NovelToon NovelToon
My Shaneen

My Shaneen

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cinta Istana/Kuno / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Di mata dunia, Shaneen von Asturia hanyalah putri bangsawan lulusan Oxford yang cantik dan tenang. Namun di balik layar, dia adalah "Nin", penulis lagu jenius yang menguasai industri musik global. Sebagai seorang Virgo yang perfeksionis dan mandiri, Shaneen tidak butuh pangeran, apalagi sebuah pernikahan kaku.

Namun, ketenangannya terusik saat Duke Matthias von Falkenhayn, sang Jenderal berdarah dingin yang terobsesi pada aturan, mulai mengejarnya. Matthias menginginkan Shaneen yang tangguh dan bermulut tajam, sementara Shaneen hanya ingin bebas.

Bagi Matthias, ini adalah misi penaklukan. Bagi Shaneen, ini adalah gangguan yang harus disingkirkan dengan cara elegan. Ketika si Jenderal kolot bertemu si Dewi Modern yang bermulut pedas, siapa yang akhirnya akan bertekuk lutut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melodi yang Tak Sengaja Terdengar

Malam itu, kediaman Duke Falkenhayn terasa lebih sunyi dari biasanya. Matthias duduk di ruang kerjanya yang luas, namun tumpukan dokumen militer di depannya sama sekali tidak ia sentuh. Pikirannya melayang pada kalung inisial "N" dan obsesi Shaneen pada ketukan yang presisi.

Matthias menyalakan pemutar musik di sudut ruangan. Dia memasang piringan hitam berisi lagu-lagu terbaru yang sedang populer. Sebuah lagu tanpa vokal mulai mengalun—instrumen yang sangat kompleks, dengan perpaduan piano klasik dan ketukan elektronik yang sangat teratur.

Sangat rapi. Terlalu sempurna.

"Ini karya 'Nin'?" Tanya Matthias pada ajudannya, Hans, yang berdiri di dekat pintu.

"Benar, Yang Mulia. 'Nin' dikenal karena aransemennya yang sangat matematis. Tidak ada satu pun nada yang meleset dari temponya. Para kritikus bilang dia jenius yang dingin," jawab Hans.

Matthias memejamkan matanya, menyandarkan kepala. Dia membayangkan jemari lentik Shaneen yang tadi siang sangat telaten meluruskan sendok teh di paviliun. Dingin? Tidak, batin Matthias. Gadis itu tidak dingin. Dia hanya butuh segalanya berada di tempat yang seharusnya agar dia merasa aman.

Matthias tersenyum tipis. Dia mulai memahami bahwa Shaneen menciptakan dunianya sendiri yang sangat teratur karena mungkin itulah caranya menghadapi dunia luar yang berantakan.

Keesokan Harinya: Invasi di Paviliun Ninin

Shaneen sedang sibuk di paviliunnya, mengelap koleksi piring porselennya dengan kain mikrofiber (karena debu adalah musuh nomor satu baginya), saat dia mendengar suara langkah kaki yang berat namun teratur di teras.

"Tuan Falken? Kau lagi?" Shaneen muncul di pintu dengan celemek putih bersih dan handuk kecil di bahunya. "Ini masih jam sembilan pagi. Apa militermu sedang libur panjang?"

Matthias berdiri di sana, tanpa seragam jenderal. Dia hanya memakai kemeja katun biru langit yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan otot lengannya yang kuat. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu kecil yang harum.

"Aku membawakanmu sesuatu yang tidak berantakan," ujar Matthias tenang.

Shaneen mengerutkan kening, tapi rasa penasarannya menang. Dia membiarkan Matthias masuk. Matthias meletakkan kotak itu di meja kerja Shaneen yang super rapi. Saat dibuka, isinya adalah sebuah set puzzle mekanik kuno yang terbuat dari perak murni.

"Ini adalah jam astronomi yang rusak," jelas Matthias. "Semua bagiannya ada di sini, tapi urutannya kacau. Aku pikir... mungkin kau satu-satunya orang yang punya kesabaran untuk mengembalikannya ke posisi yang simetris."

Mata Shaneen berbinar. Sisi Virgo-nya langsung berteriak kegirangan melihat tantangan untuk merapikan sesuatu yang rusak. Dia segera duduk dan mulai memeriksa bagian-bagian perak itu dengan fokus yang luar biasa.

