Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 5
Aditya menyadari bahwa mendekati seorang hafizhah seperti Nadine tidak bisa menggunakan cara-cara pria kota pada umumnya. Tidak ada bunga, tidak ada ajakan makan malam romantis, dan tentu saja tidak ada kontak fisik. Aditya harus menggunakan jalur langit dan kesabaran ekstra.
Melalui bantuan Rian di Jerman, Aditya melakukan langkah besar. Ia tidak tahan melihat Nadine terus dihina oleh Bu Sarah. Dengan satu instruksi rahasia, pengacara pribadi yang dipercayai Rian datang menemui Bu Sarah dengan koper penuh uang tunai.
"Toko ini dibeli dengan harga dua kali lipat, tapi syaratnya, Anda harus pergi dalam 24 jam dan jangan pernah beri tahu pelayan Anda siapa pemilik barunya," ucap sang pengacara tegas.
Bu Sarah yang kikir tentu saja langsung setuju." baiklah ... terimakasih" ucapnya dengan wajah berseri-seri, Bu Sarah pulang membawa koper berisi tumpukan uang merah.
Keesokan harinya, saat Nadine datang bekerja, ia terkejut melihat toko itu tutup sementara. Namun, sebuah surat tertempel di pintu: “Toko sedang dalam masa transisi kepemilikan. Seluruh karyawan tetap bekerja dengan gaji tiga kali lipat. Pemilik baru akan muncul pada saat yang tepat.”
Aditya tersenyum puas dari balik ruko bengkelnya saat melihat wajah bingung sekaligus lega Nadine.
" Alhamdulillah... berati, walaupun aku tidak bekerja, aku mendapatkan gaji, terimakasih ya Allah, engkau telah memberikan kenikmatan yang bertubi-tubi, aku jadi bisa pergi ke kota untuk menemani ibu" gumamnya pelan.
Aditya mulai mengubah strategi pendekatannya. Ia tahu Nadine sangat menjaga batasan mahram. Jadi ya harus PDKT menggunakan jalur langit.
Aditya tidak memberikan hadiah langsung pada Nadine. Setiap sore, ia menitipkan makanan bergizi atau buah-buahan melalui anak kecil di pasar untuk diantar ke rumah Nadine.
"Bilang dari hamba Allah di bengkel sebelah," pesan Aditya pada anak itu.
Nadine tahu itu dari Aditya, namun karena tidak diberikan secara langsung dan tidak ada interaksi yang melanggar adab, ia menerimanya dengan doa yang tulus.
___
Suatu hari, saat toko sepi, Aditya berdiri di depan pintu toko , tetap di luar, tidak masuk ke area privasi Nadine.
"Nadine, boleh saya tanya?"
Nadine mengangguk sambil menunduk, tangannya sibuk menata roti. "Silakan, Mas Adit."
"Bagaimana cara seseorang yang penuh dosa sepertiku... bisa mulai belajar mencintai apa yang kamu cintai? Maksudku, mencintai Al-Qur'an?"
Pertanyaan itu membuat Nadine mendongak sejenak. Matanya berbinar. Sejak saat itu, setiap sore mereka berdiskusi singkat. Nadine menjelaskan tentang keindahan ayat-ayat Tuhan, sementara Aditya mendengarkan dengan takzim dari jarak tiga meter.
Setiap kali preman pasar mulai bersiul menggoda Nadine, Aditya cukup keluar dari bengkel sambil membawa kunci inggris besar di bahunya. Tatapan matanya yang sedingin es sudah cukup membuat mereka lari tunggang langgang
Setelah dua bulan berlalu, dan setelah operasi katarak ibunda Nadine sukses yang Nadine kira adalah bantuan yayasan, Aditya merasa waktunya telah tiba. Ia tidak datang membawa cincin ke toko kue.
Aditya datang ke rumah Nadine dengan pakaian paling rapi yang ia miliki, sebuah kemeja batik sederhana namun tampak berkelas karena wibawanya. Ia membawa seorang ustadz setempat sebagai perantara, siapa lagi kalau bukan Gus Azmi.
"Bapak, Ibu," suara Aditya bergetar, sesuatu yang tidak pernah terjadi saat ia presentasi di depan dewan direksi. "Saya Adit. Saya bukan pria yang sempurna, saya masih belajar agama. Tapi saya ingin meminta izin untuk menjaga Nadine. Saya ingin menghalalkan jarak di antara kami...saya ingin menikahi Nadine."
Nadine yang mendengarkan dari balik tirai kamar, jantungnya berdegup kencang. Ia belum tahu siapa Aditya sebenarnya, tapi ia sudah jatuh cinta pada akhlak pria itu yang sangat menghormati kesuciannya selama ini.
