Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
Sore mulai berubah menjadi senja saat Nadira menarik kopernya keluar dari kamar kos.
Ia menoleh sekali lagi ke dalam ruangan.
Tujuh tahun bukan waktu yang sebentar.
Di sinilah ia belajar menjadi dewasa.
Belajar bertahan.
Belajar berdiri tanpa pegangan namun kini, ia memilih pulang bukan karena gagal melainkan karena sadar apa yang lebih penting.
Ia lalu memesan ojek online menuju stasiun. Di sepanjang perjalanan, lampu-lampu kota mulai menyala. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, seperti tak peduli pada kisah seorang perempuan yang memilih meninggalkannya.
Sesampainya di stasiun, Nadira berdiri di tengah keramaian. Pengumuman keberangkatan terdengar bersahut-sahutan.
Ia menggenggam tiket di tangannya erat-erat.
Langkah berikutnya adalah pulang.
Perjalanan Pulang
Suara pengumuman menggema di dalam Stasiun Pasar Senen.
Kereta tujuan luar kota segera diberangkatkan.
Nadira berdiri dengan koper di sampingnya. Tangannya dingin meski udara tidak terlalu malam. Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke gerbong.
Begitu duduk di kursinya, ia menatap keluar jendela. Lampu-lampu Jakarta tampak berkelip, perlahan menjauh saat kereta mulai bergerak.
Tujuh tahun lalu, ia datang ke kota ini dengan koper yang sama penuh mimpi dan ambisi.
Kini ia pergi dengan hati yang penuh doa.
Kereta melaju stabil. Suara rel beradu terdengar berulang, seperti detak jantung yang tak sabar.
Ponselnya kembali bergetar.
Dari Abah.
"Hati-Hati"
Air mata Nadira langsung jatuh.
“Ma… Nadira cuma takut” bisiknya pelan.
Ia menyandarkan kepala ke jendela. Pemandangan luar berubah menjadi gelap, hanya sesekali terlihat lampu rumah warga di kejauhan.
Dalam hati, ia mengulang doa yang sama.
Semoga Mama baik-baik saja.
Sepanjang perjalanan, Nadira tidak benar-benar tidur. Setiap kali matanya terpejam, bayangan Mama terbaring di ranjang rumah sakit muncul di pikirannya.
Menjelang subuh, kereta akhirnya tiba di kota tempat orang tuanya tinggal.
Nadira turun dengan langkah cepat. Udara pagi terasa lebih sejuk, lebih akrab. Kota ini menyimpan banyak kenangan masa kecilnya.
Ia langsung memesan ojek menuju rumah sakit.
Di depan gedung rumah sakit, jantungnya berdebar lebih keras dari sebelumnya.
Ia melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di depan pintu masuk.
Abah Adi.
Wajah Abah tampak lebih tua. Lebih lelah.
“Bah…” suara Nadira pecah
Abah menoleh. Saat mata mereka bertemu, Abah langsung berjalan mendekat.
Tanpa banyak kata, Nadira memeluk Abah erat-erat
“Maaf, Bah…” tangisnya pecah “Nadira baru bisa pulang sekarang”
Abah mengusap kepala putrinya lembut.
“Kamu sudah pulang. Itu yang penting”
Beberapa detik kemudian, Abah menggenggam tangan Nadira.
“Ayo Mama di dalam. Dia pasti senang sekali lihat kamu”
Langkah Nadira terasa berat dan ringan sekaligus saat ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit.
Lorong rumah sakit itu terasa panjang sekali bagi Nadira.
Setiap langkahnya menggema di lantai keramik putih. Bau obat-obatan menusuk lembut di hidungnya. Lampu-lampu neon menyala terang, kontras dengan hatinya yang dipenuhi gelap oleh rasa bersalah.
Di sampingnya, Abah Adi berjalan pelan. Wajah Abah terlihat lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu setahun lalu. Ada garis-garis lelah yang tak pernah Nadira perhatikan sebelumnya.
“Di sini, Nak” ujar Abah pelan sambil berhenti di depan sebuah pintu.
Di atas pintu tertulis Ruang Cendana 1
Jantung Nadira berdegup begitu keras sampai ia bisa mendengarnya sendiri.
Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu.
Satu tahun lebih ia selalu menunda kepulangan.
Dan kini ia takut menghadapi kenyataan.
Abah membuka pintu lebih dulu.
Di dalam ruangan itu, suasana tenang. Hanya terdengar bunyi mesin infus dan monitor yang berdetak pelan.
Di atas ranjang putih, terbaring sosok yang paling ia rindukan
Mama Ayunika Sasmita.
Mama terlihat lebih kecil. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit kering. Selang infus terpasang di tangannya. Rambut yang biasanya rapi kini sedikit berantakan.
Dunia Nadira seperti berhenti.
“Ma…” suaranya hampir tak terdengar
Mama perlahan membuka mata.
Beberapa detik pandangan itu kosong… lalu fokus.
Dan saat mata mereka bertemu
Air mata Mama langsung mengalir
“Dira…”
Satu kata itu cukup membuat pertahanan Nadira runtuh.
Ia berlari kecil mendekat ke sisi ranjang, lalu menggenggam tangan Mama yang terasa dingin.
