Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang Asing Di Keramaian
Beberapa hari berlalu, tapi perasaan di dada Senja tidak benar-benar berubah.
Ia tetap bangun pagi, tetap berangkat ke kampus, tetap duduk di kelas yang sama. Ia masih tertawa saat teman-temannya bercanda, masih mengangguk saat diajak ngobrol, masih terlihat “normal”.
Terlalu normal.
Padahal di dalam, ia merasa seperti sedang memakai tubuh orang lain. Seperti hidupnya berjalan otomatis, tanpa benar-benar ia kendalikan.
Di dalam kelas, dosen menjelaskan panjang lebar tentang materi yang biasanya bisa ia pahami. Tapi hari itu, suara itu hanya terdengar seperti dengung. Kata-kata masuk, lalu keluar lagi tanpa sempat diproses.
Senja menatap buku catatannya.
Halamannya kosong.
Padahal ia sudah memegang pulpen sejak lima belas menit lalu.
Tangannya sempat bergerak, tapi berhenti di tengah. Ia tidak tahu harus menulis apa. Bukan karena tidak mengerti materi, tapi karena kepalanya terlalu penuh oleh hal-hal yang tidak bisa ia tulis.
“Aku ngapain sih di sini?” gumamnya pelan.
Ia menulis satu kalimat di pinggir buku:
“Aku ada, tapi rasanya nggak hadir.”
Ia menatap tulisan itu lama.
Seolah kalimat itu bukan catatan, tapi diagnosa.
Di kantin, teman-temannya ramai membicarakan rencana liburan, konser, tugas kelompok, hal-hal kecil yang dulu juga pernah ia nikmati.
“Sen, kamu ikut nggak nanti?” tanya salah satu temannya.
Senja tersenyum refleks. “Lihat nanti ya.”
Jawaban default. Aman. Tidak berkomitmen.
Padahal sebenarnya, ia tidak benar-benar ingin ikut. Tapi juga tidak ingin sendirian. Ia hanya… tidak ingin apa-apa, tapi juga tidak ingin kehilangan segalanya.
Ia memperhatikan wajah teman-temannya satu per satu. Mereka tertawa lepas, saling memotong pembicaraan, saling mengeluh tentang hidup dengan cara yang ringan.
Dulu, ia seperti mereka.
Sekarang, ia hanya meniru.
Di tengah keramaian itu, ia merasa aneh.
Ia ada di sana.
Duduk di tengah mereka.
Mendengar suara mereka.
Tapi rasanya seperti menonton dari balik kaca.
Semua terlihat dekat, tapi tidak bisa disentuh.
Sore hari, Senja pulang sendirian. Ia sengaja tidak membuka ponsel, tidak memeriksa notifikasi. Ia ingin tahu satu hal:
Kalau aku benar-benar menghilang sebentar,
apa ada yang sadar?
Ia berjalan lebih pelan dari biasanya, melewati jalan yang sering ia lewati bersama Raka dulu. Tanpa sadar, langkahnya berhenti di depan tempat mereka biasa duduk.
Bangku itu masih ada.
Catnya sedikit terkelupas.
Tapi rasanya berbeda.
Ia duduk di sana, menatap langit yang mulai gelap.
Dulu, tempat ini penuh suara. Sekarang, hanya ada angin dan lalu lintas.
Ia teringat percakapan-percakapan kecil mereka. Hal-hal bodoh yang dulu terasa penting. Sekarang, semua itu seperti potongan film lama yang tidak lagi terasa miliknya.
“Apa semua kenangan emang harus terasa asing setelah selesai?” tanyanya pelan pada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara kendaraan yang lewat.
Malam itu, di kamar, Senja membuka ponselnya lagi. Bukan untuk mencari Raka. Tapi untuk melihat dirinya sendiri.
Ia membuka catatan lama. Tulisan-tulisan beberapa bulan lalu.
Tentang mimpi.
Tentang rencana hidup.
Tentang versi dirinya yang ingin ia jadi.
Ia membaca satu kalimat:
“Aku pengen jadi orang yang ngerti dirinya sendiri.”
Senja tertawa kecil. Bukan karena lucu. Tapi karena ironis.
“Aku bahkan sekarang nggak tahu aku siapa,” bisiknya.
Ia menyadari, selama ini ia sibuk menyesuaikan diri dengan sekitar. Menjadi versi yang mudah diterima. Mudah dimengerti. Mudah disukai.
Tapi di proses itu, ia tidak pernah benar-benar bertanya:
aku sendiri maunya jadi apa?
Ia meletakkan ponsel, memandang langit-langit kamar.
Untuk pertama kalinya, ia menyadari sesuatu yang lebih menakutkan dari patah hati:
Ia tidak sedang kehilangan seseorang.
Ia sedang kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri.
Dan itu jauh lebih sulit dicari penggantinya.
Karena orang lain bisa pergi.
Kenangan bisa pudar.
Hubungan bisa selesai.
Tapi diri sendiri…
tidak bisa ditinggalkan.
Dan sekarang, ia harus hidup bersama seseorang yang bahkan tidak ia kenal lagi:
dirinya sendiri.