NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 2 - DUA ORANG YANG TERLALU PENASARAN

Kelas XI-A terasa lebih berisik dari biasanya saat jam istirahat hampir habis.

Ara duduk di bangkunya dengan perut yang masih kosong dan pikiran yang tidak mau diam. Tasnya terbuka di atas meja, tapi ia tidak sedang mencari apa-apa di dalamnya. Tangannya hanya bergerak sendiri, membolak-balik tutup tumbler yang sudah ia minum habis isinya sejak tadi.

Kosong. Perutnya kosong. Tumbler-nya kosong. Dan sayangnya, kepalanya tidak ikut kosong.

Via duduk di sebelahnya, menatap Ara dengan tatapan kasihan.

Tadi di kantin, Via menyantap sisa makan siangnya yang entah bagaimana masih selamat dari insiden tadi. Sesekali ia melirik Ara dengan tatapan yang ingin bertanya tapi memilih untuk tidak.

"Kamu mau?" Via menawarkan, menodongkan sendok ke arah Ara.

"Nggak usah."

"Yakin? Ini enak."

"Aku baik-baik aja."

Via menarik sendoknya kembali. "Oke. Tapi kalau kamu pingsan gara-gara lapar di tengah pelajaran, itu bukan salahku."

Dan sekarang kembali ke kelas

Dimana Ara hanya diam. Matanya menerawang ke papan tulis kosong di depan kelas, tapi pikirannya sama sekali tidak di sana.

Yang ada di kepalanya justru sepasang mata dingin.

Bukan tatapan marah. Bukan. Kalau marah, Ara tahu cara menghadapinya. Minta maaf, senyum, jelaskan bahwa itu tidak disengaja, dan orang itu pasti akan mencair. Selalu begitu. Selalu berhasil.

Tapi cowok itu tidak marah.

Ia hanya menatap. Menatap dengan cara yang membuat Ara merasa seperti bukan seseorang yang perlu ditanggapi secara khusus. Bukan Princess Eldria. Bukan Tiara si sempurna. Hanya... orang asing yang menumpahkan makanan ke bajunya.

Lalu ia pergi.

Begitu saja.

Ara menekan tutup tumbler-nya sedikit lebih keras dari yang perlu.

"Ara."

Suara itu datang dari arah kanan, bukan dari Via. Ara berkedip dan memalingkan kepala.

Dua cewek berdiri di samping mejanya. Yang satu berambut cokelat panjang dengan poni lurus rapi, yang satu lagi berambut hitam yang dikepang satu ke samping. Keduanya satu kelas dengan Ara, itu ia tahu. Tapi sejauh ini interaksi mereka tidak pernah lebih dari sekadar senyum sekilas di lorong atau sapaan singkat saat masuk kelas.

"Eh," Ara merespons, berusaha terlihat ramah seperti biasa. "Lina, Diana. Ada apa?"

Lina, yang berambut cokelat, langsung tersenyum manis. Terlalu manis, sebenarnya. "Nggak ada apa-apa kok, Ara. Kita cuma mau ngobrol bentar. Boleh?"

"Oh, boleh. Duduk aja."

Diana sudah menggeser kursi kosong di depan meja Ara tanpa menunggu dipersilakan dua kali. Lina mengikuti. Keduanya duduk dengan cara yang membuat Ara merasa seperti sedang diwawancara untuk sesuatu yang belum ia tahu apa.

Via melirik keduanya sebentar, lalu kembali dengan ekspresi netral.

"Tadi kita lihat kejadian di kantin," Lina membuka percakapan, suaranya pelan tapi penuh intonasi yang kaya. "Kasihan banget ya, Ara. Makan siangnya tumpah semua."

"Udah biasa." Ara tersenyum tipis. "Nggak apa-apa."

"Kamu nggak lapar?"

"Nggak terlalu."

Perutnya langsung berbunyi setelah ia mengucapkan itu. Pelan, tapi cukup untuk didengar oleh tiga orang di sekitarnya.

KRUKK~

Diana menahan senyum. Via menutup mulut dengan punggung tangannya.

Ara ingin menghilang.

"Hahaha, udahlah Ara, nggak usah gengsi," Diana berkata, tawanya akhirnya lolos juga. "Pasti laper banget kan? Kasihan deh."

"Aku baik-baik aja, serius." Ara mendehem pelan. "Anyway, kalian mau ngobrol soal apa?"

Transisi yang cukup kasar, ia tahu itu. Tapi perutnya sudah mempermalukan dirinya untuk hari ini dan ia ingin segera mengalihkan topik.

