NovelToon NovelToon
Penjara Suci

Penjara Suci

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Perjodohan / Romansa pedesaan
Popularitas:29k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Tak semua tempat suci adalah rumah, sebagian hanya penjara bagi hati yang pernah salah.

Hanin dibesarkan dengan keyakinan bahwa cinta hanya halal setelah akad. Di desanya tabu seorang berpacaran. Namun, ia memilih mencintai diam-diam, hingga satu foto tanpa hijab, dalam pelukan Fahmi, menjadikannya aib keluarga.

Hanin dikirim ke pesantren. Sebuah penjara yang dibungkus kesucian. Pesantren berada di suatu desa yang jauh dari kota dan keramaian.

Di sana, ia bertemu Ghania, sahabat yang terasa seperti rumah. Sampai hari pertunangan itu tiba, hari ketika Hanin diperkenalkan pada calon suami Ghania. Pria itu ternyata Fahmi, mantan kekasihnya.

Di balik tembok Penjara Suci, Hanin terjebak antara iman, persahabatan, dan cinta lama yang belum benar-benar mati.
Diam demi menjaga kehormatan,
atau jujur dengan risiko menghancurkan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Ke Pondok Pesantren

Pagi datang terasa begitu cepat. Hanin hampir tidak tidur semalaman. Matanya sembap, kepalanya berat, tapi hatinya terasa jauh lebih kosong daripada lelah. Pesan Fahmi masih terbayang jelas di benaknya.

Lupakan aku.

Baik, batinnya pelan. Aku akan lupakan.

Subuh itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Tak ada suara televisi. Tak ada bunyi sendok beradu dengan piring. Hanya suara wudhu dari kamar mandi dan langkah kaki yang terdengar lebih pelan dari biasanya.

Hanin keluar kamar dengan koper di tangan. Umi sudah mengenakan gamis panjang warna cokelat tua. Wajahnya pucat, tapi ia berusaha tampak tegar. Abi berdiri di dekat pintu, mengenakan peci hitam dan baju koko putih.

Tak ada yang berkata “sudah siap?” Tak ada yang bertanya “kamu bawa semua?”

Hanya diam. Hanin menunduk. “Sudah, Bi.”

Abi mengangguk sekali. “Masukkan koper ke bagasi.”

Perjalanan dimulai tanpa doa yang diucapkan keras-keras. Hanya masing-masing yang berdoa dalam hati.

Di dalam mobil, suasana begitu sunyi sampai suara mesin terdengar seperti dengung panjang yang memecah keheningan.

Hanin duduk di kursi belakang. Tangannya menggenggam ujung jilbabnya. Ia memandangi jalan yang perlahan meninggalkan kota. Gedung-gedung berubah menjadi rumah-rumah kecil. Lalu menjadi sawah yang membentang hijau.

Tiga jam yang terasa seperti perjalanan menuju dunia lain. Beberapa kali Hanin ingin membuka suara.

“Umi .…” Tapi kalimat itu selalu berhenti di tenggorokan.

Abi menyetir dengan wajah datar. Tatapannya lurus ke depan. Tidak marah. Tidak juga lembut. Seperti seseorang yang sedang memegang keputusan besar dan tak ingin goyah.

Hanin menelan ludah. Ia memejamkan mata sebentar.

Aku kuat. Aku harus kuat.

Mobil akhirnya berbelok ke jalan kecil yang belum sepenuhnya beraspal. Pohon-pohon tinggi berjajar di kiri kanan. Udara terasa lebih sejuk.

Desa itu benar-benar berbeda dari tempat tinggalnya. Rumah-rumah kayu berdiri berjauhan. Anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki. Beberapa ibu duduk di teras sambil membersihkan sayur.

“Sudah dekat,” ucap Abi singkat.

Hanin mengangguk pelan. Tak lama, mobil berhenti di depan gerbang bertuliskan nama pesantren. Bangunannya cukup megah untuk ukuran di desa. Halamannya luas dengan pohon mangga dan beberapa asrama yang tampak bersih.

Beberapa santri perempuan berjalan sambil membawa kitab. Mereka mengenakan gamis longgar dan kerudung lebar.

Hanin menelan ludah lagi. Inilah rumahku dua tahun ke depan.

Abi turun lebih dulu. Umi menyusul. Hanin keluar terakhir. Angin desa menyentuh wajahnya. Ada aroma tanah dan dedaunan yang menenangkan sekaligus asing.

Seorang lelaki paruh baya keluar dari bangunan utama. Janggutnya memutih, wajahnya teduh.

“Rahmat!” serunya.

Abi melangkah cepat. Mereka bersalaman erat.

