"Lembayung Senja" mengisahkan perjalanan Arka, seorang siswa puitis dan ceroboh, yang nekat menembos pagar batas antara guru dan murid demi memenangkan hati Ibu Senja. Di setiap upayanya menyatakan cinta lewat puisi-puisi tingkat dewa, Arka justru terperosok ke dalam lubang komedi yang memalukan. Namun, di balik tawa dan salah paham, terdapat sebuah proses pendewasaan yang menyakitkan bagi Arka: memahami bahwa tidak semua puisi memiliki ending bahagia, dan bahwa kadang-kadang, cinta terlarang hanyalah sebuah prosa pendek yang harus selesai di tengah jalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PapaBian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelembung Udara di Atas Kertas Kosong
Aku hidup dalam oase buatan, sebuah gelembung udara kaca di mana aku berpura-pura bahwa segala sesuatunya masih normal—atau setidaknya, berjalan menuju normal. Aku bangun pagi, menyisir rambut yang mulai terlalu panjang, memakai kaus yang tidak terlalu bau, dan berjalan ke kampus dengan langkah yang kususun sedemikian rupa agar terlihat punya tujuan.
Di kampus\, aku menghindari koridor utama yang memanjang dari gerbang utama hingga ke aula\, jalur yang dulu sering kami lalui berdua sambil mendebat ide-ide liar untuk naskah *Simfoni Fajar*. Aku memilih jalan memutar lewat belakang laboratorium bahasa\, melewati tumpukan kayu bekas properti panggung yang mulai dimakan rayap. Aku berhasil menghindar\, berhasil menunda kepastian. Aku mengelabui diriku sendiri dengan dalih bahwa Nadia sedang sibuk tugas akhir\, atau mungkin dia sedang sakit\, atau mungkin—hanya mungkin—dia sedang diam di sudut perpustakaan\, menunggu aku datang dengan kata-kata yang bukan sekadar diksi kosong.
Hari Kamis itu, Jogja sedang dilanda hujan rintik yang datang tak henti, membasahi kota dengan lembab yang menyesakkan paru-paru. Aku berada di depan ruang kuliah, menunggu dosen Sastra Inggris yang terkenal tidak disiplin itu. Di sebelahku, Gilang sedang asyik memutar-mutar kunci motor Yamaha-nya yang baru saja diganti kampas rem.
"Eh, Ka, lo dengar gak sih?" Gilang tiba-tiba membuka percakapan tanpa menoleh, matanya fokus pada kilau logam kunci motor itu.
"Dengar apa?" tanyaku. Aku sibuk membenarkan letak kacamata yang melorot, sebuah kebiasaan otomatis ketika sarafku mulai tegang.
"Soal Nadia. Tadi pagi gue dapet broadcast dari anak komunitas teater di Bandung."
Jantungku seolah tertusuk oleh duri tajam yang tiba-tiba. Jantungku berdegup kacau, mengganggu ritme napas yang kucoba pertahankan agar tetap teratur. Aku menoleh pelan ke arah Gilang, mencoba membaca ekspresi wajahnya yang tanpa dosa.
"Broadcast apa, Lang? " sahutku dengan suara yang kucoba buat setenang mungkin, meski tangan kiriku mulai gemetar di saku celana.
Gilang berhenti memutar kuncinya. Ia menoleh, mukanya berkerut bingung melihat ekspresi panik yang kucegah mati-matian. "Woi, santai aja lo. Kenapa panik gitu? Gue cuma bilang, dia katanya udah nyampe di Bandung kemarin. Kirim foto kontrak kosan, katanya bagus banget pemandangannya. Cewek ini hebat ya, baru selesai pementasan kacau balau, eh udah berani pindah kampus segala."
Dunia di sekelilingku seolah-olah runtuh perlahan, tanpa suara. Suara hujan di luar kelas tiba-tiba menjadi sangat bising, seperti gemuruh ombak yang menghantam tebing. Aku merasa darah mengalir menjauh dari kepala, meninggalkanku pusing dan mual.
