NovelToon NovelToon
Sistem Penguasa: Menaklukkan Para Wanita

Sistem Penguasa: Menaklukkan Para Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Action / Sistem / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Kaya Raya
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: BRAXX

Deon selalu jadi bulan-bulanan di sekolahnya karena wajahnya yang terlalu tampan, sifatnya penakut, dan tubuhnya yang lemah. Suatu hari, setelah nyaris tewas ditinggalkan oleh para perundungnya, ia bangkit dengan Sistem Penakluk Dunia yang misterius di tubuhnya. Sistem ini memberinya misi-misi berani dan aneh yang bisa meningkatkan kekuatan, pesona, dan kemampuannya. Mampukah Deon membalaskan semua penghinaan, menaklukkan para wanita yang dulu tak mempedulikannya, dan mengubah nasibnya dari korban menjadi penguasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menantang Deon

Deon berjalan santai menyusuri lorong sekolah, kedua tangannya terselip di dalam saku saat ia melangkah menuju kantor Bu Mia.

Pikirannya masih tertuju pada perkelahiannya dengan Nick, kekuatan tak terduga yang ia tunjukkan, serta tatapan-tatapan orang yang menyaksikannya. Ia tidak tahu apa yang menyebabkan perubahan kepribadiannya, tetapi satu hal pasti—ia menikmatinya.

Saat mendekati pintu kantor Bu Mia, langkahnya melambat ketika ia mendengar suara-suara meninggi dari dalam. Salah satunya adalah suara Bu Mia, terdengar sedikit kesal, sementara yang lain adalah suara seorang pria.

Deon mengernyit. ‘Dengan siapa dia berdebat?’

Deon sangat penasaran. Ia mengetuk sekali karena kebiasaan, namun tidak menunggu jawaban sebelum mendorong pintu dan masuk ke dalam.

Hal pertama yang ia perhatikan adalah pria yang berdiri di seberang meja Mia. Pria itu tinggi, berbahu lebar, dan mengenakan kemeja hitam pas badan yang sama sekali tidak menyembunyikan postur ramping dan berotot di baliknya. Lengan bajunya digulung sedikit, memperlihatkan lengan yang dipenuh tato menjalar hingga ke jari-jarinya.

Begitu Deon masuk, pria itu langsung berbalik dengan cepat, tatapan tertuju pada Deon. Namun begitu ia menyadari bahwa itu hanya seorang anak sekolah, permusuhan di tatapannya menghilang, digantikan oleh rasa meremehkan.

"Pergilah." Ucapnya.

Deon hanya berkedip menatapnya, sama sekali tidak terkesan. Ia tidak tahu siapa pria itu atau apa urusannya dengan Bu Mia, tetapi satu hal jelas—orang ini punya masalah sikap yang serius. Biasanya, Deon yang lama akan menundukkan pandangan, meminta maaf, lalu keluar dari ruangan. Tapi Deon itu sudah tidak ada lagi.

Sebaliknya, Deon memiringkan kepalanya sedikit, menatap pria itu dengan rasa ingin tahu sebelum berbicara dengan nada sopan namun tegas.

"Hei, aku tidak tahu apa yang sedang terjadi antara kau dan dia, dan aku tidak ingin bersikap tidak sopan, tapi masalahnya aku punya ujian sekarang, dan kehadiranmu sedikit menggangguku... Aku punya tempat yang harus aku tuju setelah ujian.”

Selama sejenak, ruangan itu hening.

Mata Mia sedikit membesar karena panik, namun itu tidak ada apa-apanya dibanding perubahan pada ekspresi pria tersebut.

‘Siapa anak sialan ini?’ gumam pria itu.

Pria itu melangkah maju, tatapannya tetap tertuju pada Deon. lalu berbicara. "Siapa kau sebenarnya?"

Deon tidak bergeming. Ia membalas tatapan pria itu, sama sekali tidak terusik oleh gelombang permusuhan yang terpancar darinya.

Sebelum ia sempat menjawab, Mia tiba-tiba melangkah di antara mereka, kedua tangannya terangkat sedikit, mencoba meredakan situasi.

"Maafkan dia," katanya cepat, suaranya mantap namun tegas. "Dia muridku."

Rahang pria itu menegang, matanya bergantian menatap Mia dan Deon sebelum kembali menyipit. Ia menghembuskan napas pelan lewat hidung, jelas kesal, namun setelah sesaat ia melangkah mundur. Ia bukan tipe pria yang mau membuang waktu untuk seorang anak, tak peduli betapa menyebalkannya anak itu.

Namun sebelum berbalik pergi, ia melirik Deon untuk terakhir kalinya.

"Lain kali, tutup mulutmu saat orang yang lebih tua sedang berbicara."

Tubuh Deon langsung menegang. Rasa kesal perlahan muncul di dalam dirinya. Orang ini... merendahkannya?

Bibirnya terbuka, siap membalas, tetapi sebelum ia sempat mengatakan apa pun, tangan Mia langsung menutup mulutnya, meredam kata-kata yang hendak keluar.

