raja kegelapan dan ratu cahaya" 2 entitas yang tidak seharusnya bisa bersatu dan kekuatan yang seharusnya saling tolak menolak namun dikalahkan oleh takdir yang berjalan secara mutlak...menjalin sebuah cinta yang membuat kesucian cahaya menjadi dianggap najis dan kekejaman kegelapan dianggap lemah karena hubungan yang mereka jalanii
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fernan Do, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ramalan dan darah
Kegelapan di Kerajaan Nocturnis bukan sekadar ketiadaan cahaya;
ia adalah entitas hidup yang bernapas di sela-sela pilar obsidian Istana Tengkorak.
Kabut hitam yang dingin merayap di sepanjang lantai marmer yang gelap, seolah-olah memiliki kehendak sendiri untuk menjerat siapa pun yang berani melangkah di sana.
Di atas singgasana yang dipahat dari batu bintang paling kelam yang pernah ditemukan di perut bumi, Raja Ferdi duduk dengan keangkuhan yang mampu membekukan aliran darah.
Jubah hitamnya yang terbuat dari sutra bayangan menjuntai seperti sayap gagak yang patah, menyapu lantai obsidian yang berkilat.
Sementara matanya—sepasang manik mata yang lebih pekat dari malam—menatap kosong ke arah aula besar yang sunyi.
Tak ada obor yang menyala di ruangan itu, hanya pendaran ungu redup dari kristal-kristal sihir yang tertanam di dinding, memberikan kesan bahwa istana ini adalah makam bagi mereka yang masih bernapas.
Bagi Ferdi, dunia hanyalah papan catur. Manusia adalah bidak, dan emosi adalah gangguan.
Ia telah lama membuang kemanusiaannya di dasar jurang keputusasaan saat ia naik takhta sepuluh tahun yang lalu, setelah membantai seluruh dewan penasihat yang mencoba mendiktenya.
"Katakan sekali lagi,"
suara Ferdi memecah kesunyian. Suaranya tidak keras, namun tajam seperti gesekan belati di atas es, menggema di setiap sudut aula.
"Dan pastikan kata-katamu tidak membuang waktuku, tua bangka."
Di bawah kaki sang raja yang beralaskan sepatu baja hitam, seorang penyihir tua bernama Malakor bersujud gemetar.
Aroma kemenyan yang menyengat dan bau keringat dingin ketakutan menguar dari tubuh renta itu. Malakor telah melayani tiga generasi raja Nocturnis, namun belum pernah ia merasa sedekat ini dengan maut.
Dengan jemari yang bergetar hebat, sang penyihir menunjuk ke arah bola kristal di hadapannya. Kristal itu biasanya bening, namun kini ia mulai meredup, memancarkan bayangan samar yang tidak masuk akal.
Asap putih berputar-putar di dalamnya, membentuk siluet yang membuat Malakor ingin mencungkil matanya sendiri agar tidak perlu melihat takdir tersebut.
"Ampun, Paduka yang Abadi... Namun takdir telah mengukir garisnya yang tidak bisa dihapus oleh sihir mana pun," bisik Malakor dengan suara parau yang hampir hilang.
"Akan tiba saatnya, jantungmu yang selama ini membatu... jantung yang kau klaim telah mati itu, akan berdenyut kembali karena satu nama."
Ferdi sedikit memajukan tubuhnya. Aura membunuh (killing intent) miliknya mendadak meningkat, membuat udara di sekitar Malakor terasa berat seolah oksigen telah lenyap.
"Lanjutkan," desis Ferdi.
"Seseorang akan datang. Ia adalah hakikat dari segala sesuatu yang kau benci.
Ia adalah musuh dari segala kelam yang kau miliki. Kau akan jatuh cinta, Paduka... pada cahaya yang paling murni, seseorang yang tidak akan pernah bisa bersatu dengan kegelapanmu. Dan di saat itulah, kehancuranmu akan dimulai."
Seketika, suhu di ruangan itu anjlok hingga mencapai titik beku. Kristal-kristal di dinding retak.
Ferdi bangkit dari singgasananya dengan gerakan yang begitu cepat hingga mata manusia biasa tak sanggup menangkapnya.