"Pindah kampus?" tanyaku, suaraku hampir tidak terdengar, tertelan oleh suara dentingan kunci motor yang Gilang mainkan lagi.
"Iya lah, pindah. Surat pindahannya beres minggu lalu. Gue kira lo tau. Soalnya waktu dia ngurus administrasi berkas, kan lo juga ada di sekitar situ waktu itu. Gue pikir lo yang anterin atau apa," jelas Gilang santai, sambil menyiramkan air mineral botol besar ke rantai motornya yang kotor.
Minggu lalu. Minggu lalu adalah saat pementasan itu hancur. Minggu lalu adalah saat dia menampar mukaku di panggung dan pergi meninggalkanku di bawah lampu sorot. Ternyata saat aku sibuk melamun di kamar kos, meratapi nasibku sebagai pahlawan tragis yang ditinggal kekasihnya, dia sedang sibuk merapikan koper-koper dan mengisi formulir pindah.
"Gue... gue nggak tahu apa-apa," bisikku pelan. Leherku terasa panas namun jari-jariku membeku.
Gilang menghentikan aktivitasnya. Ia menatapku sepenuh perhatian kali ini, alisnya yang tebal bertaut. "Lo beneran nggak tahu? Serius? Wah, parah banget sih komunikasi kalian. Padahal gue kira kalian itu satu paket. Best friend atau apalah namanya itu. Eh, tapi gue liat sih Nadia lagi riang banget di foto-fotonya. Kayaknya... ya, gimana ya, kayaknya dia seneng bisa lepas dari sini. Dia bilang di chat-nya mau fokus di Jurusan Komunikasi di sana, katanya atmosfer kampus sana lebih 'mendukung' buat dia yang pengin kerja di media."
Lebih mendukung. Kalimat itu menusuk telingaku lebih tajam daripada belati. Lebih mendukung daripada kebersamaan kami selama berbulan-bulan di Jogja ini. Daripada kita yang saling menyokong di panggung kecil yang pengap ini. Aku menyadari dengan menyakitkan bahwa selama ini, Aku mungkin hanyalah tempat persinggahan bagi Nadia. Sebuah pengalih perhatian sementara sebelum dia menemukan jalur yang sebenarnya. Dan jalannya itu tidak melalui aku.
"Eh, lo kenapa sih? Pucet banget," tanya Gilang, mulai mencurigai sesuatu.
"Gue... gue cuma kaget. Gue pikir dia cuma cuti doang," jawabku terburu-buru. Aku tidak sanggup menjelaskan semuanya pada Gilang. Aku tidak sanggup menceritakan betapa hancurnya aku, betapa bodohnya aku, betapa aku telah kehilangan satu-satunya fajar yang masih mau bersinar di langit kelabuku.
"Gue mau ke kos dulu, Lang. Pusing," gumamku berdiri, meninggalkan Gilang yang masih bingung dengan tingkahku.
Aku berjalan menyusuri koridor kampus dengan langkah gontai. Setiap langkah terasa berat, seolah-olah aku sedang berjalan di dasar samudera yang dalam. Hujan di luar semakin deras, air memukul jendela kelas dengan ritme yang tidak beraturan, seperti detak jantungku yang kacau balau. Aku berjalan melewati perpustakaan, melewati kantin, melewati pohon beringin di mana kami dulu pernah duduk berteduh dari panas matahari. Semua tempat itu kini berubah menjadi monumen-monumen kesepian.
Sampai di kamar kos, aku segera mengunci pintu dari dalam. Aku menyandarkan punggung di kayu pintu yang dingin, membiarkan tubuhku meluncur turun hingga terduduk di lantai ubin yang penuh noda. Kamar ini sunyi sekali. Terlalu sunyi. Tidak ada suara ketikankeyboard laptop milik Nadia, tidak ada suaranya yang menyindir puitisku, tidak ada aroma masakan dari warung sebelah yang sering dia bawa.
