NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17: SANDIWARA DI GERBANG KEHAMPAAN

Langkah kaki rombongan bergema di lorong Inner Sanctum Grotto. Udara di sini tidak lagi sekadar dingin, ia membawa tekanan berat yang mampu meremukkan paru-paru petualang biasa. Alaric, yang kini telah berevolusi menjadi Ksatria Suci Peringkat SS, berjalan di samping Arka dengan postur yang sangat tegang.

​Bagi Alaric, dunia kini terlihat berbeda. Ia bisa melihat aliran mana yang mengalir di dinding gua, ia bisa merasakan detak jantung monster dari jarak satu kilometer. Namun, yang paling membuatnya tertekan adalah aura Arka di sampingnya. Meski Arka mengenakan kembali Cincin Segel menjadi peringkat A, bagi indera SS Alaric, Arka tetap terlihat seperti matahari yang terbungkus kain tipis, menyilaukan dan sangat berbahaya.

"Komandan," suara Arka memecah keheningan, terdengar malas namun tajam. "Tarik kembali auramu. Kau membuat monster-monster di depan ketakutan. Jika mereka kabur, murid-muridku tidak punya bahan latihan."

Alaric tersentak. Ia segera memusatkan konsentrasi untuk menekan hawa keberadaan SS-nya hingga ke titik terendah, berpura-pura kembali menjadi Peringkat S+. "Maaf, Guru... maksudku, Arka. Aku belum terbiasa mengendalikan wadah mana sebesar ini."

"Biasakanlah. Akting adalah kunci umur panjang," sahut Arka santai.

...

Di depan mereka, sebuah ruang luas terbuka. Dari kegelapan, muncul tiga ekor Abyssal Chimera—monster Peringkat S yang memiliki kepala singa berapi, tubuh naga hitam, dan ekor kalajengking yang meneteskan racun korosif.

Alaric secara insting menghunus pedangnya. Satu tebasan darinya sekarang sudah cukup untuk membelah ketiga monster itu. Namun, sebuah tangan menahan bahunya.

Alaric berkeringat dingin. "Tapi Guru... Maksudku Arka... di depan ini... itu adalah Abyssal Chimera. Monster Peringkat S yang seharusnya hanya bisa dihadapi oleh satu peleton ksatria suci."

"Dan itulah alasan mereka di sini," sahut Arka datar.

...

"Jiro, Kael, Elara! Formasi Delta!" teriak Arka, tiba-tiba kembali ke mode instruktur.

Ketiga murid itu melompat maju. Jiro menghunus pedang karatnya yang kini terbungkus aura biru tipis, Kael menyiapkan busurnya, dan Elara mulai merapal mantra pelindung.

Pertempuran pecah dengan intensitas yang mengerikan. Chimera itu mengaum, melontarkan bola api hitam ke arah Jiro. Jiro berguling di lantai, menebas kaki depan monster itu, namun sisiknya terlalu keras. Krak! Ekor ular Chimera itu menyabet bahu Jiro hingga ia terlempar menghantam dinding.

"Jiro!" Alaric berteriak spontan. Tangannya langsung mencengkeram gagang pedang peraknya. Instingnya sebagai Komandan Ksatria Suci memerintahkannya untuk mengakhiri ancaman ini dalam satu detik. Satu tebasan SS-nya pasti akan membelah Chimera itu menjadi dua.

Namun, sebuah tangan malas mendarat di bahu Alaric.

"Tetap di tempatmu, Alaric," ucap Arka. Suaranya rendah namun mengandung tekanan yang membuat Alaric membeku. "Jika kau menolong mereka sekarang, kau hanya akan membuat mereka menjadi pecundang yang bergantung pada kekuatan orang lain."

"Tapi dia terluka parah!" bantah Alaric.

"Lihat lagi," tunjuk Arka.

Di tengah kepulan asap, Jiro bangkit. Darah mengalir dari pelipisnya, tapi matanya menyala. Di sisi lain, Kael melepaskan anak panah bertubi-tubi yang menargetkan mata monster, sementara Elara menahan napas beracun Chimera dengan perisai mana yang retak.

Pertarungan itu berlangsung selama tiga puluh menit yang menyiksa bagi Alaric. Berkali-kali ia ingin maju, dan berkali-kali pula Arka menghentikannya hanya dengan tatapan mata. Ketiga murid itu bertarung di ambang kematian. Mereka menang tipis setelah Jiro berhasil menancapkan pedangnya ke jantung utama monster tersebut, tepat saat perisai Elara hancur berkeping-keping.

Ketiganya tumbang di lantai, terengah-engah dengan tubuh penuh luka bakar dan sayatan. Alaric bingung. Baginya, ini adalah pertarungan yang gila.

Arka melangkah maju, mengeluarkan tiga botol ramuan dari inventory-nya—botol yang terlihat sangat sederhana namun memancarkan aroma herbal yang sangat kuat. "Minum ini. Jangan manja."

Begitu cairan itu menyentuh kerongkongan mereka, luka-luka yang seharusnya butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh, menutup dalam hitungan detik. Tulang yang retak menyambung kembali dengan suara krek yang nyata. Murid-murid itu bangkit, merasa lebih kuat dari sebelumnya.

Mereka tiba di gerbang Inti Grotto. Di sana, menunggu sang Penjaga: The Fallen Sentinel, sebuah golem mekanis raksasa peninggalan era Player yang telah terinfeksi virus corruption. Levelnya setara dengan Peringkat SS, level yang sama dengan Alaric sekarang.

