NovelToon NovelToon
The Harmony Of Us

The Harmony Of Us

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / Romansa
Popularitas:350
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

---

Sinopsis Utama

Di sebuah sudut tenang kota, terdapat sebuah deretan hunian asri di mana pagar-pagar rumah tidak menjadi pembatas, melainkan jembatan bagi sebuah persahabatan yang tulus. Inilah kisah tentang lima wanita dan pasangan mereka yang membangun definisi baru tentang "keluarga pilihan."

Kehangatan mengalir di setiap rumah: Jane dan Mario yang menanti kehadiran buah hati dengan penuh sukacita; Irene dan Elgi yang belajar menjadi orang tua bagi putra kecil mereka yang aktif dan ceria; Soo Young dan Endy yang romantismenya tak pernah pudar meski usia pernikahan terus bertambah; Jisoo yang membesarkan putrinya, Amora, dengan kekuatan cinta setelah ditinggal suami; serta Chaeyoung dan Leon yang membuktikan bahwa cinta tidak mengenal jarak dan benua.

Tidak ada drama besar, tidak ada rahasia kelam. Yang ada hanyalah janji untuk selalu ada satu sama lain, merayakan setiap momen kecil, dan menjaga keharmonisan yang tumbuh subur di lingkungan mereka. Inilah kisah tentang keluarga

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Us

 

Jam dinding di rumah nomor 7 menunjukkan pukul 02.15 dini hari.

Mario tidur nyenyak dengan posisi miring, satu tangan terkulai lemas di atas kasur. Mimpi indahnya tentang liburan ke pantai bersama Jane dan calon buah hati sedang berlangsung ketika tiba-tiba...

"Mas..."

Mario tidak bergerak.

"MAS!"

Mario tersentak, hampir jatuh dari ranjang. "APA? APA? ADA KEBAKARAN?"

Jane duduk di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. "Mas, aku... aku mau..."

Mario mengucek mata, mencoba fokus. "Mau apa, Sayang? Mau ke kamar mandi? Sakit? Kontraksi?"

Jane menggeleng. Air matanya mulai jatuh. "Aku... aku mau rujak..."

Mario mengerjapkan mata. "Ru... jak?"

"Iya. Rujak buah. Yang pedes banget. Pake sambel yang banyak." Jane menangis. "Aku mau sekarang, Mas. Sekarang!"

Mario melihat jam. Pukul 02.17. Semua warung tutup. Semua pedagang rujak pasti sudah pulang dari jam 10 malam.

"Sayang, ini udah jam 2 malem. Mungkin besok pagi kita cari, ya?" usul Mario hati-hati.

"Nggak mau! Aku mau sekarang!" Jane menangis lebih keras. "Kamu nggak sayang aku! Kamu nggak peduli sama anak kita!"

Mario panik total. "Bukan gitu, Sayang! Aku sayang banget! Tapi ini jam 2 malem, mana ada yang jualan?"

"Berarti aku harus menderita sendiri?" Tangis Jane makin menjadi. "Ini anak kamu juga, lho! Dia juga mau rujak!"

Mario bingung antara mau tertawa dan mau ikut nangis. Ini pertama kalinya ia menghadapi ngidam istri di tengah malam. Ia sudah membaca buku tentang kehamilan, tapi tidak ada satu bab pun yang mengajarkan cara menangani situasi ini.

"Oke, oke, aku usahain." Mario bangkit, memakai celana asal-asalan. "Kamu tunggu di sini, ya. Jangan nangis dulu. Papa usaha cari rujak."

Jane masih terisak, tapi mulai sedikit reda. "Janji?"

"Janji."

 

Mario berlari keluar rumah. Udara malam dingin menusuk kulitnya yang hanya mengenakan kaos oblong tipis. Ia berdiri di tengah kompleks, bingung harus mulai dari mana.

Lalu matanya tertumbuk pada rumah nomor 11. Rumah Endy dan Soo Young. Endy orangnya kalem dan bijaksana. Pasti tahu harus ngapain.

Mario berlari ke rumah nomor 11, mengetuk pintu keras-keras.

Tok tok tok tok tok!

Beberapa saat kemudian, lampu kamar menyala. Endy membuka pintu dengan wajah setengah tidur, rambut berantakan.

"Mario? Jam segini? Ada apa? Jane kenapa?" tanya Endy cemas.

"Om Endy, Jane ngidam! Minta rujak! Sekarang!"

Endy mengerjapkan mata, mencerna informasi. "Ngidam? Rujak? Jam setengah 3 pagi?"

"Iya, Om! Dia nangis-nangis! Aku harus cari rujak!"

Soo Young muncul di belakang Endy, ikut mendengar. "Jane ngidam? Rujak?"

"Iya, Tante. Pedes banget katanya."

Soo Young langsung beraksi. "Endy, kamu ke rumah Elgi. Bangunin mereka. Mario, kamu cek kulkas Jane, apa aja buah-buahan yang ada. Aku siapin sambal."

"Tante bisa bikin sambal jam segini?"

"Bisa. Ini darurat." Soo Young sudah berjalan ke dapur. "Cepetan!"

