NovelToon NovelToon
Salah Hati, Tepat Cinta

Salah Hati, Tepat Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / BTS
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Rania Venus Aurora

Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.

Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.

Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.9

...BENCANA MANIS...

Matahari masih setengah menguap, langit masih berwarna biru pucat dengan sisa-sisa dingin pagi yang enggan pergi. Namun kampus seperti biasa, tak pernah peduli pada transisi alam. Jam tujuh lewat lima belas menit berarti dunia akademik sudah menuntut korban. Dan pagi itu, korbannya bernama Ryn Moa.

Senin pagi, 07.15

Lorong kampus ramai seperti pasar modern, tapi satu gadis berlari seolah sedang mengikuti lomba maraton mendadak. Langkahnya terburu-buru, sepatunya menjejak lantai dengan bunyi tok-tok-tok yang tak sinkron. Tas selempang menghantam pinggulnya berkali-kali, buku-buku di dalamnya bergeser liar, dan satu lembar kertas nyaris menyerah pada gravitasi. Rambut hitamnya yang seharusnya terikat rapi kini lebih menyerupai karya seni abstrak, setengah terikat, setengah memberontak.

“Idaaa!! Tahan pintuuu!!” teriak Ryn Moa, napas ngos-ngosan, rambut sudah keluar dari ikatannya, dan roti tawar nyaris jatuh dari mulut.

Roti tawar itu, malang sekali nasibnya. Sudah dipanggang terburu-buru, dioles mentega setipis iman mahasiswa akhir bulan, dan kini hampir terlempar ke lantai kampus yang dingin dan tak kenal ampun. Beberapa mahasiswa menoleh. Sebagian tersenyum geli. Sebagian lain menghindar refleks, pengalaman mengajarkan bahwa Ryn Moa yang berlari adalah ancaman publik. Ida yang sudah berdiri di depan kelas hanya mengangkat tangan pasrah.

Ida, sahabat setia sejak ospek SMA yang tak pernah absen jadi saksi hidup kekacauan Ryn Moa, bahkan tidak terkejut. Ia sudah memprediksi ini sejak pesan “bangunin aku jam enam ya” dari Ryn Moa tadi malam, yang tentu saja diabaikan oleh Ryn Moa sendiri saat alarm berbunyi.

“Aku tahan pintunya, tapi dosennya udah masuk duluan, Moa!” katanya sambil menahan tawa.

Tawanya bukan tawa jahat. Lebih ke tawa pasrah yang sudah melewati tahap simpati dan kini tinggal menerima takdir. Ryn Moa hampir menangis, Betapa kejamnya dunia akademik. Dunia ini memang tidak adil, Kenapa kelas pagi harus dimulai pagi-pagi sekali? Kenapa dosen punya indera keenam untuk mendeteksi mahasiswa telat? Dan kenapa, dari sekian hari, hari ini dia memilih sepatu yang sedikit licin?

Dan seperti semesta yang hobi menambahkan drama ke dalam hidupnya, seperti biasa kalau Ryn sedang lari…akan terjadi bencana klasik. Bencana itu datang tanpa aba-aba.

BRUKK!!

Suara tabrakan terdengar cukup keras untuk membuat beberapa mahasiswa berhenti berjalan. Ryn Moa menabrak seseorang dengan kecepatan penuh dan keseimbangan nol. Ia menabrak seseorang lagi, Kertasnya terbang, Keseimbangannya hilang. Dan seseorang meraih lengannya tepat waktu. Dunia berhenti berputar selama satu detik. Ryn Moa merasa lengannya ditarik, tubuhnya ditahan agar tidak jatuh mencium lantai kampus dengan dramatis. Bau samar yang sedikit ia kenal bercampur aroma buku tua menyelinap ke indera penciumannya.Ia menelan ludah. Pelan-pelan, Ryn Moa mengangkat wajah dan saat pandangannya bertemu dengan wajah di hadapannya. Mata Ryn Moa melebar, nama itu langsung muncul di kepalanya, seolah sudah tertulis sejak awal.

...⭐⭐⭐...

Namjoon.

Senior jurusan Teknik Elektronik, sekaligus ketua club penulisan. Legenda hidup bagi mahasiswa baru yang pernah tersesat di gedung lama. Pria yang katanya hafal puisi tapi juga bisa lupa di mana menaruh pulpen sendiri. Meski tidak setampan Taehyung, tidak semencolok J-Hope, tidak se-glow-up Jungkook. Tapi… ada sesuatu dari dirinya. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Tidak mencolok, tapi terasa. Tidak berisik, tapi hadir. Aura tenang, Tatapan lembut. Pembawaan kalem yang bikin siapa pun merasa aman. Seolah dunia yang tadinya terburu-buru mendadak menurunkan volumenya. Namjoon menatap Ryn Moa dengan ekspresi sedikit terkejut, tapi cepat berubah menjadi senyum kecil yang nyaris tidak terlihat, namun entah bagaimana terasa besar.

“Kita ketemu lagi karena kamu lari-lari, ya?” kata Namjoon sambil tersenyum kecil, suaranya rendah dan menenangkan.

