SEQUEL JODOH SHAKIRA PERNIKAHAN KEDUA.
Kisah ARYA PRATAMA & RAKA BAGASKARA
Arya Pratama baru saja mengalami patah hati, di tengah kesedihannya dia mengalami kecelakaan beruntun yang menyebabkan pengendara lain meninggal dunia.
Kecelakaan itu pula membuatnya harus bertanggungjawab atas bocah kecil, anak dari korban kecelakaan.
"Rawat dia seperti anakmu sendiri, sayangi dia sepenuh hati, dia tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini," ucap seorang ibu meminta Arya menjaga putranya.
Secara tidak terduga Arya bertemu perempuan yang berhasil membuat dadanya berdebar, sayangnya perempuan itu istri orang. Eh secara tidak disangka-sangka Arya malah berjodoh sama janda.
"Jodoh ketemu di jalan."
Sementara Raka Bagaskara, dia juga sama-sama terjebak dalam situasi sulit, ia juga menyukai istri orang.
"Janda dan gadis terlalu biasa, tapi bini orang, luar biasa, Mak. Raka suka sama bini orang Makkk!"
Akankah Raka menemukan jodohnya? Atau malah berusaha menjadi perebut istri orang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 - Teror
"Bang, Nisa bingung sama keadaan tadi, pertengkaran, penyelamatan, air mata, kekecewaan, semua ada di depan Nisa. Drama kehidupan mereka menjadi tontonan orang tapi Nisa bisa menyimpulkan adanya luka diantara mereka. Kak Andina melihat kak Arya menolong perempuan yang dia suka, kak Galuh dan suaminya berencana bercerai, tapi yang aku takutkan kak Arya mengejar kak Galuh. Kok aku kurang setuju ya, Bang."
Nisa duduk di kursi kebesarannya, lantai atas ruangan dia kerja. Di depannya ada Raka sedang duduk sambil mengetuk-ngetuk meja.
"Kehidupan mereka terlihat rumit, Nis. Abang juga gak ngerti tapi kalau sampai Galuh jadi cerai kayaknya Abang akan maju buat jadi obat lukanya deh," ucap Raka asal.
Deg.
Nisa tertegun mendongak menatap Raka. "A-abang juga suka sama kak Galuh?"
"Entahlah, Abang sendiri gak tahu. Ada rasa kasihan sama dia dan anehnya Abang ingin membantunya, apa itu disebut suka? Kalau iya berarti Abang menyukainya."
Pergerakan di tangan Nisa berhenti, pensil yang ia pegang terjatuh ke atas buku coretan tangannya.
"Abang yakin suka sama kak Galuh? Atau ini hanya semacam rasa iba, rasa kasihan sehingga pikiran Abang tertuju padanya? Cinta itu indah Bang, rindu saat tidak jumpa, bahagia saat melihatnya bahagia, sedih saat melihat dia terluka, dan yang pasti jantung berdebar ketika di dekatnya."
Raka menoleh, mengernyit serta menatap lekat wajah cantik Nisa, cantik nan imut. "Setahu itu kamu menafsirkan tentang cinta? Apa kamu pernah jatuh cinta? Setahu Abang kamu gak pernah dekat laki-laki selain keluargamu dan Abang."
"Pernahlah, makanya Nisa bilang seperti tadi karena Nisa pernah jatuh cinta, bahkan sampai saat ini masih mencintainya," jawab Nisa menunduk malu.
Raka terdiam, telinga panas, hatinya panas, dadanya bergemuruh, ia penasaran siapa laki-laki itu dan kenapa dia tidak suka melihat Nisa menyukai laki-laki lain?
"Anak kecil gak usah pacaran dulu, belajar yang bener, cinta tidak seindah itu, dek."
Nisa mendelik. "Idih, siapa juga yang pacaran? Nisa gak mau pacaran, maunya langsung lamaran dan nikah. Asal Abang tahu ya, jatuh cinta itu indah hanya saja harus siap terluka jika cintanya tidak terbalas dan usia Nisa bukan anak kecil lagi Bang, usia Nisa udah 24 tahun, udah siap berumah tangga sayangnya jodohnya masih disembunyikan Allah."
"Siapa sih laki-laki itu? Jangan harap bisa deketin kamu, kalau mau hadapi Abang dulu, enak aja mau ngambil zahratunnisa dari tangan Abang." Raka berdiri kecil tanpa dia sadari perkataannya membuat Nisa mematung tak percaya.
Gadis berhijab itu mendongak menatap Raka dengan tatapan sulit di artikan.
"Apa Abang punya rasa suka sama Nisa makanya bilang gitu? Perkataan Abang posesif seperti kekasih yang tidak mau kekasihnya di ambil orang."
Kini Raka yang terdiam memikirkan reaksi sendiri. "Apa gue keterlaluan? Kenapa jadi seperti tadi? Benarkah gue posesif sama Nisa?"
