Setelah Addam mendapat pesan aneh dari sahabat Astrid–adik tirinya, Addam memutuskan untuk mencari tahu kejadian sebenarnya yang dialami oleh adiknya itu.
Untungnya Addam tidak sendirian. Dalam upayanya menjalankan rencananya, Addam ditemani dan diberi bantuan oleh Naya, sahabat Astrid yang mengabarinya pesan aneh itu. Bukan hanya mereka berdua, seorang teman Addam yang bernama Mahesa juga ikut membantu mereka mencari Astrid.
Langkah demi langkah sulit harus ditempuh oleh Addam, Naya, dan Mahesa hingga mereka menemukan kebenaran yang tak pernah mereka duga.
Akankah mereka semua pada akhirnya bisa menemukan Astrid setelah banyak jalan dan rintangan yang dilalui?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Astrid?
Bagaimana mereka menjalani kembali hari-hari mereka setelah kejadian besar itu terungkap?
🍀🍀🍀
Cerita ini fiksi. Jika terdapat kemiripan nama, lokasi, ataupun peristiwa dalam cerita, mohon dimaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rin Arunika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. OVER K*LL
Hari berat lainnya akhirnya berlalu. Naya tengah berjalan menyusuri trotoar menuju tempat tinggalnya ketika ia melihat sebuah SUV hitam baru saja tiba di area pelataran.
Gadis itu terdiam sesaat ketika ia melihat Mahesa turun dari mobil itu. Kali ini penampilan Mahesa terlihat lebih seperti warga biasa, tidak seperti ketika pria itu menemui Naya di tempat kerjanya.
“Eh, Naya!” Mahesa menyapa terlebih dahulu. “Kebetulan banget. Aku baru mau jemput si Addam.”
“Jemput Kak Addam? Ke mana?”
“Aku mau ngomongin sesuatu sama kalian berdua. Tapi jangan di sini… Udah, kamu gak usah pulang dulu.” Pandangan Mahesa menyapu sekitar.
Tak lama setelahnya, Addam terlihat keluar dari tempat tinggalnya dan bergegas menghampiri Mahesa.
“Sa. Lo udah nunggu lama? Eh, ada Naya juga…”
Naya mengembangkan sedikit senyum. “Iya Kak. Kebetulan aku baru banget sampai…”
“Oke. Ayo masuk ke mobil…” ajak Mahesa.
Addam dan Naya sempat saling bertatapan sebelum mereka memasuki SUV hitam itu sesuai ucapan Mahesa.
“Kita mau ke mana, Sa?” tanya Addam sambil memasang sabuk pengaman. Ia duduk di kursi depan di sebelah Mahesa, sementara Naya sendirian di kursi belakang.
“Nyari tempat ngopi,” jawab Mahesa singkat. Pria itu bahkan tak melirik Addam karena ia sangat fokus pada kemudi.
Addam hanya diam dan menyetujui ucapan Mahesa. Begitu juga dengan Naya. Mereka yakin, langkah yang Mahesa ambil pasti selalu telah diperhitungkan.
SUV hitam itu terus melaju hingga akhirnya berhenti di sebuah pelataran kafe.
“Sampe... Yuk.” Mahesa menjadi yang pertama keluar dari mobil, disusul Addam lalu Naya terakhir.
Ketiganya lalu berjalan memasuki area kafe tersebut untuk memesan menu dan memilih tempat duduk yang berada di area luar.
“Sa. Lo mau ngomongin apaan, sih? Kenapa jauh-jauh ke sini? Gak di kontrakan gue aja.” Addam tak bisa lebih lama lagi menahan rasa ingin tahunya.
“Ssttt… Duduk dulu,” kata Mahesa.
Setelah melihat Addam dan Naya tampak lebih tenang, Mahesa baru mulai membuka pembicaraannya.
“Dam, Nay. Sebagai orang yang udah sering berhadapan sama hal-hal seperti ini, menurut gue baiknya kita ngejauh dari tempat yang biasa kita datengin kalua misal kita lagi bahas penyelidikan kita…” ungkap Mahesa.
Meski tak mengatakan apapun, raut wajah Addam dan Naya jelas sekali Tengah mempertanyakan maksud ucapan Mahesa.
“Sebenernya gue cuma jaga-jaga aja. Takutnya… Orang itu juga lagi nyiapin sesuatu yang rugiin kita. Kalau gak salah, lo pindah ke sini karena disuruh orang itu kan, Dam?”
“Iya, sih. Awalnya gue malah gak tau kalau di daerah itu ada kontrakan kosong, dan persis di sebelah Naya,” jawab Addam dengan ragu.
“Nah. Apa lo gak curiga orang itu masang kamera pengawas, atau penyadap kecil buat mantau pergerakan lo? Ya semoga aja kecurigaan gue salah, Dam…”
Addam terdiam untuk beberapa saat, lalu mengangguk pelan. “Lo bener, Sa. Gak ada salahnya kita jaga-jaga…”
“Kita emang harus selalu waspada, Dam. Asal kalian tahu, dalam situasi seperti ini, gak ada salahnya buat kita untuk selalu curiga bahkan sama hal yang rasanya gak masuk akal. Kita kan gak tahu isi pikiran orang itu kayak gimana…” terang Mahesa.
“Oh iya, Dam, Nay. Gue mau ngasih tahu temuan gue,” Mahesa menatap Addam dan Naya sebentar. “Soal laporan menghilangnya Astrid, gue dapet info kalau kasus itu ditutup karena dua hal. Pertama, hasil penyelidikan yang menyatakan kalau Astrid menghilang pas dia lagi cuti. Kedua, tim di kantor dapet telpon dari orang yang mengaku sebagai ‘keluarga’ korban dan minta laporan itu ditutup. Dan dua alasan tadi dirasa sudah cukup kuat, jadi laporan itu resmi ditutup…”
“Ya Tuhan…” lirih Naya. “Kak, tapi siapa yang nelpon polisi?”
