NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. mulai tumbuh rasa cinta.

Aku tidak tahu kapan tepatnya perasaanku berubah.

Tidak ada momen dramatis.

Tidak ada detik berkilau seperti di cerita-cerita manis.

Yang ada hanyalah kebiasaan kecil—

dan rasa yang tumbuh diam-diam, tanpa izin.

Sejak hari aku masuk ke ruangan itu, ruangan yang menyimpan sisa-sisa masa kecil Haruka, aku tidak lagi melihatnya sebagai sosok yang jauh. Ia masih berbahaya. Masih dingin. Masih menakutkan bagi dunia luar.

Tapi bagiku… ia mulai terasa manusia.

Dan justru itu yang membuatku takut.

Pagi-pagi berikutnya, aku terbangun oleh suara langkah pelan di luar kamar. Jam di ponselku menunjukkan pukul lima pagi.

Aku bangun, membuka pintu perlahan.

Haruka sudah berdiri di balkon, mengenakan jaket tipis. Udara masih dingin, langit belum sepenuhnya terang.

“Kamu selalu bangun sepagi ini?” tanyaku.

Ia menoleh. Sedikit terkejut—hanya sepersekian detik, tapi aku menangkapnya.

“Kebiasaan,” jawabnya.

“Kebiasaan karena takut?” tanyaku jujur, tanpa maksud menyerang.

Ia tidak langsung menjawab.

“Aku terbiasa bangun sebelum dunia sempat mengambil apa pun dariku,” katanya akhirnya.

Aku berdiri di sampingnya. Tidak terlalu dekat. Tidak terlalu jauh.

“Sekarang dunia tidak mengambil apa pun,” ucapku pelan. “Kamu sudah besar. Kamu punya kendali.”

Ia tersenyum kecil—hampir tak terlihat.

“Ilusi,” katanya. “Tapi terima kasih.”

Aku menatap wajahnya dari samping.

Di bawah cahaya pagi yang lembut, wajahnya tidak terlihat seperti iblis. Tidak juga seperti malaikat. Hanya seorang pria dengan garis lelah yang terlalu dini di matanya.

Dan entah kenapa… dadaku terasa hangat.

Hari-hari berjalan lebih tenang.

Ia tetap sibuk. Tetap menghilang di waktu-waktu tertentu. Tetap membawa dunia gelapnya sendiri.

Tapi kini, ia mulai memberi tahu hal-hal kecil.

“Aku akan pulang larut.”

“Jangan keluar malam ini.”

“Jika ada yang aneh, telepon aku dulu.”

Kalimat-kalimat sederhana.

Bukan perintah.

Bukan ancaman.

Perhatian.

Dan setiap kali aku menyadarinya, aku harus mengingatkan diriku sendiri—

Ini nikah kontrak, Alya.

Namun jantungku tidak peduli pada kontrak.

Suatu malam, hujan kembali turun deras.

Aku sedang membaca di ruang tamu ketika pintu terbuka. Haruka masuk, jasnya basah, rambutnya sedikit berantakan.

Ia terluka.

Bukan luka besar—hanya goresan di pelipis dan darah tipis di kemejanya.

Aku berdiri spontan.

“Kamu kenapa?” tanyaku, suara panik tak bisa kusembunyikan.

Ia terdiam, menatapku seperti baru sadar sesuatu.

“Aku baik-baik saja,” jawabnya otomatis.

“Kamu berdarah,” bantahku.

Ia menghela napas, lalu duduk di sofa. “Hanya urusan kecil.”

Aku mengambil kotak P3K tanpa berpikir panjang. Tanganku sedikit gemetar saat membersihkan lukanya.

Ia tidak menolak.

Itu hal kecil—tapi sangat berarti.

“Kamu selalu bilang jangan terlalu dekat,” gumamku sambil fokus pada tanganku. “Tapi kamu selalu pulang dalam kondisi seperti ini.”

“Karena dunia tidak pernah menepati jarak,” jawabnya pelan.

Aku berhenti sejenak.

