Damian adalah psikopat yang jatuh cinta, mencintai dengan cara menyiksa, menghancurkan, dan merusak.
Dia mengubah Alexa dari gadis polos menjadi Ratu Mafia paling kejam. Setiap malam dipenuhi darah, penyiksaan, pembunuhan.
Tapi yang paling mengerikan, Alexa mulai menikmatinya. Di dunia ini, cinta adalah peluru paling mematikan. Dan mereka berdua sudah ditembak tepat di bagian jantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengkhianatan Ganda
Kemenangan atas Lorenzo seharusnya membawa kedamaian. Seharusnya mengakhiri perang. Tapi di dunia Damian, darah hanya mengundang lebih banyak darah.
Pagi setelah pertempuran, aku terbangun dengan suara teriakan dari bawah tanah. Teriakan yang familiar. Teriakan penyiksaan.
Damian tidak ada di samping. Tempat tidurnya sudah dingin. Berarti dia sudah bangun lama.
Aku turun dengan pakaian tidur. Mengikuti suara teriakan. Menyusuri koridor menuju ruang penyiksaan.
Di sana, Damian berdiri dengan pakaian berlumuran darah. Di kursi besi terikat Marco. Wajah sudah tidak berbentuk. Tubuh penuh luka bakar dan sayatan.
"Kau sudah bangun," kata Damian tanpa menoleh. "Bagus. Kau harus lihat ini."
Aku berdiri di ambang pintu. Menatap Marco yang hampir tidak sadar.
"Apa yang terjadi?" tanyaku.
"Pengkhianatan," jawab Damian sambil mengambil tang dari meja. "Marco bekerja sama dengan Lorenzo. Membocorkan semua rencana kita. Itulah kenapa Lorenzo tahu lokasi-lokasi kita yang diserang."
Dia berjalan ke Marco, membuka tang di depan wajahnya.
"Berapa banyak yang kau bocorkan?" tanyanya.
Marco batuk dengan mengeluarkan darah. "Semua, aku bocorkan semuanya."
"Kenapa?" suara Damian bergetar amarah. "Aku mempercayaimu, aku memberikanmu posisi tertinggi setelah aku. Kenapa kau khianati aku?"
Marco mengangkat kepalanya. Menatap Damian dengan mata yang satu sudah tertutup bengkak.
"Karena kau monster," bisiknya. "Karena aku tidak bisa lagi melayani monster, yang membunuh keluarganya sendiri. Yang mengubah gadis polos menjadi seorang pembunuh. Yang..."
KRAK!
Damian mematahkan jari Marco dengan tang, hingga Marco menjerit kesakitan.
"AKU YANG MEMBUATMU DARI TIDAK ADA!" teriak Damian. "AKU YANG MEMBERIMU HIDUP, DAN INI BALASANMU?"
Dia mematahkan jari yang lainnya lagi, sampai semua jari tangan kanan Marco patah.
Aku menonton tanpa ekspresi, tanpa merasakan apapun. Bahkan ketika Marco menatapku dengan tatapan memohon.
"Nyonya, kumohon." bisiknya. "Tolong hentikan dia kumohon."
Tapi aku tidak bergerak, aku hanya berdiri di sana dan menonton semuanya.
"Dia tidak akan menghentikanku," kata Damian sambil mengambil alat setrum. "Karena dia mengerti, dan dia tahu pengkhianatan harus dibayar."
Dia menyalakan alat setrum, meletakkannya di dada Marco. Marco berteriak ketika listrik mengalir, tubuhnya bergetar tidak terkendali. Dan aku masih menonton, tanpa berkedip.
Penyiksaan berlanjut hingga berjam-jam. Damian menggunakan setiap alat di ruangan itu, setiap teknik yang dia ajarkan padaku.
Memotong, membakar, mematahkan, bahkan menyetrum. Dan Marco terus berteriak, terus memohon, dan terus meringis kesakitan. Sampai akhirnya, suaranya serak, hampir tidak keluar lagi.
"Siapa lagi?" tanya Damian. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Marco. "Siapa lagi yang mengkhianati aku?"
Marco menggeleng lemah. "Tidak ada lagi, hanya aku saja."
"BOHONG!" Damian memukul wajahnya dengan sangat keras, hingga gigi Marco patah dan jatuh ke lantai.
"Ada lagi," lanjut Damian. "Pasti ada lagi, dan kau tidak bisa melakukan semua ini sendirian."
"Sungguh, hanya aku." Marco batuk darah lagi.
Damian menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Tapi aku bisa melihat tangannya gemetar, bukan karena lelah. Tapi karena amarah yang hampir tidak terkendali.
Dia berbalik menatapku.
"Kau," katanya. "Kau yang akan mengakhiri dia, Alexa."
Aku tidak terkejut, karena aku sudah menduga ini akan terjadi. Aku melangkah maju, dan Damian menyodorkan pisau yang sama, yang kugunakan pada Sarah.
"Tusuk jantungnya," perintahnya. "Lakukan dengan cepat, agar tidak menyiksanya lagi. Dia sudah cukup menderita."
Aku mengambil pisau, berjalan ke arah Marco yang terikat di kursi. Menatap wajahnya yang hancur.
