NovelToon NovelToon
Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Angkara Murka : Kebangkitan Putri Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Fantasi Wanita / Balas dendam pengganti
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: MellaMar

Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.

Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.

Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.


Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?

Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?

Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?


Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️


Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Day-4

Aira di masukkan ke dalam penjara secara paksa. ia berusaha meronta dengan sekuat tenaga. "Lepaskan aku!".

para prajurit tak mendengar rengekan Aira. Mereka berlalu pergi setelah menjalankan tugas.

Aira terus berusaha melepaskan lilitan ilmu sihir milik Magnitius. Ia kerahkan energinya agar bisa kembali keluar dari dalam penjara.

"Kau hanya akan membuang energimu secara cuma-cuma,nona Aira". ucap seseorang yang suaranya sangat familiar bagi Aira.

Aira menoleh ke arah suara. ia terkejut setelah tahu siapa yang mengajaknya berbicara. "Tabib Elian?" . ucap Aira "kenapa tabib ada di sini?"

Tabib Elian terkurung di sel penjara di sampingnya. Penjara di kerajaan vampir adalah tempat yang gelap dan menakutkan. Dinding-dindingnya terbuat dari batu hitam yang lembab, dan udara di dalamnya terasa berat dengan energi negatif. Suara-suara aneh dan jeritan-jeritan kesakitan terdengar dari dalam sel-sel penjara, membuat Aira merasa merinding.

Tabib Elian tersenyum, mempertontonkan ketampanannya pada Aira. "Karena menyelamatkanmu". jawabnya singkat.

Kening Aira mengerut. "karena menyelamatkanku?" gumam Aira

"kamu tidak salah mendengar, nona". timpal tabib Elian. "raja vampir yang memenjarakanku setelah tahu bahwa yang aku tolong adalah bangsa manusia yang memiliki kekuatan luar biasa dan akan mampu melenyapkannya".

Aira mendengarkan penuturan tabib dengan seksama. "jadi, Magnitius yang melakukan ini?".

Tabib Elian tersenyum simpul. " Magnitius bukanlah raja yang sebenarnya. Dia hanya dijadikan boneka oleh raja vampir yang asli, karena sang raja tahu bahwa kamu akan datang dan mengacaukan rencananya"

Aira semakin terkejut mendengarnya. "aku? kenapa harus aku? aku tidak melakukan apapun". ujar Aira tak terima. "kenapa semuanya menjadi sangat rumit? aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk membalaskan dendamku pada raja Ignis!".

"ini tidak rumit, nona Aira. ini berjalan seperti takdir yang Dewa langit berikan padamu". timpal tabib Elian

"lalu apa yang harus aku lakukan setelah ini? besok hari ke empat di mana aku harus menyelesaikan masa berlatihku. aku ingin kekuatanku kembali dan aku memiliki energi yang besar untuk mengalahkan raja Ignis".

"jangan khawatir nona, sebentar lagi Magnitius akan datang dan melepaskan ikatanmu". ujar tabib Elian.

Aira menatap tabib Elian dengan tatapannya skeptis. " Bagaimana tabib tahu?".

" apa kamu lupa nona? meskipun aku terlihat muda, tetapi aku adalah pemimpin di kota penyihir". tabib berbangga diri.

Aira mengangguk faham, ia sedikit takjub dengan kemampuan yang dimiliki oleh tabib Elian. "Lalu, siapa raja vampir yang sebenarnya?".

 Tabib Elian menggelakkan kelapanya. " jangankan aku, anggota kerajaan saja tidak tahu siapa raja yang asli". jawabnya

Aira benar-benar dibuat mati karena penasaran. Ia ingin terus bertanya dengan pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Namun ia urungkan niatnya setelah melihat Magnitius datang. Sontak saja Aira menoleh ke arah Tabib Elian. "prediksi tabib Elian sangat tepat. Siapa sebenarnya tabib Elian, aku sangat penasaran". batin Aira

 Prajurit membukakan pintu penjara untuk Maginitius masuk.Magnitius masuk ke dalam penjara dengan wajah yang sombong. "Aira, bagaimna dengan kamar barunya?". Katanya.