“Kalau begitu… biarkan aku setidaknya berada di sisimu,” ucapku lirih.

Ia menatapku.

Tatapan itu berbeda.

Tidak dingin.

Tidak tajam.

Bingung.

“Alya,” katanya rendah, “kau tidak seharusnya merasa seperti ini.”

“Seperti apa?”

“Peduli.”

Aku tersenyum kecil, pahit. “Perasaan tidak pernah bertanya apakah ia seharusnya ada.”

Ia memejamkan mata sesaat.

Dan saat ia membukanya kembali, aku melihat sesuatu yang membuat jantungku berdetak tak karuan—

Kejujuran.

“Aku tidak pandai menjaga orang,” katanya.

“Aku hanya pandai bertahan sendirian.”

“Tidak apa-apa,” jawabku lembut. “Aku juga tidak pandai mencintai.”

Ia terdiam.

Aku baru sadar apa yang kuucapkan.

Wajahku memanas. “Aku—maksudku—”

“Aku dengar,” potongnya pelan.

Keheningan kembali hadir.

Namun kali ini, keheningan itu hangat.

Tidak menekan.

Tidak mengancam.

Hanya… nyata.

“Alya,” katanya kemudian, “jika perasaan ini tumbuh—”

“Aku tahu,” potongku cepat. “Ini berbahaya. Ini melanggar kontrak. Ini bodoh.”

Aku menatapnya lurus.

“Tapi aku tidak bisa mematikan sesuatu yang tumbuh hanya karena aku disuruh.”

Ia tersenyum kecil. Sedikit miring. Sedikit lelah.

“Dunia benar-benar kejam,” katanya pelan.

“Bahkan mengirim orang sepertimu ke hidupku.”

Aku mengerjap. “Itu terdengar seperti keluhan.”

“Itu pengakuan.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya…

Haruka Sakura menyentuh tanganku.

Bukan erat.

Bukan posesif.

Hanya sentuhan singkat—seperti memastikan aku nyata.

Dan di saat itu jantungku mulai berdetak kencang, tak terkendali bahkan tanpa sadar aku berkata"aku di sini, aku tidak akan pergi"

Sentuhan itu hanya berlangsung beberapa detik.

Namun setelahnya, aku tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya masih sama.

Haruka melepaskan tanganku lebih dulu. Seperti seseorang yang sadar telah melangkah terlalu jauh ke wilayah yang tidak ia kuasai.

“Aku harus mandi,” katanya singkat, lalu berjalan pergi.

Aku tetap berdiri di tempat, jantungku berdetak tidak teratur.

Dan di saat itulah aku mencium baunya.

Asap.

Bukan asap hujan.

Bukan bau lembap jas basah.

Rokok.

Aku mengerutkan kening. Bau itu samar, tertinggal di udara dan di ujung jariku—di tempat yang tadi disentuhnya.

Haruka… merokok?

Pikiran itu membuat dadaku terasa aneh.

Malam itu aku tidak langsung bertanya.

Aku menunggu.

Jawabannya datang dua hari kemudian.

Aku terbangun di tengah malam karena jendela kamarku sedikit terbuka. Angin membawa udara dingin—dan bau yang sama.

Asap rokok.

Aku bangkit perlahan, melangkah keluar kamar tanpa suara. Lampu-lampu rumah mati, hanya cahaya temaram dari balkon ujung koridor.

Dan di sanalah aku melihatnya.

Haruka berdiri sendirian, membelakangi pintu, satu tangan bersandar di pagar balkon. Di antara jari-jarinya—sebatang rokok menyala redup.

Asap tipis keluar dari bibirnya saat ia mengembuskan napas.

Dadaku langsung mengeras.

Bukan karena marah.

Tapi karena ingatanku langsung kembali pada artikel itu.

Paru-paru lemah sejak lahir.

Riwayat penyakit pernapasan.

Tanganku tanpa sadar mengepal.

“Haruka.”

Ia menoleh cepat. Terkejut.

Rokok itu langsung ia jauhkan dari bibirnya, seolah tertangkap basah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya.

