Berabad-abad setelah perang yang menghancurkan dunia Avalon, perdamaian tidak lebih dari sebuah tirai rapuh yang menyembunyikan ambisi-ambisi kuno dan rahasia-rahasia yang telah lama terkubur. Kael Ashvern, seorang remaja dari desa Ashfall, menjalani kehidupan yang tenang—hingga sebuah tragedi mendadak memaksanya melangkah jauh melampaui batas segala yang pernah ia kenal, dan mengungkapkan bahwa kalung warisan orang tuanya adalah salah satu dari dua puluh Philosopher Stones, artefak paling kuat yang lahir dari sisa-sisa The Great War.
Diburu oleh faksi-faksi yang saling bersaing dan dibayangi oleh kekuatan gelap yang mulai menggeliat kembali, Kael perlahan memahami bahwa dirinya bukan sekadar korban takdir. Untuk bertahan hidup, ia harus menghadapi dunia di mana kekuatan besar tidak pernah datang tanpa pengorbanan.
Mampukah Kael melewati ujian-ujian yang menantinya dan mengungkap kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon celvinworks, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Menggeliat
Fajar belum tiba ketika Kakek membangunkanku.
"Bangun. Sekarang."
Aku tersentak dari tidur—mimpi buruk samar tentang api dan teriakan yang belum sepenuhnya sirna dari kesadaranku. Kakek berdiri di sisi tempat tidur dengan postur sempurna meski usianya tujuh puluh tiga tahun, sudah berpakaian lengkap, pedang tersarung rapi di pinggangnya—sesuatu yang jarang kulihat ia kenakan di pagi hari.
"Kakek? Masih gelap—"
"Dunia tidak peduli apakah kamu siap atau tidak, Kael." Suaranya keras, berbeda dari nada lembut yang biasa ia gunakan ketika membangunkanku untuk latihan. "Musuh tidak akan menunggu kamu bangun dengan santai, tidak akan memberimu waktu untuk sarapan atau membereskan tempat tidur. Berpakaian, lima menit. Di halaman belakang."
Ia pergi, menutup pintu agak keras—suara yang membuat jantungku berdegup lebih cepat.
Aku duduk di kasur, masih setengah sadar, tapi nada Kakek tadi bukan nada yang bisa diabaikan atau ditunda dengan alasan mengantuk. Ini serius. Sangat serius.
Aku bergegas berpakaian—tunik sederhana, celana latihan yang sudah menipis di bagian lutut, sepatu bot kulit yang Kakek beli tahun lalu. Meraih pedang kayu dari sudut kamar, lalu berlari keluar dengan napas masih tersengal.
Di halaman belakang, Kakek sudah menunggu dengan postur sempurna bagai patung prajurit tua yang bersiap untuk perang. Tapi kali ini, ada yang berbeda—sangat berbeda dari latihan pagi biasanya.
Di tanah, berbagai perlengkapan tertata rapi. Tali tergulung dengan presisi militer, pisau kecil dengan sarung kulit hitam, batu api yang masih tampak baru, kantong kulit berisi sesuatu yang bergemerincing saat angin berhembus, botol-botol kecil berisi cairan berbeda warna, peta terlipat yang tampak lusuh namun terawat baik—dan mataku terpaku padanya.
Sebuah pedang.
Pedang sungguhan.
Bukan pedang kayu latihan yang selama bertahun-tahun menjadi temanku. Ini baja—bilah pendek sekitar satu meter dengan permukaan yang tampak lusuh namun terawat, sarung kulit hitam yang memudar di beberapa tempat. Gagangnya sederhana tanpa ukiran mewah, tapi permukaannya tampak halus, menunjukkan pedang ini sudah sering digunakan, sudah merasakan banyak pertempuran.
"Ini..." Aku menatap pedang itu dengan perasaan campur aduk antara kekaguman dan ketakutan. "Untukku?"
"Mulai hari ini, kamu berlatih dengan senjata sungguhan." Kakek mengambil pedang itu dengan gerakan yang sangat familiar—seperti mengangkat bagian dari tubuhnya sendiri—lalu menyerahkannya padaku dengan kedua tangan, penuh penghormatan. "Rasakan beratnya. Biasakan dirimu. Ini bukan mainan, Kael. Ini alat untuk bertahan hidup."
Aku menerimanya dengan kedua tangan, merasakan bobot yang jauh lebih berarti dari pedang kayu—baja padat yang membuat lenganku sedikit gemetar. Tapi keseimbangannya sempurna. Seperti sudah dibuat khusus untuk ukuran tanganku, untuk jangkauan lenganku. Seperti pedang ini sudah menungguku sejak lama.
