Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kapal berbeda Arah
Jakarta di sore hari selalu menawarkan wajah yang sama: debu yang beterbangan di bawah proyek bangunan, suara bising mesin pengaduk semen, dan panas yang seolah memanggang kulit para kuli. Namun, di balik seng-seng pembatas proyek tempat Aditya bekerja, ada sebuah dinamika yang perlahan-lahan bergeser. Sejak serangan sakit misterius yang membuatnya tumbang beberapa waktu lalu, raga Aditya memang belum pulih seratus persen, namun ia dipaksa untuk terus berdiri demi impian yang ia gantungkan di langit-langit desa.
Di sela-sela masa pemulihannya, sosok Ningsih menjadi pemandangan yang paling sering ia lihat. Gadis itu, dengan rambut yang selalu dikuncir kuda dan celemek warteg ibunya yang terkadang masih menempel, telah menjadi "malaikat penjaga" bagi Aditya. Namun, di balik setiap suapan bubur dan setiap gelas teh hangat yang diberikan Ningsih, tersimpan sebuah benang merah yang mulai kusut karena salah tafsir.
Bagi Ningsih, setiap tatapan lelah Aditya adalah sebuah panggilan untuk mengabdi. Ia merasa bahwa kedekatan mereka selama Aditya sakit adalah sebuah fase "lampu hijau". Di matanya, tidak ada laki-laki yang akan membiarkan seorang gadis mencuci bajunya, merapikan bedengnya, dan menyuapinya jika laki-laki itu tidak memiliki perasaan khusus. Ningsih mulai menata masa depannya di sela-sela melayani pelanggan warteg. Ia membayangkan Aditya akan memintanya menjadi pendamping hidup, membawa mereka keluar dari hiruk-pikuk kemiskinan kota, atau setidaknya membangun hidup bersama di sini.
Namun, di dalam kepala Aditya, ceritanya sangat berbeda.
Aditya adalah tipe laki-laki yang lurus. Baginya, kebaikan Ningsih adalah utang budi yang luar biasa. Ia melihat Ningsih dengan kacamata yang sama saat ia melihat Siti, adik kandungnya di desa. Ada rasa sayang, ada rasa ingin melindungi, dan ada rasa nyaman, namun semua itu murni kasih sayang persaudaraan. Ia menganggap perhatian Ningsih sebagai bentuk solidaritas sesama orang perantauan yang nasibnya sama-sama di ujung tanduk.
"Ningsih, kamu jangan repot-repot terus. Aku sudah bisa jalan sendiri ke warung," ucap Aditya suatu sore saat Ningsih mengantarkan gorengan hangat ke bedengnya.
"Ah, Mas Adit ini kayak sama siapa saja. Kan kita sudah dekat, Mas," jawab Ningsih dengan senyum yang sangat manis, matanya berbinar-binar menatap Aditya.
Kata "dekat" di telinga Ningsih berarti ikatan asmara, sementara di telinga Aditya, itu berarti persahabatan yang erat. Salah paham ini pun merembet hingga ke ibu Ningsih, pemilik warteg tempat para kuli biasa makan.
Ibu Ningsih, seorang wanita paruh baya yang kulitnya sudah legam karena uap masakan, mulai memperhatikan bagaimana anaknya selalu memberikan porsi daging yang lebih besar pada piring Aditya. Ia sering melihat Ningsih tersenyum-senyum sendiri setelah pulang dari bedeng proyek. Sebagai seorang ibu, ia menyimpulkan bahwa anaknya dan Aditya sudah "berhubungan".
"Sudah, Dit. Makan saja. Ini bonus dari Ibu," ucap Ibu Ningsih sambil menyodorkan sepiring penuh nasi rames dengan tambahan rendang yang biasanya mahal.
Aditya tertegun. "Loh, Bu? Ini kebanyakan. Saya bayar ya, Bu?"
