Bagaimana jika orang yang kamu cintai malah dijodohkan dengan kakakmu sendiri?
Lalu cinta itu tumbuh di tempat yang salah dan harus disembunyikan dari semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 - Fight the Bad Feeling
Sore itu, aku, Henry, Fera, Caca, dan anak-anak R&D menjenguk Arvin.
Sialnya, rumah sakit tempat Arvin dirawat adalah Rumah Sakit Aruna Medika—rumah sakit milik keluargaku sendiri.
Aku hampir yakin akan bertemu Papa… dan Ana.
Rasanya malas sekali harus bertemu mereka. Namun rasa bersalahku pada Arvin jauh lebih besar. Jadi, mau tak mau, aku tetap ikut.
Aku dan Fera menumpang mobil Henry, sementara Caca dan anak-anak R&D lainnya menggunakan kendaraan masing-masing.
Di tengah perjalanan, kami sempat berhenti untuk membeli buah sebagai buah tangan.
Begitu sampai di rumah sakit, kami langsung masuk.
Sore itu Aruna Medika cukup ramai. Aku bahkan hampir lupa kapan terakhir kali menginjakkan kaki di sana. Aku jarang sakit, apalagi sampai harus menginap. Lagi pula, rumah sakit ini terlalu besar untuk kuingat letak ruangan-ruangannya.
“Kamarnya Arvin di ruang apa?” tanya Henry saat kami berada di lobi.
“Ruang Mawar nomor dua, Pak.” jawab Caca.
Tiba-tiba seseorang memanggil namaku.
“Lia…”
Aku menoleh ke arah suara itu.
Julian.
Ia berdiri di dekat area resepsionis, mengenakan jas putihnya. Julian segera melangkah mendekat.
“Lia, kamu sedang apa di sini?” tanyanya.
“Oh, aku sama rekan-rekan kerjaku mau jenguk teman yang sakit,” jawabku. “Kakak tahu ruang Mawar di mana?”
“Lantai tiga.” jawab Julian.
“Lia… ini siapa?” tanya Niko tiba-tiba.
Sejujurnya, sejak tahu Niko ikut menjenguk Arvin, aku sudah tidak nyaman. Aku tahu, mulutnya jarang bisa dijaga.
“Oh, ini Dokter Julian. Senior aku waktu kuliah.” jelasku.
“Oh…” gumam Niko, entah dengan nada apa.
Aku sempat menangkap tatapan Henry yang mengarah pada Julian. Tatapan yang seolah sedang memastikan sesuatu.
“Kak, ayo tunjukkin ruangannya.” ucapku cepat.
Julian mengangguk. Kami pun mengikutinya menuju lift.
Setelah sampai di lantai tiga, kami berbelok ke kiri menuju ruang Mawar. Julian tidak ikut masuk karena harus memeriksa pasien lain.
Begitu masuk ke kamar Arvin—kamar berisi empat tempat tidur—aku langsung terkejut.
Di sisi kiri tempat tidur Arvin berdiri Ana bersama seorang perawat.
Di sisi kanan, seorang wanita paruh baya duduk di kursi. Aku menduga itu ibunya Arvin.
“Henry? Lia?” ucap Ana kaget.
Kecuali Caca, semua orang langsung menoleh ke arahku dan Henry.
“Lho, Dokter Ana kenal sama Mbak Lia dan Pak Henry?” tanya Arvin, kepalanya masih terbalut perban.
“Eh… itu…” Ana terlihat panik.
“Dokter Ana itu senior aku di kampus,” potongku cepat, lalu menoleh ke Caca. “Iya, kan, Ca?”
“Hah? Oh… iya.” jawab Caca, jelas ikut gugup.
“Oh… kalau sama Pak Henry?” Arvin kembali bertanya.
“Henry itu teman SMA saya.” jawab Ana.
“Teman atau teman, Dok?” goda Niko.
Aku menoleh tajam ke arahnya.
“Kami hanya teman,” ujar Henry dingin. “Bahkan tidak pernah satu kelas.”
“Ah… begitu.” gumam Niko, seolah masih penasaran.
“Kalau begitu, Mas Arvin kondisinya seperti yang saya jelaskan tadi. Saya permisi.” ucap Ana.
“Baik, Dok.” jawab Arvin.
“Terima kasih, Dok.” ucap ibunya.
Ana dan perawat pun keluar dari kamar.
“Kalian ini rekan kerjanya Arvin?” tanya ibu Arvin.
“Iya, Bu.” jawab kami hampir bersamaan.
“Itu Pak Henry, Bu,” ucap Arvin sambil menunjuk Henry. “CEO di perusahaanku.”
“Ya ampun…” Ibu Arvin langsung berdiri. “Suatu kehormatan Bapak mau datang menjenguk.”
“Tidak perlu begitu, Bu. Saya sebagai atasannya Arvin memang sudah seharusnya datang.” jawab Henry sopan.
Fera mendekat dan menyerahkan keranjang buah.
“Ini, Bu. Dari kami.”
“Ya ampun, repot-repot sekali.” ucap ibu Arvin.
“Tidak repot kok, Bu.” balas Fera.
“Bu, Ibu sudah kenal calon menantu Ibu belum?” celetuk Niko.
Dadaku langsung menegang.
“Calon menantu?” Ibu Arvin menoleh ke Arvin. “Vin, kamu punya pacar?”