“Katanya, orang yang lapor itu namanya David. David Walter,” Mahesa melempar tatapannya pada Addam.
Ya. Kita semua tahu bahwa nama yang Mahesa sebutkan barusan adalah ayah kandung Addam.
Addam terbengong mendengar ucapan Mahesa barusan. Otaknya masih belum selesai memproses kalimat yang baginya hanya terasa seperti kebohongan besar.
“Ayah? Kenapa jadi ayah yang ngehubungin polisi? Terus kenapa dia gak ngasih tahu gue? Atau setidaknya dia bilang ‘Dam, adek kamu lagi main ke tempat Ayah’… Kenapa juga polisi gak ngasih tahu gue?” Addam meluapkan semua pertanyaan besar yang memenuhi kepalanya.
“Makanya itu, Dam. Gue juga awalnya gak ngerti kenapa nama Om David ikut keseret bahkan disebut-sebut sebagai orang yang minta laporan itu ditutup-“
“Apa gue tanya ke Ayah aja ya, Sa?”
“Jangan! Tunggu dulu, Dam. Lo gak boleh buru-buru libatin Om David!” tegas Mahesa.
“Lho. Emang kenapa, Sa? Apa salahnya kalua gue mau mastiin keraguan gue?” rahang Addam mengeras. Gurat wajahnya terlihat tegang.
“Gini, Dam. Sesuai sama yang lo bilang tadi, kalau misal Astrid beneran dateng ke tempat Om David, dia pasti bakal ngehubungin lo, kan? Setidaknya Om David bakal berbasa-basi ‘kenapa Astrid dateng sendiri’, atau apa… Iya, kan?”
“Terus?” Addam menatap Mahesa penuh selidik.
“Tapi Om David gak ngehubungin lo, kan? Itu artinya Astrid emang gak dateng ke tempat Om David, Dam…”
Addam merasa nafasnya menjadi sangat berat. Dadanya terasa sesak.
“Jadi… Dugaan gue, orang itu mungkin aja pake teknologi AI buat niru Om David. Atau, dia nyuruh orang buat ngaku jadi Om David…”
“Kok serem banget sih, Kak?” Naya bergidik. “Kalau misalnya dia seniat itu, berarti orang ini emang nargetin Astrid gak, sih?”
Mahesa mengangguk. “Bener, Nay. Bukan itu aja. Orang ini bahkan bisa jadi ngawasin kalian berdua juga. Sekali lagi, disituasi seperti ini, kita harus selalu ‘curiga’ dan waspada…”
Lalu suasana di tempat itu menjadi hening untuk sesaat. Udara mendadak terasa semakin dingin.
“Oh iya, Kak. Kelanjutan kasus terbaru itu, gimana?” Naya membuka topik obrolan yang lain.
“Kasus yang mana lagi?” tanya Addam, menatap Naya dan Mahesa bergantian.
“Yang pernah masuk ke DM lo itu, Dam. Tim gue lagi mulai nyelidikin kasus yang korbannya itu cewek yang difotoin ke lo… Merinding banget gue ngelihat TKP-nya!” Mahesa bergidik.
“Yang rambutnya pendek itu, Sa? Emang kenapa?!”
“Iya… Pokoknya yang lo terima dari akun anonim itu…” balas Mahesa. “Kalau kata gue orang itu udah gi*la, Dam!”
“Maksudnya?”
“Kejahatan dia kali ini udah diluar batas manusia, duh…” Mahesa lalu berdeham. “Sorry kalau bahasanya agak kasar. Tapi gini Dam, Nay. Kalau orang yang niatnya beneran mau ngehilangin nyawa, ya... Ya udah. Dia bun*uh habis itu jasadnya dibuang dalam kondisi utuh. Kalian mungkin pernah setidaknya lihat di berita atau di sosial media soal penemuan jasad yang kelihatannya ‘normal’, kan?”
Addam dan Naya kompak mengangguk. Mereka mencoba menyimak ucapan Mahesa meski keduanya merasa topik yang dibahas cukup berat.
“Nah. Kejahatan orang ini gak berakhir disitu. Dia masih terus ‘membu*nuh’ korbannya seolah gak puas kalau korbannya udah meninggal. Paham, gak?”
“Serem banget…” sahut Naya. “Kok ada orang kayak gitu?”
“Ada, Nay. Perilaku seperti itu biasa dikenal dengan istilah ‘over kill’. Korban dibu*nuh secara berlebihan…”
Addam tampak terdiam namun raut wajahnya semakin terlihat tegang. Kemudian pria itu merogoh ponselnya dan memperlihatkannya pada Mahesa.
“Kayak ini?”
Kedua mata Mahesa membelalak seketika. “Ya Tuhan! Dam?! Ini persis banget sama TKP yang tim gue datengin…! Bentar, ini bukannya…”
Mahesa menatap Addam penuh arti. Kedua pria itu seperti sedang bertelepati.
“Ini video yang gue pernah tunjukin ke lo. Dari paket misterius yang isinya flashdisk itu,” kata Addam sambil menaruh kembali ponselnya.
“Berarti udah jelas kalau orang itu ada hubungannya sama Astrid…” gumam Mahesa.
Situasi di sana kembali hening. Semakin banyaknya fakta yang terungkap malah terasa menumbuh suburkan kegelisahan dalam relung dada mereka.