"Kakek, kenapa sekarang?" Pertanyaan itu keluar hampir dalam bisikan, karena sebagian diriku sudah tahu jawabannya—dan takut mendengarnya dengan jelas.
Kakek tidak langsung menjawab, dan keheningan itu lebih menakutkan dari kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan. Ia berjalan ke tumpukan perlengkapan, mulai menjelaskan satu per satu dengan suara tenang namun menyimpan urgensi yang tersembunyi.
"Tali untuk memanjat pohon ketika dikejar, mengikat luka agar tidak terlalu banyak kehilangan darah, atau membuat torniket darurat jika diperlukan. Pisau—selalu simpan di dalam sepatu botmu, di tempat yang tersembunyi tapi mudah dijangkau. Batu api untuk membuat api tentu saja, tapi juga bisa menjadi senjata darurat jika kamu tahu cara melemparnya dengan benar ke mata musuh."
Ia mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan hijau pekat, mendekatkannya ke tingkat mataku agar aku bisa melihat dengan jelas. "Ini penawar racun umum—gigitan ular, tanaman beracun, anak panah yang dicelup racun. Botol merah adalah obat penggumpal darah, akan menyelamatkan nyawamu jika kamu terluka parah dan sendirian. Botol biru untuk meningkatkan stamina, tapi jangan gunakan sembarangan karena ada efek sampingnya—jantung berdebar, tangan gemetar, dan kamu akan pingsan setelah efeknya habis."
Aku berusaha menyerap semua informasi ini, tapi kepalaku mulai terasa penuh. Terlalu banyak detail, terlalu banyak instruksi, dan implikasi tersembunyi dari semua ini.
"Dan ini." Kakek mengambil peta terlipat yang tadi kulihat, membukanya dengan hati-hati di atas rumput. "Peta Avalon. Atau setidaknya, bagian yang sudah berhasil dipetakan oleh para penjelajah dan kartografer selama ratusan tahun."
Aku berlutut, melihat garis-garis tinta yang menunjukkan batas-batas kerajaan, rangkaian pegunungan yang digambar dengan detail luar biasa, sungai-sungai besar yang membelah benua, kota-kota yang ditandai dengan titik hitam. Ashfall bahkan tidak terlihat di peta ini—terlalu kecil, terlalu tidak berarti untuk dicatat. Tapi ada tanda 'X' kecil di tepian peta, ditulis dengan tinta berbeda, lebih baru—dengan tulisan tangan Kakek yang familiar: "Jika terancam, menuju Utara, perjalanan tiga hari, ikuti sungai. Perbekalan tersimpan."
"Jika sesuatu terjadi," Kakek berkata dengan suara yang turun setengah oktaf, hampir berbisik namun masih terdengar jelas dalam kesunyian pagi, "jika desa ini tidak lagi aman, jika aku tidak bisa melindungimu, jika kamu harus lari sendirian—ikuti rute ini. Di ujungnya, ada rumah aman yang kubangun bertahun-tahun lalu. Perbekalan tersimpan di sana—makanan, air, senjata, obat-obatan. Cukup untuk beberapa bulan jika kamu berhati-hati."
Dadaku terasa sesak mendengar instruksi ini, seolah Kakek sedang mempersiapkanku untuk sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan dari latihan tempur melawan monster sesekali. "Kakek, sebenarnya apa yang sedang terjadi?"
Kakek menatapku dengan mata yang tiba-tiba tampak sangat tua—bukan tua karena keriput atau rambut putih, melainkan tua karena beban yang sudah ia pikul selama puluhan tahun. Dan untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu yang tidak pernah kulihat sebelumnya pada pria yang selalu tampak tak terkalahkan ini.
Kelelahan. Bukan kelelahan fisik, tapi kelelahan eksistensial—seperti seseorang yang sudah terlalu lama berlari dari sesuatu yang tak terelakkan, dan tahu ia tidak bisa terus berlari selamanya.
"Aku melakukan banyak hal di masa lalu, Kael. Hal-hal yang tidak kubanggakan, hal-hal yang membuatku terbangun di tengah malam dengan keringat dingin." Ia duduk di bangku kayu yang biasa kami gunakan untuk beristirahat setelah latihan. "Membuat musuh. Banyak musuh. Orang-orang yang tidak lupa, yang tidak memaafkan, yang menunggu puluhan tahun hanya untuk kesempatan membalas dendam."
