Arisa dikhianati calon suaminya sendiri di hari pernikahan. Namun karena tak mau malu, Arisa memutuskan menikahi pemuda desa bernama Ogi, yang diketahui juga sebagai murid favorit ayahnya Arisa dulu.
Ogi yang sepenuhnya punya usaha kerupuk di desa, membawa Arisa untuk ikut tinggal dengannya ke desa. Saat itulah kehidupan Arisa berubah drastis.
"Suara apa itu, Kang? Aku nggak bisa tidur," bisik Arisa sambil menghimpitkan badannya ke dekat Ogi.
"Itu cuman suara burung hantu atuh, Neng..." sahut Ogi berusaha tenang.
"Kompor gasnya mana, Kang?"
"Di sini masaknya masih pakai kayu atuh, Neng..."
"Ini kenapa sinyalnya nggak ada, Kang? Aku butuh wifi!"
"Di sini wifi belum ada atuh, Neng. Kalau mau sinyal pun harus naik ke tebing dulu."
Banyak pengalaman baru yang harus dilalui Arisa. Bagaimana kisah romantis dan kekocakkan mereka tinggal di desa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 27 - Proses Pembuatan Kerupuk
Ogi langsung tersedak kopinya. "Hah? Kaya kumaha atuh, Neng? Itu mah gudang biasa saja," katanya sambil terkekeh malu.
Arisa tersenyum mengejek. "Dih! Besar gitu kok dibilang biasa aja."
Ogi menggaruk kepalanya. "Ah… biasa saja atuh. Cukup buat makan sehari-hari," katanya merendah.
Arisa berdiri dengan semangat. "Ayo Kang, aku mau lihat!"
"Nanti atuh, Neng. Tunggu teteh-teteh datang dulu," sahut Ogi.
"Ya sudah, aku mandi dulu kalau begitu."
...***...
Kebetulan sekali beberapa orang yang bekerja membuat kerupuk sudah berdatangan. Ogi segera mengajak Arisa pergi ke tempat pembuatan kerupuk.
"Hayu atuh… tapi hati-hati ya. Lantainya kadang licin," kata Ogi.
Mereka berjalan menuju gudang di belakang rumah. Bangunannya sederhana dengan dinding papan dan atap seng. Dari dalam sudah terdengar suara orang berbincang dan bunyi peralatan kerja.
Begitu pintu dibuka, aroma kerupuk yang sedang diproses langsung tercium. Di dalam ada sekitar delapan orang pekerja, sebagian besar ibu-ibu dan beberapa gadis muda. Ada yang mengaduk adonan, mencetak kerupuk, dan ada yang menyiapkan penggorengan.
Salah satu ibu menoleh. "Eh Kang Ogi datang."
"Iya Teh Ajeng," jawab Ogi.
Beberapa pekerja lain ikut menoleh, lalu perhatian mereka langsung tertuju pada Arisa yang berdiri di samping Ogi. Beberapa ibu-ibu saling pandang sambil tersenyum.
Ogi jadi salah tingkah. "Eh… kenalin atuh… ini istri saya… Neng Arisa."
Sekejap suasana jadi ramai.
"Ohh… istri Kang Ogi," kata Ajeng sambil tersenyum lebar.
Arisa tersenyum sopan. "Halo Teh…"
Salah satu ibu mendekat sambil memperhatikan Arisa dari atas sampai bawah. "Aduh... Geulis pisan atuh. Pantas Kang Ogi kepincut. "
Wajah Ogi langsung memerah. "Ih… biasa saja atuh, Teh."
Ibu-ibu malah tertawa. "Aduh Kang Ogi malu tuh."
Salah satu pekerja muda nyeletuk, "Pantes Kang Ogi kelihatan beda dari biasanya. Sekarang lebih banyak senyumnya."
Gudang langsung dipenuhi tawa.
Ogi makin gelagapan. "Ih… nggak begitu atuh!"
Arisa ikut tertawa kecil melihat Ogi yang panik.
Ajeng lalu berkata, "Mau lihat prosesnya ya?"
"Iya,Teh... Aku penasaran."
Ogi langsung mengajak Arisa ke meja besar berisi adonan.
"Nah Neng, ini adonan kerupuknya."
Arisa mendekat dan melihat adonan putih di dalam baskom besar. "Kelihatannya gampang ya."
Ajeng langsung tersenyum. "Coba saja Neng bikin."
Arisa langsung mengangguk percaya diri. "Boleh!"
Dia mencoba mengaduk adonan. Baru beberapa detik, wajah cantiknya meringis. "Aduh… berat banget!" keluhnya.
Semua orang langsung tertawa.
Ogi ikut tertawa. "Makanya atuh, Neng… nggak gampang."
Arisa manyun. Melirik tajam Ogi. Rasanya dia ingin mencubit lelaki itu, tapi ditahan karena tak mau malu.
Lalu Ogi mengajak Arisa ke bagian penggorengan. "Nah ini bagian pentingnya."
Seorang ibu sedang menggoreng kerupuk di wajan besar berisi pasir panas.
Arisa terlihat heran. "Loh kok pakai pasir?"
Ogi tersenyum bangga. "Itu namanya kerupuk melarat atuh, Neng. Digoreng pakai pasir panas, bukan minyak."
Arisa membelalakkan mata. "Serius?"
"Iya atuh. Makanya murah tapi enak."
Arisa memperhatikan kerupuk yang mulai mengembang. "Wah menarik ya..."
Ogi tersenyum lebar. "Ngeunah pisan." lagi-lagi Ogi melakukan gaya khasnya saat membicarakan kerupuknya, apa lagi kalau bukan mengangkat jempolnya.
Salah satu wanita di sana langsung nyeletuk. "Kang Ogi tiap hari makan kerupuk terus."
"Ih nggak begitu atuh, Teh."
"Kalau lewat pasti ngambil segenggam."
Semua tertawa lagi.
Arisa ikut menggoda. "Pantes perut Kang Ogi agak buncit ya."
Ogi refleks melihat perutnya sendiri. "Ih… nggak buncit atuh!"
Tawa kembali pecah di dalam gudang. Arisa terlihat senang dengan suasana hangat itu. Ia menoleh pada Ogi. "Kang Ogi ternyata juragan beneran ya."
Ogi tersenyum malu. "Juragan apaan. Cuman kerupuk."
Ajeng kembali berkata, "Tapi Kang Ogi baik. Gaji nggak pernah telat."
Arisa tersenyum tipis mendengar itu. Ia menatap Ogi agak lama dengan ekspresi bangga.
Sedangkan Ogi langsung salah tingkah. "Aduh… kerja lagi atuh… jangan ngobrol terus."
Para pekerja malah tertawa lagi.
"Ih Kang Ogi malu pisan."
Wajah Ogi makin merah, sementara Arisa menutup mulutnya menahan tawa. Suasana gudang pagi itu terasa hangat seperti keluarga sendiri. Jujur saja, Arisa mulai betah ada di sana.