Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 - Tekanan, Reaksi, Tindakan
Matahari menunjukkan wujudnya seolah tidak terjadi apa-apa. Karina pun membuka matanya dan seperti yang dilakukan orang pada umumnya, dia langsung mencari dimana handphone-nya. Saat membuka hp-nya, dirinya terdiam melihat berita yang judulnya :
DIMANA POLISI SAAT MASYARAKAT BUTUH PERLINDUNGAN?
Berita tersebut seakan ingin pernyataan dari pihak kepolisian mengapa dari kasus satu, kasus dua, hingga kasus terbaru, pelaku belum terungkap. Berita tersebut menyebutkan pihak kepolisian seolah lamban dalam menangani kasus-kasus yang terjadi. Hal ini sebenarnya wajar terjadi mengingat warga masuk dalam bayang-bayang ketakutan yang entah sampai kapan akan berakhir. Karina pun iseng membuka twitter dan ya, sesuai dugaan Karina, isinya pemuh dengan komentar pedas, menyerang, menohok terhadap pihak kepolisian yang dinilai lamban menangani kasus pembunuhan berantai.
Mana polisi itu, datang-datang saja tapi tidak ada kejelasan.
Polisi b*go, mending diganti sama anak saya yang ranking 1 terus disekolah.
Pembunuhan udah berapa kali kejadian, polisi masih 'dalami kasus'. Dalami apa? Dalami kopi di kantor?
Katanya negara hukum. Tapi pembunuh masih bebas muter kota kayak lagi healing
Sekarang tidur aja takut. Bukan karena takut gelap sih, tapi takut karena negara kayak ikutan merem
Polisi minta waktu. Pelaku kasih mayat
Ini pembunuhan berantai apa lomba siapa paling lambat nangkap pelaku ga sih?
Media disuruh tenang, masyarakat disuruh sabar, pelaku disuruh apa? Lanjut?!
Membaca komentar-komentar pedas itu hanya membuat Karina diam tak berkata 1000 bahasa, ia hanya memegang dahinya tanda dirinya juga ikut bingung sebenarnya mau dibawa kemana kasus ini?
Ring... Ring... Ring...
Handphone milik Karina berbunyi dan ternyata Arga menelepon, Karina langsung mengangkat.
"Iya, ada apa, Arga?" tanya Karina dengan nada berat seperti menahan sesuatu
"Karina, coba lihat TV, buruan!" jawab Arga, "Ada berita, eh breaking news!"
"Hah? Berita apaan sih?" tanya Karina sambil buru-buru ke ruang tamu
Karina pun langsung mengambil remot TV dengan terburu-buru dan menyalakan TV. Apa yang dilihat mungkin dia tidak akan percaya.
BREAKING NEWS
[GRAFIS TV — MUSIK TEGANG — TULISAN MERAH MENYALA]
BREAKING NEWS | TEROR PEMBUNUHAN BERUNTUN — PUBLIK MENDIDIH
ANCHOR (suara tegas):
“Pemirsa, kita awali siang ini dengan Breaking News. Serangkaian kasus pembunuhan brutal yang terjadi dalam beberapa hari terakhir kembali mengguncang kota. Hingga saat ini, pelaku masih belum tertangkap. Di saat yang sama, gelombang kemarahan publik membanjiri media sosial, menyoroti kinerja kepolisian yang dinilai lamban dan tidak transparan.”
[CUT TO MONTAGE: lokasi TKP dipasang garis polisi, wajah warga tegang, kilatan kamera wartawan]
ANCHOR:
“Korban pertama ditemukan dua hari lalu tanpa saksi dan tanpa rekaman. Belum tuntas penyelidikan, muncul kasus kedua—satu keluarga tewas di rumah mereka. Kini, korban ketiga ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah bangunan tua. Semua kasus memiliki satu kesamaan: pelaku tidak meninggalkan jejak.”
[LOWER THIRD: “TIGA KASUS DALAM < 3 HARI — PELAKU MASIH BEBAS”]
ANCHOR:
“Ketidakpastian ini memicu reaksi keras masyarakat. Media sosial—khususnya platform twitter—dipenuhi komentar pedas yang menyerang institusi kepolisian.”