Pandangannya menerawang ke arah hutan Wilderness di kejauhan, seolah bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat olehku. "Dan sekarang masa lalu itu sedang mengejar. Mengejar kita."
"Karena aku?" Suaraku hampir berbisik, takut mendengar konfirmasi.
"Bukan salahmu." Kakek menggeleng cepat, dengan penekanan yang memperjelas bahwa ia benar-benar tidak ingin aku menyalahkan diri sendiri. "Jangan pernah berpikir seperti itu, mengerti? Ini rumit. Lebih rumit dari yang bisa kujelaskan sekarang. Tapi intinya, ada orang-orang yang menginginkan sesuatu yang kamu miliki—sesuatu yang sangat berharga dan sangat berbahaya. Dan mereka tidak akan berhenti, tak peduli berapa lama, tak peduli berapa banyak yang harus mereka korbankan."
Tanganku menyentuh kalung di leherku. Azure Codex yang selama ini kukira hanya kenangan sederhana dari orang tua yang tidak pernah kukenal.
Kakek terdiam melihat gerakanku, dan keheningan itu merupakan konfirmasi yang lebih jelas dari kata-kata mana pun.
"Kamu sudah tahu namanya," akhirnya ia berkata—bukan pertanyaan, melainkan pernyataan.
"Dari buku-buku." Aku menelan ludah, mulut terasa kering. "Azure Codex. Salah satu dari dua puluh Philosopher Stones. Terbentuk dari Perang Besar ratusan tahun lalu."
"Kamu sudah banyak membaca." Kakek tersenyum tipis—ekspresi yang mencampur kebanggaan dengan kesedihan yang dalam. "Ya. Azure Codex. Batu Ingatan Sempurna. Salah satu yang paling dicari, paling diinginkan, paling berbahaya di tangan yang salah."
"Kenapa?" Pertanyaan sederhana, tapi berimplikasi sangat kompleks.
"Karena ingatan adalah kekuatan, Kael." Ia bangkit, berjalan ke pagar, menatap Wilderness yang masih diselimuti kabut pagi di kejauhan. "Dengan ingatan sempurna—ingatan yang tidak pernah memudar, tidak pernah terdistorsi oleh waktu atau emosi—kamu bisa mempelajari apa saja hanya dengan melihatnya sekali. Menganalisis teknik bertarung musuh setelah beberapa gerakan dan menemukan kelemahannya. Mengingat setiap mantra yang pernah kamu dengar, setiap formula sihir yang pernah kamu baca, setiap rahasia yang pernah dibisikkan di dekatmu."
Ia berbalik, menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. "Di tangan yang salah, ini bisa menjadi senjata pemusnah massal. Bayangkan seseorang yang mengingat setiap kelemahan lawan, setiap rahasia kerajaan, setiap sihir terlarang yang pernah ada. Bayangkan seorang diktator dengan ingatan sempurna yang tidak pernah melupakan pengkhianatan, yang bisa mengingat setiap musuh dan merencanakan balas dendam yang sempurna."
Aku menatap kalung di tanganku—batu biru dengan pola yang selalu bergeser seperti air mengalir yang tidak pernah berhenti. Selama ini kukira ini hanya kenangan. Ternyata...
"Apakah batu ini sudah aktif?" tanyaku dengan suara yang sedikit gemetar.
Kakek menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Apa yang kamu rasakan?"
Aku berpikir, berusaha mengingat—dan tiba-tiba menyadari sesuatu yang seharusnya sudah lama kusadari. Setiap percakapan yang pernah terjadi, setiap halaman dari setiap buku yang pernah kubaca, setiap gerakan latihan yang pernah Kakek ajarkan—aku ingat. Dengan detail yang tidak wajar. Aku bisa mengulang percakapan dengan Cassius kata per kata meski itu terjadi beberapa hari lalu. Bisa membayangkan setiap diagram dalam bestiari tanpa membuka bukunya lagi—setiap detail terpampang jelas di benakku seolah halaman itu terbuka di depan mataku.
"Aku mengingat segalanya," aku berbisik, kesadaran itu menghantam seperti air dingin. "Sejak kapan?"
"Sejak kamu lahir, mungkin." Kakek kembali duduk, bahunya sedikit membungkuk—tanda kelelahan yang jarang terlihat. "Batu ini berikatan dengan pemiliknya sejak kontak pertama. Dalam kasusmu, sejak bayi, sejak orang tuamu mengalungkannya sebelum mereka pergi. Jadi efeknya halus, bertahap, terintegrasi sempurna dengan cara otakmu bekerja. Kamu pikir itu kemampuan alami, bakat yang kamu warisi dari garis keturunan."
