NovelToon NovelToon
SETELAH HUJAN BERHENTI

SETELAH HUJAN BERHENTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.

Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.

Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.

Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SELAMAT DATANG AYAH BARU

Pagi harinya, suasana di rumah itu terasa jauh berbeda. Arsen sudah terlihat lebih rapi; ia telah mandi, mencukur janggutnya yang sempat tak terurus, dan mengenakan kemeja bersih yang sudah lama tersimpan di lemari. Sosoknya kembali terlihat seperti Arsen yang dulu, meski gurat kelelahan masih tampak di matanya.

Sementara itu, Rosa masih mengenakan baju yang sama dengan semalam. Rambutnya sedikit acak-acakan karena harus terjaga beberapa kali untuk menenangkan bayi, namun binar matanya tetap segar. Ia sedang menimang bayi yang kini sudah terbangun dan terlihat jauh lebih segar setelah dibersihkan.

Rosa memperhatikan perubahan penampilan Arsen dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tersenyum tipis. "Nah, begini kan enak dilihat. Tapi ada satu yang kurang," ucap Rosa sambil mendekat.

Ia menyisir poni Arsen yang sudah mulai menutupi mata dengan jemarinya. "Pulang kerja nanti, kamu mampir potong rambut ya? Biar lebih rapi lagi. Bayi ini butuh melihat wajah ayahnya dengan jelas, bukan tertutup rambut gondrong seperti itu," tambahnya dengan nada bercanda namun penuh perhatian.

Arsen hanya bisa tersenyum simpul, rasa hangat menjalar di dadanya. "Iya, nanti aku mampir ke barbershop. Terima kasih ya, Ros, sudah menjaganya semalaman."

"Santai saja. Sekarang berangkatlah kerja. Jangan sampai telat di hari pertama kamu 'kembali' ke dunia nyata," sahut Rosa sambil melambaikan tangan kecil si bayi ke arah Arsen.

Arsen melangkah keluar rumah dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Untuk sementara, ia meminjam mobil Rosa agar lebih mudah bergerak karena ia harus segera bekerja dan membeli beberapa keperluan tambahan nanti.

Begitu ia berada di balik kemudi dan menyalakan mesin, ia menurunkan kaca jendela sejenak. Di ambang pintu rumah yang kini terlihat lebih hidup, Rosa berdiri sambil menggendong bayi mungil itu. Rosa mengangkat tangan kecil bayi tersebut, menggerakkannya perlahan seolah-olah bayi itu sedang melambai ke arah Arsen.

"Dah-dah, Ayah! Kerja yang semangat ya, biar bisa beli susu yang banyak!" ucap Rosa dengan nada suara yang dibuat-buat seperti suara anak kecil, mengiringi lambaian tangan mungil itu.

Arsen tertegun sejenak. Panggilan "Ayah" yang keluar dari bibir Rosa, meski hanya candaan, terasa seperti sebuah doa yang mengetuk pintu hatinya yang paling dalam. Ia tersenyum—senyum tulus pertama yang muncul di wajahnya setelah dua tahun penuh kegelapan.

"Aku pergi dulu. Jaga diri kalian baik-baik," jawab Arsen mantap.

Ia mulai menginjak gas, meninggalkan halaman rumahnya. Di spion tengah, ia masih bisa melihat sosok Rosa dan bayi itu perlahan mengecil seiring laju mobilnya. Hari ini, Arsen tidak lagi merasa seperti pria yang melarikan diri dari kenyataan. Ia merasa seperti seorang pria yang memiliki tempat untuk pulang.

Suasana di kantor mendadak riuh saat Arsen melangkah masuk. Teman-teman sejawatnya, yang selama dua tahun ini hanya melihat Arsen sebagai sosok yang pendiam, murung, dan tak bersemangat, kini tampak terkejut sekaligus lega melihat perubahan penampilannya yang jauh lebih rapi.

Dito, sahabat sekaligus rekan kerja terdekatnya, langsung menghampiri dan menepuk bahu Arsen dengan keras. "Nah, gitu dong, Sen! Jangan sedih terus. Akhirnya singa kantor kita bangun juga dari tidurnya!" ucap Dito dengan tawa lebar.

Beberapa rekan kerja lain ikut mengangguk setuju, merasa senang melihat Arsen kembali menunjukkan auranya yang dulu.

Arsen tersenyum tipis, namun kali ini senyumnya memiliki arti yang berbeda. Ada ketenangan yang lebih dalam di matanya. "Iya, Dit. Masa berduka sudah selesai. Lagipula, ada yang harus aku biayai sekarang," jawab Arsen tenang.

Dito mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan sahabatnya. "Hah? Biayai siapa? Kamu investasi baru atau gimana?"

Arsen menggeleng perlahan, teringat pada wajah mungil yang tadi pagi melambai padanya di depan pintu rumah. "Bisa dibilang begitu. Ada anak dari Tuhan yang harus aku besarkan."

