NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: DUA BULAN TANPA KEPASTIAN

Hari kelima belas. Risma masih di inkubator. Aryo sudah hafal jadwal jaga suster, jadwal ganti selang, jadwal kontrol dokter. Ia tahu kapan alarm monitor berbunyi karena suhu naik, kapan bunyi karena oksigen turun. Ia juga tahu warna-warna kabel yang menempel di tubuh mungil anaknya.

Merah buat detak jantung. Biru buat oksigen. Kuning buat infus.

Aryo bahkan mulai paham arti angka-angka di layar monitor. Angka 120-160 buat detak jantung itu normal. Angka 95 ke atas buat saturasi oksigen itu bagus. Kalau turun di bawah 90, alarm bunyi dan suster-suster langsung sibuk.

Hari ini, sejak pagi, angka saturasi Risma naik turun. 94... 92... 90... alarm berbunyi. Suster datang, atur selang oksigen. Naik lagi 95. Tapi sebentar, lalu turun lagi.

Aryo gelisah. Ia duduk di kursi besi itu, tangannya mengepal. Dewi di sampingnya, pegang tangan Aryo. Keduanya diam. Menunggu.

"Pak, Bu..."

Seorang dokter muda menghampiri. Wajahnya lelah. Mungkin baru jaga semalaman. Tapi ia tersenyum.

"Kita harus bicara."

 

Dokter itu mengajak mereka ke ruang konsultasi. Ruangan kecil, dingin, ber-AC. Ada meja, beberapa kursi, dan poster-poster medis di dinding. Aryo nggak suka ruangan ini. Terlalu dingin. Terlalu resmi. Terlalu... menakutkan.

"Silakan duduk."

Aryo dan Dewi duduk. Berdampingan. Tangan mereka saling menggenggam. Tangan Dewi hangat, tapi tangannya sendiri dingin. Dingin karena takut.

Dokter itu membuka map. Mengeluarkan beberapa lembar kertas. Hasil tes. Foto rontgen. Grafik-grafik yang nggak Aryo mengerti.

"Pak, Bu, saya harus sampaikan hasil pemeriksaan anak Bapak."

Dokter berhenti. Menatap mereka bergantian.

Aryo menelan ludah. Dewi menggenggam tangannya lebih erat.

"Anak Bapak mengalami kekurangan oksigen saat proses kelahiran. Cukup lama. Akibatnya, ada bagian otak yang tidak berkembang sempurna."

Aryo diam. Kata-kata itu masuk ke telinga, tapi belum sampai ke otak.

"Kami mendiagnosis anak Bapak dengan cerebral palsy. Atau CP. Itu kondisi di mana otak tidak bisa mengontrol gerakan tubuh."

Dewi bertanya, suaranya bergetar, "Maksudnya, Dok?"

Dokter itu menjelaskan. Panjang lebar. Tentang otak, tentang saraf, tentang gerakan. Tapi Aryo nggak dengar. Ia cuma lihat bibir dokter itu bergerak-gerak. Lihat kertas-kertas di meja. Lihat jari dokter yang menunjuk ke bagian-bagian yang nggak ia pahami.

Satu kalimat yang akhirnya masuk ke otaknya:

"Kondisi ini tidak bisa sembuh total, Pak, Bu. Hanya bisa dirawat."

Dewi nangis. Nangis di kursi itu. Tangannya lemas. Tubuhnya gemetar.

Aryo diam. Batu.

"Tapi jangan putus asa, Pak. Dengan perawatan yang baik, anak Bapak bisa tumbuh. Mungkin tidak seperti anak normal, tapi bisa berkembang."

Dokter itu terus bicara. Tentang terapi, tentang kontrol rutin, tentang biaya.

Aryo baru sadar ketika dokter menyebut angka. Angka yang lagi-lagi membuat dunianya berhenti.

"Untuk terapi rutin per bulan sekitar 500-700 ribu, Pak. Tergantung frekuensinya."

