NovelToon NovelToon
PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

PUTRI PEDANG DI AKADEMI SIHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.

Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.

Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.

Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.

Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. BELAJAR SIHIR

Langit pagi di Akademi Sihir Oberyn berwarna biru cerah ketika Elara Ravens berjalan melewati koridor batu yang panjang menuju area latihan Divisi Vanguard.

Langkah gadis itu ringan namun mantap.

Di tangannya tergenggam sarung tangan latihan miliknya, sementara pedang yang biasa ia gunakan belum ia bawa.

Hari ini ia hanya ingin melihat-lihat terlebih dahulu.

Namun begitu Elara melewati gerbang besi besar yang menjadi pintu masuk area latihan Divisi Vanguard, langkahnya terhenti sejenak.

Matanya melebar.

Area latihan itu sangat luas.

Bahkan jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.

Lapangan itu terbentang seperti arena perang kecil. Tanahnya dipadatkan dengan rapi, dikelilingi rak senjata yang berisi berbagai macam perlengkapan; pedang, tombak, perisai, palu perang, hingga sarung tangan besi untuk pertarungan jarak dekat.

Di sisi lain lapangan berdiri beberapa dinding batu yang jelas digunakan sebagai target latihan.

Namun yang paling menarik perhatian Elara bukanlah senjata-senjata itu.

Melainkan orang-orang yang berlatih di sana.

Puluhan murid Divisi Vanguard sedang berlatih.

Dan tidak hanya murid tahun pertama. Senior dan junior bercampur di tempat itu.

Suara benturan logam menggema di udara.

Dentang pedang beradu.

Hentakan kaki.

Seruan latihan.

Dan di antara semua itu tentu saja ... sihir.

Elara bahkan belum melangkah jauh ketika seluruh lapangan mulai menyadari kehadirannya.

Satu per satu kepala menoleh.

Bisikan mulai terdengar.

"Itu dia."

"Anak baru itu."

"Yang dipilih langsung oleh kepala sekolah."

"Yang dihukum Profesor Garrick beberapa waktu lalu untuk berlari lima puluh putaran lapangan."

Elara sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu.

Sejak hari pertama ia datang ke akademi ini, semua orang seolah mengenalnya meski ia tidak mengenal siapa pun.

Namun gadis itu tidak peduli..Ia hanya menarik napas pelan..Lalu berjalan masuk ke lapangan latihan.

Tatapan mata tetap mengikuti setiap langkahnya. Namun Elara bersikap seolah tidak menyadarinya.

Ia berjalan menuju salah satu sudut lapangan yang kosong, lalu meletakkan sarung tangan latihannya di atas bangku kayu.

Kemudian Elara mulai melakukan pemanasan.

Gerakan peregangan sederhana. Memutar bahu. Mengendurkan otot kaki. Melatih pernapasan.

Namun di sela-sela itu ... matanya terus bergerak memperhatikan sekitar.

Dan semakin lama ia melihat, semakin besar pula kekaguman yang muncul di wajahnya.

Di sisi kiri lapangan, seorang murid sedang berlatih dengan pedang panjang.

Namun setiap kali pedangnya berayun dan api menyala di sepanjang bilahnya.

Api itu tidak besar..Namun cukup untuk membuat udara bergetar oleh panasnya.

"Wow," Elara bergumam kecil.

Tidak jauh dari sana, seorang murid lain memegang tombak. Ia melangkah maju..Menusukkan tombaknya ke udara ...

Dan tiba-tiba aliran air memanjang mengikuti gerakan tombak itu seperti cambuk cair.

Air itu melesat dan menghantam dinding batu target dengan suara keras.

BRASH!

Percikan air menyebar ke segala arah.

Elara berkedip kagum.

"Hebat sekali!"

Belum selesai ia mengagumi itu ... suara dentuman berat terdengar dari sisi lain.

Seorang murid besar dengan tubuh kekar mengenakan sarung tangan besi.

Tanah di bawah kakinya tiba-tiba menebal. Batu-batu kecil naik dari tanah dan menempel di sarung tangannya.

Lalu dengan satu pukulan ...

BOOOM!

Murid itu menghantam boneka latihan hingga pecah.

Debu batu beterbangan.

Elara benar-benar terpaku.

Matanya berbinar terang.

