NovelToon NovelToon
SURAT HATI

SURAT HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

Suasana di ruang utama mansion Storm mendadak mencekam, lebih dingin daripada badai salju mana pun. Alexander Storm berdiri dengan napas yang memburu, matanya memerah menatap Luna yang tersungkur di atas lantai marmer. Sebuah tamparan keras baru saja mendarat di pipi mulus Luna, meninggalkan jejak merah yang kontras dengan wajah pucatnya.

Hera langsung menghambur, memeluk tubuh kakaknya yang gemetar hebat. "Ayah! Apa yang Ayah lakukan?! Dia sedang tidak sehat!" teriak Hera dengan berani, meski ia sendiri ketakutan melihat amarah ayahnya yang meledak.

"Tidak sehat?!" suara Alexander menggelegar, memenuhi langit-langit ruangan yang tinggi. "Dia bukan tidak sehat, Hera! Dia memalukan! Dia membawa aib ke dalam rumah ini dengan benih dari musuh bebuyutan ku! Kau pikir aku tidak tahu siapa pria yang sudah menghamili mu, Luna?!"

Luna tidak berani mengangkat pandangannya. Ia memegangi perutnya yang membuncit, mencoba melindungi kehidupan di dalamnya dari aura kebencian sang ayah. Air matanya menetes satu per satu, membasahi lantai marmer yang mengkilap.

"Apa salah jika aku menginginkan anak ini, Ayah?" bisik Luna dengan suara yang serak dan pecah. "Aku mencintai Zayn. Aku mencintainya lebih dari apa pun. Kumohon... biarkan kali ini aku memilih hidupku sendiri."

Alexander tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan kebencian. "Mencintai seorang Graciano adalah pengkhianatan terbesar bagiku! Kau tidak akan pernah memiliki anak itu jika ayahnya adalah dia!"

Tangan Alexander kembali terangkat, siap memberikan tamparan kedua yang mungkin akan lebih menyakitkan. Luna memejamkan matanya rapat-rapat, namun tamparan itu tidak pernah mendarat.

"CUKUP, TUAN STORM!"

Pintu besar mansion terbuka lebar. Isabella masuk dengan langkah yang penuh wibawa, didampingi oleh Zayn yang wajahnya mengeras menahan amarah. Zayn langsung berlari menghampiri Luna, menarik gadis itu ke dalam dekapannya, menatap Alexander dengan tatapan yang seolah siap membunuh jika pria itu menyentuh Luna lagi.

"Siapa kau? Beraninya masuk ke rumahku!" bentak Alexander.

Isabella maju beberapa langkah, berdiri tepat di hadapan Alexander. Ia melipat tangannya di dada dengan ekspresi yang sangat tenang namun mematikan. "Kau tidak mengenalku, Alexander? Atau kau terlalu malu untuk mengingat wajah istri dari pria yang kau khianati sepuluh tahun lalu?"

Alexander tertegun. Wajahnya mendadak kaku saat menyadari siapa wanita di depannya. "Isabella..."

"Ya, ini aku. Mantan Istri mendiang Edward Graciano," ucap Isabella dengan nada dingin yang menusuk. "Harusnya keluarga kami yang marah, Tuan Storm. Harusnya aku yang datang ke sini untuk menuntut balas atas pengkhianatan kerja sama sepuluh tahun lalu yang membuat suamiku itu jatuh sakit karena stres memikirkan kelakuan sahabatnya sendiri."

"Kau tidak tahu apa-apa, Isabella!" sanggah Alexander, meski suaranya mulai goyah.

"Aku tahu segalanya!" potong Isabella dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Edward sudah mengalah. Ia tahu kau mencurangi dana proyek itu, ia tahu kau memalsukan dokumen untuk merebut asetnya. Tapi kau tahu apa yang dikatakannya padaku? Dia bilang, 'Biarkan saja Alexander, dia adalah sahabatku. Suatu saat dia akan sadar bahwa uang tidak bisa membeli kedamaian'."