"Maafkan aku, Nyonya," bisiknya. "Maafkan aku yang gagal menyelamatkan Nyonya dari monster ini."
"Kau tidak perlu menyelamatkanku," jawabku datar. "Karena aku tidak butuh diselamatkan."
Marco menatapku dengan mata yang tersisa. "Nyonya, sudah menjadi seperti dia."
"Ya," jawabku. "Dan itu adalah pilihanku."
Aku mengangkat pisau, dan membidik jantungnya.
"Tunggu," kata Marco tiba-tiba. "Ada yang harus Nyonya tahu, ini tentang ayah Nyonya."
Tanganku seketika langsung berhenti.
"Dia masih hidup," lanjut Marco dengan napas terengah. "Dia yang menyuruh aku bekerja sama dengan Lorenzo. Untuk mencoba melemahkan Damian, supaya FBI bisa menangkapnya lebih mudah."
FBI.
Kata itu membuat jantungku berdetak lebih cepat.
"Apa maksudmu FBI?" tanyaku.
"Ayah Nyonya sudah kirim semua bukti ke FBI," kata Marco. "Tentang kejahatan Damian. Tentang pembunuhan keluarganya sendiri, dan tentang semua yang Nyonya lakukan juga."
Aku menatap Damian, dia juga menatapku dengan wajah yang pucat.
"Mereka akan datang," lanjut Marco. "Besok. Atau lusa, dengan surat penangkapan untuk kalian berdua."
Damian meraih kerah Marco. "KAU BERBOHONG!"
"Tidak," kata Marco. Tersenyum walau wajahnya penuh darah. "Aku tidak berbohong. Ayah Nyonya sudah mengirim email tiga hari yang lalu, dengan semua bukti. Termasuk video pembakaran rumah, bahkan rekaman Nyonya saat membunuh Lorenzo kemarin."
Ruangan terasa berputar. FBI. Penangkapan. Penjara.
"Jadi kalian berdua akan jatuh bersama," bisik Marco. "Monster dan monster, seperti yang seharusnya."
Damian melepaskan Marco, lalu berbalik, dan menendang meja. Alat-alat jatuh berserakan.
"SIALAN!" teriaknya. "SIALAN! SIALAN!"
Aku masih berdiri di sana dengan pisau di tangan, mencoba memproses informasi ini.
Ayah mengkhianatiku lagi, bahkan setelah semua yang terjadi. Dia masih mencoba "menyelamatkanku" dengan cara yang akan menghancurkan segalanya.
Kemarahan mulai naik, kemarahan yang panas dan terasa begitu nyata.
"Akhiri dia," kata Damian tanpa menatapku. Suaranya dingin. "Sekarang!"
Aku menatap Marco yang masih tersenyum.
"Setidaknya aku tahu, aku gagal menyelamatkan Nyonya dari Damian. Tapi aku berhasil menghancurkan kalian berdua," bisiknya.
Dan aku menusuk dengan keras, tepat di bagian jantung. Marco tersentak, dan tersenyum makin lebar, lalu dia mulai diam. Mati dengan senyum, di wajah yang hancur.
Aku menarik pisau itu, darah menetes di lantai, tangan tidak gemetar, dan tidak ada penyesalan.
Hanya kemarahan pada Marco, pada ayah. Pada semua orang, yang terus mencoba mengambil hidupku dari tanganku.
"Kita harus pergi," kata Damian. Suaranya sudah lebih tenang. Lebih fokus. "Kalau FBI benar-benar datang, kita harus kabur. Sekarang."
Aku menatapnya. "Kemana?"
"Aku punya tempat," jawabnya. "Tempat yang bahkan FBI tidak bisa lacak. Tapi kita harus pergi sekarang. Sebelum terlambat."
Dia meraih tanganku. "Kau ikut denganku?"
Pertanyaan sederhana, tapi dengan konsekuensi yang sangat besar. Ikut dengannya, berarti menerima sepenuhnya kehidupan ini. Menjadi buronan, tidak pernah bisa kembali ke kehidupan normal.
Tapi tidak ikut berarti apa? Ditangkap FBI? Dipenjara karena semua pembunuhan yang kulakukan?
Tidak ada pilihan yang baik, hanya pilihan yang berbeda tingkat keburukannya. Aku menatap tangannya yang terulur, berlumuran darah seperti tanganku. Lalu aku meraihnya.
"Ya," jawabku. "Aku akan ikut denganmu."
Damian tersenyum, menarikku ke pelukannya. Menciumku dengan napsu yang putus asa.
"Kita akan bertahan," bisiknya. "Kita akan terus bersama, apapun yang terjadi."
Dan aku percaya, karena aku tidak punya pilihan lain. Kami berdua terjerat di kegelapan yang sama, dan satu-satunya cara bertahan adalah tetap bersamanya.
Tapi apa yang tidak kami ketahui adalah, di luar mansion, sudah ada mobil-mobil FBI. Puluhan agen bersenjata mengepung, dengan surat penangkapan di tangan. Dengan bukti yang cukup, untuk memenjarakan kami selamanya.
Dan mereka hanya menunggu matahari terbit untuk menyerbu, menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri kerajaan berdarah ini.
Dan menangkap sang Raja dan Ratu, yang sudah sama-sama tenggelam terlalu dalam untuk diselamatkan.