Xue Xiao adalah seorang alkemis hebat nomor satu di alam abadi, bahkan bakatnya di gadang-gadang akan mampu memecahkan batasan alam abadi dan membuka jalur kenaikan menuju alam Dewa yang telah tersegel selama jutaan tahun melalui Dao alkimia.
Namun pada suatu saat, Xue Xiao dikhianati oleh sahabat dan kekasihnya untuk merebut Artefak Dewa yang dimiliki Xue Xiao.
Selama ratusan tahun, Xue Xiao hanya berfokus pada Dao Alkimia. Meskipun kultivasinya tinggi, namun dibandingkan mereka yang menempuh jalur Dao beladiri tentu ia tidak bisa menjadi lawan.
Hingga akhirnya, Xue Xiao yang terpojok dan putus asa, memilih untuk meledakkan dirinya dan menyeret para penghianat itu untuk menemaninya di jalan kematian.
Tapi tak disangka, Artefak Dewa yang ia miliki justru menyelamatkan jiwanya disaat-saat terakhir dan membawanya ke dunia yang sama sekali baru, bahkan merekonstruksi tubuh fisiknya yang sudah hancur berkeping-keping.
bagaimana perjalanan Xue Xiao di dunia baru, ikuti terus cerita ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Selanjutnya, dia menemukan semak tanaman dengan daun kecil berbentuk lonjong yang tumbuh di dekat batu besar. Diapun mendekat lalu mengendusnya dan merasakan aroma yang menyegarkan – aroma khas dari tumbuhan mint liar. Dia juga mengunyah sehelai daun dan merasakan rasa yang dingin dan menyegarkan, sebagai seorang alkemis Suci Xue Xiao langsung mengetahui bahwa tanaman ini bisa digunakan untuk meredakan demam dan sakit tenggorokan. Dia memetik beberapa ranting muda dan menyimpannya ke wadah kecil yang dibawanya.
Di sisi lain sungai, dia juga menemukan tanaman dengan bunga putih besar dengan beberapa kelopak di setiap tangkai bunganya yang mekar indah – tumbuhan ini adalah kamboja putih. Dia tahu bahwa beberapa jenis kamboja beracun, jadi dia sangat hati-hati. Dia hanya mengambil sedikit bagian kelopak bunga, lalu mengoleskannya ke kulit tangannya dan menunggu reaksi. Setelah tidak ada rasa tidak nyaman, dia kembali memetik satu kelopak lalu mengunyahnya, ada rasa pahit tapi itu tidak berbahaya. Dia lalu mencatat bahwa bagian akar dan batangnya mungkin beracun, hanya kelopak bunga yang bisa digunakan untuk menyembuhkan luka luar.
Saat menjelajah lebih dalam ke hutan, dia menemukan jamur berwarna coklat yang menempel pada batang pohon tua yang sudah mati. Dia memeriksa tekstur jamur tersebut, tidak licin dan tidak memiliki warna yang mencolok yang biasanya menandakan jamur beracun. Dia mengambil sedikit bagian jamur lalu mengendusnya dan mengunyahnya, tidak ada aroma menyengat dan rasanya sedikit pahit tapi tidak ada rasa tidak enak pada tubuhnya. Setelah beberapa menit, dia merasa sedikit rileks – khasiat yang sesuai dengan jamur obat yang dia kenal di dunia asalnya. Dia kemudian memetik beberapa batang jamur tersebut dengan hati-hati.
Tak lama kemudian, di bawah tanah liat lembap di dekat akar pohon besar, dia menemukan tanaman dengan batang yang menjalar ke atas permukaan tanah. Dia menggali sedikit tanah dan menemukan akar yang berwarna coklat tua dengan aroma yang khas – tumbuhan ini adalah kayu manis liar. Dia mengunyah sedikit bagian akarnya dan merasakan rasa manis yang khas, memastikan bahwa ini adalah bahan yang bisa digunakan untuk meningkatkan rasa dan juga sebagai bahan pendukung dalam pemurnian pil.
Saat dia hampir sampai di ujung target area jelajahnya, dia menemukan semak tanaman dengan buah kecil berwarna merah cerah yang tumbuh di antara rerumputan tinggi. Dia mengambil satu buah dan mengunyahnya perlahan – rasanya sedikit asam tapi juga menyegarkan, buah ini jelas tidak beracun. Setelah beberapa menit, dia merasakan bagian tenggorokannya menjadi lebih nyaman, mengetahui bahwa buah ini memiliki khasiat sebagai antibakteri alami. Dia memetik beberapa buah dan daunnya, serta mencatat lokasi semak tersebut dengan jelas agar bisa datang kembali untuk mengambilnya nanti.
