NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Istri Kedua

Ternyata Aku Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Selingkuh
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tya

Aku menikah dengannya karena cinta.
Kupikir itu cukup.
Nyatanya, setelah akad terucap, aku baru tahu—
cinta itu bukan hanya milikku.
Saat hati dipaksa berbagi dan kebenaran menyakitkan terungkap, aku harus memilih:
mempertahankan pernikahan yang dibangun atas cinta,
atau pergi demi harga diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Hari-hari kulewati dengan penuh rasa syukur. Sedikit demi sedikit, nama kedai ayam geprekku mulai dikenal orang. Dari yang dulu hanya jualan keliling, kini aku memberanikan diri mengontrak sebuah ruko kecil untuk tempat usaha yang lebih layak.

Kehamilanku pun sudah memasuki trimester terakhir. Perutku semakin membesar, langkahku tak lagi selincah dulu. Aku sadar, tenagaku tak boleh dipaksakan. Menunggu saja waktunya si kecil hadir ke dunia, membawa harapan baru dalam hidupku.

Untuk sementara, semua urusan kedai kuserahkan pada Arumi. Ia yang mengatur karyawan, belanja bahan, hingga melayani pelanggan. Aku percaya padanya. Di tengah perjuangan ini, aku tak lagi sendiri. Kini yang kupikirkan hanyalah menjaga kesehatan dan bersiap menyambut kelahiran buah hatiku—anugerah terindah yang akan menjadi alasan terbesarku untuk terus kuat.

--

Pagi itu aku sudah siap pergi ke rumah sakit bersama Leon. Ia ada praktik pagi ini, jadi sekalian aku kontrol kandungan. Tangannya sigap membukakan pintu mobil untukku.

Namun saat aku hendak masuk, sebuah mobil berhenti mendadak di depan rumah.

Mas Bram turun dengan wajah tegang. Di belakangnya, Monika ikut melangkah turun, tatapannya tajam menelanjangiku.

“Jadi begini sekarang?” suara Mas Bram berat, menahan sesuatu. Matanya menatap Leon lama, rahangnya mengeras. “Kamu tiap hari pergi sama dia?”

Aku bisa melihat jelas—itu bukan sekadar marah. Itu cemburu. Tatapannya seperti tak terima melihatku berdiri sedekat ini dengan Leon.

Leon berdiri di sampingku, tenang namun waspada. “Rania mau kontrol. Tolong jangan bikin suasana tidak nyaman.”

Mas Bram mendekat satu langkah. “Tidak nyaman?” Ia tertawa pendek. “Harusnya aku yang bilang begitu.”

Monika menyilangkan tangan di dada. “Sudahlah, Mas. Ngapain juga cemburu? Memangnya yakin bayi itu anak Mas?” ucapnya dengan nada menusuk.

“Ikut aku sekarang, Rania!” tegas Mas Bram sambil menarik pergelangan tanganku.

“Apa-apaan, Mas?!” teriak Monika, wajahnya berubah merah karena cemburu. “Mas Bram, kamu ngapain sih?!”

Aku menepis tangan Mas Bram pelan tapi tegas. “Tenang, Mon. Nggak usah panik. Aku juga nggak mau sama Mas Bram. Nggak usah kepedean,” seruku dengan suara bergetar, menahan emosi dan rasa mual yang tiba-tiba muncul.

Mas Bram menatapku tajam. “Kamu harus ikut aku. Kamu masih istri sah aku!”

Kalimat itu membuat suasana seakan membeku.

Leon langsung berdiri di hadapanku, melindungiku. “Mas Bram, jangan paksa dia.”

“Aku ngomong sama istri aku!” bentak Bram, emosinya tak lagi tertahan. “Selama ini kamu sembunyi di belakang dokter ini, ya? Makanya berani melawan aku!”

Aku menggeleng, air mata mulai mengalir. “Yang melawan itu bukan aku, Mas. Tapi sikap kamu sendiri.”

