitung mundur sisa nyawa mereka. Semakin dalam mereka merangkak, semakin tipis oksigen yang terasa. Dinding-dinding batu karang di sekeliling mereka begitu tajam, menggores lengan dan kaki tanpa ampun. Almira bisa merasakan perih yang menyengat setiap kali kulitnya yang basah bergesekan dengan permukaan kasar itu, namun ia terus bergerak, mengikuti punggung Risky yang bergerak stabil di depannya.

"Berhenti," desis Risky tiba-tiba.

Suaranya sangat pelan, nyaris tenggelam oleh suara deburan ombak yang mulai terdengar bergema dari ujung lorong. Mereka semua mematung. Di belakang, Debo menahan napas sambil memeluk tas laptopnya erat-erat, sementara Pak Baskoro mencoba mengatur napasnya yang mulai tersengal akibat asma yang kambuh karena udara lembap.

Dari arah depan, bukan suara ombak yang mereka dengar. Ada suara langkah kaki yang terukur di atas air yang dangkal. Bukan langkah kaki nelayan yang santai, melainkan langkah sepatu taktis yang berat dan mantap.

"Mereka sudah ada di ujung lain gua ini," bisik Risky. Matanya menyapu sekeliling, mencari celah atau jalan keluar alternatif. Lorong ini buntu jika mereka terus maju, kecuali mereka berani menyelam ke dalam air payau yang menutupi separuh lubang keluar.

"Kita terjebak?" tanya Almira, suaranya bergetar.

Risky menoleh, menatap Almira dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya—satu-satunya senjata yang tersisa. "Yoga, bawa Pak Baskoro dan Debo bersembunyi di celah atas itu. Ada ruang sempit di balik stalaktit besar sana. Jangan bersuara, apa pun yang terjadi."

"Kau mau ke mana?" Almira menarik ujung jaket Risky.

"Aku akan memancing mereka ke lorong samping. Ada lubang udara di sana yang cukup untuk menciptakan gema. Mereka akan mengira kita semua lari ke arah hutan lewat jalur darat," jawab Risky. Ia menatap Almira, lalu tangannya bergerak mengusap pipi gadis itu yang kotor oleh lumpur. "Kau ikut Yoga. Jaga hardisk itu."

"Tidak! Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini sendirian lagi!" Almira bersikeras. Rasa takutnya kini kalah oleh amarah akan ketidakadilan yang terus mengejar mereka. "Kau bilang kita akan keluar bersama!"

"Al, dengarkan aku," Risky merendahkan suaranya, memegang kedua bahu Almira. "Mereka tidak menginginkan nyawamu jika mereka tidak bisa menemukan buktinya. Tapi mereka akan membunuh siapa saja yang menghalangi. Jika aku tetap di sini, kita semua akan mati di lubang ini. Biarkan aku membuka jalan."

Sebelum Almira sempat membantah, Risky mengecup bibirnya singkat—sebuah ciuman yang terasa seperti perpisahan sekaligus janji yang putus asa. Risky kemudian mendorong Almira ke arah Yoga.

"Pergi!" perintahnya tegas.

Yoga menarik tangan Almira dan Debo, membantu mereka memanjat ke celah batu yang tinggi dan gelap di atas lorong. Pak Baskoro merangkak naik dengan susah payah, dibantu oleh Debo. Dari atas sana, mereka hanya bisa melihat siluet Risky yang mulai berjalan menjauh ke arah lorong yang lebih terang, sengaja memercikkan air dengan keras agar terdengar.

"Sini! Aku di sini, kalian bajingan!" teriak Risky, suaranya bergema di seluruh langit-langit gua.

Tak lama kemudian, tiga orang pria dengan pakaian taktis hitam dan helm dengan lampu senter terang muncul di bawah celah tempat Almira bersembunyi. Mereka tidak mendongak ke atas; fokus mereka hanya pada bayangan Risky yang menghilang di belokan lorong.

Dor! Dor!

Suara tembakan mengguncang dinding gua. Debu-debu berjatuhan dari stalaktit. Almira menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata mengalir deras tanpa suara. Ia mendengar suara Risky yang mengerang, lalu suara perkelahian fisik—bunyi pukulan, benda tumpul yang menghantam daging, dan teriakan kemarahan.

"Kita harus turun membantu," bisik Debo, air matanya juga mengucur.

"Jangan," Yoga menahan tangan Debo. "Kalau kita turun, pengorbanan Risky sia-sia. Kita harus menunggu mereka menjauh."

Menit-menit berlalu seperti siksaan abadi. Suara perkelahian itu perlahan menjauh ke arah luar gua menuju tebing karang. Almira merasa separuh jiwanya ikut pergi bersama langkah kaki itu. Ia tidak bisa lagi hanya diam menunggu.

"Yoga, berikan sentermu," perintah Almira dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Al, jangan gila..."

"Berikan!"

Almira merebut senter itu, lalu meluncur turun dari celah batu. Ia tidak peduli lagi dengan keselamatan dirinya. Pikirannya hanya terisi oleh satu hal: Risky tidak boleh mati karena dosa-dosa ayahnya.

Ia berlari menyusuri lorong basah itu, menuju arah cahaya matahari yang mulai menyeruak di ujung gua. Saat ia keluar dari mulut gua, pemandangan di depannya membuatnya terpaku.

Di atas tebing karang yang curam, tepat di atas deburan ombak yang menghantam batu dengan ganas, Risky berdiri dalam kondisi yang memprihatinkan. Wajahnya bersimbah darah, kemejanya robek, dan ia sedang disudutkan oleh dua orang pria bersenjata. Satu orang lagi terkapar di tanah, sepertinya berhasil dilumpuhkan oleh Risky sebelumnya.

