Tasya tidak pernah memilih takdirnya. Dijual oleh keluarga pamannya demi menyelamatkan perusahaan yang hampir bangkrut, ia melarikan diri dari sebuah kamar hotel mewah, tanpa tahu bahwa pria asing yang ia tinggalkan malam itu adalah Alex Roman Vasillo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa di Jerman.
Tujuh tahun berlalu, setelah dia melarikan diri dari Berlin menuju Indonesia, tanah kelahiran Kakeknya.
Tasya hidup tenang di Indonesia bersama dua anak kembarnya, Kenzo dan Kenzi, yang tak pernah tahu siapa ayah mereka sebenarnya.
Sampai suatu hari, di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta yang berada di bawah naungan keluarga Vasillo, seorang bocah enam tahun dengan percaya diri memanggil seorang pria berjas mahal, pria itu Alex Roman Vasillo.
“Daddy!”
"Hah?!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Dua hari telah berlalu sejak kejadian di rumah sakit.
Rumah kecil itu kembali dipenuhi rutinitas pagi yang sederhana.
Beberapa hari sebelumnya, Tasya menerima sebuah email tentang pekerjaan baru. Tanpa banyak berpikir ia langsung menerima tawaran itu. Perusahaan tersebut terlihat profesional dan gajinya cukup baik untuk membantu kehidupannya bersama anak-anak dan kakeknya.
Tasya sangat senang, akhirnya ia bisa bekerja kembali. Namun, ia sama sekali tidak tahu bahwa pekerjaan itu sebenarnya diatur oleh seseorang yaitu kakeknya sendiri.
Pagi itu, aroma telur goreng dan roti panggang memenuhi ruang makan kecil mereka. Tasya sedang duduk di meja makan membantu anak-anaknya sarapan.
Di depannya, Kenzo dan Kenzi sudah mengenakan seragam TK kecil berwarna biru muda. Tas kecil mereka sudah siap di kursi. Namun, ekspresi Kenzo terlihat sangat tidak puas.
Bocah itu menatap piring sarapannya sambil menghela napas panjang.
“Mommy…”
Tasya menoleh sambil menuangkan susu ke gelas Kenzi.
“Iya?”
Kenzo mengernyit.
“Untuk apa kita sekolah TK?”
Tasya langsung menatap anaknya dengan heran. “Maksudnya?”
Kenzo menyilangkan tangan di dada.
“Padahal kita bisa langsung masuk perguruan tinggi.” Ucapan polos itu membuat Tasya langsung tersedak minumannya.
“Apa?”
Sementara Kenzi hanya makan roti dengan tenang, seolah sudah biasa mendengar pernyataan kakaknya yang seperti itu.
Kenzo melanjutkan dengan wajah serius.
“Belajar huruf dan angka di TK itu terlalu mudah. Kita sudah bisa semuanya.”
Tasya menatap anaknya beberapa detik. Lalu, ia menghela napas dan tersenyum sabar.
“Kita butuh pengalaman, sayang.” Kenzo masih terlihat tidak puas. Tasya melanjutkan sambil merapikan kerah seragam anaknya.
“Dan juga ijazah, terkadang hidup tidak hanya tentang pintar.”
Ia menepuk kepala Kenzo lembut.
“Kita juga harus mengikuti aturan seperti orang lain.”
Dari kursinya, kakek yang sedang membaca koran tersenyum kecil.
“Benar kata Mommy kamu.”
Kenzo melirik kakeknya sebentar, lalu kembali menghela napas.
“Baiklah…” Namun, wajahnya masih terlihat tidak terlalu senang.
Saat itu Bi Mirna, wanita paruh baya yang membantu di rumah mereka, datang dari dapur sambil membawa dua kotak makan kecil.
“Nah, bekal untuk Den Kenzo dan Den Kenzi sudah siap.” Ia meletakkan kotak makan itu di atas meja.
“Terima kasih, Bi,” ucap Tasya.
Bi Mirna tersenyum sambil merapikan tas kecil anak-anak itu.
“Semoga anak-anak pintar ini tidak membuat gurunya pusing.”
Kenzi tertawa kecil tetapi Kenzo hanya berkata dengan serius,
“Kalau gurunya salah menjelaskan pelajaran, aku harus membetulkannya.” Ucapan itu membuat Tasya langsung menutup wajahnya dengan tangan.
“Kamu jangan begitu di sekolah, Kenzo.”
Kakek mereka hanya tertawa kecil dari kursinya.
Kenzo masih memandang kotak bekalnya dengan wajah datar, seolah hidup di TK adalah penderitaan besar baginya. Namun, tiba-tiba Kenzi menutup iPad yang sejak tadi ia bawa ke meja makan.
“Aku sudah mengirim email.” Ucapan santai itu membuat semua orang di meja langsung berhenti bergerak.
Tasya mengerutkan kening.
“Email? Untuk siapa?”
Kenzi menoleh pada kakaknya lebih dulu.
“Aku kirim ke Tuan Alex."
Sendok di tangan Tasya hampir jatuh ke meja.