"Enggak lah, gak mungkin Abang suka sama kamu, kamu tuh udah Abang anggap adik makanya harus Abang jaga tapi Abang sayang sama kamu, Zahra." ungkap Raka serius sambil berlalu dari sana.
Tubuh Nisa merosot, kepalanya ia rebahkan di atas meja. "Gila, rasanya sungguh gila, bang Raka bilang sayang sama aku?"
********
Mobil Raka menjauh dari boutique Zahra menuju toko miliknya. Tidak sengaja saat di belikan, kendaraanya hampir menabrak tubuh seseorang.
Bruk.
"Astaghfirullah! Gue nabrak orang!" Raka panik, dia segera turun mengecek siapa sosok wanita yang sedang berlari tanpa melihat kiri kanan.
"Mbak kamu tidak ..." mata Raka terbelalak melihat Galuh duduk meringis kesakitan dan ketakutan. "Galuh! Ngapain kamu?"
Raka berjongkok membatu Galuh berdiri. "Kening kamu terluka, Galuh. Ada apa sih? kenapa lari-larian gak jelas?"
Galuh panik, sesekali menoleh ke belakang. Hari ini dia minta izin sama Nisa untuk tidak masuk kerja karena Roki terus merecokinya, terlebih pikirannya kacau mengingat pertemuannya lagi sama Andina, wanita di masa lalunya.
"Raka saya minta maaf, saya tidak sengaja, tadi itu .. tadi saya di kejar orang gak tahu siapa memakai topeng hendak membunuh saya. Saya melawan dan kepala saya terbentur batu, terus saya lari malah gak sengaja menabrak mobil kamu." Galuh panik, ia benar-benar ketakutan setengah mati, hidupnya mendadak tidak aman dan ia juga tidak tahu siapa sosok bertopeng yang sudah datang menerornya hari ini.
Raka memperhatikan sekitarnya, "aneh, kok bisa kamu dapat teror gini? Kamu merasa punya musuh?" tanya Raka serius.
Galuh menggelengkan kepalanya, merasa tidak punya, tapi sedetik kemudian dia diam terpaku pikirannya tertuju pada seseorang. "Apa ini ulah Andina? Bisa jadi kan? Andina masih dendam sama aku dan berusaha melenyapkan aku, tapi buktinya apa?"
Dia mengingat-ingat kira-kira siapa musuhnya, tapi tidak ada satupun yang ia ingat dan hanya teringat sama Andina saja, perempuan yang pernah dia permainkan hidupnya dan menjadi alasan Andina kehilangan anak.
"Aku gak tahu Raka, aku disini baru satu tahun ikut mas Roki dan gak terlalu kenal banyak orang, aku juga merasa tidak punya musuh tapi tadi .. orang itu bilang Saya akan bunuh kamu agar tidak ada lagi penghalang dalam hidupku. Jujur saya takut, Raka."
Sebelumnya Galuh terpaksa ikut ke tempat kerja Roki, tentunya atas keinginan Roki sendiri. Disaat suaminya sedang kerja di bagian gudang, Galuh berinisiatif jalan-jalan di area kebun dan dia merasa ada yang mengikutinya.
Saat Galuh berbalik ke belakang ada sosok memakai baju hitam lengkap memakai topeng berdiri membawa pisau. Galuh panik dan ia lari, orang itu juga ikut mengejarnya. Kakinya sempat tersandung jatuh, keningnya terbentur batu.
Saat benda tajam itu hendak menusuk perutnya, Galuh pun menendang perut orang itu dan berlari menyelamatkan diri.
"Ini aneh, ya sudah, kamu ikut saya kita obati luka di kening kamu."
Tidak ada pilihan lain, Galuh pun ikut sama Raka daripada sendirian, ia jauh merasa lebih aman bersama Raka saat ini.
*******
Warung makan pinggir jalan.
"Nih minum dulu." Arya memberikan satu botol minum sama Andina. Dia tidak jadi datang ke kantor dan memilih menghabiskan waktu bersama Andina serta anaknya.
"Makasih A." Tangan Andina meraih minuman itu kemudian meminumnya.
"Cakil cenang kita baleng-baleng," kata Syakir di tengah-tengah mereka. Rizki tidak ikut sebab anak itu harus sekolah, ya, setelah dari toko baju Arya mengantarkan Rizki ke sekolah, sekolah agama yang beroperasi di jam 2 siang sampai jam 4 sore.
"Nanti malam kita ke pasar malam, ajak kak Iki juga," kata Arya.
"Ye, acik, jangan bohong ya papa." Wajah Syakir berbinar bahagia.
Arya tersenyum mengusap kepala sang putra, lalu dia memperhatikannya Andina dengan seksama hingga mata keduanya saling beradu pandang.
"Apa yang terjadi kepadamu? Kenapa matamu sembab seperti habis menangis?"