Jantungku berdegup keras, tidak beraturan. Jadi selama ini aku tidak pernah benar-benar sendirian. Selalu ada sesuatu di dalamku. Sesuatu yang tidak benar-benar aku, tapi sudah menjadi bagian integral dari siapa aku sejak awal kehidupanku.
"Hei." Kakek menyentuh bahuku dengan tangan yang hangat dan familiar—sentuhan yang sudah ratusan kali menenangkanku sejak kecil. "Batu itu bukan parasit yang menguasai tubuhmu. Itu sudah menjadi bagian darimu sekarang, sudah menyatu selama tujuh belas tahun. Seperti lengan, seperti mata, seperti jantung yang memompa darahmu. Kamu tidak perlu takut pada dirimu sendiri."
"Tapi orang-orang itu ingin mengambilnya." Pernyataan, bukan pertanyaan—karena aku sudah tahu jawabannya.
"Dan itulah kenapa kamu harus kuat." Kakek bangkit dengan gerakan yang tiba-tiba penuh tekad, mengambil pedang kayunya yang bersandar di dinding. "Mulai sekarang, latihan kita berubah sepenuhnya. Aku tidak hanya mengajarimu gerakan yang benar atau kuda-kuda yang sempurna. Aku mengajarimu cara bertahan hidup—bertahan hidup yang sesungguhnya, di dunia yang tidak akan memberimu belas kasihan hanya karena kamu masih muda atau tidak tahu apa-apa."
Tiga hari berikutnya terasa seperti neraka yang tidak pernah berhenti—seolah Kakek tiba-tiba memutuskan untuk menuangkan seluruh pengetahuan dan pengalamannya selama puluhan tahun dalam waktu sesingkat mungkin.
Ia tidak memberi ampun sama sekali. Tidak ada lagi senyum lembut atau pujian kecil yang biasanya menyemangatiku. Setiap pagi, sebelum matahari terbit dan sebelum embun kering dari rumput, aku sudah bangun—berlari mengelilingi desa dengan kecepatan yang membuat paru-paruku terasa seperti terbakar, lima putaran penuh yang membuat kakiku terasa seperti timah. Kemudian latihan tempur, tapi bukan gerakan lambat dan metodis seperti sebelumnya yang berfokus pada penyempurnaan bentuk. Ini pertarungan dengan kecepatan penuh dan intensitas nyata—Kakek menyerangku seolah aku musuh sungguhan yang harus dikalahkan.
Kali pertama, hampir saja aku menangis. Bukan karena rasa sakit fisik saja, meski itu juga terasa luar biasa. Pedang kayunya menghantam tulang rusukku dengan kekuatan yang membuatku jatuh, napas tersumbat di tenggorokan, dunia berputar sejenak.
"Bangun," perintahnya dengan suara dingin tanpa empati—sangat berbeda dari Kakek yang biasa. "Musuhmu tidak akan memberimu waktu istirahat untuk merintih atau memegangi lukamu. Mereka akan menyerang lagi, dan lagi, sampai kamu mati atau mereka yang mati."
Aku bangkit dengan tubuh gemetar, mengangkat pedang lagi meski setiap gerakan terasa seperti menyiksa diri sendiri.
Dan ia menyerang lagi—lebih cepat kali ini, tidak memberi kesempatan untuk bernapas atau menyiapkan pertahanan.
Tapi sesuatu berubah dalam diriku.
Setiap kali ia menyerang, aku mulai melihat. Bukan hanya gerakan fisiknya, melainkan pola yang tersembunyi di balik setiap ayunan. Azure Codex bekerja di benakku tanpa kusadari—menganalisis, membandingkan, memprediksi. Ia selalu berpura-pura menyerang ke kiri dengan umpan halus sebelum menebas ke kanan dengan serangan sesungguhnya. Selalu mundur sedikit—pergeseran berat badan yang hampir tidak terlihat—sebelum menusuk dengan kekuatan penuh.
Pengenalan pola.
Dan untuk pertama kalinya dalam minggu latihan brutal ini, aku berhasil menangkis serangannya dengan timing yang sempurna.
Kakek berhenti di tengah ayunan, matanya sedikit melebar dengan keterkejutan yang tulus. Kemudian tersenyum. Senyum kecil yang penuh kebanggaan.
"Bagus. Sangat bagus." Ia menurunkan pedangnya. "Lagi. Dan kali ini, coba balas."