"Sudah, simpan saja uangmu. Buat tabungan kalian nanti," jawab Ibu Ningsih sambil mengedipkan mata ke arah Ningsih yang sedang mencuci gelas di pojok warung.
Aditya hanya tersenyum canggung. Ia mengira "tabungan kalian" maksudnya adalah tabungan para pekerja untuk pulang kampung. Ia tidak menyadari bahwa ia sedang dianggap sebagai calon menantu. Sering kali, makanan Aditya digratiskan atau diberi diskon besar-besaran. Aditya merasa sangat sungkan, namun ia selalu berjanji dalam hati akan membalas kebaikan keluarga ini suatu saat nanti dengan uang hasil proyeknya.
Kedekatan yang salah arah ini semakin menguat saat hari libur tiba. Ningsih, yang memiliki sedikit tabungan dari hasil membantu ibunya, sering kali menjadi pihak yang berinisiatif mengajak Aditya keluar. Ia ingin menghibur Aditya agar laki-laki itu cepat sembuh dan tidak terlalu banyak melamun.
"Mas Adit, ayo kita nonton bioskop di mal depan. Katanya ada film bagus. Ningsih yang bayar, Mas. Anggap saja syukuran karena Mas sudah bisa kerja lagi," ajak Ningsih suatu Minggu siang.
Aditya awalnya menolak. Ia merasa tidak enak hati menggunakan uang Ningsih. Namun, karena Ningsih terus memaksa dan mengatakan bahwa ia merasa kesepian jika hanya di rumah, Aditya akhirnya luluh. Baginya, ini seperti menemani Siti jalan-jalan ke pasar malam di desa.
Di dalam bioskop yang dingin dan gelap, Ningsih duduk dengan jantung yang berdegup kencang. Ia sengaja meletakkan tangannya di atas sandaran kursi yang bersentuhan dengan lengan Aditya. Setiap kali pundak mereka tidak sengaja bersenggolan, Ningsih merasa dunia seolah milik mereka berdua. Ia merasa ini adalah kencan resmi mereka yang pertama.
Sementara itu, Aditya justru sedang sibuk menahan kantuk karena hawa AC yang dingin. Pikirannya sesekali terbang ke desa, membayangkan apakah Mirasih juga pernah menonton bioskop seperti ini. Ia tidak menyadari bahwa gadis di sampingnya sedang memadu kasih dalam imajinasinya sendiri.
Setelah menonton, mereka biasanya berjalan-jalan di pasar malam yang terletak di lahan kosong dekat proyek. Di sana, di tengah keramaian komidi putar dan bau harum arumanis, Ningsih menarik-narik lengan baju Aditya untuk melihat penjual aksesori.
"Mas, bagus tidak kalung ini?" tanya Ningsih sambil menempelkan sebuah kalung imitasi ke lehernya.
"Bagus, Ning. Cocok buat kamu. Kamu jadi kelihatan lebih segar," jawab Aditya jujur, sama seperti saat ia memuji baju baru Siti.
Pujian sederhana itu bagi Ningsih adalah sebuah pernyataan cinta terselubung. Ia merasa Aditya sangat memperhatikannya. Mereka kemudian duduk di bangku taman kota yang temaram, memakan jajanan pinggiran seperti batagor atau martabak telur.
"Mas Adit..." Ningsih memulai pembicaraan sambil menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. "Kalau nanti proyek ini selesai, Mas mau tetap di sini atau pulang?"
Aditya menatap jauh ke depan. "Aku harus pulang, Ning. Ada janji yang harus kutepati. Ada seseorang yang menungguku."
Ningsih terdiam sejenak. Hatinya sedikit berdesir, namun ia segera menepis pikiran buruk. Ia mengira "seseorang" itu adalah orang tua Aditya atau adiknya. Ia tidak pernah tahu tentang sosok Mirasih secara mendalam, karena Aditya jarang menceritakan detail asmaranya kepada orang baru. Ningsih merasa bahwa dialah wanita yang paling dekat dengan Aditya saat ini, maka dialah yang paling berhak atas masa depan pemuda itu.