Ia merasakan tubuh Deon menegang di bawah sentuhannya, dan ia tahu—ia tahu bahwa jika ia membiarkannya berbicara, Deon akan mengatakan sesuatu yang akan membuat situasi ini ke arah yang berbahaya.

Pria itu melirik mereka sekali lagi sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan kantor, ketegangan tetap menggantung di udara bahkan setelah ia pergi.

Begitu pintu tertutup, Mia menghela napas berat lalu perlahan menarik tangannya dari mulut Deon. Ia berbalik menghadapnya, menjepit pangkal hidungnya sambil menghela napas frustrasi.

"Apa maksudmu melakukan itu?" tanyanya dengan nada yang mengandung campuran lega dan frustrasi. "Apa kau tahu apa yang bisa terjadi kalau kau salah bicara padanya? Kau bisa terbunuh kalau bicara melebihi batas!"

Deon, alih-alih terlihat menyesal, justru tersenyum lebar.

"Aku tidak peduli siapa dia," katanya santai namun tegas. "Dia bersikap tidak sopan, dan dia perlu tahu tempatnya."

Bibir Mia sedikit terbuka, terkejut oleh jawabannya. Sesaat, ia hanya bisa menatapnya, mencoba mencerna perubahan drastis dalam diri Deon. Deon yang ia kenal selalu pendiam, tertutup, dan hampir terlalu patuh. Namun anak yang berdiri di hadapannya sekarang? Ada kepercayaan diri, keberanian tanpa rasa takut di tatapannya yang membuat bulu kuduknya merinding.

Ia menghela napas dan menggelengkan kepalanya.

"Deon," katanya sambil mengusap pelipisnya, "aku menghargai kau membelaku, tapi aku bisa mengurus diriku sendiri. Kau tidak perlu—"

"Aku tidak membicarakanmu."

Mia terdiam, alisnya sedikit berkerut.

Ekspresi Deon mengeras, suaranya merendah saat ia melanjutkan, "dia bersikap tidak sopan kepadaku."

Mia menghela napas lelah saat ia berjalan kembali ke kursinya. Ia duduk perlahan, mengusap pelipisnya seakan mencoba menyingkirkan sisa frustrasi.

Deon yang berdiri beberapa langkah darinya, mengamatinya dengan rasa ingin tahu. Pikirannya terus kembali pada pria tadi. Cara Mia bereaksi, cara dia berdiri di antara mereka—jelas dia mengenal pria itu. Tapi apa hubungan mereka? Seorang guru sekolah yang baik seperti Bu Mia dengan pria berandalan seperti itu? Rasanya tidak masuk akal.

Deon akhirnya memecah keheningan, suaranya tenang namun menyelidik. "Bu Mia, siapa pria itu?"

Mia melirik ke arahnya, ekspresinya sulit dibaca. Ia ragu sejenak sebelum menggelengkan kepalanya.

"Itu bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan," katanya singkat dengan acuh tak acuh.

Deon mengerutkan kening. Itu bukan jawaban yang ia cari. Ia bukan tipe orang yang memaksa jawaban, tapi ada sesuatu dari pria itu yang terasa... tidak beres. Ada sesuatu yang tidak ia katakan padanya.

Sebelum ia sempat mendesak lebih jauh, Bu Mia meraih setumpuk kertas, menarik satu lembar, lalu menggesernya di atas meja ke arahnya.

"Duduklah," katanya. "Mulai ujianmu."

Deon melirik lembaran di depannya. Begitu matanya tertuju pada soal-soal itu, perutnya langsung terasa sakit.

‘Matematika. SIALAN!!!’

Ini selalu menjadi masalahnya. Ia bukan murid paling pintar. Bukan berarti ia tidak berusaha, tapi ia tipe orang yang langsung gugup begitu ujian ada di depannya. Dan sekarang, setelah tidak masuk sekolah selama seminggu penuh, berharap bisa menyelesaikan soal-soal ini terasa seperti lelucon.

Mia, yang mengamatinya mengernyit, ia menghela napas dan sedikit menggelengkan kepala. Ia tahu Deon bukan murid terbaik, dan jujur saja, ia tidak berharap banyak darinya dalam ujian ini.

Namun tepat saat Deon hampir menerima nasibnya dan bersiap menulis angka-angka acak, ia tiba-tiba mendengar bunyi ding.

Sebuah notifikasi muncul di penglihatannya.

[Ding]

[Bantuan Sistem Diaktifkan]

[Menampilkan Jawaban...]

Mata Deon sedikit melebar saat, di sudut penglihatannya, serangkaian jawaban yang tertulis rapi muncul, melayang tepat di atas kertas. Detak jantungnya meningkat.

‘Apakah ini... nyata?’

Ia berkedip dua kali. Jawaban-jawaban itu masih ada, jelas terlihat. Ini pada dasarnya menyontek... kecuali tidak mungkin ia tertangkap.

Perlahan, seringai merekah di wajahnya.

‘Baiklah. Ini semakin menarik.’

