NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Setelah penerbangan panjang yang melelahkan namun penuh kebahagiaan, roda pesawat akhirnya menyentuh landasan di Bandara Charles de Gaulle.

Saat pintu pesawat dibuka, hawa dingin khas Eropa langsung menyergap masuk, membawa aroma kesegaran yang berbeda dari tanah air.

"Mendarat di Paris," di mana mereka disambut oleh salju tipis yang turun perlahan dari langit kelabu.

Butiran putih itu jatuh dengan lembut, hinggap di pundak mantel mereka sebelum mencair, menciptakan suasana yang begitu puitis dan romantis, persis seperti di dalam film-film klasik.

Aisyah merapatkan jaket tebalnya, matanya berbinar menatap pemandangan di luar jendela bandara.

"Mas, lihat! Ada salju!" serunya kegirangan, melupakan sejenak rasa kantuknya.

Rizal tersenyum, lalu merangkul bahu istrinya agar tetap hangat.

Ia segera mengurus proses imigrasi dengan cepat, karena ia tahu tubuh Aisyah butuh istirahat di tempat yang lebih nyaman.

Setelah mengambil koper dan melewati pintu kedatangan, sebuah mobil sedan mewah sudah menunggu mereka di lobi.

"Ayo kita ke hotel," ajak Rizal sambil membimbing Aisyah masuk ke dalam mobil yang penghangat ruangannya sudah dinyalakan.

"Kita tidak jalan-jalan dulu, Mas?" tanya Aisyah sambil melihat ke arah jalanan Paris yang mulai dihiasi lampu-lampu kota.

"Simpan tenagamu, Sayang. Kita punya waktu seminggu penuh di sini. Sekarang, kita masuk hotel, mandi air hangat, dan istirahat. Aku ingin besok pagi kamu bangun dengan energi penuh untuk melihat Menara Eiffel," jawab Rizal lembut.

Mobil itu melaju membelah jalanan Paris yang cantik, melewati bangunan-bangunan tua berasitektur megah yang tertutup lapisan tipis salju putih, menuju sebuah hotel mewah di kawasan Place Vendôme yang telah dipesan Rizal khusus untuk bulan madu mereka.

Mobil berhenti tepat di depan sebuah hotel klasik yang sangat elegan.

Seorang pelayan dengan seragam rapi membukakan pintu dan membimbing mereka menuju salah satu kamar terbaik di lantai atas.

Begitu pintu kamar terbuka, Aisyah terpaku di ambang pintu.

Saat mereka sampai di kamar hotel dengan pemandangan langsung ke Menara Eiffel, jendela besar dari lantai hingga langit-langit menyajikan siluet menara ikonik itu yang mulai berkelap-kelip tertutup sisa-sisa salju tipis.

Cahaya lampu kota Paris terpantul di kaca, menciptakan suasana yang sangat intim.

Rizal meletakkan mantelnya di kursi, lalu berjalan mendekati Aisyah dari belakang.

Ia memeluk pinggang istrinya dan berbisik pelan di telinganya.

"Ayo kita mandi bersama, Sayang," ajak Rizal dengan suara yang rendah dan penuh kasih.

Ia telah menyiapkan segalanya; di sudut ruangan, sebuah jacuzzi besar sudah terisi air hangat dengan busa yang beraroma mawar dan lavender.

Aisyah menganggukkan kepalanya dan masuk ke dalam jacuzzi, merasakan kehangatan air menyentuh kulitnya yang kedinginan setelah perjalanan panjang.

Rizal pun menyusul, duduk di sampingnya sambil merangkul pundak Aisyah.

Di bawah temaram lampu kamar dan pemandangan Menara Eiffel yang megah di luar sana, mereka berendam dalam keheningan yang nyaman.

Rasa lelah akibat penerbangan belasan jam seolah luruh seketika, digantikan oleh perasaan damai yang luar biasa.

Malam itu di Paris, mereka benar-benar merasa dunia hanya milik berdua, memulai babak baru kehidupan mereka sebagai suami istri yang saling mencintai seutuhnya.

Cahaya matahari musim dingin yang lembut menyeruak masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, memantul di atas hamparan salju putih di luar jendela.

Suasana kamar hotel yang hangat dan tenang membuat pagi itu terasa begitu sempurna.

Aisyah terbangun dan memeluk tubuh suaminya. Ia menghirup aroma tubuh Rizal yang menenangkan, merasakan detak jantung suaminya yang beraturan.

Aisyah tersenyum kecil, merasa sangat bersyukur bahwa pria yang kini memeluknya erat adalah sosok yang sama dengan pria yang dulu sempat ia ragukan.

Rizal yang sebenarnya sudah bangun sejak tadi, mengecup dahi istrinya dengan lembut.