Aryo diam. 500 ribu. Per bulan. Ia penarik becak. Penghasilannya sehari paling banyak 15 ribu. Sebulan, kalau lagi ramai, 400-500 ribu. Itu buat makan sehari-hari. Belum buat cicilan utang. Belum buat susu Risma.

"Pak? Pak Aryo?"

Aryo tersadar. "Ia, Dok... saya dengar..."

Dokter itu menatapnya iba. "Pak, saya tahu berat. Tapi anak Bapak butuh perawatan. Jangan putus asa. Banyak pasien CP yang bisa tumbuh baik dengan dukungan keluarga."

Aryo mengangguk. "Saya... saya usahakan, Dok."

 

Mereka keluar dari ruangan. Dewi masih nangis. Aryo gendong istrinya, bawa ke kursi di lorong.

"Mas... Mas... anak kita... kenapa... kenapa harus anak kita..."

Aryo pegang tangannya. "Udah, Ri. Udah. Ini takdir. Kita terima."

"Tapi Mas... kok berat banget? Kok anak kita yang harus ngalamin?"

Aryo nggak bisa jawab. Ia cuma bisa elus rambut Dewi. Pandangi lantai. Hitung ubin.

Di lorong itu, mereka berdua nangis. Berpelukan. Nggak peduli orang lewat.

Seorang pasien tua lewat pakai kursi roda. Dilihatnya mereka. Lalu menghela napas.

"Sabar, Nduk," katanya. "Anak itu titipan Tuhan. Mungkin dia spesial."

Dewi menatap nenek itu. "Spesial gimana, Nek? Sakit gini?"

Nenek itu tersenyum. "Spesial bukan berarti enak, Nduk. Tapi dia dipilih. Dipilih sama Tuhan buat dijagain orang tua yang kuat."

Aryo diam. Kata-kata nenek itu masuk.

 

Sore harinya, Aryo ke NICU lagi. Sendiri. Dewi disuruh istirahat di kamar.

Ia berdiri di depan kaca. Risma terbaring di inkubator. Matanya tertutup. Tangannya yang mungil tergeletak di samping badan. Kabel-kabel menjalar dari tubuhnya.

"Nak... Bapak baru dengar kabar dari dokter. Kamu sakit, Nak. Sakit yang nggak bisa sembuh."

Suaranya serak. Matanya basah.

"Tapi Bapak nggak akan ninggalin kamu. Bapak janji. Sakit atau sehat, kamu tetap anak Bapak."

Ia tempelkan tangan ke kaca.

"Bapak cuma penarik becak, Nak. Bapak nggak punya uang banyak. Tapi Bapak punya cinta. Cinta buat kamu. Seumur hidup."

Dari dalam, Risma tak bergerak. Tapi Aryo yakin, anaknya dengar.

Tiba-tiba, suster jaga menghampiri. "Pak, anak Bapak mulai bisa buka mata. Lihat!"

Aryo lihat ke dalam. Benar. Mata Risma terbuka. Sebentar. Lalu terpejam lagi.

Tapi cukup. Cukup buat Aryo tersenyum.

"Dia lihat saya, Mbak? Dia lihat bapaknya?"

Suster itu tersenyum. "Mungkin, Pak. Bayi baru lahir belum bisa lihat jelas. Tapi dia bisa merasakan kehadiran orang tua."

Aryo menangis. Tapi kali ini tangis bahagia.

 

Malam harinya, Aryo putuskan pulang ke desa. Dewi masih dirawat. Risma di NICU. Tapi Aryo harus cari uang. Utang 1,5 juta ke rentenir udah jatuh tempo besok.

Ia naik angkutan desa. Sampai rumah jam 9 malam. Rumah gelap. Sepi.

Ia buka pintu. Bau apak menyambut. Udah dua minggu nggak diurus.

Ia duduk di kursi bambu. Pandangi rumah itu. Rumah kecil berdinding bambu. Lantai tanah. Atap bocor di sana-sini. Dapur cuma tungku kayu dan beberapa panci penyok.

Tapi di rumah ini, ia dan Dewi memulai hidup. Di rumah ini, mereka berdoa minta anak. Di rumah ini, mereka berencana masa depan.

