NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Niat Tersembunyi di Balik Senyum

Malam turun perlahan, menyelimuti penginapan kecil di kaki Gunung Sungai Ular dengan kegelapan yang pekat. Lampu minyak di lorong kayu berkelip pelan, memantulkan bayangan panjang yang menari-nari di dinding, seolah menyimpan rahasia yang tak terucap. Angin dingin pegunungan mendesing tipis, menyentuh jendela kamar dengan sentuhan beku yang gigil.

Di dalam kamar paling ujung, Wang Long duduk bersila di atas ranjang kayu sederhana. Punggungnya tegak, memancarkan wibawa yang tak tergoyahkan meski dalam kesendirian. Kotak hitam panjang—Pusaka Naga Sembilan Langit—bersandar tenang di dinding, terikat kain gelap yang menyembunyikan keagungannya.

Napas Wang Long mengalir perlahan, seirama dengan detak jantung alam. Tenaga dalamnya mengalir stabil, mengisi setiap meridian dengan kehangatan murni. Beberapa saat kemudian, ia membuka mata, menatap kekosongan ruangan dengan sorot mata yang dalam.

Ia memandang kotak hitam itu sejenak. “Aku belum siap membukamu,” gumamnya pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam sunyi malam.

Lalu ia berbaring, membiarkan tubuhnya beristirahat. Tak lama kemudian, napasnya menjadi teratur. Ia tertidur, namun dalam kewaspadaan batin seorang pendekar tingkat tinggi.

Bayangan Putih di Jendela

Di luar jendela, sebuah bayangan tipis bergerak tanpa suara, selincah kucing hutan di kegelapan. Yue Lan muncul. Pakaian peraknya yang biasa berkilau kini dibalut kain gelap agar tak memantulkan cahaya bulan yang pucat. Wajahnya yang biasanya dihiasi senyum genit kini tampak tegang; hanya ada tekad yang dipaksakan dan kegelisahan yang menyayat batinnya.

“Maafkan aku,” bisiknya pelan, suaranya terbawa angin.

Ia mengingat kembali gema suara di sebuah aula rahasia. Suara yang dalam, berat, dan penuh wibawa yang menekan. Itu adalah suara Ketua Perguruan Sungai Ular.

“Ambil hatinya. Dekati dia. Jika perlu, gunakan pesonamu,” perintah sang Ketua hari itu. Yue Lan menggigit bibir bawahnya hingga memucat saat bayangan perintah itu kembali muncul. “Tapi… jika ada kesempatan… bawa pusaka itu padaku.”

Janji yang ditawarkan padanya terus berdengung seperti lebah di telinganya: “Jabatan Sesepuh Muda. Kedudukan tinggi. Masa depan Sekte Bulan Perak akan bergantung padamu.”

Yue Lan bukan wanita bodoh yang mudah dikelabui. Ia tahu ini bukan sekadar urusan hormat antar perguruan. Ini adalah ambisi berdarah. Dan ia dipilih karena kecantikannya, karena kemampuannya memikat hati pria manapun yang ia inginkan.

Dengan gerakan seringan kapas, ia melompat melewati jendela yang tak terkunci, mendarat di lantai kamar tanpa suara sedikit pun. Wang Long masih tertidur di atas ranjang. Napas pemuda itu terasa dalam dan tenang, seolah tak menyadari maut yang menyelinap.

Yue Lan berdiri di sisi ruangan, mematung sejenak. Matanya perlahan tertuju pada kotak hitam itu. Kotak sederhana, namun aura samar yang memancar darinya membuat kulit Yue Lan merinding hebat.

“Itu dia… Pusaka Naga Sembilan Langit…” batinnya bergejolak. Tangannya perlahan terulur ke depan, jemarinya bergetar. “Kalau aku berhasil… hidupku akan berubah.”

Ia melangkah mendekat dengan sangat hati-hati. Satu langkah… dua langkah… tiga langkah—

Tiba-tiba, udara di kamar itu seakan membeku. Dada Yue Lan terasa seperti ditusuk ribuan jarum panas yang membara seketika.

“Gh—!” Ia tercekik, napasnya terputus.

