Aku punya segalanya, tapi aku tidak punya hak atas hatiku sendiri."
Juliet adalah putri mahkota dari kerajaan bisnis properti yang hidup dalam sangkar emas. Baginya, bunga adalah satu-satunya teman yang tidak pernah menghakimi. Namun, dunianya jungkir balik saat ia mempekerjakan Gaara, tukang kebun misterius dengan tatapan sedingin es namun memiliki sentuhan tangan yang ajaib pada tanaman.
Saat benih cinta mulai tumbuh di sela-sela duri mawar, Adam—tunangan sempurna dari masa lalu—datang menagih janji pernikahan. Di tengah kecemburuan Vina yang licik dan tekanan keluarga, Juliet harus memilih: Menjadi mawar indah di dalam vas kaca milik Adam, atau tumbuh liar dan bahagia di tanah bersama Gaara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: GARIS CAKRAWALA DAN AMBISI YANG ASIN
Hawa dingin Puncak mulai memudar, digantikan oleh aroma garam dan amis pasar ikan yang menyengat di pelabuhan rakyat Sunda Kelapa. Jakarta Utara menyambut Juliet dan Gaara dengan kebisingan yang berbeda; bukan deru buldoser Adam, melainkan teriakan kuli angkut dan mesin kapal kayu yang batuk-batuk mengeluarkan asap hitam.
Juliet turun dari kabin jip tua mereka, mengenakan topi lebar dan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya yang kini mulai sering menghiasi laman berita bisnis dan kriminal. Di tangannya, ia mencengkeram tas kulit berisi dokumen ekspor darurat yang ia urus lewat koneksi lama mendiang ibunya—sebuah jalur birokrasi kecil yang belum sempat diblokir oleh gurita bisnis keluarga Adam.
"Kau yakin dengan ini, Gaara?" bisik Juliet, menatap kapal Pinisi tua yang bersandar di dermaga kayu yang tampak rapuh. "Mawar Golden Hope sangat sensitif terhadap kelembapan udara laut. Jika suhu di dalam palka tidak terjaga, mereka akan layu sebelum sampai di Selat Malaka."
Gaara, yang sedang menurunkan kotak-kotak kayu berlapis styrofoam dari bak jip, menoleh. Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat kemeja flanelnya menempel di otot punggung yang masih dibalut perban tipis. Ia meletakkan kotak itu dengan hati-hati, seolah sedang memindahkan bayi yang baru lahir.
"Percayalah padaku," Gaara mendekat, menyeka debu pelabuhan dari pipi Juliet dengan punggung tangannya yang kasar. "Kapal ini milik Bang Rano, kawan lama ayahku. Dia tahu jalur-jalur tikus yang tidak berani dilewati kapal kargo besar. Soal suhu... aku sudah memasang sistem pendingin mandiri bertenaga surya di dalam kotak-kotak ini. Mawar-mawarmu akan tidur nyenyak sepanjang perjalanan."
Juliet menatap mata Gaara, mencari keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah ketenangan samudera. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Ini adalah pertaruhan terbesar mereka. Jika mawar ini sampai di Singapura dan memenangkan kontrak dengan Gardens by the Bay, keluarga Adam tidak akan bisa lagi menyentuh mereka secara hukum internasional.
Di sudut dermaga yang gelap, di balik tumpukan kontainer karatan, seorang pria dengan jaket kulit hitam memperhatikan setiap gerak-gerik mereka. Ia memegang ponsel satelit, melaporkan koordinat kapal Bang Rano.
"Mereka sudah mulai memuat barang, Tuan. Kapal kayu, jalur pantai timur Sumatra," lapor pria itu dengan suara rendah.
Di seberang telepon, di sebuah kantor mewah di Sudirman, Ayah Adam menyesap wiskinya dengan perlahan. Wajahnya yang keriput tampak menyeramkan di bawah cahaya lampu meja yang redup. "Biarkan mereka berlayar. Aku ingin mereka merasa sudah menang di tengah laut... sebelum ombak buatanku menghancurkan segalanya. Pastikan kapal patroli swasta kita sudah bersiap di titik buta Kepulauan Seribu."
Malam jatuh dengan cepat di pelabuhan. Saat bintang-bintang mulai muncul di langit Jakarta yang kusam, kapal Bang Rano mulai melepas tali tambat. Mesinnya menderu rendah, perlahan meninggalkan dermaga.
Juliet duduk di dek kayu yang sempit, memandangi lampu-lampu Jakarta yang perlahan menjauh. Ia merasa seperti pelarian, padahal ia hanya sedang mempertahankan apa yang menjadi haknya. Gaara datang menghampirinya, membawa selembar selimut tebal dan dua cangkir teh hangat yang baunya sangat akrab: melati Puncak.
"Dingin di laut berbeda dengan dingin di gunung, Juliet," ucap Gaara sambil menyelimuti bahu istrinya itu. Ia duduk di samping Juliet, membiarkan bahu mereka bersentuhan.