Monika tertawa sinis. “Istri sah? Mas yakin? Atau Mas cuma nggak rela lihat dia sama laki-laki lain?” Sindirannya semakin memperkeruh keadaan.

Tatapan Mas Bram kembali padaku. Ada amarah, ada cemburu, dan ada ego yang terluka. “Aku nggak rela lihat istri aku dibawa-bawa laki-laki lain.”

Aku menatapnya dalam-dalam. “Waktu aku hamil dan kamu pergi, apa kamu ingat aku ini istri sah kamu?”

Perutku tiba-tiba terasa mengencang lagi. Aku meringis pelan.

Leon sigap memegang bahuku. “Rania, kamu kontraksi?”

Aku mengangguk pelan, napasku mulai tak teratur.

Mas Bram terlihat panik sesaat. “Rania…”

Tapi kali ini aku tidak lagi memandangnya sebagai tempat bergantung. Dengan sisa tenaga, aku berkata lirih namun tegas,

“Status itu bukan alasan untuk memperlakukan seseorang sesukamu, Mas.”

Leon membantuku masuk ke mobil. Mas Bram hanya berdiri membeku, sementara Monika menggenggam lengannya erat—takut kehilangan, takut tersisih.

Mobil perlahan melaju meninggalkan mereka, membawa aku menuju rumah sakit…

“Leon… ini kenapa perutku semakin sakit…” seruku sambil mencengkeram tangan kursi. Napasku mulai tidak teratur, rasa nyeri itu datang lebih kuat dari sebelumnya.

Leon melirikku sekilas, wajahnya berubah serius tapi tetap berusaha tenang. “Sabar, Rania… kita hampir sampai rumah sakit,” ucapnya lembut sambil satu tangannya mengelus rambutku, mencoba menenangkan.

Aku memejamkan mata ketika rasa itu kembali datang—lebih lama, lebih menyakitkan.

“Leon… sakit banget…” air mataku jatuh tanpa bisa kutahan.

“Tarik napas… pelan… ikut saya,” katanya lembut namun tegas, kini lebih sebagai dokter daripada sekadar teman. “Ini kontraksi. Kemungkinan sudah pembukaan.”

Mobil melaju lebih cepat. Aku hanya bisa berdoa dalam hati.

Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan instalasi gawat darurat. Leon turun lebih dulu lalu membukakan pintu untukku. Perawat yang mengenalnya langsung sigap membawa kursi roda.

“Dok, pasiennya sudah kontraksi kuat?” tanya salah satu perawat.

“Iya, kemungkinan fase aktif. Tolong siapkan ruang bersalin sekarang,” jawab Leon cepat.

Aku menggenggam tangannya erat sebelum didorong masuk.

“Leon… jangan tinggalin aku…”

Tatapannya hangat dan menenangkan. “Aku di sini. Kamu kuat, Rania. Sedikit lagi kamu akan ketemu adek bayi.”

Di balik rasa sakit yang luar biasa itu, ada perasaan haru yang perlahan tumbuh. Mungkin hari ini… bukan hanya luka yang terlahir kembali.

Tapi juga harapan.

Detik-detik persalinan itu terasa begitu panjang.

Aku sudah berada di ruang bersalin, napasku memburu, keringat membasahi pelipis. Rasa sakit datang bergelombang, semakin kuat, semakin rapat. Aku menggenggam erat sisi ranjang, berusaha tetap sadar.

Leon berdiri di sampingku. Ia masih mengenakan jas dokternya, tapi kini wajahnya bukan hanya seorang dokter—melainkan seseorang yang benar-benar peduli.

“Aku takut, Leon…” lirihku di sela kontraksi.

Leon langsung menggenggam tanganku. “Jangan takut. Aku di sini,” ucapnya lembut. “Hari ini aku izin tidak praktik. Semua jadwalku aku batalkan.”