"Mana bendanya, Risky?" tanya salah satu pria itu, mengarahkan moncong pistol ke dahi Risky. "Berikan pada kami, dan mungkin kami akan membiarkanmu mati dengan cepat seperti ayahmu."

Risky meludah ke samping, darah keluar dari mulutnya. Ia tersenyum miring, sebuah senyum penuh tantangan. "Ayahku mati karena dia sadar dia pengecut. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama."

"Tunggu!" teriak Almira, melangkah keluar ke area terbuka tebing.

Semua mata menoleh padanya. Risky membelalakkan mata, "Al! Pergi dari sini!"

Almira mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Di jemarinya, ia memegang kalung dengan kunci perak dan sebuah micro SD yang ia ambil dari tas Debo sebelum turun tadi (sebuah umpan yang ia siapkan di dalam saku). "Kalian ingin ini, kan? Lepaskan dia, atau aku akan melempar ini ke laut! Kalian tidak akan pernah mendapatkan kuncinya, dan data di hardisk itu akan terkunci selamanya!"

Dua pria bersenjata itu ragu sejenak. Mereka diperintah untuk membawa bukti itu kembali, hidup atau mati. Tanpa kunci enkripsi fisik yang ada pada Almira, data di hardisk itu hanya akan menjadi sampah digital yang mustahil ditembus.

"Lempar padaku, Nak. Maka kami akan melepaskannya," ucap salah satu pria itu dengan nada membujuk yang licik.

Almira menatap Risky. Risky menggelengkan kepalanya pelan, matanya memohon agar Almira lari. Namun Almira sudah mengambil keputusannya.

Tiba-tiba, dari arah laut, suara sirine yang sangat keras memecah ketegangan. Sebuah kapal patroli cepat dengan lambung bertuliskan Polairud muncul dari balik tanjung, diikuti oleh dua helikopter dengan logo kepolisian yang berbeda dari sebelumnya.

"ITU INSPEKTUR PANJI!" teriak Debo yang baru saja muncul di mulut gua bersama Yoga dan Pak Baskoro.

Situasi berbalik dalam sekejap. Para pembunuh bayaran itu panik. Mereka menyadari bahwa bala bantuan yang tiba bukan dari pihak Sekjen, melainkan dari faksi kepolisian yang selama ini membantu Risky secara rahasia.

Pria yang memegang pistol mencoba menarik pelatuknya ke arah Risky dalam upaya terakhir, namun Risky lebih cepat. Ia menubruk pria itu, membuat mereka berdua berguling di tepi tebing.

"RISKY!" Almira menjerit, berlari menuju tepi tebing.

Ia sampai tepat saat Risky berhasil menendang senjata pria itu hingga terjatuh ke laut. Mereka bergulat di tanah yang licin. Dengan satu hentakan kuat, Risky berhasil melumpuhkan pria itu dengan pukulan di leher, tepat saat pasukan Brimob turun dari helikopter menggunakan tali.

Suasana menjadi riuh oleh suara mesin dan teriakan perintah. Para penyerang menyerah, menjatuhkan senjata mereka saat puluhan moncong senapan laras panjang mengepung mereka.

Almira jatuh berlutut di samping Risky. Ia menarik kepala pria itu ke pangkuannya, mengabaikan darah yang menodai blazernya. "Risky... kau dengar aku? Jangan tutup matamu."

Risky terbatuk, mencoba menarik napas. Ia menatap Almira, lalu tersenyum lemah. "Kau... kau hampir membuang kuncinya..."

"Itu palsu, bodoh," bisik Almira sambil menangis tertawa. "Kunci aslinya masih di leherku."

Risky terkekeh pelan, meski suaranya terdengar menyakitkan. Ia meraih tangan Almira, menggenggamnya lemah. "Kau benar-benar anak Ratna... terlalu berani."

Inspektur Panji mendarat di tebing, segera memerintahkan tim medis untuk menangani Risky. Ia mendekati Pak Baskoro dan Almira, wajahnya tampak lega namun serius.

"Kita sudah mengamankan pelabuhan di Batam. Sekjen dan seluruh kroninya di video itu sudah masuk dalam daftar cegah dan tangkap malam ini juga," ujar Panji. "Kalian aman sekarang. Dunia sudah melihat videonya, dan mereka tidak bisa lagi menutupinya."

Almira menatap laut yang kini diterangi cahaya pagi yang cerah. Badai telah berlalu, namun ia tahu hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Di sampingnya, Risky sedang dinaikkan ke atas tandu. Sebelum dibawa menuju helikopter, Risky sempat menarik tangan Almira.

"Al..."

"Ya?"

"Setelah aku keluar dari rumah sakit... ajari aku cara hidup sebagai orang yang tidak punya rahasia."

Almira tersenyum, mencium punggung tangan Risky yang kotor oleh tanah dan darah. "Kita akan belajar bersama-sama."

Di atas pulau terpencil yang tak ada di peta itu, jawaban yang mereka cari akhirnya memberikan satu hal yang paling mereka butuhkan: sebuah akhir yang menjadi awal bagi kehidupan yang jujur. Nama Baskoro telah bersih, hutang nyawa Adiwangsa telah dibayar oleh keberanian anaknya, dan Ratna akhirnya bisa beristirahat dengan tenang di balik setiap detak jantung anak-anaknya yang kini merdeka.

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!