NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Pintu Yang Tidak Pernah Disebut

Aku menemukannya karena tanaman.

Sukulen kecil di meja kerjaku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda yang menurut artikel perawatan tanaman yang kubaca tengah malam dua hari lalu bisa berarti terlalu banyak air atau terlalu sedikit cahaya — dan karena jendela wing kiriku menghadap timur yang berarti cahaya langsung hanya sampai pagi, aku mulai mempertimbangkan apakah ada sudut lain di penthouse yang siang harinya lebih terang.

Logika yang sangat masuk akal. Sepenuhnya tentang tanaman.

Aku mengakui bahwa aku juga penasaran. Tapi itu bukan alasan utama.

Senin siang, Revano di kantor, Kenzo tidak di penthouse, dan aku selesai bekerja lebih awal dari biasanya karena klien yang harusnya review pukul dua memundurkan jadwal ke keesokan harinya. Aku berkeliling penthouse dengan sukulen di tangan — memeriksa sudut-sudut yang belum pernah kuperhatikan dengan seksama karena selama ini tidak ada alasannya.

Ruang tamu: cahaya bagus tapi terlalu ramai untuk tanaman kecil yang butuh konsistensi.

Ruang makan: jendela di sisi barat, cahaya sore yang kuat tapi baru masuk setelah pukul tiga.

Koridor menuju wing kanan: tidak ada jendela, tidak relevan.

Aku berbalik, hampir kembali ke wing kiriku, ketika melihatnya.

Di ujung koridor wing kanan — bukan di area yang jelas merupakan kamar tidur Revano atau ruang kerjanya yang aku sudah tahu posisinya dari suara — ada pintu lain. Ukurannya sama dengan pintu-pintu lain di penthouse, material yang sama, gagang yang sama. Tidak ada yang membedakannya secara visual dari pintu mana pun di sini.

Kecuali satu hal.

Ada gembok kecil di gagang pintunya. Bukan gembok besar yang mencolok — justru sebaliknya, kecil dan berwarna sama dengan gagangnya sehingga tidak langsung terlihat. Tapi ada. Dan tidak ada pintu lain di seluruh penthouse ini yang punya gembok.

Aku berdiri di depannya selama mungkin tiga detik.

Lalu kembali ke wing kiriku. Meletakkan sukulen di windowsill yang ternyata cukup dapat cahaya kalau aku geser sedikit ke kiri. Duduk di kursi kerja.

Dan tidak bisa kembali bekerja sampai satu jam kemudian.

Aku menelepon Kenzo keesokan paginya.

Bukan tentang jadwal, bukan tentang acara — aku membukanya dengan pertanyaan tentang retreat keluarga bulan depan yang memang masih ada detailnya yang perlu dikonfirmasi, dan setelah itu, dengan nada yang aku usahakan sesantai mungkin:

"Oh iya, Kenzo — di wing kanan ada pintu yang dikunci. Di ujung koridor sebelah kiri. Itu kamar apa?"

Hening yang tidak panjang tapi ada.

"Yang Ibu maksud mungkin ruang penyimpanan," kata Kenzo. Suaranya tetap profesional, tetap terkontrol, tidak ada yang berubah dari nadanya. "Penthouse ukuran ini biasanya ada beberapa ruang penyimpanan untuk barang-barang yang tidak digunakan sehari-hari."

Jawaban yang masuk akal.

Terlalu masuk akal, dengan cara yang terasa seperti jawaban yang sudah disiapkan.

"Ruang penyimpanan yang dikunci dengan gembok?" tanyaku.

"Beberapa barang yang disimpan memang lebih baik dikunci untuk keamanan." Jeda kecil yang hampir tidak ada. "Ada hal lain yang perlu saya bantu, Bu Ariana?"

Pengalihan yang sangat halus. Dari Kenzo, orang yang sudah tujuh tahun belajar mengalihkan hal-hal yang tidak perlu dibahas, itu adalah pengalihan yang hampir sempurna.

Hampir.

"Tidak ada," kataku. "Terima kasih, Kenzo."

Aku tidak bertanya ke Revano.

Bukan karena tidak ingin tahu — sudah jelas aku ingin tahu, sudah jelas bahwa pintu itu ada di bagian kepala yang tidak mau sunyi sejak pertama kali menemukannya. Tapi ada sesuatu tentang cara Kenzo mengalihkan topik yang memberitahuku bahwa ini bukan pertanyaan yang bisa dijawab dengan mudah, dan bertanya langsung ke Revano tanpa konteks yang cukup bisa menghasilkan salah satu dari dua hal: jawaban yang terlalu singkat untuk berguna, atau penutupan yang lebih rapat dari sebelumnya.