"Selamat pagi, Sayangku Aisyah," bisik Rizal dengan suara serak yang penuh kasih.

Ia mengelus rambut istrinya yang terurai di atas bantal sutra.

"Bagaimana tidurmu? Nyenyak?"

Aisyah mendongak, menatap mata suaminya dengan binar kebahagiaan.

"Nyenyak sekali, Mas. Ini adalah tidur paling damai yang pernah aku rasakan."

Rizal kemudian bangkit sedikit dan menunjuk ke arah jendela besar di hadapan mereka.

Menara Eiffel berdiri tegak di sana, tampak sangat megah di bawah langit pagi Paris yang biru cerah.

"Lihat itu. Paris sudah menunggu kita. Hari ini, aku akan membawamu ke mana pun kamu mau. Kita lupakan sejenak masalah di Jakarta, lupakan sejenak beban di pundak kita. Hari ini, hanya ada aku dan kamu," ujar Rizal.

Aisyah semakin erat memeluk suaminya, merasa seolah ia adalah wanita paling beruntung di dunia.

Kota romantis ini seolah menjadi saksi bahwa cinta mereka yang sempat retak kini telah tersambung kembali dengan jauh lebih kuat.

Udara dingin Paris pagi itu seolah tak berani menyentuh kulit mereka, kalah oleh kehangatan yang terpancar dari balkon kamar.

Rizal telah menyiapkan meja kecil di sana, lengkap dengan dua cangkir kopi yang mengepulkan uap dan keranjang berisi roti-roti segar.

Mereka duduk bersisian, menikmati sarapan croissant hangat di balkon sambil menatap Menara Eiffel yang berdiri kokoh di hadapan mereka.

Bunyi renyah croissant yang digigit berpadu dengan suara tenang kota Paris di bawah sana. Aisyah menyesap kopinya pelan, matanya tak lepas dari kemegahan menara yang selama ini hanya ia lihat di televisi.

Rizal meletakkan cangkirnya, lalu meraih tangan Aisyah dan menggenggamnya di atas meja.

Tatapannya mendalam, penuh dengan ketulusan yang tak terlukiskan.

"Aisyah, terima kasih atas semuanya," ucap Rizal dengan nada rendah namun mantap.

"Terima kasih sudah bersabar menghadapiku, terima kasih sudah mau memaafkan Intan, dan terima kasih sudah memberiku kesempatan untuk menjadi suami yang sebenarnya untukmu."

Aisyah tertegun sejenak, matanya berkaca-kaca karena haru.

Ia merasakan ketulusan itu meresap ke dalam hatinya.

"Mas, aku juga berterima kasih. Kamu sudah membimbing keluarga kita melewati badai yang sulit kemarin."

Rizal tersenyum, lalu mengecup punggung tangan istrinya.

Di balkon itu, dengan saksi bisu Menara Eiffel dan aroma mentega dari croissant yang lezat, mereka seolah sedang memperbarui janji suci pernikahan mereka.

Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi jarak, hanya ada masa depan yang ingin mereka bangun bersama.

Rizal melepaskan genggaman tangannya perlahan, lalu berdiri dan merentangkan kedua tangannya menghirup udara Paris yang segar.

Ia menatap Aisyah dengan semangat yang menular.

"Ayo sekarang kita bersiap-siap," ajak Rizal sambil mengulurkan tangan untuk membantu Aisyah berdiri dari kursi balkon.

"Kita mau ke mana dulu, Mas?" tanya Aisyah sambil merapikan sisa remahan croissant di gaun tidurnya.

"Kita akan pergi ke Champs-Élysées. Aku ingin membelikanmu mantel musim dingin yang lebih hangat dan cantik, lalu kita akan makan siang di sebuah restoran di puncak gedung yang memiliki pemandangan seluruh kota. Aku ingin duniaku melihat betapa cantiknya istrinya hari ini," jawab Rizal dengan kedipan mata yang membuat pipi Aisyah merona.

Aisyah tertawa kecil, hatinya berbunga-bunga. Ia segera melangkah masuk ke dalam kamar, bersiap untuk berdandan dan memilih pakaian terbaiknya.

Hari ini bukan hanya tentang melihat Paris, tapi tentang merayakan kemenangan cinta mereka di kota yang paling romantis di dunia.

Rizal memperhatikan istrinya dengan senyum puas.

Baginya, perjalanan ini adalah investasi terbaik yang pernah ia lakukan—investasi untuk kebahagiaan wanita yang telah menyelamatkan jiwanya dari kekosongan.

1
Lizam Alby
lohhh ko Rizal yg JD wali kan dia bpak sambung
my name is pho: terima kasih kak. Thor revisi sebentar
total 1 replies
mfi Pebrian
cerita nya bagus......semangat untuk up nya yah KK.
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya" Dialah sang pewaris" terimakasih
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!