Begitu ujung jarinya hampir menyentuh permukaan kotak, sebuah ledakan energi tak terlihat menghantam tubuhnya dengan kekuatan dahsyat.

BRAK!

Tubuh ramping itu terlempar ke dinding kayu hingga retak. Darah segar menyembur dari bibirnya, menodai kain penutup wajahnya. Tenaga dalamnya seketika kacau balau, berbenturan di dalam dada. Jantungnya terasa diremas oleh tangan raksasa yang tak kasat mata.

“Ini… bukan segel biasa…” rintihnya dengan suara serak. Kotak hitam itu berdengung halus, mengeluarkan nada rendah yang bergetar seolah sedang menolak kehadiran orang asing. Seolah sedang menghakimi niat jahat.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka keras hingga membentur dinding. Sin Yin berdiri di ambang pintu, jubahnya berkibar dan tatapannya sedingin es kutub.

“Jadi benar… kau datang bukan sekadar melihat,” ucap Sin Yin dengan nada penuh penghinaan.

Yue Lan berusaha bangkit dengan sisa tenaganya, namun tubuhnya gemetar hebat. Tenaga dalamnya benar-benar hancur berantakan akibat benturan tadi. Sin Yin segera menarik pedangnya dari sarung. Kilau baja Bulan Senja memantul di bawah cahaya lampu minyak yang temaram.

“Kau berani menyentuh pusaka itu?” tanya Sin Yin. Suaranya rendah, namun mengandung niat membunuh yang sangat pekat, membuat udara di kamar itu terasa semakin berat.

Yue Lan tersenyum pahit, darah masih mengalir di sudut bibirnya yang pucat. “Jadi… kau memang menjaganya,” sahutnya dengan nada menyerah.

Sin Yin melangkah mendekat dengan tatapan yang tak pernah lepas dari lawan di depannya. Pedangnya kini sudah menempel di depan leher Yue Lan, hanya butuh satu sentakan untuk mengakhiri nyawa wanita perak itu.

“Jawab sebelum aku mengakhiri hidupmu,” ancam Sin Yin dengan rahang yang mengeras.

Tepat pada saat itu, Wang Long membuka mata dengan ketenangan yang luar biasa. Ia duduk perlahan di atas ranjang, menatap situasi tegang itu tanpa ada rasa terkejut sedikit pun di wajahnya.

“Turunkan pedangmu, Sin Yin,” perintah Wang Long lembut namun tegas.

Sin Yin tidak bergerak, tangannya tetap kokoh menggenggam hulu pedang. “Dia datang mencuri pusakamu!” serunya dengan emosi yang meluap.

“Aku tahu,” jawab Wang Long pendek.

Jawaban itu membuat keduanya terdiam seketika. Sin Yin menoleh cepat ke arah Wang Long, matanya membelalak tak percaya. “Kau tahu?”

Wang Long berdiri dari ranjangnya. Ia melangkah mendekat ke arah mereka dengan gerakan yang mantap. “Begitu dia menyentuh segel, pusaka itu bereaksi,” jelasnya sambil menatap Yue Lan yang bersandar lemah di dinding. “Kau terluka dalam.”

Yue Lan tertawa kecil, suara tawanya terdengar getir saat darah masih mengalir di bibirnya. “Jadi kau memang tidak sepenuhnya tertidur…”

“Pendekar tidak pernah tidur tanpa waspada,” sahut Wang Long tenang.

Sin Yin menggertakkan gigi, kemarahannya terasa membubung tinggi. “Kenapa kau tidak membiarkannya mati saja?”

Yue Lan menutup mata sejenak, wajahnya menyiratkan rasa malu yang mendalam. “Aku gagal… hukum aku,” ucapnya pasrah.

Ujung pedang Sin Yin bergetar tipis, emosinya tak stabil. Namun, dengan langkah pasti, Wang Long berdiri tepat di antara mereka berdua, menghalangi jalur pedang Sin Yin.

“Turunkan pedangmu,” ulang Wang Long sambil menatap mata Sin Yin.

“Kau membelanya?!” nada suara Sin Yin naik satu tingkat, penuh dengan kekecewaan. Untuk pertama kalinya, ada rasa sakit nyata yang terpancar dari matanya. “Dia datang mencuri pusakamu, Wang Long!”