[GRAFIS LAYAR: KOMENTAR NETIZEN BERGULIR]
VOICE OVER (membacakan):
‘Setiap hari korban nambah, yang nambah cuma konferensi pers.’
‘Polisi minta waktu. Pelaku kasih mayat.’
‘Kalau pelaku makin cerdas, yang ngejar kok makin bingung?’
‘Kami disuruh sabar, pelaku disuruh lanjut?’
ANCHOR (menahan emosi):
“Komentar-komentar ini viral, pemirsa. Sebagian bahkan mempertanyakan apakah masalah utama ada pada pelaku—atau pada sistem penanganannya.”
[CUT TO REPORTER DI LAPANGAN — suara bising wartawan]
REPORTER:
“Saya berada tak jauh dari lokasi penemuan korban terbaru. Warga terlihat resah dan memilih mengurung diri. Beberapa menolak diwawancarai karena takut. Di sisi lain, pihak kepolisian kembali menyampaikan bahwa kasus masih dalam tahap pendalaman.”
[INSERT: POTONGAN STATEMENT RESMI — suara dipotong cepat]
“—kami bekerja maksimal—”
“—masih mengumpulkan bukti—”
“—belum bisa menyimpulkan—”
REPORTER (lanjut):
“Namun, pernyataan itu justru memantik reaksi baru. Netizen menilai bahasa yang sama terus diulang tanpa perkembangan nyata.”
[GRAFIS: KOMENTAR VIRAL — TAGAR #KotaTidakAman #DimanaPelaku]
VOICE OVER:
‘Pembunuh satu, yang bingung satu institusi.’
‘Yang ditangkap kamera wartawan, bukan pelakunya.’
‘Negara hukum katanya. Tapi teror jalan terus.’
ANCHOR (kembali ke studio):
“Tekanan tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari media dan tokoh masyarakat yang meminta langkah cepat dan tegas. Beberapa pengamat memperingatkan, keputusan tergesa demi meredam opini publik justru berpotensi menjadi kesalahan fatal.”
[GRAFIS: “TEKANAN PUBLIK — RISIKO KEPUTUSAN TERGESA”]
ANCHOR:
“Pemirsa, ketakutan kini bukan lagi isu individual. Ini telah menjadi krisis kepercayaan. Publik menuntut hasil—bukan janji. Dan selama pelaku masih bebas, pertanyaan itu akan terus bergema: siapa yang benar-benar memegang kendali?”
[MUSIK MENEGANG — LAYAR GELAP PERLAHAN]
ANCHOR:
“Kami akan terus mengabarkan perkembangan terbaru. Tetap bersama kami.”
Karina langsung mematikan TV. Karina tidak berbicara ataupun bergumam, dirinya dibuat benar-benar terdiam. Sebenarnya Karina juga bingung dengan dirinya sendiri dan kepolisian yamg saat ini dalam menangani kasus pembunuhan berantai.
Bukti? Nihil
Tanda? Nihil
Saksi? Apalagi
Semuanya benar-benar dibuat buta arah oleh pelaku. Tidak ada petunjuk sama sekali dari pelaku.
Karina dengan berat melangkah menuju kamar untuk bersiap pergi menuju kantornya.
Selama perjalanan, Karina tidak pernah berhenti bergumam,
"Mau kamu apa sih, pelaku?"
"Bisa ga tunjukin aja muka kamu sekali aja."
"Awas aja ya kalo aku nangkap kamu."
Wajah Karina terlihat badmood. Dan sesampainya di kantor, dirinya tak langsung berinteraksi seerti biasanya, hanya diam dan berjalan langsung menuju ruang rapat.
Dan disana...
Tidak ada siapapun.
Hanya dirinya yang berada di ruangan itu.