Sore hari diisi dengan pelajaran berbeda yang sama pentingnya.
Kakek mengajariku keterampilan bertahan hidup yang tidak pernah kusangka akan kubutuhkan. Cara membuat api tanpa batu api, hanya dengan gesekan dan bahan yang tepat. Cara melacak monster berdasarkan jejak yang ditinggalkan—kedalaman tapak kaki, jarak antar langkah, pola yang menunjukkan apakah monster sedang berburu atau hanya lewat. Cara mengidentifikasi tanaman yang bisa dimakan versus yang akan membuatku sakit atau bahkan membunuhku. Cara memasang jebakan sederhana dari tali dan ranting yang bisa menangkap kelinci atau memberi peringatan jika sesuatu mendekat.
"Kenapa aku perlu tahu semua ini?" tanyaku sambil mencoba membuat simpul yang Kakek ajarkan—frustrasi karena tanganku tidak cukup lincah. "Kukira Kakek mengajariku bertarung."
"Karena bertarung hanya berguna jika kamu hidup cukup lama untuk sampai pada pertarungan itu." Kakek memperbaiki simpulku dengan gerakan terlatih dan efisien. "Suatu hari nanti, kamu mungkin sendirian di hutan belantara, tidak ada desa untuk membeli makanan, tidak ada penginapan untuk tidur, tidak ada penyembuh jika kamu sakit. Hanya kamu, pedangmu, dan otakmu. Kalau kamu tidak tahu cara bertahan hidup, kemampuan bertarung yang baik tidak akan menyelamatkanmu dari kelaparan atau hipotermia."
Logika yang tidak bisa kubantah, meski sebagian diriku masih ingin memprotes betapa tidak adilnya semua ini—kenapa aku harus mempelajari semua ini di usia tujuh belas tahun, kenapa aku tidak bisa hidup normal seperti anak-anak desa lainnya.
Tapi aku sudah tahu jawabannya. Karena aku bukan anak biasa. Karena aku memiliki sesuatu yang diinginkan orang lain. Karena hidup memang tidak adil.
Malam ketiga, setelah latihan yang melelahkan seperti biasa, Kakek memanggilku ke ruang utama dengan suara yang lebih lembut—pertanda sesi brutal hari ini sudah berakhir.
Di atas meja, ia meletakkan dua benda dengan hati-hati. Peta yang sudah pernah kulihat sebelumnya. Dan sebuah amplop tersegel dengan lilin merah bermaterai pedang bersayap—simbol yang tidak kukenali.
"Ini," katanya dengan suara yang turun hampir menjadi bisikan, penuh bobot yang memperjelas betapa pentingnya momen ini, "untuk keadaan darurat. Jika aku tidak bisa melindungimu lagi, jika sesuatu terjadi padaku dan kamu harus pergi sendirian."
"Kakek, jangan bilang begitu—" Protes otomatis, karena membayangkan Kakek tiada terasa seperti mencoba membayangkan dunia tanpa matahari.
"Dengarkan, Kael." Suaranya tegas tapi tetap lembut—kombinasi yang hanya ia bisa lakukan. "Peta ini menunjukkan rute ke rumah aman yang sudah kujelaskan. Tapi juga..." Ia membuka peta, menunjuk garis berbeda dengan tinta merah, "...rute ke Arcanum Academy di Kerajaan Tengah."
Aku tersentak mendengar nama itu. "Academy?"
"Orang tuamu adalah lulusan di sana—dua di antara murid terbaik di angkatan mereka." Kebanggaan jelas terdengar di suaranya, meski bercampur dengan kesedihan. "Dan..." Ia mengambil amplop itu dengan gerakan hampir khidmat, "ini adalah surat rekomendasi. Dariku. Untuk Kepala Academy—Profesor Eldrin Thorne, teman lamaku dari masa perang. Jika kamu membawa ini dan menunjukkannya ke penjaga gerbang, mereka akan menerimamu. Tanpa pertanyaan, tanpa ujian masuk yang brutal, tanpa birokrasi yang biasanya memakan waktu berbulan-bulan."
"Kenapa Academy itu?" Pertanyaan keluar sebelum sempat kupikirkan, rasa penasaran mengalahkan keterkejutan.