Lina dan Diana saling pandang sebentar. Satu detik komunikasi diam yang membuat Ara sedikit waspada.

Lalu Lina bertanya, dengan nada yang dibuat seringan mungkin, "Ara, kamu sama Mike itu... gimana sih sebenernya?"

Ah.

Ara sudah menduga ke arah ini sejak tadi. Pertanyaan itu sudah terlalu familiar di telinganya, sudah terlalu sering ia dengar dari terlalu banyak orang, sehingga ia hampir bisa menjawabnya sambil tidur.

"Teman," jawab Ara, singkat dan jelas.

Lina mengernyit, tidak puas. "Teman doang?"

"Teman."

"Tapi kalian selalu bareng."

"Kami sekelas waktu kelas satu dan kebetulan sering satu jalur ke kelas." Ara mencoba tetap sabar. "Itu aja."

Diana menyandarkan dagu di atas tangannya, menatap Ara dengan ekspresi yang terlalu penyelidik untuk sekadar obrolan santai. "Nggak ada perasaan lebih?"

"Tidak."

"Benar-benar tidak?"

"Diana." Ara menarik napas pelan. "Aku dan Mike itu teman. Sudah lama. Dan itu saja yang ada di antara kami."

Keduanya diam sebentar. Lalu Lina berbisik ke Diana dengan suara yang tidak terlalu pelan, "Kayaknya beneran deh."

Diana mengangguk lambat. Lalu ia menatap Ara lagi, kali ini dengan sorot mata yang berbeda, lebih cerah, lebih... penuh perhitungan. "Oke, Ara. Kita percaya."

"Bagus."

"Tapi kalau beneran nggak ada apa-apa di antara kalian..." Diana menyandarkan punggungnya ke kursi, senyumnya melebar. "Berarti kamu bisa comblangin kita dong?"

Ara membuka mulutnya.

Lalu menutupnya lagi.

Lalu membukanya sekali lagi, tapi tidak ada suara yang keluar.

Di sebelahnya, Via berhenti mulai menatap mereka.

"Maksudnya..." Ara memulai dengan hati-hati.

"Aku suka Mike." Diana mengangkat satu tangan, santai seperti mengaku ngidam boba. "Udah dari lama. Tapi aku nggak berani langsung. Jadi kalau kamu emang cuma teman sama dia, tolong kenalkan aku dong. Lebih intens, gitu."

Lina menambahkan, menunjuk dirinya sendiri, "Aku juga."

Hening sejenak.

"Kalian... dua-duanya?" Ara menatap mereka bergantian.

"Persaingan sehat," Lina berkata ringan, seolah itu hal paling normal di dunia.

Diana mengangguk setuju. "Iya. Biar yang terbaik yang menang."

Ara tidak tahu harus mulai dari mana untuk merespons ini. Ia melirik Via, mencari bantuan atau setidaknya solidaritas diam, tapi Via sedang menatap langit-langit kelas dengan ekspresi yang terlalu netral untuk disebut kebetulan.

"Aku..." Ara mencoba menyusun kalimat. "Aku nggak bisa janjikan apa-apa—"

"Nggak minta janji," Diana memotong cepat. "Cuma minta bantuan. Kecil kok."

"Iya, dikit doang," Lina menimpali. "Kamu kan deket sama Mike. Pasti bisa."

Ara menarik napas panjang, dan tepat saat ia hendak menjawab dengan lebih tegas, bel pelajaran berbunyi dari speaker di atas pintu kelas. Panjang, tepat waktu, dan terasa seperti penyelamat dari langit.

Lina dan Diana langsung berdiri, menarik kursi masing-masing kembali ke tempatnya. "Okedeh Ara, kita ngobrol lagi nanti ya!" Lina melambaikan tangan kecil, senyumnya masih terpasang manis.

"Makasih ya, Ara!" Diana menambahkan sebelum keduanya kembali ke bangku masing-masing di sisi lain kelas.

Ara masih duduk di tempatnya. Tidak bergerak. Menatap ke depan dengan ekspresi yang ia sendiri tidak tahu namanya.

Via membuka kotak pensilnya dengan klik yang cukup keras untuk mengisi keheningan di antara mereka. "Selamat ya," gumam Via datar, "sekarang kamu jadi agen perjodohan."

"Aku tidak setuju apapun."

"Mereka nggak minta kamu setuju."

Ara menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap papan tulis yang masih kosong di depan kelas, menunggu guru masuk.

Hari ini baru setengah selesai.

Dan entah mengapa, rasanya sudah sangat panjang.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!