Aira tersenyum, "Magnitius, berhenti bersikap angkuh!. Sebaiknya persiapkan dirimu untuk menghadapi raja vampir yang asli!."

Magnitius menggeram, "Tutup mulutmu, Aira! Kamu tidak tahu apa-apa!"

Aira memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya, "Magnitius, siapa raja vampir yang asli?"

Magnitius tertawa, "Hahaha, kamu tidak akan pernah tahu, Aira. Kamu hanya akan menjadi korban berikutnya dari raja vampir yang asli."

 "Magnitius, lepaskan ikatanku sekarang juga.". Decak Aira.

Kemudian Magnitius mendekatkan wajahnya ke arah telinga Aira. Dan membisikkan sesuatu. Raut wajah Aira yang terkejut berubah menjadi marah mendengar kalimat terakhir dari mulut Magnitius.

"Dimana Nocturna dan adikmu, Lyra. Dimana mereka?". Teriak Aira.

"Aku akan mempersembahkan mereka malam ini, sebagai tawaaran yang sangat spesial." . Ucap Magnitius kemudian tertawa. "Dan kau! Jangan pernah berani untuk melawanku, bagaimanapun aku yang paling kuat di sini "

"Baiklah, aku percaya. Lepaskan ikatan ini! Aku kesusahan untuk bergerak!". Pints Aira ulang

Magnitius mengangkat tangannya, dan ikatan sihir yang melilit Aira terlepas. Aira merasa energinya kembali, dan dia siap menghindar dari Magnitius.

"Aku akan kembali menemuimu Aira. Kita akan bertemu di altar pernikahan, dan aku akan menikahimu dimalam ke tiga setelah persembahan". Ujar Magnitius kemudian pergi meninggalkan penjara.

Aira menghela nafas kasar, menahan seluruh amarahnya. " Magnitius benar-benar kejam". Umpatnya.

"Tahan dirimu nona Aira. Kau bisa membalasnya saat di bebaskan nanti". Timpal Tabib Elian.

" Jadi, tabib menyuruhku untuk menikahi monster itu? Cih...tidak akan!". Decak Aira

...

Keesokan harinya, Aira masih terjaga. Ia tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak. Aira berjalan mondar-mandir di dalam sel tahanan, Air mukanya penuh dengan kekhawatiran."Bagaimana ini? Aku harus terus berlatih!" Batin aira

Tak lama kemudian, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki. Tapi kali ini sangat ramai. Aira sangat penasaran dengan siapa yang akan datang.

Datanglah para prajurit mengantarkan beberapa tahanan ke dalam sel yang sama dengan Aira. "Hei! Kenapa dimasukkan kesini semuanya? Ruangan ini terlalu kecil!". Teriak Aira tak terima.

Namun tetap saja usahanya untuk bernegosiasi dengan prajurit tak pernah di gubris. "menyebalkan!". Decaknya

Aira menatap semua orang yang baru masuk. "Apa? Berhenti melihatku seperti itu".

Baru saja Aira tutup mulut, prajurit kembali membawa banyak sekali tahanan yang di masukkan ke sel tahanan lain, termasuk sel tempat tabib Elian berada.

"Sebenarnya ada apa ini". Pikir Aira.

Aira mengingat sesuatu, ia segera duduk bersandar pada dinding sel dan memejamkan matanya. Bibirnya mengucapkan mantra sihir dengan sangat pelan.

Hari ke empat adalah hari di mana Aira harus bisa menguasai mantra sihir dari Ventus, kakak keduanya. Kemudian di hari kelima, Aira harus menguasai mantra sihir Aviaria, di hari berikutnya milik ratu Avia dan di hari terakhir sebelum kristal itu redup, Aira harus mampu menerima energi yang besar milik sang ayahanda, raja Skypia.

Aira fokus pada mantra sihirnya, mencoba untuk mengabaikan keributan di sekitarnya. Ia telah melakukannya sampai selesai. Dia tahu bahwa dia harus menguasai mantra sihir Ventus hari ini, jika tidak, dia tidak akan bisa melanjutkan latihannya.