Setiap langkahnya di atas lantai obsidian menciptakan bunyi krak yang mengerikan. Ia mencengkeram leher si penyihir, mengangkat tubuh ringkih itu hingga kakinya tak lagi menyentuh tanah.
"Cinta?"
Ferdi menyeringai sinis. Bibirnya melengkung membentuk ekspresi yang lebih mengerikan daripada kemarahan murni.
"Kau meramal penguasa kegelapan akan berlutut pada perasaan remeh semacam itu? Aku adalah maut, Malakor. Dan maut tidak memiliki ruang untuk belas kasihan, apalagi cinta."
"Tapi... itu... sudah... tertulis di Kitab Kejadian..." Malakor tercekik, wajahnya membiru.
Krak!
Tanpa kedipan mata, Ferdi mematahkan leher sang penyihir.
Suara tulang yang patah itu terdengar begitu renyah di aula yang sunyi. Tubuh tak bernyawa itu jatuh ke lantai seperti boneka rusak.
Ferdi sama sekali tidak menoleh ke arah mayat itu. Ia hanya mengeluarkan kain sutra putih dari sakunya, menyeka tangannya yang baru saja menyentuh kulit keriput sang penyihir, lalu membuang kain itu ke wajah Malakor.
Matanya beralih ke bola kristal. Di dalam sana, asap putih kini memadat. Seorang wanita berambut emas, mengenakan baju zirah perak yang menyilaukan, sedang berdiri di tengah padang bunga matahari yang luas. Ia memegang pedang suci yang memancarkan cahaya keemasan.
"Cahaya, katamu?" Ferdi berbisik, api merah menyala di kedalaman matanya yang hitam.
"Jika benar dia adalah takdirku, maka aku akan memastikan cahaya itu padam sebelum sempat menyentuh bayanganku. Aku akan mencarinya, dan aku akan menghancurkannya dengan tanganku sendiri."
Sejarah yang Berdarah
Ferdi menatap peta kulit tua yang tergantung di dinding istananya. Selama tiga ratus tahun, Nocturnis dan Luxeria telah terjebak dalam siklus kebencian yang tak berujung.
Menurut legenda, kedua kerajaan ini dulunya adalah satu, diperintah oleh dua saudara kembar yang melambangkan Matahari dan Bulan. Namun, pengkhianatan terjadi ketika Sang Bulan merasa iri pada kehangatan Sang Matahari dan mencoba menelan dunia dalam gerhana abadi.
Perang itu membelah benua menjadi dua: Utara yang terkutuk dengan salju abadi dan kegelapan, serta Selatan yang diberkati dengan sinar matahari yang tak pernah redup.
Nocturnis tumbuh menjadi kerajaan yang memuja kekuatan fisik dan sihir hitam, sementara Luxeria menjadi tempat perlindungan bagi para ksatria suci dan penyembuh.
"Tiga ratus tahun kita menunggu momen ini,"
gumam Ferdi sambil mengusap hulu pedangnya yang terbuat dari tulang naga.
"Penyihir itu bilang dia adalah musuhku. Itu artinya, dia adalah kunci untuk mengakhiri pembatasan sihir yang selama ini mengurung rakyatku di tanah tandus ini."
Bagi Ferdi, menguasai wanita cahaya itu bukan hanya soal menantang takdir, tapi soal menaklukkan satu-satunya hal yang belum bisa ia tundukkan: harapan.
Sisi Lain: Kerajaan Luxeria
Berbeda dengan atmosfer Nocturnis yang mencekam, Kerajaan Luxeria sedang bermandikan sinar matahari.
Langit biru bersih tanpa awan menjadi latar belakang festival musim semi yang meriah. Aroma roti yang baru matang, wangi bunga lavender, dan tawa anak-anak memenuhi udara.
Kelopak bunga sakura putih beterbangan tertiup angin sepoi-sepoi, mendarat di atas jalanan yang bersih.
Di tengah kerumunan rakyat, seorang gadis dengan baju zirah perak yang berkilau sedang sibuk. Vani, sang Ratu muda yang lebih memilih berada di barisan depan daripada duduk di singgasana emasnya, sedang membagikan roti dan gandum kepada rakyatnya yang kurang mampu.
