Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Tujuh Tahun dalam Keheningan Bintang
Di dalam ruang galaksi Mutiara Petir, tidak ada siang maupun malam.
Hanya ada pendar cahaya nebula yang berputar abadi.
Bagi Fang Yuan, tempat ini adalah surga sekaligus neraka. Sunyi yang begitu pekat hingga ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang melambat.
Luka-lukanya pulih dengan kecepatan yang tidak wajar karena kepadatan energi di tempat ini.
Setelah tubuhnya kembali utuh, Fang Yuan berdiri di tengah hamparan bintang.
Ia tidak punya guru, tidak punya kawan bicara, hanya ada Chi Yan Zhu yang tidur dalam hibernasi panjang di sudut dimensi.
"Lima tahun," bisik Fang Yuan. "Aku akan memberikan lima tahun hidupku untuk satu teknik."
Fang Yuan mulai bergerak. Ia tidak lagi menggunakan buku kumal itu; setiap kata di dalamnya sudah terukir di otaknya.
Tahun Pertama: Ia fokus pada gerakan dasar. Ia mengulang satu pukulan lurus sebanyak sepuluh ribu kali setiap 'hari'.
Awalnya, pukulannya hanya membelah udara kosong. Namun, seiring berjalannya waktu, setiap ayunan tangannya mulai mengeluarkan suara dentuman udara yang pecah.
Tahun Ketiga: Fang Yuan mulai memadukan getaran Qi. Di ruang tanpa gravitasi ini, ia belajar bagaimana meledakkan energi dari setiap pori-pori kulitnya. Ia berlatih memukul partikel cahaya yang melayang.
DUAK! DUAK!
Setiap kali tinjunya mendarat, ruang di sekitarnya bergetar.
Ia tidak lagi menghancurkan batu; ia belajar bagaimana menghancurkan struktur molekul dari apa pun yang ia sentuh.
Pukulannya kini tidak memiliki suara, namun dampak getarannya bisa membuat nebula di kejauhan beriak.
Tahun Kelima: Tinju Penghancur Batu miliknya telah mencapai tingkat Kesempurnaan Besar.
Fang Yuan bisa berdiri diam, dan hanya dengan satu hentakan niat, energi di tinjunya mampu menciptakan lubang hitam kecil di udara dimensi tersebut.
Ia telah melampaui batas teknik kelas rendah itu, mengubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih mematikan.
Setelah lima tahun menempa fisik, Fang Yuan menyadari bahwa kekuatan otot saja tidak akan membawanya keluar dari penjara bintang ini.
Ia duduk bersila, memejamkan mata, dan mulai masuk ke dalam meditasi terdalam yang pernah ia lakukan.
Ia mencoba memahami Dao—hukum alam semesta yang mengatur segalanya.
"Kenapa waktu di sini melambat? Kenapa petir bisa tercipta dari ketiadaan?"
Tahun Keenam: Fang Yuan merenungkan tentang 'Kehancuran'. Ia melihat bintang-bintang di kejauhan yang meledak dan lahir kembali.
Ia menyadari bahwa hidupnya selama ini adalah tentang kehancuran—keluarganya hancur, harga dirinya dihancurkan, dan ia menghancurkan musuh-musuhnya.
Ia mulai memahami Konsepsi Dao Kehancuran. Qi di dalam tubuhnya yang tadinya liar, kini mulai menyatu dengan pemahamannya.
Energi Yin dan Yang di Dantiannya tidak lagi mengejar satu sama lain, melainkan mulai melebur menjadi satu pusaran kelabu yang mengandung kekuatan destruktif.
Tahun Ketujuh: Konsentrasinya mencapai puncak. Ia tidak lagi merasa seperti manusia; ia merasa seperti bagian dari Mutiara Petir itu sendiri.
Ia bisa merasakan aliran waktu yang melilit tubuhnya seperti benang-benang sutra. Ia mencoba menarik satu 'benang' waktu tersebut, namun benang itu terlalu kuat.
"Masih belum cukup," gumam Fang Yuan, suaranya kini terdengar jauh lebih dalam dan berwibawa. "Tujuh tahun aku di sini. Di luar sana, mungkin hanya beberapa jam atau hari yang berlalu. Tapi jiwaku sudah menua tujuh tahun."
Ia menatap tangannya. Kulitnya kini tampak lebih jernih, matanya yang dulu kosong kini menyimpan kedalaman samudera bintang.
Meskipun ia telah menguasai teknik tinju hingga sempurna dan menyentuh dasar-dasar Dao, pintu dimensi ini tetap tertutup rapat.
"Mutiara ini menuntut sesuatu yang lebih," Fang Yuan berdiri, auranya meledak, mengguncang ruang galaksi tersebut. "Ia tidak menginginkan seorang murid ... ia menginginkan seorang penguasa."
Fang Yuan mengepalkan tinjunya. Tujuh tahun kesendirian tidak membuatnya gila; itu justru mempertajam kegilaannya menjadi sebilah pedang yang siap membelah takdir.
Fang Yuan telah bertransformasi secara drastis, namun ia masih terjebak.
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.