NovelToon NovelToon
Sistem Reward 2× Lipat

Sistem Reward 2× Lipat

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Sistem / Mengubah Takdir / Mafia / Romansa
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Loorney

Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.

Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.

Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 - Bersih-bersih

Dengan gerakan hati-hati, Gerard membuka pintu pagar sedikit lebih lebar. Senyum ramah wanita itu seakan mencairkan beban di pundaknya. "Iya, betul," jawabnya, rasa canggung perlahan mencair. "Baru pindah hari ini, jadi masih berantakan."

"Wah, wajar saja! Rumah ini sudah lama kosong," sahut wanita itu ramah. Ia lalu menunjuk ke gerobak dorong kecil berisi peralatan kebun yang tertata rapi di halaman rumah sebelah. "Kebetulan, Ayah saya tadi melihat Kakak masuk ke sini. Kami menduga Kakak adalah tetangga baru. Kalau mau, kami bisa pinjamkan peralatannya!"

Rasa lega langsung menyapu seluruh diri Gerard. Masalah yang baru saja membebani pikirannya ternyata menemukan solusi dengan begitu mudah — dari tetangga yang tulus dan bersahabat. "Benarkah? Itu... sangat membantu sekali!" ucapnya, nada suaranya penuh rasa syukur. "Saya sedang bingung membersihkan halaman ini, tapi tidak punya peralatan. Dengan ini, pasti bisa lebih cepat selesai."

Wanita itu mengangguk dengan senyum yang semakin hangat. "Baik, saya ambilkan dulu, ya!" Ia pun berbalik dan berjalan cepat menuju rumah samping yang berpagar hitam tinggi. Tak lama kemudian, ia kembali mendorong gerobak kecil itu hingga berhenti di hadapan Gerard.

Suara roda berderak pelan di atas jalanan yang mulus. Gerard menyambutnya dengan senyum lebar, matanya menyapu isi gerobak. Semuanya tampak lengkap dan terawat. "Lengkap sekali!" serunya sambil mengacungkan jempol. "Terima kasih banyak, Kak! Saya janji akan mengembalikannya dengan baik secepatnya."

Wanita itu terkekeh, lalu mengangguk sambil mengedipkan sebelah matanya. "Sama-sama!" Ia sudah hendak berbalik ketika tiba-tiba berhenti dan menoleh sekali lagi. "Oh, iya! Kalau ada butuh apa-apa, jangan ragu untuk mengetuk pintu kami, ya?"

Gerard membalas anggukan dan lambaian tangan darinya. Setelah wanita itu pergi, ia membiarkan pagar terbuka sedikit dan mendorong gerobak itu masuk ke halamannya yang masih semrawut.

Dengan semangat baru, ia menatap rerumputan liar dan dahan-dahan yang berserakan. Sehelai sapu tangan hitam—mungkin milik tetangganya—terselip di antara peralatan. Gerard mengambilnya dan mengikatkannya di kepala.

"Bersiaplah," gumamnya pada halaman itu, senyum percaya diri mengembang di wajahnya. "Aku akan merapikanmu hingga bersih."

*•*•*

Matahari pagi mulai meninggi, menghangatkan punggung Gerard yang sudah membungkuk. Ia berdiri di tepi halaman, menatap lautan ilalang dan rumput liar yang tingginya hampir mencapai pinggangnya. Ranting-ranting kering berserakan di antara dedaunan mati, menambah kesan angker dan terbengkalai.

Di mana aku harus mulai?

Ia menarik napas dalam-dalam, mencium aroma tanah basah dan vegetasi yang membusuk. Lalu, matanya tertuju pada gerobak pinjaman. Dengan tekad yang mengkristal, ia meraih alat pertama: arit pendek dengan gagang kayu yang halus.

Gerard tidak pernah menggunakan arit sebelumnya, tapi naluri membimbingnya. Ia memegang gagangnya erat, lalu menyapukan mata arit itu melintang di pangkal segerombolan ilalang tebal.

Swish!

Suara memotong yang dalam dan memuaskan terdengar. Seikat besar ilalang terkulai lemas, membuka secuil tanah coklat di bawahnya. Rasa pencapaian kecil itu memberinya energi. Ia mengayun lagi, dan lagi, membentuk irama: ayun, potong, mundur selangkah.

Keringat mulai membasahi pelipisnya. Otot lengan dan bahunya yang tidak terbiasa mulai berdenyut nyeri, tapi ia terus maju. Setelah area seluas beberapa meter persegi terbuka, ia beralih ke alat lain: garu besi bergigi lebar.

Ia menyisir tanah yang baru dibersihkan dengan garu itu, mengumpulkan ilalang dan rumput yang terpotong, serta mencabut akar-akaran yang masih tertinggal. Gerakannya masih kaku, tapi efektif. Tumpukan sampah kebun mulai terbentuk di satu sisi halaman.

Untuk semak-semak kecil dan tanaman merambat yang membelit pagar, ia menggunakan gunting taman yang kokoh. Pegangannya yang ergonomis memudahkannya memotong dahan-dahan kecil yang sulit dijangkau arit. Krek. Krek. Suaranya pendek dan tajam, memutuskan belitan tanaman yang mengganggu.

Prosesnya lambat dan melelahkan. Terkadang, akar ilalang begitu kuat tertanam, membuatnya harus berjongkok dan mencabutnya dengan tangan, merasakan tanah dingin menyelip di kuku. Kotoran dan debu menempel di celana dan sepatunya yang baru. Tapi dengan setiap jengkal tanah yang terbuka, dengan setiap sudut halaman yang mulai terlihat rapi, kelegaan dan kepuasan tumbuh di dadanya.