Sementara itu, para tahanan baru yang dimasukkan ke dalam sel mulai memperkenalkan diri. Ada seorang lelaki tua yang mengaku sebagai seorang penyihir, ada seorang gadis muda yang mengaku sebagai seorang pejuang, dan ada juga seorang lelaki yang mengaku sebagai seorang bangsawan.

Aira membuka matanya, memandang sekeliling. Dia melihat seorang gadis muda yang sedang berbicara dengan lelaki tua penyihir itu. Aira memutuskan untuk bergabung dengan mereka.

"Apa yang kalian bicarakan?" Aira bertanya, sambil duduk di sebelah penyihir itu.

Seorang gadis memperkenalkan diri pada Aira. Nama gadis pejuang itu adalah Liana. Dia adalah seorang pejuang yang kuat dan berani, dengan rambut pendek hitam dan mata yang tajam.

"Penyihir tua ini, Eren, sedang memberitahu aku tentang situasi di luar," Liana menjawab. "Sepertinya ada sesuatu yang besar terjadi di kerajaan vampir."

Aira mendengarkan dengan seksama, sementara Eren melanjutkan penjelasannya. "Raja vampir yang asli sedang mengumpulkan kekuatan, dan dia tidak akan berhenti sampai dia mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Raja vampir yang asli memiliki kekuatan yang sangat besar, dan dia tidak akan ragu untuk menggunakan kekuatannya untuk menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya."

Liana mengangguk, "Aku tahu. Aku telah melihat tanda-tanda itu. Raja vampir yang asli sedang mencari sesuatu, sesuatu yang bisa membuatnya menjadi lebih kuat."

Aira merasa penasaran, "Apa itu? Apa yang dia cari?"

Eren tersenyum, "Itu adalah rahasia yang hanya diketahui oleh sedikit orang. Tapi aku bisa memberitahu kamu, Aira, bahwa kamu memiliki hubungan dengan apa yang dia cari."

Aira merasa jantungnya berdetak lebih cepat, "Apa maksudmu?"

Eren melirik sekeliling, memastikan bahwa tidak ada orang lain yang mendengarkan. "Kamu memiliki darah Skypia, Aira. Dan raja vampir yang asli ingin mendapatkan kekuatan itu untuk dirinya sendiri."

Aira merasa seperti dipukul di perut. Darah Skypia? Apa artinya itu?

Tabib Elian meletakkan tangan di bahu Aira, "Jangan khawatir, Aira. Kami akan melindungi kamu. Kami tidak akan membiarkan raja vampir yang asli mendapatkan apa yang dia inginkan."

"Kenapa kalian ingin membantuku?". Aira sedikit ragu dengan semua orang.

"Karena kami sebagai penyihir tahu, bahwa kaulah bintang kerajaan di masa kejayaan Kerajaan Es. Dan kamu yang akan bisa menghancurkan Raja Ignis". Jelas Eren.

"Kau tahu Aira? Jika raja vampir berhasil menghisap darahmu, maka dia bisa bekerjasama dengan raja Ignis untuk menghancurkan dunia, dan mendirikan dunia kegelapan". Sambungnya

Aira semakin terkejut mendengarnya, namun sekarang ia merasa sedikit lebih tenang. Dia harus siap untuk melindungi dirinya sendiri dan orang-orang yang mendukungnya.

"Tapi tuan Eren, apakah kau mengenal tabib Elian dari kota penyihir?". Tanya Aira berbisik.

Kening keriput Eren semakin mengerut mendengar pertanyaan Aira. Ia mencoba mengingat nama yang Aira sebutkan.

"El'goroth adalah kota kecil yang seluruh penduduknya merupakan penyihir, kota itu ada di perbatasan gunung ini dan gunung es. Tapi aku tidak pernah mendengar nama itu di El'goroth. Atau mungkin di kota yang lain? ". Jawab Eren.

Aira hanya mengangguk faham. Isi kepalanya terasa seperti akan meledak! Ia terlalu banyak berfikir.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!