Juliet menyandarkan kepalanya di bahu tegap Gaara. "Aku merasa takut, Gaara. Bukan takut pada ombak, tapi takut jika aku gagal menjaga warisan Ibu. Adam dan ayahnya... mereka seperti hantu yang tidak pernah berhenti mengejar."
Gaara meletakkan cangkir tehnya, lalu merangkul pinggang Juliet, menariknya masuk ke dalam kehangatan tubuhnya. Di bawah langit malam yang luas dan suara deburan ombak yang menghantam lambung kapal, suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan sakral.
"Kau tahu kenapa pelaut zaman dulu menggunakan bintang untuk pulang?" tanya Gaara lembut, suaranya bergetar di dekat telinga Juliet.
Juliet menggeleng pelan.
"Karena bintang tidak pernah berubah tempat, tidak peduli seberapa besar badai yang menghantam kapal mereka. Bagiku, mawar itu adalah bintangmu. Dan kau... kau adalah bintangku."
Gaara memutar tubuh Juliet agar menghadapnya. Di bawah remang lampu kapal yang bergoyang, wajah Juliet tampak begitu cantik dengan pantulan cahaya bulan di matanya. Gaara merunduk, mencium bibir Juliet dengan perlahan, sebuah ciuman yang terasa asin karena uap laut namun sangat manis karena kerinduan yang mendalam.
Juliet membalas ciuman itu dengan gairah yang meluap. Di dek kapal yang bergoyang, di tengah ketidakpastian nasib mereka, mereka saling menemukan rumah satu sama lain. Tangan Gaara merayap ke tengkuk Juliet, jemarinya membelai rambut lembut istrinya, sementara tangan Juliet mencengkeram kemeja Gaara seolah tidak ingin melepaskan jangkar hidupnya itu.
"Apapun yang terjadi di tengah laut nanti," bisik Gaara di sela ciuman mereka, "aku tidak akan membiarkan mawar itu—atau dirimu—tenggelam. Kita akan sampai di Singapura sebagai pemenang."
Juliet tersenyum di tengah pelukannya. "Janji?"
"Janji seorang tukang kebun pada mawarnya," jawab Gaara sebelum kembali menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lebih lama dan lebih dalam, membiarkan waktu seolah berhenti di atas samudera yang luas.
Pukul tiga pagi, ketenangan itu pecah.
Bang Rano berteriak dari ruang kemudi, suara parau-nya terdengar panik. "Gaara! Bangun! Ada dua kapal cepat di belakang kita! Mereka tidak menyalakan lampu navigasi!"
Gaara langsung melompat berdiri, insting tempurnya bangkit seketika. Ia menarik Juliet masuk ke dalam kabin kecil tempat kotak-kotak mawar disimpan. "Tetap di sini, Juliet! Jangan keluar apapun yang terjadi!"
"Gaara, jangan!" teriak Juliet, namun suaranya tenggelam oleh raungan mesin kapal cepat yang tiba-tiba mendekat.
Dari jendela kecil kabin, Juliet melihat dua kapal motor canggih berwarna hitam pekat mengepung kapal kayu mereka. Lampu sorot raksasa dari salah satu kapal menyambar dek kapal Bang Rano, membutakan siapapun yang melihatnya.
"MATIKAN MESIN KALIAN! INI ADALAH PEMERIKSAAN KARGO ILEGAL!" suara dari pengeras suara terdengar berwibawa namun penuh ancaman.
Gaara berdiri di dek dengan sebatang besi panjang di tangannya. Ia tahu ini bukan polisi air. Ini adalah tentara bayaran keluarga Adam yang menyamar.
"Kami punya izin resmi!" teriak Gaara balik. "Kalian tidak punya hak untuk menghentikan kami di perairan internasional!"
Tanpa peringatan, salah satu kapal cepat itu menabrak lambung kapal kayu Bang Rano. BRAK! Kapal bergoyang hebat. Juliet terlempar ke sudut kabin, kepalanya menghantam kotak kayu berisi mawar. Ia mengerang kesakitan, namun matanya langsung tertuju pada kotak-kotak itu. Suhu di indikator digital mulai naik karena guncangan merusak sistem pendinginnya.
"Tidak... jangan sekarang," bisik Juliet dengan air mata mengalir. Ia merangkak, mencoba memperbaiki kabel-kabel yang terlepas di tengah guncangan kapal yang semakin gila.
Di luar, pertempuran pecah. Beberapa pria melompat ke dek kapal kayu. Gaara bergerak seperti bayangan di kegelapan pelabuhan yang dulu sering ia lalui. Ia menghantam satu pria hingga jatuh ke laut, lalu menangkis serangan pria lain dengan besi panjangnya. Namun, mereka terlalu banyak.