“Apa?”
Kenzo juga langsung menatap adiknya.
“Kamu kirim email?”
Kenzi mengangguk dengan wajah polos.
“Iya.”
“Untuk apa?” tanya Kenzo.
Kenzi menjawab dengan sangat serius, meskipun wajahnya masih terlihat seperti anak kecil biasa.
“Aku minta bertemu dengannya.”
Kenzo menyempitkan matanya.
“Kenapa?”
Kenzi menghela napas kecil, lalu berkata dengan nada yang lebih dewasa dari usianya.
“Aku ingin membuat kesepakatan.”
Tasya yang mendengar itu langsung mengerutkan kening.
“Kesepakatan apa?”
Kenzi menoleh pada ibunya.
“Aku tidak ingin Mommy terus bekerja sendirian.”
Ia menatap Tasya dengan tulus.
“Mommy selalu capek, Mommy juga sendirian.”
Tasya langsung terdiam, Kenzi belum selesai.
“Aku akan mencarikan suami untuk Mommy.”
Ruangan langsung sunyi total, Tasya menatap putranya dengan wajah tidak percaya.
“Apa?”
Kakek yang sedang membaca koran juga menurunkan korannya perlahan.
Sementara, Kenzo menutup wajahnya dengan tangan.
“Ya Tuhan…”
Ia menghela napas panjang, namun setelah beberapa detik, Kenzo menatap Kenzi lagi.
“Kamu benar-benar mengirim email ke Alex?”
Kenzi mengangguk lagi.
“Iya.”
“Dia akan datang?”
“Kalau dia pintar, dia pasti datang,” jawab Kenzi santai.
Kenzo menatap adiknya beberapa detik, lalu ia bersandar di kursinya.
“Aku juga ingin membuat kesepakatan.”
Kenzi menoleh.
“Kesepakatan apa?”
Kenzo menjawab dengan suara dingin.
“Aku tidak ingin pria itu mengganggu hidup kita lagi.”
Ia menyilangkan tangan di dada.
“Kalau dia memang Daddy kita … dia harus belajar menghormati keputusan Mommy.”
Tatapan Kenzo terlihat sangat serius.
“Kalau tidak…”
Ia berhenti sebentar.
“Aku akan membuatnya menyesal.”
Kenzi menatap kakaknya dengan mata berbinar.
“Wah … itu keren.”
Sementara itu Tasya masih terdiam dengan wajah tidak percaya.
“Aku bahkan tidak tahu harus marah atau tertawa…”
Kakek mereka justru menatap kedua anak itu dengan mata menyipit, seolah sedang memikirkan sesuatu. Karena dalam pikirannya muncul satu kemungkinan.
Setelah sarapan selesai, suasana rumah kembali menjadi sedikit sibuk.
Tasya segera membereskan meja makan bersama Bi Mirna. Sementara itu, Kenzo dan Kenzi sudah berdiri di dekat pintu dengan tas kecil mereka di punggung.
Seragam TK mereka terlihat rapi.
Namun, ekspresi Kenzo masih terlihat datar, seolah masih belum sepenuhnya menerima takdirnya sebagai murid taman kanak-kanak.
Tasya lalu berjalan ke ruang tengah tempat kakeknya duduk di kursi favoritnya.
“Kek, Tasya berangkat dulu ya.”
Pria tua itu mengangguk pelan sambil menatap cucunya dengan hangat.
“Hati-hati di jalan.”
Kenzi langsung berlari kecil mendekati kakeknya.
“Bye, Kakek!”
Ia memeluk pria tua itu sebentar. Kenzo juga mendekat, meskipun lebih tenang.
“Kami pergi dulu.”
Kakek mereka tersenyum tipis.
“Iya, jangan membuat masalah di sekolah.”
Kenzo hanya menjawab pendek.
“Tidak akan … kalau gurunya tidak membuat kesalahan.” Ucapan itu membuat kakeknya tertawa kecil.
Setelah berpamitan, Tasya segera mengajak kedua anaknya keluar rumah. Udara pagi terasa segar ketika mereka berjalan menuju garasi kecil di samping rumah.
Di dalamnya terparkir sebuah mobil tua milik kakek mereka. Cat mobil itu sudah sedikit pudar, namun mesinnya masih sangat terawat. Mobil itu sudah menemani keluarga mereka selama bertahun-tahun.
Tasya membuka pintu mobil sambil tersenyum kecil.
“Naik, Sayang.”
Kenzo dan Kenzi segera masuk ke kursi belakang. Beberapa detik kemudian mesin mobil tua itu menyala dengan suara halus.
Meski sederhana, mobil itu masih sangat layak digunakan.
Tasya akan mengantar kedua anaknya ke TK terlebih dahulu sebelum pergi ke kantor barunya.
Mobil itu perlahan keluar dari garasi dan melaju meninggalkan halaman rumah kecil mereka.
Aseli penasaran 👍👍👍
kalau itu pamannya Tasya, bisa jadi Tasya malah dalam bahaya
ga mungkin putranya kan putranya arlad udah meninggal