Hanya setumpuk berkas dan foto-foto TKP yang diambil sebelumnya menemani Karina. Ia langsung duduk, menatapi foto dan tumpukan berkas yang sebenarnya hanya menjadi pajangan tak berguna. Karina bingung harus bereaksi bagaimana lagi, ia membuka pelan berkas dan,
"Kamu lagi ngapain disin-- huaaa"
"ASTAGA, ARGA!! Ngapain kamu disana," karin terkejut melihat Arga tiba-tiba muncul dari bawah meja.
"Aku semalam-- huaaa, ngumpulin foto dan berkas ini, ya dengan harapan nemuin titik terang, tapi akunya udah ketiduran duluan," jawab Arga sambil meregangkan badan dan menguap.
"Udah cuci muka dulu sana, Haha," Karina menyuruh Arga sambil tertawa kecil.
Tidak lama setelahnya, Antono masuk ruangan dan langsung duduk tanpa sepatah dua kata. Karina melihat Pak Antono dan mencoba langsung menyapanya.
"Pagi, Pak Ant--"
"Jangan bicara, aku lagi mikir keras.", potong Antono, "Dengan adanya headline news seperti ini membuat pelaku akan mengetahui bahwa polisi frustasi dan kita sudah masuk dalam rencana dia."
Perkataan Antono membuat kondisi di ruangan itu semakin canggung, Karina tidak berani memecahkan keheningan, ia lebih memilih diam meratapi tumpukan berka tak berguna itu.
Matahari mulai merangkak ke puncak menandakan waktu pagi sudah berganti siang, langit cerah dengan warna kebiruan muda ditambah gumpalan air membentuk yang abstrak. Namun, pemandangan indah itu tak seindah apa yang ada dipikiran Karina. Ia sedang meratapi langit sesekali kesilauan dengan cahaya matahari. Bukan keindahan yang diratapi, melainkan bagaimana semua ini bisa diselesaikan.
Ring... Ring... Ring...
Telepon itupun berbunyi, Karina melihat dan yang menelepon adalah ibunya.
"Assalamualaikum, nak."
"Waalaikumussalam, bu, ada apa bu?" tanya Karina
"Nak, ibu tadi barusan lihat berita tentang pembunuhan nak dan tentang kepolisian."
"Kamu hati-hati ya disana, jaga kesehatan sama pola makanmu, pasti akhir-akhir sibuk banget ya?"
"Jangan khawatir ya nak, insyaAllah, semuanya akan baik-baik saja, terus berdoa dan berusaha, ibu percaya sama kamu."
Mendengar itu, Karina sejenak meneteskan air mata, lalu berkata, "I-iya bu,-- sesekali mengusap air matanya -- makasih banyak ya bu, doain terus Karina bisa lancar dan baik-baik aja disini -- hiks hiks -- Karina kangen ibu."
Karinaaaa
Seseorang memanggil nama Karina, ia pun menoleh ke arah suara tersebut dan ternyata Arga memanggil namanya.
"Ada apa, Arga? Eh bentar -- Bu aku mau rapat dulu ya, assalamualaikum."
"Kita mau rapat, Kar, kamu udah ditunggu sama semua." Jawab Arga
Karina dan Arga pun langsung bergegas menuju ruang rapat.
Sejak pagi kantor kepolisian terasa berbeda. Bukan karena jumlah personel yang lebih banyak, atau lalu lalang wartawan yang masih setia menunggu di depan pagar. Perbedaannya ada pada udara—tebal, pengap, dan berat—seakan setiap orang yang melangkah di dalam gedung membawa beban yang sama: rasa diawasi.
Televisi di sudut ruang tunggu masih menyala. Tanpa suara, tapi teks breaking news terus berlari di bagian bawah layar. Wajah-wajah korban silih berganti, diiringi grafis merah menyala dan kalimat-kalimat yang tak lagi netral. Kata-kata seperti “kegagalan”, “kelambanan”, dan “krisis kepercayaan” kini menjadi bagian dari kosakata sehari-hari.
Karina berdiri beberapa detik di depan layar itu sebelum memalingkan wajah. Ia tahu, menatapnya lebih lama hanya akan membuat dadanya semakin sesak.