"Serahkan kotaknya, atau kami tenggelamkan kapal ini!" teriak salah satu penyusup yang memegang senjata api.
Bang Rano mencoba melakukan manuver tajam, namun kapal kayu itu kalah cepat. Lambung kapal mulai bocor akibat tabrakan tadi. Air laut mulai masuk ke dalam kabin tempat Juliet berada.
"Gaara! Air masuk!" teriak Juliet.
Gaara mendengar teriakan itu dan jantungnya seolah berhenti. Ia tidak peduli lagi pada pria yang menodongnya. Dengan satu gerakan nekat, ia melompat ke arah penyusup bersenjata itu, merebut senjatanya, dan membuangnya ke laut. Ia kemudian berlari menuju kabin.
"Juliet! Berikan tanganmu!" Gaara menarik Juliet keluar dari kabin yang mulai tergenang air setinggi lutut.
"Mawarnya, Gaara! Kita tidak bisa meninggalkan Golden Hope!" tangis Juliet.
Gaara melihat ke dalam kabin. Kotak-kotak itu mulai mengapung. Ia tahu jika ia mencoba menyelamatkan semuanya, mereka berdua akan tenggelam. Ia hanya punya waktu untuk mengambil satu kotak utama—kotak berisi mawar yang telah bermutasi karena api.
"Hanya satu, Juliet! Kita harus pergi!"
Gaara menyambar kotak utama itu, lalu menggendong Juliet menuju sekoci kecil di belakang kapal. Bang Rano dan anak buahnya sudah bersiap melompat. Tepat saat mereka meluncurkan sekoci ke laut, sebuah ledakan kecil terdengar dari mesin kapal kayu yang terlalu dipaksakan. Kapal itu mulai tenggelam dengan cepat ke dalam pelukan samudera yang gelap.
Kapal-kapal hitam milik Adam berhenti di kejauhan, para penyusupnya tampak puas melihat kapal kayu itu karam. Mereka mengira seluruh kargo telah ikut tenggelam ke dasar laut.
Beberapa jam kemudian, fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
Sekoci kecil itu terombang-ambing di tengah laut yang kini tenang. Gaara duduk memegang dayung, wajahnya penuh memar dan pakaiannya basah kuyup. Juliet duduk di depannya, memeluk kotak kayu satu-satunya yang berhasil diselamatkan.
"Kita kehilangan semuanya, Gaara," bisik Juliet, suaranya hampir hilang terbawa angin laut. "Kapal Bang Rano, bibit-bibit yang lain... semuanya hilang."
Gaara meletakkan dayungnya, lalu merangkak mendekati Juliet. Ia menggenggam tangan Juliet yang gemetar. "Kita masih punya mawar utama ini, Juliet. Dan kita masih punya nyawa kita. Adam mengira dia sudah menang, tapi dia membuat satu kesalahan besar."
"Apa?"
"Dia membiarkan kita tetap hidup." Gaara menatap ke arah matahari terbit yang berwarna oranye keemasan—warna yang sama dengan kelopak Golden Hope. "Dia baru saja memberi kita alasan untuk tidak lagi bermain adil. Dia ingin menghancurkan kita di laut? Maka kita akan membalasnya di daratan yang paling dia banggakan."
Juliet menatap kotak di pelukannya. Ia membukanya sedikit. Di dalamnya, mawar emas itu tampak segar, seolah air laut dan badai tadi hanyalah embun pagi baginya. Mawar itu berkilau tertimpa cahaya matahari pertama.
"Kita akan tetap ke Singapura?" tanya Juliet.
"Ya. Bang Rano punya suar darurat, kawan-kawannya dari pulau terdekat akan segera menjemput kita. Kita akan sampai di Singapura lewat jalur yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh keluarga Adam," jawab Gaara dengan nada penuh keyakinan.
Juliet bersandar di dada Gaara, merasakan kehangatan yang perlahan kembali ke tubuhnya. Di tengah samudera yang luas, di atas sekoci kecil yang rapuh, mereka menyadari bahwa Bab 21 bukanlah akhir dari perjalanan mereka. Ini hanyalah pembaptisan air bagi ambisi mereka.
"Gaara," panggil Juliet pelan.
"Ya?"
"Terima kasih karena selalu menyelamatkanku."
Gaara mengecup kening Juliet dengan penuh cinta. "Aku tidak hanya menyelamatkanmu, Juliet. Aku sedang menyelamatkan duniaku. Sekarang, tidurlah sejenak. Aku yang akan menjaga bintang kita tetap bersinar sampai kita menyentuh daratan."
Di kejauhan, garis pantai Sumatra mulai terlihat samar di balik kabut pagi. Perang telah berpindah dari gunung ke laut, dan kini menuju panggung internasional. Adam mungkin telah menenggelamkan kapal mereka, namun ia tidak sadar bahwa ia telah melahirkan dua pejuang yang kini tidak lagi memiliki rasa takut.
...****************...