Sekarang? Masa depan nggak jelas.

Aryo buka lemari. Cari surat-surat becak. Besok pagi harus ke rentenir.

Ia temukan surat itu. Tapi di sampingnya, ada sebuah amplop. Amplop cokelat, nggak ada nama pengirim.

Ia buka. Isinya uang. 500 ribu. Dan secarik kertas.

"Pak Aryo, ini sedikit rezeki dari warga. Kumpulan ibu-ibu PKK. Buat tambah biaya rumah sakit. Jangan menyerah, Pak. Kita doakan Mbak Risma lekas sembuh. - Bu Satinah"

Aryo pegang uang itu. Tangannya gemetar. Ia nggak bisa berkata apa-apa. Hanya nangis.

 

Esok pagi, ia ke rumah Bu Satinah. Ingin berterima kasih.

Bu Satinah sedang jemur pakaian. Lihat Aryo, ia tersenyum.

"Udah, Pak. Jangan sungkan. Warga sini lihat perjuangan Bapak. Mereka salut."

Aryo geleng-geleng. "Bu, saya... saya nggak tahu harus bilang apa..."

"Nggak usah bilang apa-apa. Yang penting anak bapak sehat."

Aryo duduk di kursi bambu. Bu Satinah duduk di sampingnya.

"Bu, dokter bilang anak saya sakit. Cerebral palsy. Nggak bisa sembuh."

Bu Satinah diam. Lalu pegang pundak Aryo.

"Pak, dulu anak saya juga sakit. Sakit jantung. Umur 5 tahun, dia meninggal."

Aryo terkejut. "Bu... saya nggak tahu..."

Bu Satinah tersenyum getir. "Sudah lama. Tapi saya tahu rasanya, Pak. Rasanya pengen marah ke Tuhan. Rasanya pengen tanya: kenapa anak saya? Kenapa harus dia?"

Air mata Bu Satinah jatuh.

"Tapi saya belajar, Pak. Anak itu titipan. Kita cuma jagain. Kalau dia diambil, kita ikhlas. Kalau dia dikasih umur panjang, kita syukuri."

Aryo diam. Kata-kata Bu Satinah mengena di hati.

 

Siang harinya, Aryo balik ke rumah sakit. Bawa uang 500 ribu dari warga. Ditambah 200 ribu hasil jual beberapa perabotan.

Ia bayar ke administrasi. "Ini cicilan, Bu."

Wanita itu menerima. Lalu berkata, "Pak, anak Bapak boleh pulang besok. Kondisi sudah stabil. Tapi harus kontrol rutin."

Aryo senang. Akhirnya, setelah dua bulan, anaknya boleh pulang.

Ia lari ke ruang Dewi. "Ri! Ri! Anak kita boleh pulang!"

Dewi bangun. Matanya berbinar. "Beneran, Mas?"

"Beneran! Besok!"

Mereka berpelukan. Tertawa. Nangis.

 

Malam harinya, Aryo nggak bisa tidur. Ia mikir: besok, Risma pulang. Tapi ke rumah mana? Rumah mereka sederhana, nggak ada peralatan medis. Risma masih butuh perawatan.

Ia ke NICU. Lihat Risma dari balik kaca. Anaknya tidur tenang.

"Risma... Nak... besok kamu pulang. Bapak belum siap, sih. Tapi Bapak akan belajar."

Suster jaga menghampiri. "Pak, nanti sebelum pulang, kami ajari cara rawat anak CP. Cara memandikan, cara menyuapi, cara memijat. Jangan khawatir."

Aryo mengangguk. "Makasih, Mbak."

 

Pagi harinya, semua persiapan dilakukan. Suster-suster mengajari Aryo dan Dewi cara merawat Risma.

"Pak, ini cara memandikan. Kepalanya harus disangga. Badannya juga. Jangan sampai terpelintir."

Aryo perhatikan seksama. Tangan kasarnya mencoba memegang boneka peraga. Kaku. Tapi ia coba terus.