Ayahnya yang lumpuh menatap Aditya tajam. "Apa yang bisa kamu berikan untuk anakku? Kami orang miskin, Adit."
Aditya menunduk. "Saya tidak menjanjikan kemewahan, Pak. Tapi saya janji, kaki Nadine tidak akan lagi kelelahan berjalan 5 km untuk bekerja, dan tangannya tidak akan lagi dihina karena kejujurannya...saya sudah mencintai Nadine, dan dengan segenap jiwa dan ragaku, Saya akan berusaha untuk selalu membahagiakan Nadine."
Beberapa hari berlalu Pernikahan dilangsungkan dengan sangat sederhana di masjid desa. Setelah ucapan "Sah!" bergema, untuk pertama kalinya Aditya menyentuh kening Nadine untuk mendoakannya. Nadine menangis haru.
Sore harinya, Aditya mengajak Nadine berjalan kaki ke arah pasar.
"Mas, kita mau ke mana? Saya harus mulai bicara dengan pemilik baru toko kue, saya takut dipecat kalau lama libur nikah," ucap Nadine cemas.
Aditya berhenti di depan Toko Kue Melati. Papan namanya sudah berubah menjadi Permata Nadine, Bakery & Cafe .
Aditya mengeluarkan sebuah kunci berwarna emas dari sakunya dan memberikannya pada Nadine. "Pemilik barunya tidak akan memecatmu, Sayang."
Nadine bingung. "Maksud Mas?"
"Toko ini milikmu. Sudah ku beli dua bulan lalu atas namamu. Aku juga sudah membeli ruko bengkel di sebelah untuk kita tinggali sementara. Maaf aku berbohong, aku hanya ingin kamu mencintaiku karena aku, bukan karena apa yang ku punya."
Nadine menutup mulutnya dengan tangan, air mata bahagianya tumpah. "Mas... tapi dari mana Mas punya uang sebanyak itu?"
" belum saatnya istri ku yang cantik ini tahu" jawab Aditya tersenyum.
***
Malam itu, hujan gerimis membungkus ruko kecil mereka dengan suasana yang tenang dan sejuk. Aroma kayu manis dari toko kue di bawah masih tertinggal tipis di udara, bercampur dengan wangi pengharum ruangan mawar yang dipasang Nadine di kamar sederhana mereka.
Ini adalah malam pertama bagi dua insan yang selama ini sangat menjaga jarak. Kamar itu terasa mendadak sempit karena kecanggungan yang luar biasa.
Nadine duduk di tepi tempat tidur yang tertutup sprei putih bersih. Ia masih mengenakan baju gamis putih sisa akad nikah tadi siang, jemarinya yang masih berhias henna merah marun saling bertautan di pangkuannya. Ia menunduk dalam, bahkan pola jahitan di spreinya terasa jauh lebih menarik untuk dipandang daripada harus menatap pintu kamar yang terbuka.
Aditya masuk setelah menutup pintu dengan sangat pelan, seolah suara kunci yang berputar saja bisa memecahkan keheningan yang rapuh itu. Ia sudah berganti pakaian dengan kaos polos dan sarung, namun wibawanya sebagai pria tetap membuat atmosfer ruangan terasa berat bagi Nadine.
"Nadine..." panggil Aditya pelan. Suaranya sedikit serak, menambah kesan maskulin yang selama ini ia sembunyikan di balik seragam bengkel.
Nadine sedikit terlonjak. "I-iya, Mas?"
Aditya tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat meja rias, memberikan ruang agar Nadine tidak merasa terintimidasi. Ia tahu istrinya adalah gadis yang sangat menjaga kehormatan dan belum pernah berinteraksi sedekat ini dengan pria mana pun.
"Terima kasih, ya," ucap Aditya lembut. "Terima kasih sudah menerimaku yang... yang cuma orang biasa ini. Aku tahu ini semua pasti terasa sangat cepat bagimu."
Nadine memberanikan diri sedikit mendongak, meski pandangannya hanya sampai di pundak Aditya. "Ini takdir Allah, Mas. Mas Adit orang baik. Mas sangat menghormati Nadine selama ini... itu yang membuat Nadine yakin."
Aditya tersenyum tipis. Ia bangkit berdiri dan berjalan sangat perlahan menuju tepi tempat tidur, lalu duduk dengan jarak yang masih menyisakan ruang di antara mereka.
"Boleh aku... memegang tanganmu?" tanya Aditya sangat santun, meminta izin seolah tangan itu adalah porselen paling mahal di dunia.
Nadine tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk pelan dengan wajah yang kini memerah sempurna, sedalam warna henna di kuku-kukunya. Saat jari-jari kasar Aditya yang terbiasa memegang mesin itu menyentuh jemari Nadine yang halus, sebuah sengatan listrik yang hangat merayap ke seluruh tubuh mereka.