“Sudah lama tidak bertemu, Hamid,” ujar Abi.

Hanin tahu nama itu. Ustaz Hamid. Sahabat lama Abi semasa mondok dulu.

“Ini putrimu?” tanya Ustaz Hamid lembut sambil menatap Hanin.

Abi mengangguk. “Ini Hanin.”

Hanin menunduk hormat. “Assalamu’alaikum, Ustaz.”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah.” Suaranya hangat. “Selamat datang, Nak.”

Kata-kata itu sederhana. Tapi entah kenapa, dada Hanin terasa sesak.

Abi menarik napas panjang. “Saya titip dia, Hamid.”

Ustaz Hamid menatap sahabatnya itu dengan penuh pengertian. “InsyaAllah.”

Mereka masuk ke ruang tamu. Di dinding tergantung foto-foto santri berprestasi.

Abi duduk tegak. Umi di sampingnya. Hanin sedikit lebih ke belakang.

“Dia perlu lingkungan yang lebih terjaga,” ucap Abi pelan, tapi jelas.

Hanin menunduk. Tangannya kembali bergetar.

Ustaz Hamid tidak langsung bertanya apa-apa. Ia hanya mengangguk. “Di sini tidak ada yang tahu masa lalu. Yang ada hanya hari ini dan besok.”

Kalimat itu membuat Hanin mendongak sedikit.

“Semua yang datang ke sini membawa cerita masing-masing,” lanjutnya. “Tugas kami bukan menghakimi. Tapi membimbing.”

Abi terdiam beberapa detik. “Dua tahun,” katanya tegas.

Ustaz Hamid mengangguk lagi. “Baik.”

Umi akhirnya bersuara, pelan. “Mohon dibimbing dengan tegas, Ustaz. Kami tidak ingin dia dimanjakan.”

Hanin merasa tenggorokannya kering. Aku bukan anak kecil lagi.

Tapi ia tahu ini bukan soal dimanja atau tidak. Ini soal kepercayaan yang telah retak.

Setelah berbincang beberapa saat tentang aturan, jadwal mengaji, dan kegiatan harian, tibalah saat yang tak bisa dihindari.

Abi berdiri. “Baik. Kami pamit.”

Kalimat itu seperti palu yang diketukkan. Hanin ikut berdiri. Lututnya terasa lemas lagi.

Di halaman pesantren, koper Hanin sudah diturunkan. Beberapa santri memandangnya dengan rasa ingin tahu, tapi tidak ada yang berani mendekat.

Abi berdiri di depannya. Hanin menatap wajah ayahnya. Ia ingin mengingatnya baik-baik.

“Abi .…” Suaranya bergetar.

Ia menunduk, lalu berlutut di tanah berumput itu. Tangannya meraih tangan ayahnya, menciumnya dengan gemetar.

“Maafkan Hanin, Bi.” Suaranya pecah.

“Maaf sudah membuat Abi malu. Maaf sudah menjatuhkan nama baik Abi. Hanin benar-benar menyesal.”

Tangisnya pecah lagi, kali ini tanpa bisa ditahan. Abi terdiam beberapa detik. Lalu tangannya terangkat, menyentuh kepala putrinya pelan.

“Jangan ulangi,” ucapnya singkat.

Hanin mengangguk cepat. “Tidak, Bi. Hanin janji. Hanin akan berubah. Hanin akan jaga diri. Hanin akan belajar lebih sungguh-sungguh.”

Ia lalu beralih ke Umi. “Umi .…” Suaranya semakin kecil.

Ia mencium tangan ibunya lebih lama. “Maaf sudah mengecewakan Umi.”

Umi tak kuasa menahan air mata lagi. Ia memeluk Hanin lebih lama dari semalam.

“Jadi perempuan yang kuat,” bisiknya. “Jangan lagi menggantungkan hatimu pada manusia.”

Kalimat itu seperti nasihat yang datang tepat di titik terdalam luka Hanin.

“Aku akan berusaha, Mi,” jawab Hanin lirih.

Abi menarik napas panjang. “Kami tidak menjenguk. Bukan karena tidak peduli.”

Hanin mengangguk. Ia sudah tahu itu.

“Gunakan waktu ini untuk memperbaiki dirimu. Bukan untuk menghitung hari kapan pulang.”

“Iya, Bi.”

“Dan jangan pikirkan laki-laki itu lagi.”

Nama Fahmi tidak disebut. Tapi Hanin tahu maksudnya.

Ia menelan ludah. Lalu, dengan suara yang lebih mantap dari sebelumnya, ia berkata, “Hanin sudah mengikhlaskan, Bi.”