Ia mengambil pulpen dan mulai menulis, menyalin jawaban persis seperti yang muncul di hadapannya. Semakin banyak ia menulis, ia merasa semakin percaya diri, dan sebelum ia sadar, ia sudah sepenuhnya fokus dengan pekerjaannya, menyelesaikan soal demi soal dengan mudah.

Ia begitu fokus sampai tidak menyadari Bu Mia sedang memperhatikannya.

Sampai—

[Ding]

[Pesona - Diaktifkan]

Deon sedikit mengernyit pada notifikasi baru itu. ‘Apa maksudnya ini?’ Ia menoleh dengan bingung dan disambut oleh pemandangan tak terduga.

Bu Mia sedang menatapnya.

Tapi bukan sembarang tatapan. Ada intensitas aneh dalam pandangannya. Bibirnya sedikit terbuka, posturnya tampak tidak biasa, dan untuk sesaat, Deon bisa bersumpah ada semburat merah muda tipis di pipinya.

Ia menyipitkan mata, melambaikan tangan di depan wajahnya.

"Uh... Bu Mia? Apakah kau baik-baik saja?"

Mia berkedip cepat, kembali sadar dari lamunannya. Seluruh tubuhnya menegang saat ia buru-buru memalingkan wajah.

"A—uh—ya, aku baik-baik saja," katanya tergesa-gesa. Tapi sekeras apa pun ia mencoba bersikap biasa, Deon menangkap caranya bergeser di kursi, jari-jarinya menggenggam tepi meja seperti mencoba menenangkan diri.

Sudut bibirnya terangkat.

Jadi, itu yang dilakukan Pesona.

Ia memutuskan untuk tidak menanyakan lebih lanjut, hanya mengangkat bahu sebelum kembali fokus pada ujiannya. Ia terus menulis, mengisi setiap jawaban secepat mungkin.

Sedangkan Mia, yang kini mati-matian mencoba mengalihkan pikirannya dari apa pun yang baru saja terjadi, terus melirik jam. Deon menghabiskan waktu lebih lama dari yang ia perkirakan. Bahkan, ia mengira Deon akan menyerah di tengah jalan.

Akhirnya, tak mampu menahan rasa penasarannya, ia berbicara.

"Jangan terlalu dipikirkan, Deon," katanya, suaranya lebih santai. "Delapan puluh persen murid sudah mencobanya dan gagal. Lakukan saja yang terbaik."

Ia mengucapkannya tepat saat Deon menyelesaikan soal terakhirnya.

Dengan seringai kecil penuh kepuasan, ia meletakkan pulpen dan sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang kursi.

"Bagaimana kalau aku lulus?" tanyanya, nadanya ringan namun menggoda.

Mia tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan mengajakmu makan malam."

Deon mengangkat alisnya. Ia tidak menyangka jawaban itu akan keluar dari mulutnya. Seringainya semakin lebar saat ia sedikit condong ke depan, menyandarkan lengannya di meja.

"Dan kalau aku mendapatkan nilai seratus?"

Mia mendengus. "Tidak mungkin."

"Anggap saja bercanda."

Ia memiringkan kepala, mempertimbangkannya sejenak sebelum menatapnya dengan ekspresi terhibur.

"Kalau kau mendapatkan nilai seratus, aku akan mengundangmu makan malam di rumahku."

Seringai Deon semakin lebar. ‘Yah, itu tawaran yang menarik.’

1
Jack Strom
Good... 😄
Billie
Kapan Deon bakal ketemu sama Jenny lagi ya? Penasaran sama bagaimana hubungan mereka nanti! 🤩
oppa
semangat terus otorr
ariantono
crazy up dong kk yang banyak lagii
Agent 2
Jenny jadi model sukses tapi tetap harus urus masalah keluarga ya? Hidup memang tidak selalu mudah 😊
Naga Hitam
apakah...
MELBOURNE: ditungguin terus bab bab terbarunya setiap hari di jam 10 pagi
semangat terus bacanyaa💪💪
total 1 replies
Jack Strom
Sip. 😁
MELBOURNE: semangat terus bacanyaa👍
total 1 replies
Jack Strom
Keren... 😁😛😛😛
Jack Strom
Mantap. 😁😛😛😛
Jack Strom
Good... 😁
MELBOURNE
ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
okford
crazy up torr
MELBOURNE: ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
Dolphin
semangat terus thorr
MELBOURNE: terimakasih
ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
Coffemilk
makin ke sini makin seru
MELBOURNE: ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
amida
luar biasa
oppa
semoga semua masalah Deon cepat selesai ya
MELBOURNE: makanya support terus guys biar tambah rame yang bacanyaa
total 1 replies
Rahmawati
dimana Charlotte???
MELBOURNE: ditunggu ya guyss jam 10 pagii
semangat terus bacanya💪💪
total 1 replies
Rahmawati
Mason punya ayah yang jadi walikota ya? Ini tambah masalah besar lagi nih
Rahmawati
petugas disiplin juga kena lempar ke dinding🤣🤣
Rahmawati
Mason tuh terlalu jauh ya, bahkan menghina orang tuanya yang sudah meninggal 😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!