"Karena di sana, kamu bisa belajar mengendalikan kekuatanmu—baik Azure Codex maupun sihir garis keturunan yang mungkin kamu warisi dari orang tuamu." Ia menatapku dengan intensitas yang membuatku tidak bisa mengalihkan pandangan. "Dan..." Suaranya turun lebih rendah lagi, hampir tak terdengar, "...ada seseorang di sana yang bisa kupercaya. Seorang teman lama yang berutang nyawa padaku. Ia akan melindungimu, melatihmu, memberikan perlindungan yang tidak bisa kuberikan di desa kecil ini."
Ia menyerahkan peta dan amplop itu dengan kedua tangan—formal, hampir seperti upacara. Aku menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar, merasakan bobot yang bukan hanya fisik, melainkan juga emosional.
Amplop itu tersegel rapat dengan lilin merah, materai pedang bersayap tercetak sempurna di tengahnya—resmi, penting. "Tapi aku tidak mau meninggalkan Kakek," bisikku, suara hampir retak.
Kakek tersenyum—senyum yang penuh kesedihan dan penerimaan, seperti seseorang yang sudah berdamai dengan takdir yang tak terelakkan. "Aku tahu, dan aku bangga dengan kesetiaanmu. Tapi kadang-kadang, jalan terbaik untuk benar-benar melindungi orang yang kita cintai adalah jalan yang paling menyakitkan untuk diambil."
Ia tiba-tiba memelukku—pelukan erat yang memperjelas betapa ia peduli, betapa semua latihan brutal tiga hari ini bukan karena ia tidak mencintaiku melainkan karena ia mencintaiku terlalu dalam. Ini pelukan pertama sejak... berapa lama? Berbulan-bulan? Mungkin lebih lama?
"Aku tidak akan mati dengan mudah, anak muda." Ia tertawa pelan di dekat telingaku, suara yang berusaha terdengar ringan tapi gagal sepenuhnya. "Aku adalah Sword Saint yang pernah menghadapi ribuan musuh di medan perang. Butuh lebih dari sekelompok pembunuh bayaran murahan untuk membunuhku."
Tapi aku bisa merasakan tubuhnya yang menegang di balik kata-kata gagah itu. Bisa merasakan gemetar halus yang ia berusaha sembunyikan.
Ia takut. Benar-benar takut.
Dan jika Kakek takut... maka situasinya jauh lebih buruk dari apa pun yang bisa kubayangkan.
Malam itu, aku bermimpi—tapi ini bukan mimpi biasa yang kabur dan mudah terlupakan saat terbangun.
Aku berdiri di tengah medan perang yang membentang tanpa ujung—tanah hitam retak dan kering, langit merah seperti darah yang membeku, api berkobar di mana-mana dengan panas yang bisa kurasakan meski ini hanya mimpi. Mayat-mayat berserakan sejauh mata memandang—manusia dengan baju zirah yang hancur, elf dengan anak panah masih tertancap di dada mereka, orc dengan kapak tergenggam erat meski tidak lagi bernyawa, iblis dengan sayap yang terbakar. Semua mati dalam posisi yang menunjukkan mereka berjuang hingga nafas terakhir.
Dan di tengah kekacauan dan kematian itu, aku melihat Kakek.
Tapi bukan Kakek yang kukenal sekarang—lelaki tua berambut putih dengan wajah berkeriput. Ini Kakek yang muda, berambut hitam legam, postur lebih tegak dan berotot, mengenakan baju zirah perak yang berkilau dengan enchantment yang membuatnya hampir bercahaya. Pedang panjang di tangannya—bilah yang memancarkan cahaya putih murni, seperti petir yang dipadatkan dan dimurnikan menjadi tepi pemotong yang sempurna.
Ia berdiri sendirian di tengah lingkaran mayat-mayat, menghadapi ribuan musuh yang masih hidup dan maju dengan tekad yang mengerikan.
Dan ia tersenyum. Senyum penuh keyakinan, hampir sombong.
"Mari," katanya dengan suara yang bergema seperti guntur yang mengguncang tanah—suara yang memerintah dan menantang sekaligus, "Aku adalah Hantu Medan Perang. Dan kalian semua akan menjadi kenangan yang dilupakan sejarah."
Para musuh itu menyerang dalam gelombang terkoordinasi—ratusan bergerak sebagai satu, senjata terangkat, teriakan perang memenuhi udara.
Dan Kakek—
Aku tidak bisa menjelaskannya dengan kata-kata yang memadai. Gerakan terlalu cepat untuk mata biasa, terlalu mengalir untuk terlihat mekanis—seperti air yang mengalir mengelilingi rintangan, atau angin yang berhembus melalui celah sempit. Seperti tarian yang mematikan dan indah sekaligus. Pedangnya membelah udara dan ruang itu sendiri seolah membengkok, setiap ayunan menjatuhkan puluhan musuh dengan luka yang presisi dan seketika fatal.