Di lantai atas, ruang rapat utama telah dipenuhi orang-orang berseragam lengkap. Beberapa perwira tinggi duduk dengan punggung tegak, tangan terlipat di atas meja. Di sisi lain, tim penyelidik berdiri atau duduk tanpa benar-benar nyaman. Tidak ada percakapan ringan. Tidak ada sapaan basa-basi.
Rapat kali ini bukan rapat teknis. Ini rapat pertanggungjawaban.
“Baik,” suara seorang pejabat tinggi memecah keheningan, datar namun tegas. “Kita semua tahu kenapa kita berkumpul pagi ini.”
Tidak ada yang menyahut.
“Dalam waktu kurang dari tiga hari, tiga lokasi kejadian. Korban bertambah. Media menggila. Publik panik.” Ia berhenti sejenak, menatap satu per satu wajah di ruangan. “Dan sampai sekarang, kita belum punya tersangka.”
Kalimat terakhir itu menggantung di udara, seperti tuduhan yang tidak diarahkan ke satu orang—melainkan ke semua.
Arga menggeser duduknya. Tangannya mengepal pelan di bawah meja. Ia ingin bicara, ingin menjelaskan kompleksitas kasus, ingin berteriak bahwa pelaku ini bukan penjahat biasa. Tapi ia tahu, ini bukan ruang untuk penjelasan panjang.
“Dengan segala hormat,” seorang pejabat lain menyela, “publik tidak peduli kompleksitas. Mereka hanya ingin hasil.”
Beberapa kepala mengangguk.
“Strategi kita saat ini,” lanjutnya, “dinilai terlalu lambat. Terlalu akademis. Terlalu—” ia mencari kata yang tepat, “—sunyi.”
Karina menoleh sekilas ke arah Antono. Pria itu duduk dengan posisi santai, punggung bersandar, tangan bertaut di depan dada. Wajahnya tetap datar, nyaris tanpa ekspresi. Ia tidak menyela, tidak membela diri, bahkan tidak menunjukkan ketidaksenangan.
Justru ketenangan itulah yang membuat sebagian orang di ruangan itu tidak nyaman.
“Pak Antono,” pejabat pertama kembali berbicara, kali ini menyebut nama dengan jelas. “Metode Anda kami hargai. Rekam jejak Anda tidak diragukan. Tapi kondisi sekarang berbeda. Kita berada di bawah sorotan.”
Antono mengangguk pelan. “Saya paham.”
“Karena itu,” lanjut sang pejabat, “kami membutuhkan langkah yang lebih… terlihat.”
Satu kata itu—terlihat—membuat Karina menahan napas.
“Patroli diperbanyak. Rilis pers diperjelas. Kami juga mempertimbangkan untuk menyampaikan bahwa kami telah mengantongi beberapa nama potensial, meskipun masih dalam pendalaman.”
Kali ini Antono mengangkat kepala.
“Nama tanpa dasar,” ucapnya tenang, “adalah umpan.”
Ruangan kembali senyap.
“Publik butuh rasa aman,” balas pejabat itu cepat. “Dan rasa aman sering kali datang dari keyakinan bahwa aparat memegang kendali.”
“Keyakinan palsu,” Antono menjawab tanpa meninggikan suara, “akan memancing pelaku bertindak lebih jauh.”
Beberapa orang saling pandang. Tegangan terasa jelas.
“Dengan segala hormat,” pejabat itu sedikit mencondongkan tubuh ke depan, “kami tidak bisa hanya menunggu analisis. Kami butuh aksi.”
“Dan saya tidak menyarankan menunggu,” Antono menimpali. “Saya menyarankan bergerak tanpa memberi tahu arah.”
Kalimat itu tidak disambut baik.
Arga akhirnya angkat bicara. “Yang Pak Antono maksud—”
“Cukup,” potong pejabat tersebut. “Kita akan mengambil pendekatan ganda. Tim Anda tetap bekerja, Pak Antono. Tapi kebijakan komunikasi dan langkah-langkah preventif akan kami ambil alih.”
Itulah momen ketika Karina sadar: kendali mulai terbelah.
Rapat berakhir tanpa kesepakatan yang benar-benar bulat. Yang ada hanya keputusan setengah matang, dipaksakan oleh tekanan waktu dan sorotan kamera.
