NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang Es

Pesawat kargo tua berjenis Albatross yang dikemudikan Adam bergetar hebat saat memasuki zona konvergensi antartika. Di sini, udara bukan lagi sekadar gas yang dihirup; ia adalah massa dingin yang padat, yang mampu membekukan logam dalam hitungan detik. Adam mencengkeram tuas kendali yang dilapisi kain kasar, berusaha menstabilkan pesawat yang terus dihantam oleh angin katabatik angin gunung es yang kecepatannya mampu membalikkan truk tangki. Di luar jendela kokpit, dunia telah kehilangan warnanya. Semuanya putih, sebuah kekosongan yang membutakan, seolah-olah bumi telah dihapus dari peta alam semesta.

"Tahan... tahan sedikit lagi," gumam Adam pada dirinya sendiri, atau mungkin pada mesin pesawat yang mulai terbatuk-batuk.

Ia sengaja terbang di bawah ketinggian radar, hanya beberapa ratus kaki di atas permukaan es yang bergerigi. Di ketinggian ini, satu kesalahan kecil saja akan membuat pesawatnya menjadi tumpukan besi tua yang terkubur selamanya. Namun, terbang rendah adalah satu-satunya cara agar tanda panas mesinnya yang kuno tersamarkan oleh pantulan radiasi dari permukaan es. Satelit The Hage emon di atas sana sedang menyisir langit dengan sensor inframerah yang mampu mendeteksi korek api yang menyala di tengah hutan; tapi mereka tidak siap menghadapi "hantu" yang terbang di antara celah-celah glacier.

Adam melirik ke kursi penumpang di belakangnya. Di sana, data drive perak itu masih terpasang pada komputer portabelnya. Layar monitor menampilkan data yang semakin mengerikan saat ia semakin mendekati koordinat Station Zero.

Ternyata, elit global tidak hanya membangun bunker. Mereka membangun sebuah ekosistem mandiri yang disebut "The Garden of Eden 2.0". Data itu menunjukkan bahwa di bawah lapisan es Ross yang tebalnya mencapai ratusan meter, terdapat sebuah kubah raksasa yang ditenagai oleh reaktor nuklir cair. Di sanalah "Benih" manusia baru itu dipelihara. Mereka bukan hanya bayi dalam tabung; mereka adalah manusia yang sejak sel pertama telah diprogram dengan "Protokol Kepatuhan".

"Mereka ingin menghapus konsep 'kesalahan'," bisik Adam. "Karena bagi mereka, kesalahan adalah awal dari ketidakpatuhan. Dan tanpa ketidakpatuhan, tidak akan ada kebebasan."

Pikirannya melayang kembali pada Liora. Di mana dia sekarang? Apakah dia masih hidup di ruang interogasi Ate gard? Ataukah dia sudah menjadi bagian dari data yang dihapus? Adam merasakan amarah yang dingin mulai membeku di dadanya, sekeras es di luar sana. Amarah itu memberinya kekuatan untuk terus memacu mesin pesawatnya hingga batas maksimal.

Tiba-tiba, radar primitif di kokpitnya berbunyi tut... tut... tut... dengan nada yang semakin cepat.

"Tidak mungkin," Adam membelalak.

Di depan sana, menembus kabut salju yang pekat, muncul dua siluet ramping yang membelah udara dengan kecepatan supersonik. Inter sektor X-1. Pesawat tempur tanpa awak tercanggih milik elit. Mereka tidak butuh pilot; mereka dikendalikan oleh AI yang memiliki kalkulasi tempur sempurna.

"Mereka sudah tahu aku akan datang," Adam mengumpat.

Kedua drone tempur itu mengunci sasaran. Sebuah laser merah tipis menyapu kaca kokpit Adam. Tanpa membuang waktu, Adam menarik tuas tajam, melakukan manuver barrel roll yang sangat berbahaya bagi pesawat kargo tua tersebut. Suara logam berderit menyayat telinga, seolah pesawat itu akan pecah berkeping-keping.