Tapi kemudian, suasana berubah—suhu turun drastis, cahaya meredup lebih jauh lagi.
Seseorang muncul dari kegelapan di balik pasukan yang terus maju.
Sosok berkerudung hitam yang terlalu tinggi untuk manusia—mungkin tiga meter, kehadirannya membuat bahkan prajurit-prajurit pemberani sejenak terhenti dalam ketakutan. Auranya mengerikan. Menindas. Mencekik. Seperti gravitasi yang meningkat seratus kali lipat, menekan segalanya ke bawah.
"Aldric Veyron," sosok itu berkata dengan suara seperti gema dari jurang yang tidak berdasar—suara yang bergema di tulang dan jiwa, "Kamu tidak bisa terus berlari dari konsekuensi. Kamu tidak bisa bersembunyi dari masa lalu yang ingin kamu tinggalkan."
Kakek—atau Aldric, rupanya itulah nama aslinya—menatap sosok itu dengan ekspresi yang kompleks. Bukan ketakutan. Tapi pasrah? Penerimaan?
"Aku tidak berlari," ia menjawab dengan suara yang mantap di hadapan kehadiran yang begitu menindas, "Aku membeli waktu. Waktu untuk seseorang yang lebih penting dari nyawaku sendiri."
Sosok itu tertawa—suara yang membuat tulang-tulangku bergetar bahkan dalam mimpi, suara yang terasa seperti realitas itu sendiri yang retak. "Waktu untuk apa? Anak itu? Kamu pikir menyembunyikannya di desa menyedihkan itu akan menyelamatkannya dari takdir? Dari nasib yang sudah tertulis di bintang dan batu?"
"Itu akan menyelamatkannya darimu." Suara Kakek turun ke nada berbahaya, tangan mengencang pada pedangnya. "Dan itu sudah cukup."
Sosok itu mengangkat tangannya—besar, seperti tulang, diselimuti api hitam—dan dunia retak.
Benar-benar retak seperti kaca yang pecah di bawah tekanan yang tidak mungkin. Realitas itu sendiri terpecah menjadi serpihan, memperlihatkan kilasan sesuatu di baliknya—kekosongan, kehampaan, lenyapnya keberadaan itu sendiri.
Dan aku jatuh—terjungkal melalui celah-celah itu, berputar di ruang yang tidak ada—
Aku terbangun dengan teriakan yang tersumbat di tenggorokan.
Napas tersengal seperti baru berlari maraton. Keringat dingin membasahi pakaian hingga ke kasur. Jantung berdegup seolah hendak meledak keluar dari dada, ritmenya kacau dan panik.
Dari kamar sebelah, terdengar suara langkah kaki yang cepat—mendesak, hampir berlari. Kakek masuk dengan pintu yang terbuka keras, pedang sudah terhunus di tangan, siap menghadapi ancaman apa pun.
"Kael! Ada apa—" Ia menyapu ruangan dengan cepat, mencari musuh.
"Mimpi," aku memotong cepat sebelum ia semakin panik, suara masih bergetar. "Hanya mimpi buruk."
Kakek menurunkan pedangnya perlahan, tapi tidak sepenuhnya rileks—posturnya masih waspada. Ia duduk di tepi kasurku dengan gerakan yang hati-hati dan terukur.
"Tentang apa?"
Aku tidak tahu harus berkata apa. Tentang kamu di medan perang? Tentang sosok mengerikan yang mengenal namamu? Tentang realitas yang retak dan memperlihatkan kekosongan di baliknya?
"...Api," aku berbohong, karena kebenarannya terasa terlalu besar dan terlalu mengerikan. "Banyak api dan orang-orang yang mati."
Kakek menatapku dengan mata yang seolah bisa melihat menembus kebohongan itu, tapi ia tidak memaksa. "Mimpi buruk itu wajar setelah stres. Latihan keras, informasi baru tentang Azure Codex, perubahan mendadak dalam rutinitas—otakmu sedang mencerna semuanya dan mengekspresikannya secara kacau."
Aku mengangguk lemah, menerima penjelasan itu meski tahu itu bukan keseluruhan kebenaran.
Kakek bangkit untuk pergi, tapi sebelum keluar pintu, ia berhenti—jeda yang penuh makna.