Seperti anak kecil yang melihat sesuatu yang luar biasa untuk pertama kalinya.

Elara memelajarinya secara teori.

Namun melihatnya langsung seperti ini, rasanya benar-benar berbeda.

Sementara itu, beberapa murid yang sejak tadi memerhatikan Elara mulai saling berpandangan.

"Tunggu ..."

"Dia ..."

"Kenapa wajahnya begitu?"

Salah satu senior yang sedang minum air menoleh ke arah Elara. Ia sempat mengira gadis itu datang dengan sikap sombong seperti rumor yang beredar. Namun yang ia lihat justru sebaliknya.

Elara berdiri di pinggir lapangan. Menatap setiap latihan dengan mata berbinar penuh rasa kagum.

Benar-benar seperti anak kecil yang baru menemukan dunia baru.

Senior itu tertawa kecil. "Sungguh ekspresi yang jujur."

Tanpa sadar, suasana yang tadinya sedikit tegang menjadi jauh lebih santai.

Beberapa murid yang awalnya waspada mulai tersenyum kecil.

Tidak ada kesombongan di wajah Elara..Yang ada hanya rasa penasaran dan kekaguman.

Akhirnya seorang senior mendekatinya.

Pria itu berambut cokelat gelap dengan tubuh atletis. Ia berhenti beberapa langkah dari Elara.

"Kau Elara Ravens, bukan?" tanya sang senior ramah.

Elara menoleh. Lalu mengangguk sopan. "Iya."

Senior itu tersenyum ringan. "Kau akan berlatih di sini?"

Elara mengangguk. Namun kemudian ia ragu sejenak. Lalu bertanya dengan hati-hati. "Aku ... boleh berlatih di sini, kan?"

Senior itu tampak terkejut. Lalu tertawa kecil dan berkat, "Tentu saja boleh. Semua murid Divisi Vanguard boleh menggunakan area ini."

Elara terlihat lega. Namun kemudian ia kembali ragu. Ia menunduk sedikit sebelum berkata pelan, "Apa ... tidak masalah walau aku tidak bisa mengeluarkan sihir dan hanya berlatih biasa?"

Senior itu berkedip. "Apa?" Ia menatap Elara dengan heran. "Kau belum bisa menggunakan sihir?"

Elara mengangguk.

Senior itu mengerutkan kening. "Lalu bagaimana kau bisa masuk akademi sihir?"

Elara menggaruk pipinya sedikit. "Sejak kecil ada ledakan energi sihir di tubuhku. Lalu beberapa waktu lalu itu terjadi lagi. Jadi orang tuaku memutuskan aku harus masuk akademi untuk belajar mengendalikannya."

Senior itu terdiam. Ia memandang Elara dengan serius. Lalu berkata, "Tunggu sebentar."

Sang senior berbalik dan berjalan menuju beberapa temannya yang sedang berlatih.

Mereka mulai berbicara.

Beberapa kali mereka menoleh ke arah Elara.

Elara yang melihat itu langsung merasa sedikit waspada.

Perasaan itu tidak asing baginya.

Sejak dulu hubungannya dengan para senior tidak pernah terlalu bagus.

Elara berdiri diam. Menunggu apa yang akan terjadi.

Namun beberapa saat kemudian senior itu kembali.

Ia datang bersama dua temannya. Namun ekspresi mereka tidak terlihat buruk.

Justru sebaliknya.

Mereka tersenyum ramah.

"Bagaimana kalau kau berkonsultasi dengan kami sebentar?"

Elara berkedip. "Konsultasi?"

Senior itu mengangguk. "Kami cukup sering membantu junior yang kesulitan dengan sihir mereka dan itu juga menjadi bahan penelitian kami tentang sihir."

Elara ragu. "Apakah tidak masalah?"

Ketiga senior itu tertawa. "Tentu saja tidak."

Mereka mengajak Elara duduk di pinggir lapangan.

Setelah duduk, salah satu dari mereka berkata, "Oh iya, kami belum memperkenalkan diri." Ia menunjuk dirinya. "Aku Darius."

Lalu menunjuk pria di sebelahnya. "Itu Kael."

Dan yang terakhir, seorang perempuan, "Yang itu Mira."

Mira melambaikan tangan santai. "Senang bertemu denganmu."