Di koridor, Karina berjalan di samping Antono. Langkah mereka seirama, tapi jarak di antara mereka terasa lebih jauh dari biasanya.
“Pak,” Karina akhirnya berbicara, suaranya rendah. “Apa yang barusan terjadi—”
“Adalah awal,” Antono memotong pelan.
“Awal dari apa?”
“Awal ketika kita tidak lagi melawan pelaku saja,” jawabnya. “Tapi juga melawan kebisingan.”
Karina terdiam.
Di luar gedung, wartawan sudah menunggu. Mikrofon diarahkan, kamera dinyalakan. Pernyataan singkat diberikan. Kata-kata aman dilontarkan. ‘Kami optimis.’ ‘Kami bekerja maksimal.’ ‘Kami minta masyarakat tetap tenang.’
Namun di balik itu semua, Antono tahu—dan Karina mulai merasakannya—bahwa pelaku sedang memperhatikan.
Bukan lokasi patroli. Bukan jumlah personel.
Melainkan perubahan ritme.
Malamnya, saat kota dipenuhi sirene dan lampu biru yang berkeliling tanpa tujuan jelas, Antono berdiri di depan papan kasus di ruang kerjanya. Foto-foto TKP tersusun rapi. Benang-benang merah menghubungkan kejadian-kejadian yang bagi orang lain tampak acak.
Ia tidak mencari pola kebrutalan. Ia mencari jeda.
“Dia sabar,” gumamnya pelan. “Dan kita baru saja memberinya panggung.”
Sementara itu, di tempat lain, layar televisi kembali menampilkan wajah-wajah korban. Narasi dibentuk. Tekanan meningkat. Dan tanpa disadari siapa pun di dalam sistem, satu keputusan kecil—yang diambil demi meredam kegaduhan—telah menggeser arah permainan.
Keputusan itu tidak diumumkan dengan kata kesalahan.
Ia dibungkus rapi dalam istilah yang lebih aman: strategi penenangan publik.
Pagi berikutnya, konferensi pers digelar lebih cepat dari biasanya. Ruang media penuh. Lampu kamera menyala seperti mata-mata kecil yang siap menangkap setiap kedipan, setiap jeda, setiap keraguan.
Karina berdiri di belakang barisan pejabat, tidak berbicara, hanya mendengar. Kalimat demi kalimat dilontarkan—optimisme, klaim kemajuan, janji percepatan. Bahkan disebutkan bahwa penyelidikan telah mengarah pada profil tertentu, meski tanpa detail.
Profil.
Bukan tersangka.
Bukan bukti.
Hanya kata.
Dan kata itu, bagi pelaku, sudah lebih dari cukup.
Antono menyaksikan konferensi pers itu dari ruangannya, layar televisi kecil di sudut meja menyala tanpa suara. Ia tidak memerlukan audio untuk memahami pesan yang disampaikan. Bahasa tubuh para pejabat sudah bicara lebih jujur daripada naskah yang mereka baca.
“Ini bukan untuk pelaku,” ucapnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Ini untuk penonton.”
Ia mematikan televisi.
Dalam sistem yang tertekan, kecepatan sering kali disalahartikan sebagai kemajuan. Patroli ditambah. Penjagaan diperluas. Titik-titik tertentu ditetapkan sebagai area rawan dan dipenuhi seragam. Kota tampak lebih aman di siang hari—setidaknya secara visual.
Namun justru di situlah masalahnya.
“Pola kita berubah,” kata Antono dalam rapat internal kecil sore itu. Hanya ada Karina dan Arga bersamanya. Tidak ada pejabat, tidak ada notulen.
“Kita jadi bisa ditebak,” lanjutnya.
Arga mengernyit. “Tapi bukankah patroli itu perlu? Publik—”
“Publik bukan target pelaku,” potong Antono tenang. “Perhatian kita yang jadi target.”
Karina terdiam. Ia mulai menyadari apa yang dimaksud Antono sejak awal: setiap langkah yang terlalu terlihat adalah sinyal. Dan sinyal, bagi seseorang yang sabar dan cerdas, adalah undangan.