Aku menatapnya lemah. “Kenapa…?”

“Karena kamu lebih penting,” jawabnya singkat tapi penuh makna.

Kontraksi kembali datang. Aku menjerit pelan, tubuhku menegang.

“Rania, dengarkan aku,” suaranya kini tegas namun tetap lembut. “Tarik napas… tahan… sekarang dorong.”

Aku mengikuti arahannya. Dalam rasa sakit yang hampir membuatku menyerah, suaranya seperti penuntun di tengah gelap.

“Ayo, sedikit lagi. Kamu kuat. Kamu wanita paling kuat yang aku kenal,” bisiknya sambil mengusap keningku.

Air mataku mengalir. Selama ini aku merasa sendiri menghadapi semuanya. Tapi hari ini… ada seseorang yang benar-benar memilih untuk tinggal.

“Sekali lagi, Rania! Dorong!”

Aku mengumpulkan seluruh sisa tenaga yang kupunya.

Dan detik berikutnya—

Tangisan bayi memecah ruangan.

Semua rasa sakit seakan terbayar lunas.

“Itu… bayi kamu,” ucap Leon pelan, matanya ikut berkaca-kaca.

Aku terisak haru saat mendengar tangisan kecil itu. Perawat meletakkan bayi mungil di dadaku. Hangat. Lembut. Nyata.

Leon tidak pergi. Ia tetap berdiri di sampingku, menatapku penuh bangga.

“Kamu berhasil,” katanya lirih.

Di antara lelah dan bahagia, aku sadar… hari ini bukan hanya aku yang melahirkan seorang bayi.

Tapi juga melahirkan keberanian baru dalam hidupku.

****

1
Kirana Sakira
semakin seru ceritanya....mantaaaappppp...👍👍👍👍👍
icha aghbath
udah bisa ngambil keputusan itu rania jgn banyak nga enakan lagi.. kan malah jadi emosi liat rania lelet bgt mikir kedepannya
Nur Janah
tuuhhh kaannn🤭🤭
Nur Janah
Bagus Rania rezeki mu udah di atur oleh author 😄😄
Tya: wkwkwk 🤭
total 1 replies
Nur Janah
bukannya kaca depan mobil Rania udah pecah karena preman ya Thor kok suaminya masih nggak percaya
Mamah Kaila
dasar lu nya aja yg lemah tololnya mendarah daging, udah tau dr awal dibohongi bukan nya pergi malah bertahan ya nikmati aja penderitaan lu, udahlah males baca cerita kayak gini
Agung Santosa
y iya,,lu aja yng tol**l,,mau aja dngrin omngn tmn lu,,udh tau posisi lu g mnguntungkn,,klo dasrnya lemah ya lemah aja,,g ush² pura² kuat,,
Mamah Kaila
perempuan bodoh
Nur Janah
semoga Leon datang tepat waktu
Nur Janah
aku juga baca satu milyar 30 hari
Tya: wih 😍, pokoke love sakkenon deh
total 1 replies
Nur Janah
pergi Rania yg jauh,yg ada nanti keluarga Bram menyalahkan kamu lebih tragisnya nanti anakmu di ambil dan kamu di ceraikan
Nur Janah
kan kamu di bohongi LG ran,pergi lh yg jauh.jangan biarkan suatu saat anakmu di ambil mereka
Nur Janah
kadang hidup setelah terluka hanya melanjutkan hidup saja tanpa makna,jadi curhat Thor🤭🤭
Tya: gak papa kak 🤭
total 1 replies
Nur Janah
siapa yg akhirnya di plih oleh bram
Nur Janah
Rania hamil ya thor
Nur Janah
pergi aja deh ran,sebelum kamu d cap pelakor
Nur Janah
baru baca Thor,semoga ceritanya seru aku kasih bunga biar semangat up nya
Tya: trimakasih kak 😍 semoga betah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!