“Dan pusaka itu sendiri menolaknya,” jawab Wang Long dengan logika yang tak terbantahkan.

“Jadi kau kasihan padanya?!” seru Sin Yin, suaranya mulai bergetar.

Wang Long menatap Sin Yin dalam-dalam, mencoba menyalurkan ketenangan melalui tatapannya. “Kalau aku ingin membunuhnya, aku sudah melakukannya saat ia masuk.”

Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara napas Yue Lan yang terengah. Perlahan, pedang di tangan Sin Yin turun ke samping. Namun wajah gadis itu memerah padam; bukan hanya karena amarah, tapi karena api cemburu yang membakar batinnya.

Wang Long kemudian berlutut di depan Yue Lan yang terkulai. “Duduk bersila,” perintahnya pelan.

Yue Lan menatap Wang Long dengan tatapan bingung dan ragu. “Kau… akan menolongku?”

“Kalau tidak, meridianmu akan hancur,” jawab Wang Long tanpa basa-basi.

Sin Yin memalingkan wajah ke arah lain, tak sanggup melihat pemandangan itu. Dadanya terasa kembali panas, sebuah sesak yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.

Wang Long kemudian menempelkan telapak tangannya di punggung Yue Lan. Dalam sekejap, tenaga naga yang hangat dan murni mengalir masuk ke tubuh Yue Lan, memperbaiki alur tenaga dalam yang kacau. Yue Lan terlonjak kaget, matanya membesar. “Energi ini…”

“Diam dan atur napasmu,” potong Wang Long tegas.

Sin Yin menyaksikan dari sudut matanya. Ia melihat bagaimana tatapan Yue Lan pada Wang Long perlahan berubah; tidak ada lagi kilat genit di sana, melainkan sebuah kekaguman yang dalam dan tulus. Dan hal itu justru membuat Sin Yin merasa semakin tidak nyaman.

“Kenapa kau baik padanya?” tanya Sin Yin akhirnya, suaranya terdengar lirih.

Tanpa menoleh sedikit pun, Wang Long menjawab pelan, “Karena ia tidak datang atas kemauannya sendiri.”

Yue Lan membuka mata perlahan, wajahnya tampak lebih segar namun matanya berkaca-kaca. Air mata tipis muncul di sudut matanya. “Aku… memang diperintahkan.”

Sin Yin mendengus dingin, masih dengan posisi membelakangi mereka. “Siapa? Sekte Bulan Perak?”

Yue Lan menggeleng lemah, suaranya bergetar. “Bukan hanya itu…” Ia menatap Wang Long dengan penuh penyesalan. “Ketua Perguruan Sungai Ular.”

Mendengar itu, keduanya terdiam. Sebuah konspirasi yang lebih besar mulai terkuak.

“Dia berbicara dengan ketuaku. Mereka ingin… memastikan pusaka itu tidak jatuh ke tangan lain,” lanjut Yue Lan.

“Dan caranya dengan mencurinya dariku?” tanya Wang Long dengan nada tenang yang justru terasa menekan.

Yue Lan mengangguk lemah. “Jika aku berhasil, aku dijanjikan jabatan Sesepuh Muda.”

Sin Yin mencibir dengan nada menghina. “Jadi kau rela mengkhianati hati demi jabatan?”

Yue Lan tertawa pahit, sebuah tawa yang penuh dengan penyesalan diri. “Di dunia sekte, posisi adalah segalanya.”

Wang Long menarik tangannya perlahan, merasakan luka dalam Yue Lan sudah stabil. “Kenapa kau jujur sekarang?” tanya Wang Long sambil berdiri.

Yue Lan menatap pemuda di depannya dengan tatapan yang sangat dalam. “Karena pusaka itu… menolakku.” Ia tersenyum lemah, sebuah senyum yang tulus tanpa maksud terselubung. “Dan kau… tetap menolongku.”

Sin Yin berjalan mendekat dengan langkah yang tegas, menatap Yue Lan dengan mata tajam yang seolah ingin menusuk sukma. “Jangan salah paham. Dia menolongmu bukan karena tertarik padamu,” ucapnya penuh penekanan.