Aku meraba saku jaketku, mencari sesuatu yang entah kenapa masih kusimpan di sana. Buku catatan kulit cokelat itu. Buku yang kuberikan padanya saat di kedai kopi, buku yang berisi rencana-rencana kita untuk masa depan yang tak pernah terwujud. Dengan tangan gemetar, aku membukanya.
Halaman-halamannya penuh dengan kenangan. Coretan stabilo jingga, catatan blocking panggung, sketsa dekorasi yang kami buat saat lapar di tengah malam. Aku menelusuri setiap halaman, mencari sesuatu yang mungkin kupercaya bisa menghubungkan aku padanya. Namun, tidak ada nomor telepon baru, tidak ada alamat di Bandung. Hanya jejak-jejak usaha kami yang kini terasa seperti sampah sejarah.
Saat aku hendak menutup buku itu dengan putus asa, secarik kertas kecil terjatuh dari selipan halaman tengah. Kertas itu terlipat rapi, bekas sobekan dari selembar kertas HVS. Aku mengambilnya, merasakan teksturnya yang agak kasar di ujung jari.
Kuperluas kertas itu. Itu bukan puisi cinta. Itu bukan surat selamat tinggal. Itu adalah potongan kertas bekas yang tampak seperti coret-coretan kusut, mungkin sisa dari ketidaksengajaan saat Nadia menulis sesuatu. Aku mencoba membaca tulisan tangan Nadia yang tergesa-gesa.
Tulisan itu bertanggal sehari sebelum pementasan. Sehari sebelum dunia kami hancur. Aku membacanya perlahan, dan setiap baris kalimatnya berhasil meruntuhkan tembok pertahananku yang tersisa.
To-do list:
1. Selesaikan naskah Simfoni Fajar. Selesaikan dengan apapun caranya.
2. Ajukan surat pindah ke Bandung (sebelum UAN kampus baru).
3. Jangan jadi "obat" buat cowok yang gagal move on.Jika pementasan sukses dan arka berubah\, aku akan menetep tapi jika tidak maka aku akan pergi.
Tubuhku bergetar hebat. Nadia sudah merencanakan ini jauh sebelum aku bertingkah bodoh di panggung. Dia sudah melihat keputusasaanku jauh sebelum aku mengakuinya. Dia melihatku bukan sebagai seorang kekasih yang tersesat, melainkan sebagai beban yang harus di tinggalkan saat dia tau kalau aku masih tersangkut pada masa lalu. Dia melarikan diri ke kota lain bukan untuk mengejar impian semata, tapi untuk lari dariku.
"Aku sampah..." bisikku pada kehampaan kamar. "Aku cuma sampah buat dia."
Air mata yang kudamkan akhirnya tumpah ruah. Bukan tangisan yang melodramatis seperti di panggung, tapi tangisan yang hancur, yang menggerogoti jiwa tanpa suara. Aku menarik lututku ke dada, menunduk di lantai yang kotor itu. Di luar, hujan turun semakin deras, mencuci kota Jogja ini dari segala kotoran, termasuk dari kehadiranku yang tidak berguna ini.
Dalam kegelapan kamar kos, tanpa bintang, tanpa senja, dan tanpa fajar, aku menyadari bahwa tulisan terakhir di buku catatan itu bukanlah to-do list biasa. Itu adalah wasiat hubungan kami. Nadia telah mengeksekusi hukumannya dengan cara yang paling rapi dan paling menyakitkan: dia menghilang, meninggalkanku sendirian di dalam gelembung udara yang kini mulai mengempis dan menhancurkan dadaku.
Aku menggapai udara kosong di hadapanku, mencoba meraih sesuatu yang sudah tidak ada lagi. Tidak ada lagi tangan yang akan menepuk bahuku dan bilang "Gue nggak apa-apa" ketika aku jatuh. Tidak ada lagi tawa kasar yang akan menertawakan gombolan puitisku. Di ruang kosong ini, aku benar-benar sendirian. Dan suara hujan di luar jendela itu, satu-satunya teman bicaraku, hanya tertawa mengejekku dengan gema yang sunyi.