“Kau seharusnya tidur,” katanya.

“Kamu merokok,” jawabku. Bukan bertanya.

tapi Menyatakan.

Keheningan jatuh.

Ia mematikan rokok itu di asbak tanpa berkata apa pun. Gerakannya tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang tahu dirinya salah.

“Kamu punya penyakit paru-paru,” lanjutku pelan, tapi suaraku bergetar. “Kenapa kamu melakukan ini pada dirimu sendiri?”

Ia menatap ke luar, bukan ke arahku.

“Karena aku masih hidup,” jawabnya singkat.

Jawaban itu menusuk.

“Justru karena itu,” suaraku meninggi tanpa bisa kutahan, “kamu seharusnya lebih menjaga dirimu!”

Ia menoleh. Tatapannya tajam—bukan marah, tapi terluka.

“Jangan bicara seolah kau tahu bagaimana rasanya hidup dengan napas yang selalu terasa dipinjam,” katanya rendah.

Aku terdiam.

Ia melangkah lebih dekat, berhenti hanya satu langkah dariku.

“Aku sudah berjuang sejak lahir hanya untuk bernapas,” lanjutnya. “Rokok tidak membuatku lebih sakit dari kenangan.”

Air mataku menggenang.

“Jadi kamu menyakiti tubuhmu untuk melupakan?” tanyaku lirih.

Ia tidak menjawab.

Dan itu sudah cukup sebagai jawaban.

Aku menghela napas panjang, mencoba menahan emosiku. “Aku tidak ingin kehilanganmu.”

Kalimat itu meluncur begitu saja.

Tanpa rencana.

Tanpa izin.

Wajah Haruka membeku.

“Alya,” katanya perlahan, “kau tidak boleh mengatakan itu.”

“Kenapa?” aku menantang, meski suaraku gemetar. “Karena ini nikah kontrak? Karena kamu takut?”

Ia menutup mata sesaat.

“Karena setiap orang yang peduli padaku… selalu berakhir terluka,” ucapnya.

Aku mendekat satu langkah.

“Dan setiap kali kamu merokok,” kataku pelan, “kamu seolah ingin membuktikan pada dunia bahwa kamu tidak peduli apakah kamu hidup atau mati.”

Ia membuka mata.

Tatapannya goyah.

“Aku tidak memperdulikan hal itu” katanya akhirnya, nyaris berbisik. “Aku hanya lelah menjaga sesuatu yang dunia selalu ingin ambil.”

Aku mengangkat tanganku, ragu sejenak… lalu menyentuh pergelangan tangannya.

“Kali ini,” ucapku lembut, “biarkan aku yang peduli.”

Ia menatap tanganku di pergelangannya. Napasnya sedikit berat.

“Aku tidak janji berhenti,” katanya jujur.

“Aku tidak minta janji,” jawabku. “Aku hanya minta kamu berhenti menyiksa dirimu sendirian.”

Keheningan kembali hadir.

Namun kali ini, bukan keheningan yang dingin.

Haruka menarik napas panjang—napas yang terdengar berat, tapi nyata.

“Alya,” katanya pelan, “kau membuatku ingin hidup lebih lama dari yang kurencanakan.”

Kalimat itu membuat air mataku akhirnya jatuh.

Bukan karena sedih.

Tapi karena takut betapa dalamnya perasaan ini mulai tumbuh.

Ia mengangkat tangannya, ragu… lalu menyeka air mataku dengan ibu jarinya. Gerakannya kikuk, seolah belum terbiasa menyentuh seseorang dengan kelembutan.

“Jangan menangis,” katanya. “Aku tidak pandai menghadapi ini.”

Aku tersenyum di balik air mata. “Bagus. Aku juga tidak.

Dan di bawah langit malam yang masih menyimpan bau asap itu, aku sadar..

Cinta ini tidak lahir dari kebahagiaan.

Ia tumbuh dari luka yang saling mengenali.

Dan mungkin…

itulah cinta paling berbahaya yang pernah ada.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!