BOOM!

Sebuah rudal pencari panas meluncur melewati sayap kiri pesawat Adam, meledak di bukit es di bawahnya dan menciptakan longsoran salju raksasa. Guncangan ledakan itu membuat Adam terlempar di kursinya, kepalanya menghantam jendela hingga berdarah.

"Kau ingin bermain logika mesin, Silas?" Adam berteriak pada kekosongan, meski ia tahu Silas asli sudah tiada, namun algoritmanya masih menghantui langit. "Mari kita lihat apakah mesinmu bisa memprediksi kegilaan manusia!"

Adam mematikan sistem navigasi otomatis. Ia melakukan sesuatu yang dianggap bunuh diri oleh semua pilot: ia menukikkan pesawatnya masuk ke dalam celah sempit di antara dua gunung es raksasa yang dikenal sebagai The Devil’s Throat.

Drone-drone tempur itu mengikuti dengan presisi tinggi. Namun, di dalam celah sempit yang dipenuhi arus angin yang tak beraturan, logika AI mulai kesulitan. AI menghitung probabilitas keselamatan, sementara Adam hanya menghitung satu hal: iman.

Adam mematikan mesin pesawat sepenuhnya. Kesunyian seketika menyerbu. Hanya ada suara angin yang melolong melewati celah sayap. Pesawat itu kini meluncur seperti elang yang sedang menukik mati.

Salah satu drone tempur, dalam upaya untuk menghindari tabrakan dengan dinding es yang menjorok, melakukan manuver yang terlalu tajam. Karena kecepatan yang terlalu tinggi dan kurangnya "insting" akan turbulensi angin dingin, drone itu menghantam dinding es dan meledak menjadi bola api yang indah di tengah putihnya Antartika.

Satu drone tersisa. Ia terus membuntuti Adam, moncong senjatanya mulai menyala, bersiap memberondong pesawat kargo itu.

Namun, di ujung celah Devil’s Throat, Adam melihat sesuatu yang tidak terduga. Sebuah lubang raksasa di permukaan es sebuah pintu masuk menuju perut bumi yang tidak tertutup salju. Dari lubang itu, memancar cahaya keunguan yang hangat.

"Itu dia... Station Zero," gumam Adam.

Dengan sisa momentum luncurannya, Adam menyalakan mesin kembali di detik-detik terakhir. Suara mesin Albatross menggelegar kembali, mengeluarkan asap hitam yang pekat. Ia mengarahkan pesawatnya langsung ke lubang itu.

Drone tempur di belakangnya melepaskan tembakan beruntun. Peluru-peluru menembus ekor pesawat Adam. Alarm kebakaran berbunyi. Asap mulai memenuhi kokpit.

"Ayo... jangan sekarang..." Adam mendorong tuas gas hingga mentok.

Saat pesawatnya melewati ambang lubang es, ia merasa seperti melewati sebuah tirai elektromagnetik. Seluruh instrumen elektronik di kokpitnya mati seketika. Drone tempur di belakangnya pun sama; kehilangan kendali dan menghantam pinggiran lubang es, meledak di atas sana.

Pesawat Adam kini terjatuh bebas ke dalam lubang yang nampak seperti lorong menuju inti bumi. Namun, jatuhnya tidak secepat yang ia bayangkan. Ada sebuah medan gravitasi buatan yang menahan laju pesawatnya.

Saat ia semakin dalam, pemandangan di luar jendela berubah secara drastis. Es menghilang. Berganti dengan dinding-dinding batu purba yang diukir dengan relief yang tidak dikenal oleh sejarah manusia. Dan di bawah sana, sebuah pemandangan yang akan membuat siapa pun kehilangan kata-kata.

Sebuah hutan raksasa. Di bawah tanah.