Ryn Moa membeku, namun otaknya menjerit. Jantungnya seperti lupa cara berdetak normal. Kalau ada tombol pause untuk hidup, pasti sudah ia tekan. Ryn Moa benar-benar merasakan jiwanya seakan keluar dari tubuhnya. Dia ingat sekarang, beberapa hari lalu. Di ruangan klub penulisan, Saat Namjoon memintanya untuk masuk dan duduk. Kakinya malah tersandung dan hampir jatuh. Dan untungnya, Namjoon dengan sigap menahannya hingga ia tidak sempat mencium lantai keramik yang ada disana. Saat itu juga dia sudah merasa aneh, tenang, tapi gugup.

“Ma… maaf…” Ryn Moa menunduk malu.

Suaranya kecil. Lebih kecil dari kepercayaan dirinya saat ini. Namjoon tidak tertawa. Tidak menghela napas. Ia hanya berjongkok ringan, memungut kertas-kertas yang tadi beterbangan. Tangannya bergerak rapi, teliti, seolah setiap kertas punya tempatnya sendiri di dunia ini.

“Kamu tidak ceroboh,” ujar Namjoon sambil memungut kertas-kertas Ryn dan merapikannya dengan teliti. “Kamu hanya terlalu terburu-buru.”

Ryn Moa menatapnya dari atas. Ada sesuatu yang hangat di dadanya, campuran antara lega dan bingung. Namanya juga Namjoon, dia bahkan menegur dengan gaya motivator. Kalau saja ini seminar pengembangan diri, Ryn Moa yakin Namjoon bisa jadi pembicara utama. Ia berdiri lagi setelah semua kertas kembali ke tangannya. Ryn Moa hanya bisa mematung, Suara Namjoon terdengar begitu lembut meski memiliki warna yang berat, Kalau suara punya bentuk, milik Namjoon itu bentuknya selimut hangat. Selimut yang dibungkuskan ke hati yang kedinginan karena dunia akademik.

Namjoon melirik jam tangannya sekilas, lalu kembali menatap Ryn Moa.

“Kalau sudah telat,” lanjut Namjoon sambil menepuk ringan lengan Ryn Moa.“mending jangan masuk. Dosen itu termasuk… sensitif.”

Kata sensitif diucapkannya dengan jeda kecil, seolah itu kode rahasia yang hanya dipahami oleh mereka yang pernah jadi korban. Ryn Moa menghela napas panjang.

“Terus aku harus ke mana?”. Ryn Moa menunduk putus asa.

Pertanyaan itu keluar begitu saja. Jujur. Tanpa filter. Karena jujurnya, dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa selain berdiri di lorong sambil menyesali hidup. Namjoon menggeser tas ranselnya ke satu bahu dengan santai juga tenang, seolah sudah terbiasa menyelamatkan mahasiswa tersesat. Lalu, dengan nada alamiah menawarkan air minum.

“Temani aku sarapan saja.”

Namjoon menunjuk kantin. Ryn Moa membelalakkan mata.

“Hah?!”

Itu bukan respon yang anggun. Tapi itu respon yang jujur. Namjoon terkekeh kecil. Hampir tidak terdengar, tapi nyata.

“Kelas pertamaku jam sembilan.” Ia tersenyum kecil. “Nah, kamu sekarang… punya waktu.”

Waktu, Kata itu menggema di kepala Ryn Moa. Waktu yang biasanya selalu kurang, kini mendadak terbuka lebar. Dari ujung lorong, Ida menyaksikan semua itu dengan ekspresi yang sulit dijelaskan, antara kaget, senang, dan ingin merekam semuanya. Dari jauh, Ida memberi isyarat heboh.

“AYO! YA AMPUNNN MOA!!”

Isyarat tangannya berlebihan. Mukanya seperti baru saja menyaksikan final drama favoritnya. Ryn Moa menelan ludah, Ia menatap Namjoon, Lalu kantin, Lalu kembali ke Namjoon. Dan Ryn Moa akhirnya mengangguk Pelan, dengan sedikit malu dan grogi. Seperti seseorang yang baru saja menandatangani kontrak tak tertulis dengan takdir.

“…baik.”

Dan begitu saja, pagi Senin yang seharusnya menjadi bencana akademik berubah arah. Bukan menuju kelas, bukan menuju teguran dosen, tapi menuju meja kantin dan kemungkinan-kemungkinan baru yang belum sempat diberi nama. Ryn Moa tidak tahu bahwa hari itu akan menjadi awal dari sesuatu yang lebih rumit dari rencananya mengejar Taehyung. Ia tidak tahu bahwa hidupnya akan semakin penuh tabrakan, bukan hanya secara fisik, tapi juga perasaan.

Yang ia tahu hanyalah satu hal sederhana. Kadang, terlambat bukan berarti salah arah, justru di situlah cerita paling penting dimulai.

...⭐⭐⭐...

Bersambung....

1
Amiera Syaqilla
romantis 💕
Rania Venus Aurora: terimakasih 🙏🏻
total 1 replies
falea sezi
author penggemar bts ya/Scream/
Rania Venus Aurora: Aku pernah dimasukan ke grup ARMY, karena teman-temanku ARMY semua. Cerita yang ada tentang BTS juga terinspirasi dari para ARMY disana.😊
total 1 replies
Ai_Li
Namanya unik-unik yaa
Ai_Li
Saya mampir kak, bagus ceritanya
Rania Venus Aurora: Makasih, kalau suka ceritanya 🥰
total 1 replies
Livia Aira
Lanjut thor 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!