Keduanya bukan hasil yang aku inginkan.

Jadi aku menyimpan pertanyaan itu. Di tempat yang sama dengan semua pertanyaan lain yang belum waktunya — di laci kepala yang pintunya ada tapi tidak selalu perlu dibuka.

Yang tidak aku antisipasi adalah betapa keras pintunya mengetuk dari dalam.

Rabu malam, Revano pulang lebih awal dari biasanya — pukul tujuh, yang untuk standarnya adalah hampir sore.

Kami makan malam di meja makan besar dengan percakapan yang sudah mulai punya ritmenya sendiri — tidak panjang, tidak dipaksakan, tapi ada dan cukup untuk membuat empat puluh delapan menit itu terasa seperti lebih dari sekadar dua orang memenuhi kewajiban makan di tempat yang sama.

Dia bercerita tentang meeting yang lebih produktif dari perkiraan. Aku bercerita tentang revisi proyek yang akhirnya disetujui klien setelah tiga putaran yang melelahkan. Hal-hal yang konkret, yang ada jawabannya, yang bisa dibahas tanpa harus masuk ke wilayah yang lebih dalam dari yang perlu.

Di satu titik, percakapan berhenti sebentar di jeda yang nyaman — jenis jeda yang tidak perlu diisi tapi juga tidak terasa berat.

Dan aku hampir bertanya.

Kalimatnya sudah ada di ujung lidah — di ujung koridor wing kananmu, ada pintu yang dikunci. Itu apa? — dengan nada yang sudah aku pilih untuk terdengar casual dan bukan seperti aku sudah memikirkannya selama tiga hari.

Tapi sebelum kalimat itu keluar, Revano berdiri untuk mengambil minum, dan momen itu lewat dengan caranya sendiri, dan aku memutuskan bahwa malam ini bukan malam yang tepat.

Belum tahu kapan malam yang tepat. Tapi belum malam ini.

Kamis pagi, aku melakukan sesuatu yang tidak kurencanakan.

Bukan ke pintu itu — aku tidak seceroboh itu, dan juga bukan tentang ceroboh, tapi tentang sadar bahwa ada hal-hal yang bukan milikku untuk dibuka tanpa izin. Pintu yang dikunci adalah pintu yang dikunci karena ada alasannya, dan alasannya bukan urusanku sampai seseorang memutuskan menjadikannya urusanku.

Yang kulakukan adalah ke rak buku di ruang tamu.

Bukan untuk mencari buku puisi yang diperhatikan Nara — aku tahu di mana letaknya, terlalu kanan dari tengah, punggungnya sedikit lebih pudar dari buku-buku di sekitarnya yang berarti sudah lebih lama ada di sana. Aku tidak mengambil buku itu.

Yang kuambil adalah buku di sebelahnya — biografi seseorang yang namanya kukenal dari satu artikel yang pernah kubaca, tokoh bisnis dari dekade sebelumnya dengan keputusan-keputusan yang kontroversial di zamannya tapi terbukti tepat dua puluh tahun kemudian.

Aku membawanya ke wing kiri, membacanya sambil minum kopi, dan menemukan di halaman pertama — tulisan tangan kecil di sudut atas:

R.A. — 2019

Inisial dan tahun. Cara menandai buku yang sangat Revano — efisien, tidak berlebihan, cukup untuk menandai kepemilikan tanpa perlu lebih dari itu.

Aku menutup buku itu. Membukanya lagi. Membaca bab pertama dengan konsentrasi yang tidak sepenuhnya tentang isi babnya.

Jumat sore, Kenzo datang ke penthouse untuk mengantarkan beberapa dokumen yang perlu tanda tangan Revano — yang tidak ada di sana karena masih di kantor, tapi Kenzo tetap naik karena ada satu amplop yang perlu diserahkan ke aku juga. Detail kostum untuk acara dua minggu lagi yang memerlukan konfirmasi ukuran.

Kami duduk sebentar di dapur sambil menunggu konfirmasi dari Revano soal satu jadwal yang masih perlu diselaraskan.

Dan karena kami duduk dan menunggu dan ada jeda yang harus diisi dengan sesuatu, Kenzo bercerita tentang hal-hal kecil — proyek internal yang sedang berjalan, rencana renovasi kantor lantai dua puluh delapan yang sudah ditunda tiga kali.