Setelah merasa cukup puas dengan hasil penjelajahan pertama ini, Xue Xiao memutuskan untuk kembali ke gubuk bambunya.
Setelah sampai di gubuk, Xue Xiao segera mulai membuat tungku untuk mengolah bahan-bahan tersebut. Dia menggali tanah liat dari tepi danau, lalu membentuknya menjadi tungku dengan bentuk khusus, bagian bawah untuk tempat api, bagian tengah sebagai tempat memasak, dan bagian atas dengan lubang kecil untuk mengalirkan uap. Dia lalu mengeringkan tungku di bawah sinar matahari selama beberapa jam, kemudian membakarnya dengan kayu bakar yang dia temukan dari cabang pohon kering disekitar gubuk bambu. Tujuannya membakar tungku itu adalah agar tungku tanah liat itu menjadi lebih keras dan kokoh.
Untuk membuat api, dia mengambil serpihan batu kasar yang kering lalu membenturkannya satu sama lain. Dengan satu pukulan, percikan api muncul dengan mudah dan langsung menyalakan kayu bakar kering yang sudah dia siapkan di bawah tungku.
Setelah api menyala dengan stabil, dia mulai memproses setiap bahan dengan hati-hati. Akar ginseng dicuci bersih dan dipotong menjadi irisan tipis, akar angelica diparut halus, daun mint dan kamboja dihancurkan menjadi bubuk, jamur dipanggang sebentar di atas bara api untuk menghilangkan kelembapan, dan buah merah dihancurkan untuk mengambil sarinya.
Setelah semua bahan siap, dia mencampurkannya dalam wadah tanah liat yang sudah dia siapkan, Xue Xiao juga menambahkan sedikit air dari danau untuk membuat adonan yang merata. Dia lalu memasukan bahan-bahan tersebut ke dalam tungku dan mengatur besarnya nyala api dengan menambahkan atau mengurangi kayu bakar – tidak terlalu besar agar bahan tidak gosong, tapi cukup panas untuk mengolah zat aktif di dalamnya. Selama proses pemanasan yang berlangsung lebih dari dua jam, dia secara berkala mengaduk campuran dengan kayu yang dibentuk menjadi sendok, memastikan setiap bagian mendapatkan panas yang merata.
Setelah campuran mengental dan berubah warna menjadi coklat tua pekat, dia mengeluarkannya dari tungku dan membentuknya menjadi pil kecil dengan menggunakan cetakan yang dibuat dari balok batu yang sudah ia lubangi dan haluskan.
Setelah pil-pil itu terbentuk dan menjadi sedikit keras, ia kemudian meletakkan pil-pil tersebut di atas daun besar yang sudah dibersihkan sebagai alas untuk menjemur pil-pil itu di bawah sinar matahari selama satu hari penuh agar mengering sempurna dan menjadi keras.
Setelah proses pemurnian selesai, dia memiliki sekitar tiga puluh butir pil kecil berwarna coklat muda dengan bentuk yang cukup rapi. Dia mencoba menelan satu pil dan merasakan efeknya. Meskipun pil itu tidak mengandung energi spiritual, tapi mampu membuat tubuhnya merasa lebih ringan, rasa lelah dari menjelajah hutan sedikit banyak menghilang, dan luka kecil di jempolnya yang terbentur batu semalam juga mulai menyembuhkan lebih cepat.
"Bukan pil spiritual seperti yang kuharapkan, tapi hasilnya sudah cukup memuaskan," ucapnya dalam hati sambil menyimpan pil tersebut ke dalam wadah kulit kayu yang ditutup rapat agar tidak terkena kelembapan. Dia melihat tanaman liar yang tumbuh liar di sekitar danau dan mulai merencanakan area khusus untuk menanam beberapa jenis tumbuhan obat seperti akar ginseng, angelica, dan daun mint, agar bisa menghasilkan bahan alkimia secara teratur tanpa harus menjelajah jauh ke dalam hutan setiap kali membutuhkannya.
Di sela-sela mengolah bahan, dia juga mulai mengamati perilaku binatang liar yang datang ke danau untuk mencari air. Ada beberapa jenis binatang liar yang sering muncul disekitar danau, seperti rusa dengan tanduk besar, kelinci liar yang lincah, dan bahkan serigala lain yang menjelajah sendirian. Meskipun belum berniat untuk menangkap mereka sekarang, Xue Xiao masih mencatat jenis-jenis binatang yang ada dan cara mereka bertahan hidup di hutan, menyimpan informasi tersebut sebagai pengetahuan yang mungkin akan berguna untuknya kelak ketika sumber makanan dari tumbuhan saja tidak cukup.