Sontak ucapan itu membuat teman-temannya saling berpandangan dengan penuh tanya, namun Arsen hanya menanggapi dengan senyuman misterius sebelum mulai menyalakan komputernya. Semangatnya kini bukan lagi tentang mengejar karier semata, melainkan tentang tanggung jawab besar yang menantinya di rumah.

Dito hampir tersedak kopi yang baru saja diseruputnya. Matanya membulat sempurna, menatap Arsen seolah-olah sahabatnya itu baru saja mengaku sebagai agen rahasia internasional. Ia meletakkan gelasnya dengan kasar hingga airnya sedikit memercik ke meja.

"Hah?! Serius kamu, Sen? Kamu hamilin cewek? Siapa? Kapan?" rentetan pertanyaan Dito keluar seperti peluru senapan mesin. "Wah, gila! Kamu dua tahun mengurung diri, sekalinya keluar malah bawa berita begini? Siapa ceweknya, Sen? Apa jangan-jangan si..."

Arsen terkekeh melihat reaksi Dito yang berlebihan. Ia menarik kursi kerjanya dan duduk dengan tenang, sementara beberapa rekan di kubikel sebelah mulai melirik penuh rasa ingin tahu.

"Tenang dulu, Dit. Jangan teriak-teriak, nanti satu kantor mengira aku ini penjahat," ucap Arsen sambil menyalakan monitor komputernya.

"Ya gimana nggak teriak! Kamu bilang ada 'anak dari Tuhan' yang harus dibiayai. Di kamusku, itu kiasan kalau kamu habis 'kecelakaan' atau gimana! Jujur sama aku, siapa ibunya?" Dito mendekat, merendahkan suaranya tapi tetap dengan nada mendesak.

Arsen menghela napas panjang, tatapannya menerawang ke arah jendela kantor yang menampilkan langit cerah. "Bukan begitu ceritanya. Tidak ada yang hamil, Dit. Setidaknya bukan karena aku."

Dito menyipitkan mata, semakin bingung. "Maksudmu? Kalau bukan kamu ayahnya, kenapa kamu bilang harus membiayainya? Jangan bilang kamu mau jadi pahlawan buat anak orang lain?"

"Tadi malam, ada yang meninggalkan bayi di depan pintuku," jawab Arsen tenang, namun ada getaran emosi dalam suaranya. "Hanya bayi itu, tas kecil, dan secarik surat yang memintaku untuk menjaganya. Kamu tahu kan, dua tahun ini aku hidup seperti orang mati? Lalu tiba-tiba suara tangis bayi itu membangunkan aku. Benar-benar membangunkan aku, Dit."

Dito terdiam. Mulutnya yang tadi terbuka ingin protes kini tertutup rapat. Ia melihat binar di mata Arsen yang selama ini hilang. Ketajaman mata yang dulu membuat Arsen menjadi karyawan teladan kini muncul kembali, namun kali ini lebih lembut.

"Jadi... itu bukan anak kandungmu?" tanya Dito pelan.

"Bukan secara darah. Tapi saat aku menggendongnya, saat dia berhenti menangis di pelukanku, aku merasa dia memang dikirim untukku. Tuhan mungkin tahu aku hampir menyerah, jadi Dia titipkan satu nyawa supaya aku punya alasan untuk tetap hidup dan bekerja," jelas Arsen sambil mulai mengetik di keyboard.

Dito bersandar di pinggir meja Arsen, menyilangkan tangan di dada. "Lalu sekarang bayi itu sama siapa di rumah? Kamu tinggal sendirian kan?"

"Ada Rosa. Dia pindah ke rumahku untuk sementara buat bantu jaga. Dia juga yang menyemangatiku buat kerja lagi."

Dito tersenyum tipis, lalu menepuk punggung Arsen dengan rasa bangga. "Wah, kalau ada Rosa sih aman. Tapi jujur ya, Sen, ini gila. Kamu benar-benar nekat. Tapi aku senang. Setidaknya kamu nggak lagi kelihatan seperti mayat hidup. Jadi, selamat ya, Ayah Baru."

Arsen tersenyum lebar—senyum paling tulus yang pernah dilihat Dito dalam dua tahun terakhir. "Terima kasih, Dit. Aku harus kerja keras sekarang. Susu bayi itu ternyata mahal, ya?"

Dito tertawa terbahak-bahak. "Baru sadar kamu? Makanya, jangan malas-malasan lagi. Ayo, selesaikan laporan itu!"

1
Susilawati Arum
Ganti panggilannya dong thor,, masa sama suami sendiri msh panggil nama..kan nggak sopan
nanuna26: baik ka
total 1 replies
falea sezi
keluarga nya kompak bgt meski! tau itu anak mantan arsen mereka ttep sayang sama. arlo/Sob/
falea sezi
q ksih hadiah karena dedek Arlo
falea sezi
apa ini anak mantan arsen
falea sezi
moga Rosa jdoh nya arsen ya
falea sezi
kok bs tinggal di rmh berdebu
nanuna26: kan arsen depresi dittinggal nikah mantannya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!