Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Sekeluarga Isinya Orang Bobrok
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat foto suaminya terpampang besar di layar dengan tajuk berita berwarna merah menyala: "DINASTI HOLLAND: DERMAWAN ATAU PREDATOR?"
Narasi sang penyiar berita terdengar tajam, tanpa sensor.
"Bukan hanya pemutusan kontrak sepihak dari Blackwood Group yang mengguncang lantai bursa pagi ini," ujar sang penyiar dengan nada dingin. "Sebuah dokumen anonim yang bocor ke publik mengungkap sisi gelap keluarga Holland yang selama ini terkubur rapat di balik kemewahan mereka."
Layar berganti menunjukkan foto-foto eksklusif Mrs. Holland di sebuah kasino bawah tanah di Macau. Ia terlihat tertawa histeris dengan tumpukan chip bernilai jutaan dolar di depannya.
"Mrs. Holland, yang dikenal sebagai aktivis sosial, ternyata merupakan pecandu judi kelas berat," lanjut narasi tersebut.
Belum sempat Mrs. Holland memproses rasa malunya, layar kembali berganti. Kali ini lebih mengerikan. Foto-foto Mr. Holland dalam kondisi mabuk berat di sebuah kelab malam, dikelilingi oleh wanita-wanita penghibur, muncul silih berganti. Namun, bom atom yang sesungguhnya baru saja diledakkan.
"Yang paling mengejutkan adalah kesaksian dari program 'Holland’s Angels', sebuah yayasan beasiswa yang selama ini dipuja sebagai bukti kedermawanan Holland Group bagi anak yatim piatu berprestasi. Lima orang remaja putri muncul ke publik pagi ini, memberikan kesaksian serupa bahwa di balik kedok sponsor pendidikan, Mr. Holland melakukan tindakan asusila dan pemerkosaan terhadap mereka yang masih di bawah umur dengan ancaman pencabutan beasiswa dna harus mengembalikan dana yang sudah dikeluarkan untuk mereka."
Dunia seolah berputar di mata Mrs. Holland. Ia jatuh terduduk di kursi, mengabaikan tatapan jijik dari dokter dan suster yang sedang memeriksa Yara saat mereka menyadari siapa wanita di balik riasan tebal itu.
"Tidak berhenti di situ," suara penyiar itu kembali bergema, kini menampilkan foto Yara Holland saat masih mengenakan seragam sekolah dasar. "Budaya kekerasan tampaknya mengalir dalam darah keluarga ini. Belasan mantan teman sekolah Yara Holland mulai bersuara di media sosial dengan tagar #HollandJustice. Mereka mengungkap jejak perundungan yang dilakukan Yara sejak usia dini, mulai dari kekerasan fisik, penghinaan verbal, hingga kasus seorang siswi yang mencoba bunuh diri karena intimidasi Yara lima tahun lalu."
Berita itu menguliti mereka hidup-hidup. Selapis demi selapis, topeng emas keluarga Holland dikelupas hingga menyisakan daging yang busuk. Reputasi yang dibangun selama tiga generasi hancur dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
Yara yang baru saja siuman dengan tubuh menggigil. Matanya langsung tertuju pada televisi di dinding kamarnya. Di layar berita, wajahnya terpampang dengan ribuan komentar hujatan yang bergulir di bagian bawah. Tak lama, muncul cuplikan video ayahnya yang diseret polisi di lobi kantornya sendiri.
Yara teringat tatapan Sierra Moore kemarin. Saat Sierra tahu bahwa Yara-lah yang mengunci Anastasia di toilet, ekspresi gadis itu tampak sangat mengerikan, seolah ingin menghabisinya saat itu juga. Yara merinding setiap kali mengingatnya. Meski semua orang percaya bahwa keluarga Blackwood sebagai dalang hancurnya keluarga Holland, entah kenapa Yara yakin Sierra juga punya andil di balik semua ini. Ia menyesal telah memprovokasi Sierra dan melakukan perundungan pada Anastasia, tapi semuanya sudah terlambat.
Mrs. Holland baru menyadari kalau putrinya sudah sadar. Dengan riasan wajah yang hancur karena air mata, ia berbisik parau, "Kita harus pergi, Yara... kita harus lari sebelum penagih hutang datang. Ibu punya hutang judi yang sangat besar di kasino kemarin."
Belum sempat mereka bergerak, pintu kamar terbuka kasar. Beberapa pria berbadan tegap masuk dan langsung menyeret Mrs. Holland keluar.
"Mama! Lepaskan mamaku!" Yara berteriak histeris. Ia mencoba mengejar, tapi kakinya terlalu lemah untuk berjalan. Yara terjatuh dan tersungkur di lantai lorong rumah sakit, hanya bisa melihat ibunya dibawa pergi tanpa tahu ke mana.
Penderitaan Yara belum berakhir. Tak lama kemudian, polisi datang untuk menindaklanjuti laporan perundungan yang ia lakukan. Yara tidak dipenjara, namun ia dikirim ke lembaga rehabilitasi remaja nakal. Di sana, ia dipaksa melakukan kerja sosial seperti menjadi relawan di panti jompo dan membersihkan jalanan setiap hari. Ia tidak bisa kabur dengan adanya gelang pendeteksi yang membatasi pergerakannya yang kini dipasang di kakinya.
Seluruh harta keluarga Holland habis tak bersisa. Semua aset disita untuk membayar kerugian perusahaan serta kompensasi bagi para korban pelecehan Mr Holland dan korban perundungan Yara.
Nasib paling tragis menimpa Mrs. Holland. Karena hutang judinya yang luar biasa besar dan ia tidak bisa membayarnya, mafia pemilik kasino mengambil salah satu ginjalnya secara paksa di sebuah klinik ilegal. Setelah ginjalnya diambil, ia dilepaskan dalam kondisi kesehatan yang buruk dan tanpa penanganan pasca operasi. Ia akhirnya kembali ke rumah orang tuanya dengan kondisi fisik yang hancur, sementara Yara masih harus menjalani masa pelayanan masyarakat selama lima tahun tanpa bisa membantunya.