“Maaf, Ma… maaf Nadira baru datang” ucapnya terisak.
Mama menggeleng pelan, meski gerakannya lemah.
“Kamu pulang… itu sudah cukup”
Tangis Nadira pecah. Ia menunduk, mencium tangan Mama berkali-kali.
“Maaf sudah lama sekali nggak di rumah. Maaf selalu bilang sibuk. Maaf…”
Mama mengusap kepala putrinya dengan tangan yang masih kuat untuk mencintai.
“Anak Mama sudah besar. Sudah berjuang sendiri. Mama bangga”
Kata itu menusuk hati Nadira lebih dalam dari teguran mana pun.
Bangga.
Padahal selama ini ia selalu merasa belum cukup.
Abah berdiri di sisi lain ranjang, menatap mereka dengan mata yang juga basah.
“Sudah… jangan menangis terus. Mama butuh istirahat” kata Abah lembut
Nadira menghapus air matanya, tapi ia tak melepaskan tangan Mama.
“Dira sudah resign Ma” ucapnya pelan.
Mama terdiam.
“Dira pulang. Kalau Mama mau, Dira nggak balik lagi ke Jakarta”
Ruangan itu mendadak sunyi.
Mama menatap Nadira dalam-dalam.
“Kamu resign… karena Mama sakit?”
Nadira tak bisa menjawab langsung.
Ia memang mengambil keputusan itu karena takut kehilangan. Karena panik. Karena cinta.
Mama tersenyum tipis.
“Dira… Mama nggak pernah minta kamu berhenti dari mimpimu kamu bisa lanjutin si kota ini”
“Tapi Mama bilang mau seret Dira pakai polisi" Nadira mencoba bercanda di sela tangisnya.
Mama tertawa kecil, meski terdengar lemah.
“Itu karena Mama rindu bukan karena Mama mau memenjarakan hidup kamu”
Kata-kata itu membuat Nadira menunduk.
Selama ini ia pikir pulang berarti menyerah.
Padahal mungkin pulang hanya berarti menyeimbangkan.
“Dira” Mama melanjutkan dengan suara pelan “kalau kamu pulang hanya karena Mama sakit, nanti saat Mama sembuh… kamu akan merasa kehilangan sesuatu”
Air mata Nadira kembali jatuh.
“Tapi Dira takut, Ma. Takut kehilangan Mama”
Mama menggenggam tangan Nadira lebih erat.
“Kehilangan itu bukan soal jarak. Kamu jauh tujuh tahun, tapi Mama selalu merasa kamu dekat”
Kalimat itu membuat dada Nadira sesak.
Selama ini ia menyiksa diri dengan rasa bersalah. Padahal cinta orang tuanya tidak pernah berubah.
Abah lalu duduk di kursi dekat ranjang.
“Kamu tahu kenapa Mama marah-marah suruh kamu pulang?” tanya Abah pelan.
Nadira menggeleng.
“Karena setiap malam Mama lihat kamar kamu kosong dan setiap lihat kosong itu, Mama merasa waktu berjalan terlalu cepat”
Tangis kembali pecah di ruangan itu.
Nadira bangkit sedikit, lalu memeluk Mama hati-hati agar tidak mengenai selang infus.
“Dira di sini sekarang, Ma”
Mama mengangguk lemah
“Janji satu hal sama Mama”
“Apa, Ma?”
“Jangan pernah ambil keputusan karena takut. Ambil keputusan karena yakin”
Nadira terdiam
Apakah ia yakin dengan resign-nya?
Ia memang ingin pulang. Tapi ia juga mencintai pekerjaannya. Ia bangga dengan pencapaiannya. Ia tidak ingin seluruh perjuangannya terasa sia-sia.
“Dira boleh tinggal beberapa waktu di rumah,” Mama melanjutkan “Tapi pikirkan baik-baik masa depanmu. Mama tidak ingin kamu menyesal”
Abah mengangguk setuju.
“Rumah ini bukan penjara. Ini tempat istirahat bukan tempat menghentikan langkah”
Kata-kata itu terasa seperti pintu yang dibuka perlahan di dalam hati Nadira.
Ia menyadari sesuatu.
Selama ini ia melihat hidup seperti dua pilihan yang saling bertentangan karier atau keluarga, kota atau kampung, mandiri atau pulang.
Padahal mungkin… jawabannya bukan memilih salah satu.
Melainkan menemukan cara untuk tetap memiliki keduanya.
Nadira menatap Mama dengan mata yang masih merah.
“Yang penting sekarang Mama sembuh dulu”
Mama tersenyum
“Kalau kamu di sini, Mama cepat sembuh”
Untuk pertama kalinya sejak menerima telepon semalam, Nadira merasa napasnya lebih lega.
Ia tidak tahu bagaimana masa depannya nanti.
Ia tidak tahu apakah akan kembali bekerja di kota atau memulai sesuatu di kampung.
Tapi satu hal yang pasti ia tidak ingin lagi hidup dengan penyesalan.
Di luar ruangan, matahari pagi mulai naik. Sinar hangat masuk melalui celah tirai, menyentuh wajah Mama yang perlahan tampak lebih tenang.
Nadira duduk di samping ranjang, tetap menggenggam tangan yang telah membesarkannya.