"Bu, ini cara menyuapi. Anak CP susah menelan. Harus pelan-pelan. Sedikit demi sedikit."

Dewi belajar dengan serius. Matanya fokus. Mulutnya komat-kamit, menghafal.

"Ini cara memijat. Biar ototnya nggak terlalu kaku."

Aryo dan Dewi bergantian mencoba. Sampai agak bisa.

Dokter datang. Memberi resep obat. Dan surat rujukan untuk kontrol.

"Pak, Bu, anak Bapak butuh terapi rutin. Minimal seminggu sekali. Kalau nggak, ototnya bisa makin kaku."

Aryo mengangguk. "Saya usahakan, Dok."

 

Sore harinya, mereka pulang. Aryo gendong Risma pakai kain. Kain gendongan lusuh, tapi ia usahakan serapi mungkin. Risma ringan. Terlalu ringan. Untuk bayi 2 bulan, beratnya kurang.

Dewi berjalan di sampingnya. Masih lemah, tapi matanya bercahaya.

Sepanjang jalan, warga menatap. Ada yang tersenyum, ada yang berbisik.

"Itu bayinya Bu Dewi? Kok kecil banget?"

"Katanya lahirannya susah. Mungkin kurang gizi."

"Kasihan..."

Aryo tunduk. Langkahnya makin cepat. Tapi dalam hati, ia berkata, "Kalian nggak tahu apa-apa. Anakku ini hebat. Dia bertahan hidup."

Sampai di rumah, Dewi buka gendongan. Risma terbaring di dipan. Matanya terbuka. Menatap langit-langit. Nggak ada suara. Nggak ada gerakan.

Dewi membaringkan diri di sampingnya. Ia nyanyikan lagu kecil. Lagu yang biasa ia nyanyikan waktu hamil dulu.

"Nina bobo... o... nina bobo... kalau tidak bobo... digigit nyamuk..."

Risma nggak bereaksi. Tapi Dewi terus bernyanyi. Sampai suaranya serak. Sampai air matanya jatuh membasahi kasur.

Aryo duduk di kursi bambu. Memandangi istri dan anaknya. Dewi bernyanyi, Risma diam. Tapi di situ, dalam keheningan itu, ada kehangatan. Ada keluarga.

Aryo tersenyum. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasa punya rumah lagi.

 

Malam harinya, Risma tak mau menyusu. Bibirnya tertutup rapat. Dewi coba lagi. Nggak mau. Aryo coba pakai dot. Nggak mau.

Mereka panik. "Kenapa, Mas? Kenapa dia nggak mau minum?"

Aryo pegang tubuh Risma. Dingin. Lalu ia perhatikan, napas Risma lambat. Terlalu lambat.

"Ri... jangan... jangan pergi... kamu baru pulang..."

Aryo gendong Risma. Tubuhnya lemas. Terlalu lemas.

"Mas! Mas! RI! RI! TOLONG!"

Dewi menjerit. Aryo lari ke luar rumah. Berlari ke rumah Bu Satinah.

"Bu! Bu! Tolong! Risma!"

Bu Satinah keluar. Lihat Risma lemas di gendongan Aryo. Langsung panik.

"PAK KARJO! PAK KARJO! TOLONG ANTAR KE RUMAH SAKIT!"

Pak Karjo keluar dengan mobil tua itu. Aryo naik. Risma di gendongannya.

Di mobil, Aryo pegang tubuh Risma. Dingin. Napasnya tipis.

"Nak... jangan... jangan pergi... kamu baru pulang... Bapak belum sempat sayang kamu..."

Air matanya jatuh. Jatuh di wajah Risma.

Risma tak bergerak.

Aryo berteriak. Berteriak memanggil Tuhan.

Tapi Tuhan diam.

Mobil melaju kencang. Menembus malam. Membawa sekeping harapan yang mulai padam.

 

[BERSAMBUNG]

 

1
Ibu Watik
bukanya di cerita sebelumnya aryo pernah beli tanah pernah bangun rumah, lha kemana rumah itu
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!