Darius kembali menatap Elara. "Jadi ... kau sama sekali belum paham bagaimana mengeluarkan sihirmu?"

Elara mengangguk. "Aku paham semua teorinya. Aku membaca banyak buku sejak pindah ke akademi ini. Tapi untuk mengeluarkan sihir dasar seperti elemen ... aku belum bisa."

Ketiga senior itu langsung berpikir serius.

Mereka mulai berdiskusi.

Percakapan mereka terdengar sangat profesional.

Tentang aliran mana.

Tentang resonansi energi.

Tentang kemungkinan hambatan mental.

Elara duduk diam. Mendengarkan dengan serius.

Beberapa menit kemudian, Kael menoleh padanya. "Baiklah. Kita coba sesuatu."

Kael memberi beberapa arahan. "Coba tutup matamu. Rasakan energi di tubuhmu. Bayangkan mengalirkannya keluar. Atur napas dengan tenang."

Elara mengikuti semua arahan itu dengan patuh.

Ia menarik napas.

Mencoba merasakan energi di dalam tubuhnya.

Namun ...

Tidak ada yang terjadi.

Ia mencoba lagi.

Dan lagi.

Tetap tidak ada hasil.

Setelah beberapa percobaan ... Elara membuka mata. "Maaf ..."

Namun para senior itu justru menggeleng. "Bukan salahmu."

Mira berkata sambil menyipitkan mata. "Aku bisa merasakan energi sihir di tubuhmu. Dan jumlahnya besar."

Darius mengangguk. "Itu berarti kau memang bisa menggunakan sihir."

Darius berpikir sejenak.

Lalu Kael tiba-tiba bertanya, "Kau pengguna pedang, benar?"

Elara mengangguk. "Benar."

Ketiga senior itu saling berpandangan.

Lalu tersenyum.

Darius berkata, "Bagaimana jika ternyata sihirmu membutuhkan media untuk keluar?" Ia menunjuk ke arah lapangan. "Kau lihat pria yang menggunakan tombak itu?"

Elara menoleh.

Pria itu sedang mengayunkan tombaknya dengan aliran air.

Darius berkata, "Dia hanya bisa menggunakan sihir melalui tombaknya. Mungkin kau juga seperti itu. Coba gunakan pedang."

Elara mengangguk.

Ia berdiri dan berjalan ke rak senjata. Tangannya mengambil sebuah pedang latihan. Pedang itu tidak terlalu berat. Namun cukup nyaman di genggamannya.

Ia kembali ke tempat para senior.

"Baik," Darius berkata, "sekarang coba alirkan sihirmu ke pedang."

Elara menarik napas.

Ia memegang pedang itu dengan kedua tangan.

Menutup mata.

Lalu mencoba merasakan energi di dalam tubuhnya.

Kali ini sesuatu terasa berbeda.

Energi hangat mulai bergerak dari dalam dadanya. Mengalir ke lengan Elara. Ke telapak tangannya.

Dan ....

Seketika.

Pedang itu bersinar.

Aura cahaya emas muncul di sepanjang bilahnya.

Semua orang yang melihat langsung membelalakkan mata.

"WOOOO!" Para senior langsung bersorak.

"Dugaan kita benar!"

"Dia hanya butuh media!"

"Kau berhasil!"

Elara membuka matanya.

Ketika melihat pedangnya ...

Elara terdiam.

Bilah pedang itu benar-benar diselimuti cahaya emas. Energi hangat berdenyut di tangannya. Matanya langsung berbinar penuh kegembiraan.

"Aku ... berhasil ..." Elara tersenyum lebar.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar menggunakan sihir.

Namun Mira tiba-tiba mengerutkan kening. "Tunggu."

Ia menatap pedang Elara.

"Lalu kenapa sihirmu lebih seperti energi ... dan aura?" ucap Mira.

Ketiga senior itu kembali berpikir.

Darius berkata, "Coba bayangkan elemen. Api atau air. Lalu lakukan tebasan."

Elara mengangguk. Ia mengangkat pedangnya.

Membayangkan api.

Lalu menebas.

WHOOSH!

Energi emas itu membesar memadat membentuk arah tebasan pedang Elara. Namun tidak berubah menjadi api.

Elara mencoba lagi.

Membayangkan air.

Tebasan kedua.

Energi itu justru semakin tebal.

Para senior terdiam.

