"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."
Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.
Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.
Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.
Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.
Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?
Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?
Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
"Terkadang, sebuah badai besar dibutuhkan untuk menyapu bersih sampah yang menumpuk. Di episode ini, sebuah kekuatan besar dari masa lalu kembali untuk meluruskan apa yang telah bengkok. Bima akan menyadari bahwa pelariannya ke pelukan Clarissa bukan hanya kesalahan cinta, melainkan sebuah pengkhianatan terhadap kehormatan keluarga. Mari saksikan amukan sang ratu yang sesungguhnya."
.
.
Bima mematung di ambang pintu ruang tengah. Dadanya sesak, matanya merah menatap pemandangan yang memuakkan di depannya.
Musik techno berdentum keras dari speaker mahal yang dulu ia beli atas permintaan Hana. Namun kini, rumah itu bukan lagi surga, melainkan diskotik murahan.
Di atas karpet bulu impor yang dulu selalu dijaga kebersihannya oleh Hana, Clarissa dan tiga orang temannya sedang tertawa terbahak-bahak sambil menenggak minuman keras.
Abu rokok berserakan di atas meja marmer, dan aroma alkohol bercampur parfum murahan menyesakkan paru-paru.
"Clarissa! Matikan musiknya!" teriak Bima, suaranya menggelegar mengalahkan dentuman bass.
Clarissa hanya menoleh santai, wajahnya merah karena mabuk. "Oh, Bima... Sayang, kau sudah pulang? Ayo bergabung, jangan jadi pria membosankan!"
Kemarahan Bima mencapai titik didih. Ia melangkah maju, merenggut paksa kabel speaker hingga suara musik mati seketika. Hening mencekam menyusul.
"Keluar. Semuanya keluar dari rumahku sekarang!" Bima menunjuk pintu dengan tangan gemetar karena emosi.
"Eh, Bima, kenapa galak sekali?" salah satu teman Clarissa mencoba menggoda.
"KELUAR!" raung Bima bagai singa yang terluka.
Melihat kilat mata Bima yang seperti ingin membunuh, teman-teman Clarissa segera menyambar tas mereka dan lari tunggang-langgang. Clarissa berdiri, menatap Bima dengan penuh kebencian.
"Kau memalukanku, Bima! Mereka itu teman-temanku!"
"Teman-temanmu atau parasit? Lihat rumah ini, Clar! Ini rumah atau tempat sampah?" Bima menendang kotak katering yang sudah berjamur di lantai. "Aku lelah bekerja keras untuk menyelamatkan perusahaan, dan aku pulang hanya untuk melihat sirkus ini?"
Tanpa memedulikan makian Clarissa, Bima mulai memunguti sampah itu sendiri. Ia tidak sudi meminta bantuan wanita di depannya.
Ia memungut botol kosong dengan air mata yang hampir jatuh, teringat bagaimana Hana dulu selalu memastikan setiap sudut ruangan ini steril, nyaman, dan beraroma lavender yang menenangkan.
Tepat saat Bima sedang berlutut memunguti abu rokok, pintu utama terbuka dengan paksa. Sosok wanita paruh baya berdiri di sana dengan aura yang begitu dingin.
Ia mengenakan setelan jas formal berwarna navy, rambut disanggul rapi, dan tatapan mata yang setajam elang.
Bu Sarah. Ibu kandung Bima yang selama ini menetap di London untuk mengurus aset keluarga.
Bu Sarah terpaku di ambang pintu. Ia menatap tumpukan baju kotor di kursi, piring berminyak yang berserakan, dan anaknya, seorang CEO Erlangga Group, yang sedang berlutut di lantai dengan wajah kuyu.
"Bima?" suara Bu Sarah tenang namun menusuk tulang.
Bima menoleh, jantungnya seolah berhenti berdetak. "Mama? Mama pulang? Kenapa ... Kenapa tidak memberi kabar dulu?"
Bu Sarah tidak menjawab. Ia melangkah masuk, bunyi sepatunya tuk-tuk-tuk di atas lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian.
Ia mengambil selembar baju sutra milik Clarissa yang tergeletak di lantai dengan ujung jarinya, lalu menjatuhkannya kembali dengan jijik.
"Mama mendengar laporan dari dewan komisaris bahwa Erlangga Group di ambang kehancuran karena pimpinannya sering tidak fokus. Mama datang untuk menyelamatkan aset keluarga, tapi yang Mama temukan..." Bu Sarah menghela napas tajam. "Rumah ini sudah hancur lebih dulu."
Bu Sarah beralih menatap Clarissa. Tatapannya begitu menghina hingga Clarissa merasa kecil seketika.
"Bima," Bu Sarah menunjuk Clarissa dengan dagunya. "Siapa wanita ini? Dan kenapa dia ada di rumah ini dengan penampilan tidak senonoh seperti itu?"
"Dia... dia Clarissa, Ma. Calon istriku," jawab Bima pelan, nyaris berbisik.
"Calon istri?" Bu Sarah tertawa sinis, tawa yang menyayat hati Bima. "Lalu di mana Hana? Di mana menantu kesayangan Mama yang berkelas itu? Di mana Si Mbok? Kenapa kau biarkan rumah ini menjadi kandang ternak?"