Pohon-pohonan dengan daun yang memancarkan cahaya bioluminesensi tumbuh subur, mengelilingi sebuah piramida kaca raksasa yang menjadi pusat dari segala aktivitas. Di sana, Adam melihat kendaraan-kendaraan terbang yang tidak memiliki baling-baling, bergerak sunyi di antara struktur bangunan yang nampak seperti perpaduan antara teknologi masa depan dan arsitektur kuno.

"Ini bukan sekadar bunker," Adam terperangah. "Ini adalah peradaban yang disembunyikan."

Pesawatnya mendarat dengan kasar di sebuah padang rumput biru di dekat piramida tersebut. Sayap pesawatnya patah, mesinnya mati total dengan sisa asap yang mengepul. Adam keluar dari kokpit, jatuh terduduk di atas tanah yang terasa hangat. Ia melepas helmnya, menghirup udara yang terasa sangat segar—lebih segar daripada udara di puncak pegunungan mana pun. Udara itu mengandung aroma bunga yang sudah punah ribuan tahun lalu.

Di depannya, berdiri sekelompok orang. Namun mereka tidak nampak seperti pasukan elit Hage emon. Mereka mengenakan jubah putih sederhana. Wajah mereka nampak tenang, namun mata mereka memancarkan kecerdasan yang sangat dalam.

Di tengah kelompok itu, seorang wanita tua melangkah maju. Ia memegang sebuah tongkat kayu yang nampak biasa, namun ujungnya bercahaya mengikuti detak jantung bumi.

"Selamat datang, Arsitek," suara wanita itu lembut, namun berwibawa. "Kami sudah menunggumu sejak kau melepaskan Jangkar di laut."

Adam berdiri, tangannya tetap menggenggam data drive itu. "Siapa kalian? Apakah kalian bagian dari The Hage emon?"

Wanita itu tersenyum sedih. "Kami adalah para penjaga yang mereka khianati. Kami adalah mereka yang percaya bahwa pengetahuan harus digunakan untuk melayani kehidupan, bukan mengontrolnya. Elit yang kau kenal... mereka hanyalah pencuri yang mencoba mencuri teknologi nenek moyang kita untuk kepentingan ego mereka."

Adam menatap piramida di belakang mereka. "Di dalam sana... apakah itu tempat mereka membuat manusia baru?"

"Bukan manusia baru, Adam. Di dalam sana adalah tempat mereka mencoba mematikan jiwa manusia asli. Mereka menyebutnya 'Benih', tapi kami menyebutnya 'Penjara'."

Tiba-tiba, bumi di bawah kaki mereka bergetar. Sebuah suara gemuruh terdengar dari arah langit-langit gua raksasa itu.

"Mereka sudah datang," kata wanita itu, wajahnya berubah serius. "Mereka tidak akan membiarkanmu memberikan rahasia ini kepada kami. Pasukan pembersihan Ate gard sudah menembus lapisan es."

Adam menatap ke atas. Dari lubang masuk tadi, puluhan kapsul tempur mulai berjatuhan seperti hujan meteor hitam.

"Apa yang harus kulakukan?" tanya Adam.

Wanita itu memberikan tongkat kayunya kepada Adam. "Gunakan frekuensi yang kau pelajari di laut. Bukan frekuensi mesin, tapi frekuensi niat. Jika kau ingin menyelamatkan manusia, kau harus berani melepaskan kemanusiaanmu yang lama dan menjadi sesuatu yang lebih."

Adam menerima tongkat itu. Saat tangannya menyentuh kayu tersebut, ia merasakan aliran energi yang sangat besar masuk ke dalam tubuhnya. Ingatannya tentang kode, angka, dan algoritma mulai memudar, digantikan oleh pemahaman tentang aliran energi alam semesta.

Babak baru telah dimulai. Bukan lagi tentang teknologi melawan teknologi, tapi tentang kesadaran melawan perbudakan. Di bawah es Antartika, perang untuk memperebutkan jiwa manusia akan segera mencapai puncaknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!