"Ningsih juga mau ikut kalau Mas pulang. Eh, maksudnya... Ningsih mau main ke desa Mas kalau ada waktu," ucap Ningsih dengan malu-malu.
Aditya tertawa kecil, menepuk bahu Ningsih layaknya seorang kakak. "Tentu, Ning. Kamu pasti disambut baik di rumahku. Ibuku pasti senang sekali bertemu orang-orang baik yang sudah merawatku di Jakarta."
Lagi-lagi, kalimat Aditya diproses secara berbeda di otak Ningsih. Disambut baik oleh ibunya? Berarti Mas Adit mau mengenalkan aku secara resmi? batin Ningsih penuh bunga.
Kenyamanan ini benar-benar menjadi bumerang bagi mereka berdua. Aditya merasa sangat nyaman karena ia merasa memiliki "keluarga" di Jakarta yang membuatnya tidak merasa kesepian. Ia merasa aman karena ada Ningsih yang bisa ia ajak bicara sebagai adik. Namun, bagi Ningsih, setiap tawa Aditya, setiap kali Aditya membantunya mengangkat galon air di warteg, dan setiap kali mereka duduk berdua di taman, adalah bukti nyata bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Ningsih mulai bertingkah lebih berani. Ia tak segan-segan mengelap keringat di dahi Aditya saat pemuda itu sedang istirahat kerja di depan warteg, disaksikan oleh kuli-kuli lain yang bersiul-siul menggoda mereka. Aditya hanya nyengir, menganggap godaan teman-temannya sebagai lelucon biasa. Ia tidak tahu bahwa Ningsih benar-benar menganggap siulan itu sebagai musik pengiring asmara mereka.
"Lihat tuh, pengantin baru makin lengket saja!" teriak Bagas suatu kali.
Aditya hanya melempar puntung rokok ke arah Bagas sambil tertawa. "Sembarangan kamu, Gas! Ningsih ini adikku!"
Namun, suara tawa Aditya terlalu keras, sehingga kata "adikku" tidak terdengar jelas oleh Ningsih yang sedang berada di dalam warteg. Yang Ningsih dengar hanyalah Aditya tertawa senang saat disebut "pengantin baru".
Kesalahpahaman ini terus menumpuk, menggunung seperti material bangunan di lokasi proyek. Aditya yang terlalu polos dan Ningsih yang terlalu berharap menciptakan sebuah gelembung kepalsuan yang sangat indah namun rapuh. Mereka berdua berjalan di atas benang tipis yang sewaktu-waktu bisa putus.
Tanpa mereka sadari, jauh di desa, Mirasih telah melihat potongan-potongan kedekatan ini melalui mata batin sang Genderuwo—potongan-potongan yang telah dimanipulasi untuk menghancurkan hati Mirasih. Dan sementara Ningsih sedang merangkai mimpi pernikahan di Jakarta,
Kebahagiaan semu di taman-taman Jakarta itu sebenarnya hanyalah pengantar menuju badai yang jauh lebih besar. Aditya yang mengira ia telah menemukan "saudara" baru, dan Ningsih yang mengira ia telah menemukan "cinta sejati".
membawa Ningsih ke desa adalah
kehancuran mu
sampai kapan kau biarkan keadaan bgini
bahkan kau pun tak kan bisa membawa Mirasih kembali menemukan jiwa nya yg tergadai iblis
menarik kembali Mirasih yg dlu Aditya
selama kemewahan dari iblis dinikmati Mirasih yg dgn sukarela menggadaikan nyawa nya
semua kepalsuan itu di tanganmu sendiri Mirasih ...
mata hati mu tertipu iblis yg dulu kau benci
jodoh ngga ya sama mas Budi
kabut ghoib genderuwo tak akan membiarkan Mirasih lepas darinya
mungkin kah Budi penawar luka Mirasih setelah kehilangan Aditya