Bima menunduk dalam. "Aku sudah menceraikan Hana, Ma. Si Mbok ... Si Mbok sudah aku pecat karena Clarissa merasa tidak nyaman."
**PLAK** ...!!!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Bima. Clarissa terpekik kaget.
"Bodoh!" desis Bu Sarah. "Kau membuang permata demi sampah jalanan ini? Kau memecat Mbok yang merawatmu sejak kecil demi wanita yang bahkan tidak tahu cara membuang sampah sisa makannya sendiri?"
Clarissa mencoba memasang wajah berani. "Heh, Ibu Tua, jangan asal bicara ya! Aku ini tunangan Bima!"
Bu Sarah menatap Clarissa dengan pandangan yang membuat Clarissa ciut. "Tunangan? Secara hukum, kalian belum menikah. Dan perlu kau tahu, rumah mewah ini dibeli atas nama perusahaan yang separuh sahamnya adalah milikku. Jadi, atas hak sebagai pemilik rumah ... aku memerintahkanmu keluar sekarang juga!"
"Bima! Bela aku!" teriak Clarissa manja, mencoba menggelayut di lengan Bima.
Bima menatap Clarissa, lalu teringat ruko sederhana Hana di Sukamaju. Ia melihat wajah Hana yang damai dan mandiri, kontras dengan wajah Clarissa yang penuh kosmetik namun berhati busuk.
"Maafkan aku, Ma..." Bima terduduk lemas di sofa, menutup wajahnya. "Aku salah. Aku sangat salah."
Bima menceritakan segalanya dengan suara bergetar. Tentang bagaimana ia mengusir Hana yang sedang hamil tanpa sepeser pun uang, dan bagaimana ia baru saja melihat cucu Bu Sarah lahir di sebuah desa terpencil tanpa fasilitas layak.
Bima menangis tersedu-sedu, mengakui kebodohannya yang telah menghancurkan hidup Hana demi ilusi cinta masa lalu.
Bu Sarah mendengarkan dengan wajah mengeras. Rasa jijiknya pada Bima hampir sama besarnya dengan kebenciannya pada Clarissa.
"Jadi kau membiarkan cucuku lahir di desa tanpa fasilitas? Sementara kau membiayai wanita ini untuk foya-foya di tengah krisis?" Bu Sarah menatap Clarissa dengan api di matanya.
"Kau!" Bu Sarah menunjuk Clarissa. "Ambil semua barangmu. Jangan biarkan ada satu helai rambutmu pun tertinggal. Jika dalam sepuluh menit kau belum keluar, aku akan memanggil polisi untuk menyeretmu atas tuduhan masuk tanpa izin!"
"Bima! Kamu tega?!" Clarissa berteriak histeris.
"Pergilah, Clar," ucap Bima dingin tanpa menoleh. "Apa yang Mama katakan benar. Kehadiranmu di sini adalah kutukan bagiku."
Clarissa mengamuk, ia mencoba melempar vas bunga, namun asisten Bu Sarah yang baru saja masuk segera menahan tangannya.
Dengan penuh kehinaan, Clarissa dipaksa memasukkan pakaiannya ke dalam koper dan diseret keluar dari rumah itu di bawah tatapan dingin Bu Sarah.
Setelah Clarissa pergi, suasana menjadi sunyi senyap. Bu Sarah duduk di depan Bima.
"Bersihkan dirimu, Bima. Kau tampak seperti pecundang," ucap ibunya tanpa belas kasihan. "Besok, Mama akan mengambil alih pimpinan perusahaan sementara. Dan kau... kau akan pergi ke desa itu. Cari Hana. Berlututlah di kakinya sampai dia memaafkanmu. Bukan karena Mama ingin kau kembali padanya, karena wanita sehebat Hana tidak pantas mendapatkan pria sebodoh kamu! Tapi karena cucuku berhak tahu siapa ayahnya, meski ayahnya adalah seorang pengecut."
Bima menatap ibunya dengan mata sembab. "Dia pasti tidak akan mau menemuiku, Ma. Dia sudah mengunci pintunya untukku."
"Tentu saja!" Bu Sarah berdiri. "Jika aku jadi Hana, aku akan meludah di wajahmu. Tapi sekarang, tunjukkan sedikit harga diri Erlangga. Perbaiki apa yang kau rusak, atau jangan pernah panggil aku Mama lagi!"
Malam itu, Bima meringkuk di lantai kamar yang dulu ia bagi dengan Hana. Aroma lantai kini sudah bersih karena pelayan yang dipanggil ibunya, namun hatinya tetap terasa busuk.
Ia telah kehilangan segalanya. Cintanya, martabatnya, dan kini, ia bahkan kehilangan hak untuk dicintai oleh ibunya sendiri.
Akankah Bima mampu meluluhkan hati Hana dengan bantuan ibunya yang sangat disegani? Dan apa yang akan dilakukan Clarissa setelah diusir secara hina?
Konflik semakin memanas! Ikuti terus cerita selanjutnya!
...----------------...
**To Be Continue** ....