Mira bergumam, "Aku baru pertama kali melihat sihir seperti ini. Mungkin kita perlu meneliti lebih-"

Namun tiba-tiba ...

Suara keras terdengar dari tengah lapangan.

"Mana anak baru di Divisi Vanguard yang dipilih langsung oleh kepala sekolah?!"

Semua orang menoleh.

Seorang pria tinggi berdiri di sana..Rambut merah berantakan. Senyumnya liar.

"Aku ingin melihat seperti apa orangnya!" serunya.

Para senior langsung berbisik ke Elar, "Itu Leonhart Draven. Student Council ketiga. Sangat kuat dan suka sekali duel. Dan selalu menang. Tapi tidak pernah menang melawan Ketua Student Council."

Leonhart menyapu lapangan dengan matanya.

Lalu ....

Mata Leonhart berhenti pada Elara.

Ia tersenyum lebar. Senyum yang penuh tantangan.

"Ketemu kau," ujar Leonhart.

Dan Elara menelan ludah karena kenapa tiba-tiba orang yang suka berduel mencarinya!

1
Ita Xiaomi
Jgn ganggu Lala.
mimief
eh...Abang Alon main cium" aja
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
Miss Typo
main nyium aja tuh Aaron pinter bgt cari kesempatan 😁
Jelita S
Aron kesempatan dalam kesempitan lo🤣🤣🤣🤣
Jelita S
sama dong akan merindukan Lala kecil😍😍
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐢𝐡 𝐜𝐢𝐮𝐦𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐩𝐢𝐩𝐢 𝐛𝐤𝐧 𝐛𝐚𝐤𝐩𝐚𝐨 𝐛𝐚𝐧𝐠 🤣🤣🤣

𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
Miss Typo
saat dah berubah dewasa lagi, Lala inget gak ya? pasti malu kalau inget semua 😁
Archiemorarty: bisa diliat di bab update jam 5 ini 🤣
total 1 replies
mimief
yah begitulah...ketika kita masih kecil semua akan terasa menyenangkan,ga ada beban dan hidup mengalir begitu aja.
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
Archiemorarty: Bener banget ini...😭
total 3 replies
Ir
kek nya penyihir hitam emang udah ngincer elara deh, karena pasti mereka punya ramalan masa depan bahwa akan ada anak perempuan yang membinasakan para penyihir hitam, nah makanya dia tau elara di Akademi Oberyn jadi mereka ngawasin terus monster itu cuma pancingan aja, mimpi elara pun cuma manipulasi biar elara gagal fokus mempelajari sihir nya
Archiemorarty: noooo
total 3 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
lala 😘😘😘
Selinah Albaid
setiap novel yang d tulis oleh Thor ini membuat kan kita ternanti2 bab demi bab dengan hati yang berdebar 2 n semangat..pokoknya the best
Archiemorarty: Terima kasih udah baca ceritanya kak
total 1 replies
Anisa Muliana
thor,,aku baca sambil bayangin lucu bnget smpek ketawa" 🤣 gemes banget😬
Archiemorarty: Asli bocil paling hyper aktif perempuan tuh gemes banget 🤭
total 1 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Archiemorarty: otw 🤭
total 1 replies
mimief
kirain... keluarganya miara naga buat mainan
panik donk😜🤣🤣
mimief: lah iya🤣🤣🤣...
penyihir si penyihir ya
tapi ga Ampe miara naga juga 😜🤣
total 2 replies
Miss Typo
Elara yg cadel menggemaskan sekali 😍
Miss Typo: Aamiin 🤲
terimakasih 🙏🥰
total 9 replies
tqotqo
bagus banget ceritanya kayak ngehipnotis baca teruss
Archiemorarty: Wahh... terima kasih udah baca ceritanya kak 🥰
total 1 replies
tqotqo
semangat Thor, aku juga kegemesan bacanya🤭
Archiemorarty: Gx kuat othor juga sama kegemasan Elara 😭
total 1 replies
Jelita S
jdi ingat mereka waktu kecil ( Rowan,epan,Lala dan Alon) 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Kan kan ... tengil banget mereka itu 🤣
total 1 replies
Jelita S
lucu banget Elara balik jdi bayik lagi🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Archiemorarty: Banget 😭
total 1 replies
Jelita S
uh terharu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!