"Ratu Vani! Lihat, bunganya mekar karena kau lewat!" seru seorang anak kecil bernama Leo, sambil menarik ujung jubah putih Vani yang bersih.
Vani berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak itu. Ia tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti denting lonceng perak yang menenangkan jiwa siapa pun yang mendengarnya.
"Tentu saja, sayang. Bunga ini mekar karena ia tahu anak manis seperti kamu sedang menunggunya," ucap Vani lembut sambil mengelus kepala anak itu.
"Selama kita tetap menjaga cahaya di hati kita, dan tidak membiarkan kebencian masuk, bunga-bunga ini tidak akan pernah layu. Ingat itu, ya?"
Bagi rakyat Luxeria, Vani adalah simbol harapan hidup. Sejak naik takhta dua tahun lalu menggantikan ayahnya yang gugur di perbatasan, ia telah mengubah Luxeria menjadi benteng kedamaian.
Ia adalah pelindung yang berjanji bahwa kegelapan dari utara tidak akan pernah menyentuh tanah mereka selama ia masih menggenggam pedangnya.
Namun, di balik senyumnya yang menenangkan, Vani merasakan sesuatu yang mengganjal. Dadanya terasa sesak seolah-olah ada beban berat yang tiba-tiba menindihnya.
Ia berdiri dan menatap ke arah utara. Di ufuk sana, pegunungan hitam yang selalu tertutup awan badai tampak lebih gelap dari biasanya.
Awan hitam itu bergolak, membentuk formasi yang tidak alami. Seolah-olah ada sepasang mata raksasa yang sedang mengawasinya dari kejauhan, menelanjangi jiwanya hingga ke tulang.
"Jenderal Aris," panggil Vani. Suaranya berubah seketika, dari lembut menjadi penuh wibawa militer yang tegas.
Seorang pria bertubuh tegap dengan zirah emas dan luka parut di pipinya segera mendekat dan membungkuk hormat. "Ya, Yang Mulia Ratu? Apakah ada yang salah dengan rotinya?"
"Bukan soal roti itu, Aris. Siapkan pasukan patroli tambahan di perbatasan utara. Perkuat segel sihir di gerbang utama sekarang juga," perintah Vani. Matanya tidak lepas dari pegunungan hitam itu.
"Apakah ada ancaman baru, Yang Mulia?
Mata-mata kita tidak melaporkan adanya pergerakan pasukan dari Nocturnis dalam sebulan terakhir. Mereka biasanya hanya melakukan gerilya kecil di desa perbatasan," tanya Aris dengan nada bingung namun tetap waspada.
"Aku merasa... Sang Kegelapan sedang memperhatikan kita. Bukan seperti pengintai yang mencari celah untuk mencuri ternak, tapi seperti pemangsa yang telah menemukan mangsa utamanya. Tatapannya terasa berbeda kali ini. Tajam, haus darah, namun juga penuh dengan sesuatu yang tidak bisa kujelaskan. Sesuatu yang sangat personal."
Vani menggenggam hulu pedang sucinya, Aethelgard. Pedang peninggalan leluhurnya itu bergetar sedikit di dalam sarungnya, memancarkan suhu hangat yang seolah ingin menenangkan kegelisahan pemiliknya.
Vani tidak tahu bahwa di saat yang sama, di dalam ruang singgasana yang dingin di utara, Ferdi sedang menghunuskan pedang obsidiannya ke arah peta kerajaannya yang terbentang di meja batu.
Ujung pedang hitam itu menancap tepat di atas titik yang menandai posisi Kota Pusat Luxeria. Tepat di jantung kota di mana Vani berada saat ini.
Dua kutub yang berbeda kini mulai bergerak menuju satu titik temu yang tak terelakkan. Sebuah perang besar akan segera pecah, namun kali ini taruhannya bukan sekadar wilayah atau takhta.
Ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya yang sedang mengintai mereka berdua: sebuah takdir yang akan menghancurkan prinsip dan harga diri mereka hingga luluh lantah. Sebuah perasaan yang bagi Ferdi adalah kutukan yang harus dibasmi, dan bagi Vani adalah ujian iman yang paling berat.
Perasaan itu bernama Cinta, dan ia akan datang tanpa diundang, membawa aroma darah dan kehancuran bagi dunia yang mereka kenal.