Mario dan Endy bergegas. Endy lari ke rumah nomor 9, mengetuk pintu dengan pola yang sama. Elgi muncul dengan wajah kaget.

"Om Endy? Ada apa?"

"Darurat! Jane ngidam! Mario butuh bantuan!"

Elgi langsung mengerti. "Irene! Irene! Bangun! Jane ngidam!"

Irene keluar dari kamar dengan Rafa di gendongan—anak itu ikut terbangun karena suara ribut.

"Ada apa? Kenapa?" tanya Irene.

"Jane ngidam. Kita bantu cari buah."

Irene langsung sigap. "Rafa, tidur sama Mama dulu, ya. Ayah mau bantu Om Mario." Ia menyerahkan Rafa ke Elgi, lalu lari ke dapur. "Aku bawa pisang sama pepaya! Masih ada di kulkas!"

 

Dalam waktu 15 menit, seluruh kompleks bangun.

Jisoo keluar dengan Amora yang masih mengantuk. "Ada apa, ribut-ribut?"

"Jane ngidam minta rujak!" teriak Irene dari kejauhan.

Jisoo langsung paham. "Amora, tunggu di rumah, ya. Mama bantu Tante Jane dulu."

Amora mengangguk, masih setengah tidur. "Iya, Ma."

Chaeyoung dan Leon menyusul, mereka baru saja selesai video call dengan keluarga Leon di Australia.

"Ada apa? Kenapa rame?" tanya Chaeyoung.

"Jane ngidam! Minta rujak!" jawab Elgi.

Leon mengerutkan dahi. "Ngidam? Rujak? What's that?"

"Buah dengan sambel pedas. Makanan khas Indonesia."

Leon masih bingung, tapi ikut bergabung. "What can I do?"

"Kamu bawa air mineral aja dari rumah," perintah Irene. "Banyakin!"

Leon mengangguk patuh, berlari ke rumahnya.

 

Di rumah nomor 7, suasana sudah seperti markas darurat.

Dapur penuh dengan orang. Soo Young sibuk mengulek sambal dengan kecepatan tinggi, matanya masih sedikit sembab karena baru bangun, tapi tangannya lincah. Irene membawa pepaya dan pisang dari rumahnya. Jisoo datang dengan mangga muda—kebetulan baru beli kemarin. Chaeyoung menyusul dengan nanas. Leon membawa dua galon air mineral.

"Kurang apa?" tanya Elgi.

"Bengkuang!" teriak Irene. "Siapa punya bengkuang?"

"Saya punya!" jawab Endy dari luar. Ia berlari ke rumahnya, mengambil bengkuang dari kebun Soo Young.

Mario sibuk mondar-mandir antara dapur dan kamar, melaporkan perkembangan pada Jane.

"Sayang, sabar dikit, ya. Lagi dibikin. Tante Soo Young bikin sambelnya."

Jane masih terisak-isak di ranjang. "Cepetan, Mas... aku udah nggak tahan..."

"Iya, iya, sebentar lagi."

Di dapur, Soo Young menyelesaikan sambalnya. Ia mencicipi, matanya langsung merah kepedasan.

"Pedas banget!" serunya batuk-batuk.

"Itu yang dimau Jane!" Irene tertawa. "Cepetan, campur buahnya!"

Dengan cepat, mereka memotong semua buah: mangga, pepaya, bengkuang, nanas, pisang. Semua dicampur dalam mangkuk besar, lalu disiram sambal pedas buatan Soo Young.

"Selesai!" teriak Soo Young.

Mario mengambil mangkuk itu dengan tangan gemetar. "Makasih, makasih semuanya!"

"Cepetan anterin!" Irene mendorongnya. "Nanti Jane tambah nangis!"

 

Mario masuk ke kamar dengan mangkuk rujak di tangan. Jane langsung menyambut dengan mata berbinar, meski masih ada sisa air mata di pipinya.

"Ini, Sayang. Rujaknya."

Jane mengambil mangkuk itu, langsung menyendok buah yang sudah terbalut sambal merah. Ia memasukkannya ke mulut, mengunyah dengan lahap.

Matanya langsung berbinar. "ENAK! Ini enak banget, Mas!"

Mario menghela napas lega. "Syukurlah."

Jane makan dengan lahap, tak peduli sambal menempel di bibirnya. Mario duduk di sampingnya, mengusap-usap punggung istri.

"Makasih, Mas," ucap Jane di sela kunyahan. "Makasih udah usahain."

"Masa iya aku diemin kamu nangis." Mario tersenyum. "Makasihnya ke yang lain. Mereka semua bangun bantuin."

Jane baru ingat. "Mereka semua di luar?"

"Iya. Dari Tante Soo Young, Om Endy, Mba Irene, Om Elgi, Kak Jisoo, Chaeyoung, Leon. Semua bantu."

Jane terharu. "Bawa mereka masuk, Mas. Aku mau ngomong."

Mario keluar, mengajak semua masuk ke kamar—agak penuh memang, tapi mereka berdesakan dengan senang hati.