Yue Lan menoleh ke arah Sin Yin. “Aku tahu.” Lalu ia kembali memandang Wang Long. “Justru itu yang membuatnya berbeda.”

Sin Yin merasa dadanya kembali memanas, amarahnya hampir meledak kembali. “Kalau kau masih memandangnya seperti itu, aku benar-benar akan membunuhmu,” ancamnya dengan tangan yang kembali menggenggam hulu pedang.

Wang Long segera berdiri tegak di antara mereka. “Cukup.”

Ia menatap Yue Lan dengan tegas. “Kembalilah. Katakan pada mereka—pusaka ini tidak bisa dicuri.”

Yue Lan berdiri perlahan, meski tubuhnya masih terasa lemas. “Kau tidak takut mereka mengirim orang yang lebih kuat?”

Wang Long menjawab dengan nada yang begitu tenang namun mengandung kekuatan yang menggetarkan ruangan, “Aku memang sedang menunggu.”

Hening menyelimuti kamar itu selama beberapa saat. Yue Lan kemudian menunduk dalam-dalam, memberikan penghormatan tertinggi kepada Wang Long. “Aku berutang nyawa padamu.”

Sin Yin menyela dengan cepat, suaranya ketus. “Utang itu tidak perlu dibayar dengan tatapan genit lagi.”

Untuk pertama kalinya, Yue Lan tersenyum dengan cara yang benar-benar tulus, sebuah senyum yang mengakui kekalahannya secara terhormat. “Baik. Aku mengerti.”

Dengan sekali gerakan, ia melompat keluar jendela dan menghilang di balik kegelapan malam. Ruangan itu kembali sunyi.

Api yang Masih Membara

Kamar kembali sepi, hanya menyisakan aroma kayu tua dan lampu minyak yang mulai meredup. Namun suasana di antara Wang Long dan Sin Yin belum sepenuhnya reda. Sin Yin berdiri membelakangi Wang Long, bahunya sedikit bergetar.

“Kau terlalu baik,” ucap Sin Yin dengan nada yang sarat akan kekhawatiran.

“Apakah itu kesalahan?” tanya Wang Long lembut.

“Ya,” jawab Sin Yin singkat. Ia berbalik, menatap Wang Long dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu minyak. “Kau tidak tahu bagaimana wanita memandangmu.”

Wang Long melangkah mendekat, mencoba menenangkan kegelisahan gadis itu. “Kau terlalu memikirkannya.”

“Karena aku tidak ingin kehilanganmu,” kalimat itu keluar begitu saja dari bibir Sin Yin. Spontan, tulus, dan tanpa mampu ia tahan lagi.

Suasana menjadi hening seketika. Wang Long menatap Sin Yin dengan sorot mata yang melunak, penuh dengan kelembutan yang jarang ia tunjukkan.

“Kau tidak akan kehilangan sesuatu yang tidak pernah berpaling,” ucap Wang Long dengan suara rendah yang menenangkan jiwa.

Sin Yin menggigit bibirnya, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dadanya. “Kalau suatu hari kau memilih jalan besar sebagai Master Naga… apakah kau masih akan berdiri di sisiku?”

Wang Long tidak menjawab dengan kata-kata yang rumit. Ia mengangkat tangannya, lalu dengan sangat lembut menyentuh kening Sin Yin menggunakan jari-jarinya. “Kalau kau masih mau berdiri di sisiku.”

Sin Yin terdiam, merasakan kehangatan dari sentuhan itu merambat ke seluruh tubuhnya. Ia perlahan tersenyum, sebuah senyum lega yang menghapus mendung di wajahnya.

Namun, di luar penginapan, di bawah naungan bayangan atap yang gelap, sepasang mata lain sedang mengamati mereka dengan penuh kebencian. Sosok itu bukan Yue Lan, bukan pula orang dari Perguruan Sungai Ular. Melainkan pembunuh bayangan yang telah lama mengintai, menunggu saat yang paling tepat untuk meluncurkan serangan maut.

Tangannya perlahan meraba belati beracun di pinggangnya. Malam berikutnya, darah mungkin benar-benar akan tumpah membasahi bumi.

Bersambung....

1
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!