NovelToon NovelToon
Crowned Villains :The End Of Old World

Crowned Villains :The End Of Old World

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Fantasi
Popularitas:287
Nilai: 5
Nama Author: Asjoe the writer

Dunia adalah sebuah luka yang menolak untuk sembuh. Di Utara, perang suci antara Holy Kingdom dan Demon Realm tak kunjung usai. Di Selatan, tirani matriarki menciptakan perbudakan sistematis terhadap kaum pria. Sementara di Timur, jutaan nyawa menjadi tumbal bagi ambisi Federasi dan Aliansi. Bahkan di Barat, Kekaisaran Berline yang agung telah membusuk dari dalam akibat korupsi, nepotisme, dan kelaparan yang mencekik rakyatnya.Saat dunia memprediksi keruntuhan Berline akan menjadi awal dari domino kehancuran global, sebuah anomali muncul dari balik bayangbayang. Bukan pahlawan yang bangkit, melainkan Chara Initiative Organization (CIO). Sebuah organisasi villain yang kejam dan tak terduga. Lewat kudeta berdarah, mereka merebut tahta Berline dan memulai langkah radikal untuk menjungkirbalikkan tatanan dunia yang lama. Bagi mereka, dunia yang rusak tidak butuh diperbaiki; dunia butuh dihancurkan untuk dibangun kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asjoe the writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Komedi Sang Direktur

Ruangan itu dipenuhi desis uap yang keluar dari pipa-pipa tekanan tinggi. Elara duduk di kursi perunggu itu. Saat helm mekanis dengan elektroda kristal diturunkan ke kepalanya, ia menatap Kaelen dengan senyum getir.

"Jika ini tidak berhasil, Kaelen... ingatlah bahwa kita pernah mencoba," bisik Elara.

Kaelen memegang tangan Elara saat Silas mulai menarik tuas-tuas hidrolik. Energi sihir murni Elara mulai tersedot, dialirkan melalui kabel-kabel tembaga tebal. Lampu-lampu di dalam menara berpijar terang, dan suara detak ribuan jam di ruangan itu berhenti seketika, digantikan oleh dengungan frekuensi yang menyakitkan telinga.

Tiba-tiba, sebuah telepon kabel di meja kontrol berdering. Suaranya kontras dengan kegentingan di ruangan itu.

Silas tidak mengangkatnya. Ia justru berdiri dari kursi rodanya—sesuatu yang seharusnya mustahil bagi pria "lumpuh"—dan dengan gerakan santai, ia menekan tombol loudspeaker.

Suara dari Barloa

"Tes audio satu, dua... Silas, apakah transmisi energinya sudah stabil?"

Suara itu. Dingin, datar, dan sangat familiar. Aris.

Kaelen membeku. Ia menoleh ke arah Silas yang kini berdiri tegak, merapikan jubah kumalnya seolah itu adalah setelan jas mahal.

"Lapor, Direktur Utama," suara Silas berubah total.

Tidak ada lagi serak parau atau nada penderitaan. "Subjek Elara telah terhubung sempurna. Integrasi Mana-Radio mencapai 98%."

"Silas... apa maksudnya ini?!" raung Kaelen.

Ia menghunuskan pedangnya ke leher Silas, namun pria itu bahkan tidak berkedip.

"Kaelen, letakkan senjatamu. Kau merusak estetika momen ini," suara Aris menggema dari telepon.

"Kau pikir seorang pemberontak cacat bisa membangun jaringan bawah tanah di bawah hidungku tanpa bantuanku? Silas adalah Direktur Operasional Wilayah Timur-ku. Dia adalah orang yang memberikan suap kepada dewan yang kau maki-maki kemarin."

Runtuhnya Idealitas

Kaelen menatap Silas dengan kemarahan yang meluap.

"Kau... kau bilang kau korban! Kau bilang kau dibuang!"

Silas tertawa, kali ini tawa yang bersih dan elegan.

"Luka bakar ini? Hasil dari ledakan kimia di Berline saat kami melakukan kudeta untuk menyingkirkan para bangsawan korup yang menindas rakyat. Aku bangga dengan luka ini, Kaelen. Ini adalah lencana pengabdianku pada visi Tuan Aris. Kami tidak 'dibuang'. Kami adalah arsitek dari dunia baru yang sedang kau pijak sekarang."

"Penyusupanmu ke menara ini bukan untuk menghancurkan 'The Governor', Kaelen," lanjut Aris.

"Itu adalah tes kelayakan. Aku perlu tahu apakah idealisme naifmu bisa mendorongmu melakukan hal-hal mustahil. Dan yang lebih penting, aku butuh Elara secara sukarela menghubungkan jiwanya ke mesin ini. Sihir tidak bisa dipaksa, ia harus diberikan. Dan kau, dengan kepahlawananmu, baru saja memberikan komponen terakhir untuk sistem kendali global Federasi."

Kebenaran yang Pahit

Elara menjerit di atas kursi. Matanya memancarkan cahaya biru terang yang menyakitkan. Ia mencoba melepaskan diri, namun sistem mekanis itu kini mengunci sarafnya.

"Lepaskan dia!" Kaelen menerjang Silas, namun dengan satu gerakan cepat, tangan besi Silas menahan pedang Kaelen.

"Kau masih tidak mengerti, Komandan," bisik Silas tepat di telinga Kaelen.

"Tuan Aris menyukaimu. Dia tidak ingin membunuhmu. Dia ingin kau melihat bahwa kehormatanmu tidak menyelamatkan siapa pun. Lihatlah ke bawah, ke arah kota."

Di bawah Menara Aether, ribuan warga Oakhaven yang tadinya kesakitan tiba-tiba berhenti bergerak. Mereka berdiri tegak, wajah mereka tenang—terlalu tenang. Frekuensi Elara telah menstabilkan emosi mereka, menghapus ketakutan, amarah, dan keinginan untuk membangkang.

Menara Aether tidak lain memilki fungsi untuk mentransmisi gelombang radio yang cukup tinggi hingga alat-alat yang digunakan para bangsawan dan penduduk ibu kota mempu mengeluarkan gelombang sihir tertentu untuk mengangu mental dan pikiran penduduk hanya dengan satu sinyal dari menara.

"Selamat datang di perdamaian yang sesungguhnya, Kaelen," ucap Aris lewat telepon.

"Tanpa konflik, tanpa perang, tanpa rasa sakit. Hanya keteraturan. Sekarang, kau punya pilihan: Terus menjadi buronan di dunia yang tidak lagi membutuhkan pahlawan, atau duduk di sebelah Silas sebagai Direktur Keamanan Federasi yang baru."

Kaelen jatuh berlutut. Pedangnya berdenting jatuh di lantai logam. Di depannya, sahabatnya menjadi baterai bagi mesin tirani, dan di sampingnya, musuh yang ia anggap kawan menatapnya dengan rasa kasihan yang tulus.

1
anggita
mampir like👍 iklan ☝saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!