Jane menatap mereka satu per satu dengan mata berkaca-kaca. "Kalian... aku nggak tahu harus bilang apa. Makasih banget udah bantu. Ini jam 3 pagi, kalian semua bangun cuma buat bikin rujak buat aku."

Irene tertawa. "Jan, ini udah tugas kita. Lagian, ngidam itu nggak bisa ditunda."

"Serius, aku nggak nyangka." Jane mengusap air matanya. "Kalian semua... keluarga terbaik yang pernah aku punya."

Soo Young meraih tangan Jane. "Kamu juga keluarga buat kami."

"Iya, Jan." Jisoo mengelus kepala adiknya. "Kita di sini buat kamu."

Chaeyoung mengangguk. "Sampai kapan pun."

Leon, yang masih agak bingung dengan konsep ngidam, ikut berkata, "In Indonesia, pregnant women are very... powerful."

Semua tertawa. Jane ikut tertawa, hampir tersedak rujak.

"Iya, Leon. Mereka powerful. Bisa suruh orang bangun jam 3 pagi." Elgi menyenggol Leon.

Malam itu berakhir dengan tawa. Mereka mengobrol sebentar sambil menemani Jane makan rujak. Rafa dan Amora, yang ikut terbawa, tidur di sofa ruang tamu dengan boneka masing-masing.

Pukul 04.00, satu per satu mereka pulang. Jane sudah kenyang, tidur dengan puas di samping Mario yang kelelahan. Tapi di balik lelahnya, ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.

 

Keesokan paginya, Mario bangun kesiangan. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00. Ia turun ke ruang tamu dan menemukan pemandangan aneh: di meja makan, ada sepiring rujak lagi dengan tulisan: "Cadangan, kalau ngidam lagi malem ini. -Geng Istri"

Mario tertawa. Jane keluar dari kamar, sudah mandi dan segar.

"Mereka anterin tadi pagi," kata Jane. "Katanya, buat jaga-jaga kalau aku ngidam lagi."

Mario memeluk Jane. "Sayang, kita beruntung banget."

"Iya, Mas. Aku tahu."

Mereka sarapan dengan rujak—sarapan tidak biasa, tapi penuh rasa syukur.

 

Sore harinya, di taman kompleks, Irene bercerita pada yang lain tentang malam sebelumnya sambil tertawa.

"Bayangin, jam 3 pagi, Soo Young ngulek sambel kayak orang kesurupan!"

Soo Young tertawa. "Aku aja nggak nyangka bisa bikin sambel secepet itu."

"Tapi enak banget sambelnya," puji Jane. "Aku jadi ketagihan."

"Mau aku bikinin lagi?" tawar Soo Young.

"Nanti aja, Tante. Kalau ngidam lagi."

Mereka tertawa. Leon yang ikut duduk di taman bertanya, "Is this normal? In Australia, pregnant women don't do this."

"Ini Indonesia, Leon." Elgi menjelaskan. "Ngidam itu sakral. Kalau ibu hamil minta sesuatu, harus diturutin. Nanti anaknya bisa cacat kalau nggak."

Leon terbelalak. "Really? That's... intense."

Chaeyoung tertawa. "Dia bercanda, Leon. Nggak sampai segitunya. Tapi memang kita usahain turutin kalau bisa."

"Ah, you got me." Leon menghela napas lega.

Semua tertawa. Sore itu cerah, mengusir sisa-sisa kelelahan setelah malam yang panjang.

 

Minggu berikutnya, Jane ngidam lagi. Kali minta es krim durian jam 10 malam.

Mario sudah lebih siap. Ia langsung menghubungi grup WhatsApp "Griya Asri".

Mario: Darurat. Jane ngidam es krim durian.

Irene: Siap. Aku punya stok durian di freezer.

Soo Young: Aku bisa bikin es krim durian homemade. 30 menit.

Elgi: Gue siap anter kalo butuh.

Jisoo: Aku punya susu kental manis buat tambahan.

Chaeyoung: Leon mau beliin wafer buat topping!

Leon: On my way to the store!

Dalam 40 menit, es krim durian homemade buatan Soo Young sudah sampai di rumah nomor 7. Jane makan dengan lahap, ditemani Mario yang tersenyum lebar.

Malam itu, Mario menulis di grup: "Makasih keluarga. Kalian luar biasa."

Irene: Sama-sama. Itu sudah tugas kita.

Soo Young: Selamat menikmati.

Jisoo: Sayangin adekku, ya.

Chaeyoung: Love you all!

Leon: This is the best neighborhood ever.

Mario membaca pesan-pesan itu dengan senyum merekah. Di sampingnya, Jane sudah tertidur pulas setelah menghabiskan es krim.

Ia mengecup kening Jane, lalu tangannya mengelus perut yang membesar.

"Nak, kamu lihat? Banyak orang baik di sekitar kita. Mereka sayang kamu, bahkan sebelum kamu lahir."

Dari dalam perut, terasa satu tendangan kecil.

Mario tersenyum. Malam itu, ia tidur dengan damai, dikelilingi rasa syukur yang tak terhingga.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!