Matthias tidak pergi. Dia justru menarik kursi dan duduk di hadapan Shaneen, hanya memperhatikannya bekerja dalam diam. Selama satu jam, tidak ada suara selain denting logam perak.

"Kau tidak bosan?" Tanya Shaneen tanpa mengalihkan pandangan dari puzzle.

"Tidak," jawab Matthias pendek. "Melihatmu fokus seperti ini jauh lebih menarik daripada melihat peta peperangan."

Shaneen berhenti sejenak, mendongak menatap mata ice blue Matthias yang kini tampak hangat. "Kau tahu, Tuan Falken... kau adalah hal yang paling tidak simetris dalam hidupku saat ini. Kau datang tanpa jadwal, kau melamar tanpa izin, dan kau merusak semua urutan kegiatanku."

Matthias mencondongkan tubuhnya, menopang dagu dengan tangan. "Kalau begitu, masukkan aku ke dalam jadwal mu. Berikan aku slot waktu di mana aku boleh 'mengganggu' keteraturan mu."

Shaneen terdiam, wajahnya sedikit memanas. Dia kembali menunduk pada puzzle-nya untuk menyembunyikan senyum yang hampir terbit. "Akan kupikirkan. Tapi jangan harap kau dapat slot setiap hari."

"Aku akan menunggu," sahut Matthias lembut.

Tanpa mereka sadari, benih-benih kebiasaan mulai tumbuh. Shaneen mulai terbiasa dengan aroma kayu dari tubuh Matthias yang memenuhi paviliunnya, dan Matthias mulai menemukan kedamaian dalam kesunyian yang diciptakan Shaneen.

Singa kecil itu belum takluk sepenuhnya, tapi dia sudah mulai membiarkan sang Jenderal duduk di dalam kandangnya tanpa mengeluarkan cakar.

Shaneen masih berkutat dengan set puzzle mekanik perak itu. Jemarinya yang lentik bergerak sangat teliti, menyusun gir-gir kecil yang ukurannya hanya sebesar kuku. Dia begitu fokus hingga tidak sadar bahwa Matthias terus memperhatikannya tanpa berkedip.

Matthias menyandarkan punggungnya di kursi kayu ek milik Shaneen. Dia merasa ruangan ini sangat merefleksikan pemiliknya: harum bunga mawar, cahaya matahari yang masuk dengan sudut yang pas, dan tidak ada satu pun debu yang berani menempel.

"Tuan Falken," panggil Shaneen tanpa mendongak. "Berhenti menatapku seolah aku ini artefak museum. Itu membuat konsentrasi ku terganggu."

"Aku tidak menatapmu sebagai artefak," balas Matthias dengan suara rendah yang bergema di paviliun yang sunyi. "Aku sedang mencoba memahami bagaimana otak jeniusmu bekerja. Kau sangat tenang saat menyusun sesuatu yang berantakan."

Shaneen berhenti sejenak, memegang sebuah baut kecil dengan pinset peraknya. "Karena setiap benda punya tempatnya sendiri, Matthias. Jika semuanya berada di tempat yang benar, dunia akan terasa lebih tenang. Tidak ada kekacauan, tidak ada kejutan yang tidak perlu."

Matthias tersenyum tipis. "Tapi hidup tidak selalu simetris, Ninin. Terkadang, kejutan adalah hal yang paling kita butuhkan agar kita tahu bahwa kita masih hidup."

Shaneen akhirnya mendongak, menatap mata ice blue Matthias yang tajam. "Kejutan sepertimu? Yang tiba-tiba muncul di rumahku dan mengklaimku di depan umum?"

"Tepat sekali," sahut Matthias. Dia tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berjalan memutari meja, berdiri tepat di belakang Shaneen.

Refleks, tubuh Shaneen menegang. Dia bisa merasakan panas tubuh Matthias yang berada sangat dekat di belakang punggungnya. Bau parfum kayu yang maskulin itu kini menyelimutinya lagi.

"Apa yang kau lakukan?" bisik Shaneen, suaranya sedikit bergetar.

Matthias tidak menjawab. Dia mengulurkan tangannya, melewati bahu Shaneen, dan menunjuk ke arah bagian kecil di tengah puzzle. "Gir yang itu... kau meletakkannya terbalik. Sisi yang bergerigi harus menghadap ke dalam agar dia bisa menggerakkan jarum jamnya."

Shaneen melihat ke arah yang ditunjuk Matthias. Benar. Karena terlalu fokus pada kerapian visualnya, dia melupakan fungsinya. "Oh... kau benar."