Ia bekerja berjam-jam, hanya berhenti sebentar untuk minum air dari botol yang ia bawa. Suasana sekitar mulai berubah. Bunyi "swish" arit dan "gesek" garu kini didominasi oleh kicau burung yang seolah-olah kembali setelah melihat aktivitas manusia. Sinar matahari, yang tadi terhalang ilalang tinggi, kini bisa menyentuh tanah langsung, membuat udara terasa lebih segar.

Akhirnya, saat sore mulai tiba, ia meletakkan alat terakhir. Halaman depannya yang awalnya liar dan menyeramkan, kini telah berubah total. Tanahnya telah tergarap, hanya menyisakan sedikit tunggul ilalang yang akan ia bereskan besok. Area yang bersih itu terbentang luas, siap untuk ditanami rumput baru atau bunga.

Gerard berdiri di tengah hasil kerjanya, napasnya terengah namun puas. Ia mengusap keringat di dahinya dengan lengan, menatap tumpukan besar sampah kebun di pinggir—bukti nyata dari kerja kerasnya seharian. Kelelahan yang ia rasakan adalah kelelahan yang membanggakan. Ia melihat rumah barunya bukan lagi sebagai tempat yang angker, tetapi sebagai kanvas yang mulai ia rapikan, dimulai dari halaman ini.

Ia mengembalikan semua peralatan ke dalam gerobak dengan hati-hati, membersihkan mata arit dan gigi garu dari sisa-sisa tanah. Saat melakukannya, senyum tipis mengembang di wajahnya. Besok, pikirnya, sambil melihat sisa halaman samping yang masih belum tersentuh, aku akan lanjutkan.

Setelah duduk sebentar di teras, menarik napas dalam-dasar hasil kerjanya di halaman, Gerard akhirnya beranjak masuk ke dalam rumah. Ia menutup pintu pagar dengan perlahan, bunyi kuncinya berdentang mewakili sebuah penutup untuk hari itu. Namun, begitu melangkah masuk, kelelahan yang sempat terlupakan langsung menyerangnya kembali.

Rumah itu masih terasa asing, dingin, dan dipenuhi oleh diamnya ruang-ruang kosong yang berdebu. Kekacauan di dalamnya tak kalah dengan halaman tadi—hanya saja lebih tertata, lebih personal dalam kesepiannya. Hawa lembap dan aroma apak menyeruak, mengingatkannya bahwa tempat ini telah lama tak dihuni.

Tanpa pikir panjang, Gerard mengabaikan ruang tamu yang masih dipenuhi kardus dan dapur yang berantakan. Ia langsung menuju kamar utama, satu-satunya ruang yang ingin ia pastikan layak untuk beristirahat malam ini.

Karpet tipis berdebu ia gulung dengan kedua tangan, membawa ke dapur untuk sementara waktu. Isi lemari tua (sprei dan karpet bekas) yang berderit ia keluarkan satu per satu, menumpuknya di sudut sebelum nanti akan ia pilah atau singkirkan.

Udara berdebu membuatnya sesekali batuk, namun ia terus bergerak. Lalu, teringat akan sistem yang ia miliki, Gerard membuka panel Toko dengan fikirannya. Dengan beberapa perintah sederhana, sapu, kain pel, ember, dan beberapa perlengkapan kebersihan dasar muncul di hadapannya dalam sekejap.

[Total Belanjaan: 440.000]

[Sisa Uang: 98.665.000]

Diawali dari menyapu lantai kayu yang berdebu, lalu mengepelnya hingga bersinar redup di bawah cahaya lampu. Aktivitas yang awalnya hanya untuk kamar, perlahan merambat. "Kok masih terlihat kotor di sudut sana," gumamnya saat melihat dinding dekat jendela. Lalu, "Lantai dapur juga perlu disikat nih." Satu per satu, ruangan lain ia sentuh. Ruang tamu, dapur, bahkan kamar mandi yang sempat ia hindari karena bau anyir.

Waktu berjalan tanpa ia sadari. Sinar jingga senja berubah menjadi kegelapan malam yang pekat, hanya diterangi lampu plafon tua di ruang tengah. Tubuhnya pegal, keringat mengering menjadi lapisan tipis di kulit, namun ada kepuasan yang dalam menyelimutinya. Barang-barang tak berguna—koran lama, piring pecah, perabot rusak—telah ia kumpulkan dan ia tumpuk rapi di halaman belakang, menunggu untuk dibuang esok hari.

Sekarang, rumah itu berubah. Meski kosong, ia sudah bersih. Aroma apak telah digantikan oleh bau sabun dan kayu yang diseka.

Gerard duduk di tepi kasur susun yang masih tanpa sprei, tubuhnya lelah tapi jernih. Dari jendela kamarnya, ia bisa melihat langit malam berbintang dan bentuk-bentuk gelap pohon di kejauhan. Dadanya terasa penuh—bukan sesak oleh derita, melainkan oleh sesuatu yang hangat dan asing: sebentuk harapan. Semua keanehan, sistem itu, perjuangan bertahan semalam di hutan, dan hari ini... semuanya mengantarkannya ke sini. Ke tempat yang bisa ia sebut miliknya.

"Ini awal yang bagus…" bisiknya pada udara sunyi, senyum tipis mengambang di bibirnya yang lelah.

Kemudian, ia berbaring. Tubuh beratnya menyerah pada kasur, mata terpejam dengan sendirinya. Di ambang tidur, satu pikiran terakhir melintas: Besok, aku akan isi rumah ini dengan hidup.

Dan hari yang melelahkan itu pun berakhir, ditutup oleh diam yang nyaman dan janji esok yang lebih terang.

1
Loorney
Nulis buru-buru emang bikin kacau, update dulu baru revisi 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!