Ruangan itu mendadak sunyi. Hera dan Luna menatap ayah mereka dengan rasa tidak percaya. Selama ini, Alexander selalu menceritakan bahwa keluarga Graciano-lah yang telah menipu mereka.

"Suamiku malang sekali, dengan memaafkan mu, Alexander," lanjut Isabella, matanya mulai berkaca-kaca namun tetap tegas. "Dan sekarang, kau ingin mengulangi kesalahan yang sama? Kau ingin menghancurkan kebahagiaan anakmu sendiri hanya karena dendam yang kau ciptakan dari kesalahanmu sendiri?"

Zayn berdiri, masih memeluk Luna yang kini sudah sedikit tenang. "Tuan Storm, aku mencintai Luna. Aku tidak peduli dengan harta atau bisnis keluarga kita. Aku hanya ingin bertanggung jawab pada wanita yang kucintai dan anak-anak yang dia kandung. Kau ingin menghancurkan ku? Silakan. Tapi jangan pernah sakiti Luna lagi."

Alexander Storm mundur beberapa langkah. Ia menatap Luna yang tampak begitu rapuh namun bersikeras melindungi perutnya. Ia melihat Zayn, pria muda yang sangat mirip dengan Edward, sahabat yang dulu selalu mendukungnya sebelum keserakahan membutakan matanya.

Keangkuhan Alexander perlahan runtuh. Bayangan masa lalu saat ia dan Edward membangun bisnis dari nol kembali berputar di kepalanya. Ia teringat bagaimana Edward tetap tersenyum dan menjabat tangannya meski tahu Alexander telah mengkhianatinya.

"Aku..." Alexander bergumam, suaranya kini terdengar seperti pria tua yang lelah. "Aku selalu merasa bahwa jika aku membiarkan Luna bersamamu, Zayn... aku akan terus teringat pada dosaku pada ayahmu."

Luna mendongak, menatap ayahnya dengan penuh harap.

"Kau benar, Isabella," Alexander menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena rasa malu. "Aku yang mengkhianati Edward. Aku yang membangun kemegahan mansion ini di atas penderitaan sahabatku sendiri. Aku pengecut yang menggunakan kebencian untuk menutupi rasa bersalahku."

Alexander menatap Luna, lalu mendekatinya perlahan. Ia berlutut di depan Luna, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan seumur hidupnya. "Maafkan Ayah, Luna. Maafkan tangan ini yang sudah menyakitimu."

Luna menangis tersedu-sedu dan memeluk ayahnya. "Ayah..."

"Zayn," Alexander menatap Zayn dengan tatapan yang jauh lebih tulus. "Jaga anakku. Jangan pernah menjadi pria brengsek seperti aku. Edward... dia pasti bangga melihatmu."

Isabella tersenyum tipis, rasa lega memenuhi dadanya. "Waktunya kita mengakhiri semua permusuhan ini dengan sebuah pernikahan yang seharusnya terjadi sejak dulu."

Alexander mengangguk lemah, namun sebuah senyuman kecil muncul di bibirnya. "Ya. Mari kita persiapkan pernikahan itu. Sebelum perut Luna semakin besar dan dia kembali membentak semua pengawalku karena mualnya."

Tawa kecil pecah di ruangan itu, meruntuhkan ketegangan yang sudah bertahun-tahun membeku. Zayn mencium kening Luna di depan ayah mertuanya, sebuah restu yang akhirnya ia dapatkan bukan dengan kekerasan, melainkan dengan kekuatan kebenaran dan cinta.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
durrotul aimmsh
i just can say...wow
shabiru Al
apa yang akan terjadi ya jika ayahnya luna tau kehamilan ini
shabiru Al
mampir ya thor,, kayaknya menarik nih ceritanya
ros 🍂: Happy Reading 🥰
total 1 replies
Nurhasanah
ini fl nya luna apa hera ?? lebih suka hera sih badas nggak menye2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!