Abi menatapnya lebih dalam. Seakan mencari kebenaran dari kalimat itu.

“Kamu yakin?”

Hanin menarik napas panjang. “Dia sudah meminta untuk diakhiri. Jadi … Hanin juga akan berhenti.”

Sunyi beberapa detik. Abi mengangguk pelan. “Bagus.”

Ustaz Hamid berdiri tak jauh dari mereka, memberi ruang untuk momen perpisahan itu.

Hanin memandangi mobil mereka. Tiba-tiba rasa takut yang sejak tadi ia tahan menyeruak. Dua tahun tanpa pulang dan tanpa dijenguk.

“Abi …,” panggilnya lagi, lebih lirih.

Abi sudah melangkah setengah menuju mobil. Hanin berdiri cepat, lalu kembali memeluk ibunya sekilas.

“Doakan Hanin, Mi.”

“Setiap hari,” jawab Umi dengan suara serak.

Abi membuka pintu mobil. Hanin merasa dadanya seperti diremas. Ia ingin memanggil lagi. Ingin berkata jangan tinggalkan aku. Ingin meminta agar hukuman ini dipersingkat.

Tapi ia tidak melakukannya. Ini konsekuensinya. Ia berdiri di tempatnya, menahan tangis yang kembali menggenang.

Abi masuk ke kursi pengemudi. Umi di sampingnya. Sebelum pintu tertutup sepenuhnya, Abi menatap Hanin sekali lagi.

“Jaga shalatmu,” ucap Abi.

“Iya, Bi.”

“Jaga kehormatanmu.”

“Iya.”

“Dan jaga hatimu.”

Hanin mengangguk. Air matanya jatuh lagi.

Pintu mobil tertutup. Mesin dinyalakan.

Hanin berdiri terpaku. Kakinya terasa seperti tertanam di tanah. Mobil itu mulai bergerak perlahan.

Setiap meter jarak yang bertambah terasa seperti menarik sesuatu dari dadanya.

Ia tak lagi mencoba menahan tangis. Air matanya mengalir bebas.

“Ya Allah …,” bisiknya.

Mobil semakin jauh. Umi terlihat menoleh ke belakang dari jendela, tapi Hanin tak bisa melihat jelas wajahnya. Abi tetap lurus menatap jalan.

1
Eka ELissa
kmu pasti bisaa nin jalanin smua nya...kmrin aj kmu bisa kan msk kmu kli ini GK mampu.... semngat nin....ada Arsen gantinya Fahmi 😄🤭
Soraya
lanjut mam
Apriyanti
lanjut thor 🙏
ken darsihk
pleaseee Hanin lupakan Fahmi dia bukan jodoh mu , dan demi persahabatan mu dngn Ghania kamu harus melupakan Fahmi
💪💪 Hanin
Teh Euis Tea
udah ya hanin km harus semangat, lupakan si fahmi dia udah mau nikah dgn sahabat km ghania, semoga km dpt penganti yg lebih dari si fahmi
Patrick Khan
udah ahhhh jgn sedih trs 😖😖😖waktunya Hanin bahagia dan ada air mata lg😭😭😭
Ilfa Yarni
tumben cerita mama Reni ini mengandung bawang nangis trus dibuatnya
Supryatin 123
jujur lebih baik Fahmi daripada jadi lelaki pecundang lnjut thor 💪💪
Radya Arynda
alhamdulillah hanin tidak sama pecundang seperti fahmi,,,semogah kamu mendapat kan yang ter baik hanin.....
Eka ELissa
aduh knpaa pke nanya cih Fahmi....
jadi pnsaran kan tu gnia 🤦
Apriyanti
lanjut thor
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Soraya
lanjut thor
Teh Euis Tea
alhamdulilah aku baca marathon thor
cerita othor kelewat aku baca 🙏
Mama Reni: 😍😍😍😍😍😍
total 1 replies
Teh Euis Tea
sabar ya hanin si fahmi bkn jodohmu, lupakan dia semoga km bertemu jodoh yg sayang sm km
ken darsihk
Fahmi akan berkata jujur kah tentang Hanin ??
Akan dia cerita kan kedekatan mereka dulu ??
Oma Gavin
kenapa fahmi malah nyebut hanin sudah dibilang anggap asing malah cari perkara fahmi
Supryatin 123
jadi curiga kan si ghania.dasar si Fahmi rada bego lnjut thor 💪💪
Naufal Affiq
lanjut kak
Radya Arynda
mantap hanin,,buang lah sampah yang tidak menghargai,dan tidak membela mu,,,kalau tau kenyataanya tentang hidup hanin setelah kamu buat masalah,menyesal kamu,,,keluargamu sombong dan egois...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!