"Kael... jika kamu bermimpi sesuatu yang aneh. Sesuatu yang terasa terlalu nyata, terlalu jelas—seperti ingatan bukan imajinasi—ceritakan padaku. Mengerti?"
Jantungku berhenti sesaat. "...Kenapa?"
"Karena Azure Codex tidak hanya menyimpan ingatan yang kamu buat sendiri. Kadang-kadang..." Ia ragu, memilih kata-kata dengan hati-hati, "...ia mengakses ingatan yang bukan milikmu. Ingatan dari pemilik sebelumnya, atau bahkan ingatan dari tempat lain—gema dari masa lalu yang tertanam dalam batu itu sendiri."
Bulu kudukku berdiri seketika. "Ingatan dari pemilik sebelumnya?"
"Atau ingatan dari kesadaran kolektif yang terkumpul selama Perang Besar—jutaan orang mati, jutaan pengalaman dan emosi yang terserap ke dalam batu-batu itu." Ia tidak melanjutkan lebih jauh. "Istirahat. Besok kita lanjutkan latihan."
Ia pergi, menutup pintu dengan bunyi klik yang pelan.
Aku berbaring kembali, menatap langit-langit yang hampir tidak terlihat dalam kegelapan.
Ingatan dari pemilik sebelumnya.
Jadi mimpi itu bukan sekadar mimpi?
Itu ingatan?
Ingatan siapa? Milik Kakek? Atau milik seseorang yang pernah memiliki Azure Codex sebelum batu ini sampai padaku?
Aku menyentuh kalung di leherku—batu biru itu terasa hangat. Lebih hangat dari biasanya, hampir berdenyut dengan ritme yang selaras dengan detak jantungku.
Dan entah mengapa, aku merasakan sesuatu. Bukan sensasi fisik. Lebih seperti kesadaran dan kehadiran.
Seperti ada sesuatu yang mengamati dari dalam batu itu sendiri.
Mengamati, menunggu, dan merekam segalanya untuk diputar kembali di lain waktu.
Sebuah rasa dingin merambat di punggungku.
"Apa lagi yang tersimpan di dalammu," aku membatin, menujukan pertanyaan itu pada batu di genggamanku. "Apa lagi yang akan aku ketahui? Apa lagi yang akan kamu tunjukkan?"
Tidak ada jawaban. Hanya kehangatan yang persisten dan ritme yang stabil.
Tapi entah mengapa, aku tahu—jauh dalam naluri yang tidak bisa dirasionalisasi—bahwa ini baru permulaan.
Azure Codex menyimpan rahasia.
Dan aku... mau tidak mau... akan menemukan semuanya.
Dalam kegelapan absolut yang ada di luar persepsi normal, sesuatu bergerak—bukan wujud fisik yang bisa dilihat mata atau disentuh tangan, melainkan kehadiran yang tidak bisa disangkal.
Bukan kesadaran penuh seperti manusia atau makhluk hidup. Hanya serpihan. Gema yang tersisa dari seseorang—atau sesuatu yang pernah ada, yang pernah bernapas dan berpikir dan merasakan, sebelum menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dan lebih abadi.
"...Ia mulai terbangun..." Sebuah bisikan yang bukan suara melainkan pikiran yang terwujud menjadi sesuatu yang hampir bisa disentuh. "...Ia mulai merasakan... mulai melihat serpihan dari masa lalu yang terkubur dalam..."
Kegelapan itu bergetar dengan energi yang kuno dan sabar.
"...Anak itu... ia membawa batu ini dengan kepolosan yang menyentuh... ia akan mengingat... segalanya yang telah dunia lupakan..."
Kemudian, seolah dalam percakapan dengan entitas yang tidak terlihat, bisikan lain menjawab—suara berbeda dalam nada namun serupa dalam sifat:
"...Dan ketika ia benar-benar mengingat... ketika semua pengetahuan dan kekuatan yang tertidur itu akhirnya terbangun... dunia akan tahu... apa yang telah terlupakan selama delapan ratus tahun..."
Keheningan kembali—tapi bukan keheningan yang kosong. Ini keheningan yang sarat dengan antisipasi, berat dengan keniscayaan.
Karena dalam kegelapan itu, dalam Azure Codex yang dikenakan Kael tanpa sepenuhnya memahaminya, sesuatu mulai bergerak.
Menunggu momen yang tepat untuk mengungkapkan dirinya sepenuhnya.
Menunggu saat Kael cukup kuat untuk menanggung kebenaran yang akan mengubah segalanya.
Menunggu kebangkitan yang sudah ditakdirkan sejak Perang Besar berakhir.