Malam hari datang tanpa hujan, tanpa angin. Terlalu tenang.
Pukul 22.17, pusat komando menerima laporan.
Bukan dari warga.
Bukan dari patroli.
Melainkan dari petugas kebersihan kota yang melapor ada bau menyengat di area yang—ironisnya—baru saja diumumkan sebagai “zona aman”.
Lokasinya tidak terpencil. Tidak tersembunyi. Bahkan dekat dengan jalur yang sering dilewati aparat.
Ketika tim tiba, tidak ada kerumunan. Tidak ada teriakan. Hanya lampu jalan yang menyinari area itu dengan cahaya pucat.
Dan di sanalah mereka menemukannya.
Korban kelima.
Metodenya berbeda. Tidak ada pola visual yang sama dengan kasus sebelumnya. Tidak ada pesan. Tidak ada simbol. Namun satu hal langsung terasa jelas bagi Antono bahkan sebelum forensik bekerja: ini bukan improvisasi.
Ini jawaban.
“Dia memindahkan panggung,” gumam Antono saat melihat TKP. “Dari tempat sunyi ke tempat yang kita klaim aman.”
Karina berdiri beberapa langkah di belakangnya, dadanya terasa sesak. Semua yang mereka lakukan sejak konferensi pers—semua langkah yang dimaksudkan untuk menenangkan—justru seolah diarahkan kembali ke wajah mereka sendiri.
Arga memecah keheningan. “Tidak ada saksi?”
“Tidak,” jawab petugas lapangan. “CCTV aktif, tapi ada jeda. Bukan rusak. Seperti… tidak merekam apa-apa selama beberapa menit.”
Antono mengangguk pelan. “Bukan kebetulan.”
Keesokan paginya, berita itu meledak.
Judul-judul lebih tajam. Nada lebih kejam.
“Zona Aman Jadi Lokasi Pembunuhan.”
“Janji Keamanan Dipatahkan dalam Semalam.”
“Pelaku Seolah Mengejek Aparat.”
Di kantor, suasana memburuk. Bukan hanya tekanan—melainkan saling curiga. Setiap unit merasa langkahnya dipantau, bukan oleh pelaku, tapi oleh atasan dan media.
Rapat darurat digelar. Nada suara meninggi. Ada yang menyalahkan kebocoran informasi. Ada yang menuding analisis terlalu lambat. Ada pula yang diam—diam yang paling berbahaya.
Antono berbicara di akhir, seperti biasa.
“Kita memberi pelaku dua hal,” katanya tenang. “Prediktabilitas dan waktu.”
“Jadi menurut Anda ini salah kami?” tanya salah satu pejabat dengan nada defensif.
“Tidak,” jawab Antono tanpa ragu. “Ini salah sistem yang lupa bahwa ketenangan bukan berarti kekosongan.”
Ruangan hening.
Karina melihat sekeliling. Ia melihat kelelahan di wajah-wajah itu. Frustrasi. Ketakutan yang tidak diucapkan. Untuk pertama kalinya sejak kasus ini dimulai, ia merasa bahwa mereka bukan lagi satu tim utuh—melainkan kumpulan orang yang bereaksi.
Dan pelaku tahu itu.
Malam itu, Antono tidak langsung pulang. Ia kembali ke ruangannya, membuka kembali papan kasus. Kali ini ia menambahkan satu kolom baru, ditulis dengan spidol hitam tebal:
RESPON SISTEM
Di bawahnya, ia mencatat: konferensi pers, patroli, klaim zona aman, perubahan ritme.
“Dia tidak membunuh untuk menyampaikan pesan,” ucapnya pelan. “Dia membunuh untuk menguji.”
Di tempat lain di kota, sirene meraung lagi. Bukan karena kasus baru—belum. Tapi karena kepanikan yang kini menyebar lebih cepat daripada pembunuhan itu sendiri.
Dan kini, semua pihak menyadari satu hal yang sama:
Permainan telah berubah.
Dan perubahan itu… bukan inisiatif mereka.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y