"Ini porsimu, Komandan," Arka melangkah mundur, memberi ruang. "Tapi jangan bertarung seperti ksatria bodoh yang hanya tahu mengandalkan otot mana. Gunakan cara Player."

Alaric maju. Sentinel itu menyerang dengan kecepatan suara, tinjunya menciptakan dentuman sonik. Alaric menangkisnya, namun ia terdorong mundur sepuluh meter.

"Terlalu banyak membuang energi!" teriak Arka dari belakang. "Jangan lawan kekuatannya. Alaric, dengarkan, Redirect, Compress, dan Release. Saat dia menyerang, jangan gunakan mana untuk menangkis. Gunakan mana untuk melapisi senjatamu setebal satu mikron, putar alirannya berlawanan arah jarum jam, dan biarkan serangannya tergelincir!"

Alaric mencoba mengikuti instruksi yang terdengar tidak masuk akal itu. Saat tinju raksasa Sentinel datang, ia tidak lagi memasang dinding mana. Ia memutar pedangnya dengan presisi matematis yang diminta Arka.

Sret!

Tangan raksasa golem itu meluncur melewati bahu Alaric seolah-olah permukaan baju zirah Alaric terbuat dari minyak paling licin di dunia.

"Sekarang! Tekan manamu ke satu titik di ujung pedang, jangan biarkan ia meluap! Fokuskan hingga ukuran seujung jarum!" Arka memberi perintah lagi.

Alaric memusatkan seluruh kekuatan SS-nya ke ujung pedangnya. Titik itu menjadi begitu padat hingga realitas di sekitarnya tampak terdistorsi.

"Lepaskan di sendi lehernya!"

Alaric melesat. Ia bukan lagi seorang ksatria yang menebas, ia adalah sebuah laser yang membedah. Tanpa suara, tanpa ledakan besar, pedang Alaric melewati leher baja Sentinel itu.

Clang.

Kepala golem raksasa itu jatuh ke lantai. Tubuh besarnya ambruk tanpa daya. Alaric berdiri diam, menatap pedangnya sendiri. Ia baru saja menyadari bahwa selama ini ia bertarung seperti anak kecil yang memayunkan kayu. Arka baru saja mengajarinya bagaimana cara "menipu" hukum fisika menggunakan mana, teknik top-tier para Player.

...

"Luar biasa..." Alaric berbisik. Ia menoleh ke arah Arka, siap untuk berterima kasih. Namun, ia melihat ekspresi Arka berubah. Arka tidak lagi tampak malas. Ia tampak... waspada.

Di tengah ruangan inti, sebuah lubang hitam kecil muncul. Dari dalamnya, keluar sesosok karakter dengan zirah yang tampak glitchy—berkedip-kedip antara warna emas dan hitam legam. Di atas kepalanya, tidak ada nama, hanya rangkaian kode error yang merah membara.

Aura yang terpancar dari sosok itu begitu masif hingga Alaric, yang sekarang SS, merasa dadanya sesak dan ia terpaksa berlutut. Ketiga murid Arka bahkan langsung pingsan hanya karena merasakan tekanan keberadaan sosok tersebut.

"Itu..." Alaric terbatuk darah. "Siapa itu, Guru?"

Arka melangkah maju, menutupi murid-muridnya dan Alaric dari tekanan tersebut. Wajahnya kini sangat dingin, Arka melepas segel cincin mengeluarkan aura Level 999-nya secara alami untuk menahan serangan mental dari sosok di depan mereka.

"Itu bukan manusia. Itu adalah Abandoned Account—sebuah akun Player dari zamanku yang ditinggalkan pemiliknya namun tetap berada di dalam sistem ini," ucap Arka. "Tanpa kendali manusia, sistem keamanan dunia ini menjadikannya sebagai 'Bug Abadi'. Dia memiliki semua kekuatan Player level maksimal, tapi tanpa moralitas dan tanpa batas mana."

Sosok glitch itu mengangkat tangannya. Sebuah pedang raksasa yang terbuat dari piksel-piksel hitam muncul.

[SYSTEM ALERT: DETECTING UNKNOWN HIGH-LEVEL ENTITY]

[TARGET LEVEL: ERROR / BEYOND LIMIT]

"Dia adalah temanku dulu," bisik Arka, nada bicaranya mengandung kesedihan yang mendalam. "Tapi sekarang, dia hanyalah mayat hidup dalam sistem yang ingin menghancurkan segalanya."

Sosok bug itu melesat. Kecepatannya melampaui konsep waktu. Sebelum Alaric bisa berkedip, Arka sudah berada di tengah ruangan, menahan serangan pedang raksasa itu dengan satu tangan kosong. Ledakan mana yang dihasilkan menciptakan gempa yang meruntuhkan langit-langit Grotto.

"Alaric! Bawa murid-muridku keluar dari sini sekarang!" teriak Arka. Auranya yang berwarna hitam keunguan kini meledak sepenuhnya, menantang cahaya keemasan yang korup dari sosok bug tersebut.

"Tapi Guru—"

"SEKARANG!" Arka menghentakkan kakinya, menciptakan perisai transparan yang membungkus Alaric dan ketiga muridnya, lalu melemparkan mereka keluar dari inti dungeon melalui celah ruang.

Alaric hanya bisa melihat pemandangan terakhir sebelum gerbang dimensi tertutup, Arkaelus, Sang Void King, akhirnya melepaskan seluruh kekuatannya untuk bertarung dengan bayangan masa lalunya dalam pertempuran yang akan menghapus Grotto of Silence dari peta dunia.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!