“Oh… itu…” Arvin terlihat kebingungan.
“Lia, Bu. Pacarnya Arvin.” kata Niko santai.
“Bukan, Bu. Bukan,” sangkalku cepat. “Saya cuma temannya Arvin.”
“Udahlah, Li. Kemarin di kantin aja kalian mesra banget.” lanjut Niko.
Aku menatapnya tajam. Rasanya ingin langsung menutup mulutnya.
“Niko!” suara Henry terdengar tegas. “Jaga ucapanmu. Kita ke sini untuk menjenguk orang sakit, bukan bergosip.”
“Maaf, Pak.” ucap Niko.
“Maafkan karyawan saya, Bu.” ujar Henry pada ibu Arvin.
“Ah, tidak apa-apa,” jawab ibu Arvin. “Arvin memang tidak pernah cerita soal teman-teman kantornya. Ternyata ada cerita juga.”
“Bu, saya dan Arvin benar-benar tidak ada hubungan apa-apa,” jelasku. “Kami cuma punya kesamaan, sama-sama bisa bahasa Korea.”
“Oh? Kamu bisa bahasa Korea?” mata ibu Arvin berbinar. “Syukurlah. Ada juga yang bisa diajak ngobrol. Ibu suka bingung sendiri tiap dia ngomong Korea, nggak ada yang ngerti.”
Aku hanya tersenyum kecil.
Tiba-tiba ponselku bergetar.
Pesan dari Ana.
[ Temui aku di rooftop. Sekarang. ]
“Bu, saya permisi sebentar. Mau ke toilet.” ucapku bohong.
“Oh iya, silakan.” jawab ibu Arvin.
Aku segera keluar dari kamar dan melangkah cepat menuju rooftop rumah sakit—dengan perasaan yang semakin tidak tenang.
Begitu sampai di rooftop, Ana sudah lebih dulu ada di sana.
Ia berdiri bersandar pada pagar balkon, menatap lurus ke depan, seolah sedang mencari sesuatu di antara gedung-gedung tinggi yang membentang di hadapannya.
“Ada apa?” tanyaku dingin.
Ana menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan mataku.
Aku berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah darinya.
“Kamu selama ini tinggal di mana?” tanyanya. “Di rumah Caca?”
“Hm.” jawabku datar.
“Sampai kapan?”
“Selamanya.”
Ana terdiam. Alisnya sedikit berkerut.
“Selamanya?” ulangnya pelan. “Kamu jangan gitu, Li. Jangan ngerepotin keluarga orang.”
Aku tersenyum tipis, tanpa rasa hangat.
“Aku kayak gini itu karena siapa, Kak?”
Ana menghela napas panjang.
“Mama nggak bermaksud jahat. Dia cuma nggak paham. Orang-orang generasi mereka memang begitu—nggak ngerti kesukaan anak zaman sekarang. Jadi tolong… cobalah mengerti.”
“Mama aja nggak pernah ngertiin aku,” balasku. “Kenapa aku harus terus mengerti Mama?”
Aku menatap Ana. “Dan Kakak… kenapa kamu sejauh ini ikut campur urusan aku?”
“Aku pengen kamu pulang.” jawabnya pelan.
Aku terkekeh kecil, getir.
“Hah… harusnya Kakak senang dong aku nggak ada di rumah. Semua perhatian Mama dan Papa sekarang penuh ke kamu.”
“Nggak,” potong Ana cepat. “Aku nggak senang.”
Ia mendekat setengah langkah.
“Kamu pikir aku bahagia diperlakukan beda? Kamu pikir aku nyaman jadi anak yang selalu dituntut sempurna?”
Aku terdiam.
“Aku juga mau belain kamu,” lanjut Ana, suaranya mulai bergetar. “Tapi aku nggak bisa. Aku terlalu lemah buat ngelawan Mama dan Papa.”
Ia menunduk. “Aku memang bukan kakak yang baik. Maafin aku…”
Dadaku mendadak sesak.
Aku tak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Ana.
“Udah, Kak,” ucapku akhirnya, lebih pelan. “Kakak nggak perlu minta maaf.”
Aku menghela napas. “Ini bukan salah Kakak. Ini salah orang tua kita… yang terlalu berekspektasi tinggi. Sama kita berdua.”
Ana mengangguk kecil.
“Kamu beneran bakal tinggal terus di rumah Caca?” tanyanya lagi.
“Mungkin,” jawabku jujur. “Tempat tinggalku sekarang lebih nyaman daripada rumah.”
Ana menatapku lama, lalu berkata pelan,
“Tapi… nanti waktu aku tunangan, kamu dateng, kan?”
Aku tertegun.
“Emang Mama dan Papa bakal ngizinin?” tanyaku. “Itu kan hari yang mereka tunggu-tunggu.”
“Mereka izinin atau nggak,” kata Ana, menatapku serius, “kamu tetap harus datang. Kamu adikku. Aku nggak mau sendirian.”
Aku terdiam.
Angin sore berembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk kulitku.
Bisakah aku datang?
Bisakah aku berdiri di sana… menyaksikan pria yang aku cintai bertunangan dengan kakakku sendiri?
Aku tidak menjawab.
Aku hanya memalingkan wajah, menatap langit yang mulai berubah warna—
dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar takut pada hari esok.