Aku mendengarkan. Lalu, tanpa merencanakan:

"Kenzo, sudah berapa lama kamu kerja dengan Revano?"

"Tujuh tahun." Jawabannya langsung — ini bukan pertanyaan yang perlu dipikirkan.

"Berarti kamu kenal dia sebelum dia jadi CEO."

"Saya mulai kerja dengan beliau setahun sebelum beliau mengambil alih perusahaan." Kenzo memegang cangkir kopinya. "Waktu itu beliau masih di posisi direktur."

"Dia berubah banyak dari waktu itu?"

Kenzo mempertimbangkan. "Berubah dalam beberapa hal. Tidak berubah dalam hal-hal yang paling dasarnya."

"Hal-hal yang paling dasar seperti apa?"

Cara dia mengambil napas sebelum menjawab sudah memberitahuku bahwa jawaban ini akan dipilih dengan hati-hati. "Pak Revano selalu orang yang menanggung sendiri apa yang menurutnya tidak perlu ditanggung orang lain. Dulu itu terlihat sebagai efisiensi. Sekarang—" dia berhenti, "—saya pikir ada komponen lain di baliknya yang bukan murni efisiensi."

"Kebiasaan?"

"Atau kebutuhan." Kenzo meletakkan cangkirnya. "Seseorang yang tumbuh belajar bahwa menunjukkan sesuatu ke orang lain menghasilkan konsekuensi yang tidak menyenangkan — pada akhirnya berhenti menunjukkan, bukan karena tidak punya, tapi karena sudah terlalu lama belajar bahwa lebih aman tidak."

Aku menatap meja. Memikirkan kata-kata itu dan semua yang muat di dalamnya.

"Konsekuensi seperti apa yang dia pelajari?"

Kenzo menggeleng kecil — bukan menolak menjawab, tapi seperti mengatakan bahwa ini bukan ceritanya untuk diceritakan. "Itu yang lebih baik Ibu tanyakan langsung ke beliau. Kalau waktunya tepat."

"Kapan waktunya tepat?"

"Itu yang tidak bisa saya tentukan." Ponsel Kenzo berbunyi — pesan dari Revano yang sudah memberikan konfirmasi jadwal. Dia berdiri, merapikan dokumen. "Tapi biasanya tepat setelah seseorang berhenti mencoba menentukan kapan waktunya."

Kenzo pergi sepuluh menit kemudian.

Aku duduk di dapur sendiri, dengan amplop konfirmasi kostum di tangan dan kepala yang lebih penuh dari sebelum dia datang.

Pintu yang terkunci di ujung koridor wing kanan.

Kenzo yang mengalihkan topik dengan sangat mulus. Revano yang tidak pernah menyebut ruangan itu — tidak sekali pun, dalam semua percakapan yang sudah terjadi selama lima minggu terakhir.

Buku puisi di rak yang punggungnya lebih pudar dari sekitarnya.

Inisial dan tahun di halaman pertama buku biografi.

Semua potongan kecil yang masing-masing tidak memberitahu apapun secara individual, tapi ketika dikumpulkan mulai membentuk sesuatu — kontur dari seseorang yang jauh lebih besar dari yang terlihat di permukaan, dengan ruang-ruang di dalamnya yang belum pernah dibuka untuk siapapun dan mungkin sudah sangat lama tidak dibuka bahkan untuk dirinya sendiri.

Aku bangkit, mencuci cangkir kopi, dan kembali ke wing kiriku.

Di meja kerja, sukulen kecil yang sudah kupindahkan ke windowsill terlihat sedikit lebih tegak dari kemarin — atau mungkin itu yang ingin kulihat. Tumbuhan kecil di tempat baru yang masih dalam proses menyesuaikan diri.

Aku mengerti rasanya.

Malam itu, ketika Revano pulang dan kami berpapasan di dapur untuk ambil minum sebelum masing-masing masuk ke kamar, aku menatapnya sebentar — cukup lama untuk dia menyadarinya, tidak cukup lama untuk terlihat seperti sedang mencari sesuatu.

"Tidur yang cukup," katanya — bukan karena ada konteks, hanya kalimat yang keluar seperti biasanya, pengingat kecil yang belakangan ini jadi bagian dari percakapan malam kami yang singkat.

"Kamu juga," jawabku.

Dan aku masuk ke wing kiriku tanpa bertanya tentang pintu itu.

Belum.

Tapi belum terasa berbeda dari tidak — dan perbedaan itu, sekecil apapun, adalah sesuatu.

— Selesai Bab 19 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!