Shaneen mencoba memutar gir itu, tapi karena tangannya sedikit gemetar akibat kedekatan Matthias, pinsetnya meleset. Sebelum gir kecil itu jatuh ke lantai, tangan besar Matthias sudah lebih dulu menangkapnya.

Tangan Matthias tetap berada di atas meja, tepat di samping tangan Shaneen. Perbedaan ukuran tangan mereka sangat mencolok; tangan Matthias yang kasar dengan bekas luka latihan militer, berbanding terbalik dengan tangan Shaneen yang putih dan halus.

"Biar aku bantu," ujar Matthias.

Matthias tidak menjauh. Dia tetap berdiri di sana, membungkuk sedikit sehingga dadanya hampir bersentuhan dengan punggung Shaneen. Dia membantu Shaneen memasang bagian paling sulit dari jam mekanik itu. Untuk beberapa saat, mereka bekerja bersama dalam diam yang sangat intens.

Shaneen bisa merasakan napas Matthias di puncak kepalanya. Sisi Virgo-nya yang benci kerumunan biasanya akan langsung mendorong siapa pun yang masuk ke ruang pribadinya, tapi entah kenapa, dia membiarkan Matthias. Ada rasa aman yang aneh saat pria ini berada di dekatnya.

Setelah bagian terakhir terpasang, jam kecil itu mengeluarkan suara klik yang memuaskan. Jarum jamnya mulai berdetak dengan suara yang sangat halus dan teratur.

"Selesai," gumam Shaneen, menghela napas lega. "Simetris dan berfungsi."

Matthias tidak langsung menjauh. Dia justru memutar kursi Shaneen perlahan sehingga gadis itu kini menghadap ke arahnya. Matthias berlutut dengan satu kaki di depan kursi Shaneen, membuat posisi mata mereka sejajar.

"Ninin," panggilnya lembut. "Aku tahu kau benci perjodohan kolot. Aku juga benci keharusan untuk menikah hanya demi gelar. Tapi saat aku melihatmu... aku tidak melihat sebuah kewajiban. Aku melihat sebuah alasan untuk berhenti menjadi Jenderal yang kaku selama satu jam saja."

Shaneen menelan ludah. Wajah Matthias begitu dekat. Dia bisa melihat setiap detail di wajah tampan pria itu—bekas luka kecil di dekat alisnya, dan tatapan matanya yang sangat jujur.

"Kau... kau sangat pandai bicara ya sekarang," ujar Shaneen, mencoba mengalihkan rasa gugupnya dengan sindiran.

Matthias terkekeh, jarinya perlahan menyentuh punggung tangan Shaneen di atas pangkuannya. "Hanya padamu. Karena aku tahu, jika aku tidak bicara jujur, kau akan langsung mengusirku dari paviliun indahmu ini."

Shaneen terdiam. Jantungnya berkhianat lagi. Dia sadar, perlahan tapi pasti, Matthias mulai merusak "urutan" dalam hatinya. Dia mulai terbiasa dengan kehadiran pria ini.

"Sudah jam sebelas," ujar Shaneen tiba-tiba, menarik tangannya pelan. "Aku harus menemui Eomma. Dia bilang ingin mengajariku membuat kue beras Korea hari ini."

Matthias berdiri, merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat berwibawa. "Kue beras? Apakah hasilnya harus simetris juga?"

"Tentu saja!" balas Shaneen sambil berdiri dan melepaskan celemeknya. "Jika bentuknya miring, aku tidak akan memakannya."

Matthias tersenyum, senyum yang kali ini mencapai matanya. "Kalau begitu, aku akan menunggu kiriman kue beras simetris darimu besok pagi."

Shaneen mengantar Matthias sampai ke pintu paviliun. Saat Matthias sudah berada di luar, dia menoleh sekali lagi.

"Sampai jumpa besok, Ninin. Dan ingat... jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Terkadang, sedikit kekacauan itu indah."

Shaneen hanya mendengus, tapi saat Matthias sudah benar-benar hilang dari pandangan, dia bersandar di pintu dan memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"Sial. Dia benar-benar pengganggu yang berbahaya," gumamnya dengan wajah merah padam.

1
Vivi
👍😍
Hana Nisa Nisa
sampai tahan.nafas bacanya
Mamanya Raja
Thor cerita mu keren loh
Bae •: terimakasih ya^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!