Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Hari Pertama Turnamen di Sungai Tiga
Pagi hari di Wilayah Netral Sungai Tiga dimulai dengan suara gaduh.
Yuda terbangun oleh teriakan pedagang, dentingan logam, dan sorak sorai orang-orang yang sudah berkumpul sejak matahari belum tinggi.
Bau keringat, asap masakan, dan tanah basah bercampur menjadi satu.
Tubuhnya masih terasa nyeri, tetapi rasa sakit itu sudah tidak cukup kuat untuk menghentikannya bangkit.
Kini terlihat, Tara sudah berada di dekat pintu bangunan kayu.
“Hei bocah bebal, Bangunlah ,” katanya singkat.
“Hari ini kau akan dipukuli orang asing.” lanjutnya dengan menggigit baju Yuda.
“Kalimat penyemangatmu terdengar bagus kucing jelek, Hahaha..." jawab Yuda sambil berdiri perlahan dengan tawanya.
“Biasakanlah bocah, Ini di dunia luar.” ucap Tara dengan serius.
"Haihhh.. Iya iya, dasar kucing crewet." jawab keluh Yuda kepada Tara.
Tara pun hanya mendengus pelan dan sedikit meraung kecil.
Krrrr.. Meow—
Arena turnamen dibangun di lapangan terbuka dekat sungai netral.
Tanahnya diratakan seadanya, sedangkan di sekelilingnya dipasang pagar kayu kasar, cukup tinggi untuk mencegah penonton turun tangan, tapi tidak cukup kuat jika ada yang benar-benar mengamuk.
Peserta pun mulai berdatangan satu persatu dari berbagai tempat.
Ada murid klan kecil dengan pakaian seragam, ada petarung bayaran, ada pula pemuda desa yang hanya bermodal nekat.
Tidak ada pembagian kelas usia atau latar belakang, semuanya dicampur.
“Ini sepertinya bukanlah turnamen yang baik,” gumam Yuda.
“Memang, Ini hanya seperti penyaringan bakat saja." jawab Tara disampingnya.
Pendaftaran pun dilakukan cepat.
Nama dicatat, tapi asal tempat tidak ditanya.
Yuda mendapat nomor tujuh puluh dua, lumayan di urutan yang lama.
“Kalau kau jatuh pingsan, jangan bangun cepat-cepat,” kata Tara tiba-tiba.
“Pura-pura saja seperti orang mati, itu teknik bertahan hidup.” lanjutnya memberi saran.
Yuda mengangguk pelan, setengah yakin perkataan Tara hanya candaan.
Pertarungan pertama berlangsung brutal.
Yuda dipanggil lebih cepat dari yang ia duga, karena ternyata urutannya di acak.
Lawan pertamanya adalah pria bertubuh besar dengan bekas luka di wajah dan tangan penuh kapalan.
Ia tidak memperkenalkan diri, dan begitu aba-aba diberikan, pria itu langsung menyerang Yuda.
Melihat itu, Yuda pun lantas dengan cepat menghindar.
Pukulan pertama lawan menghantam udara, tapi tekanan anginnya cukup membuat Yuda kehilangan keseimbangan.
“Tenang... Tenang” suara Tara terdengar dari luar arena, namun hanya Yuda yang tahu bahasanya, karena di telinga orang lain, kucing kecil itu hanya terdengar seperti bersuara layaknya seekor kucing biasa, Meow-meow-..
“Jangan paksa tenaga dalammu bodoh.” lanjutnya melihat Yuda sedikit tertekan.
Yuda menahan dorongan naluri untuk melepaskan tenaga penuh.
Ia hanya bergerak seperti latihan kasar yang dilakukan beberapa hari terakhir.
Satu langkah, satu elakan, satu pukulan singkat.
Hingga akhirnya pukulan itu mengenai rusuk lawan.
Seketika pria besar itu langsung terhuyung, membuat, sorakan-sorakan muncul dari penonton.
Namun lawan tidaklah muda untuk terjatuh. Ia tersenyum lebar dan menyerang Yuda dengan lebih ganas.
Hingga pada akhirnya, pertarungan pun berakhir cepat dan menyakitkan.
Yuda menang bukan karena kekuatan, tapi karena lawannya terlalu meremehkan.
Saat pria itu jatuh dan tidak bangkit lagi, wasit mengangkat tangan Yuda tanpa emosi.
“Nomor tujuh puluh dua, Menang,” teriak wasit itu dengan datar.
Yuda pun langsung turun dari arena dengan napas yang terlihat berat.
Melihat itu, Tara langsung meloncat ke bahunya.
“Kau memang manusia bebal, bodoh, tapi tidak sepenuhnya payah.” maki Tara tiba-tiba.
“Itu pujian atau hinaan, dasar kucing jelek?” jawab Yuda tak mau kalah.
“Terserah aku,” jawab Tara juga tak mau kalah.
Dan sebuah masalah tiba-tiba saja muncul setelah pertarungan.
Dua orang mendekati Yuda di luar arena.
Mereka mengenakan jubah biru tua dengan lambang kecil di ikat di pinggangnya.
“Hei bocah, kami dari Akademi Langit Tengah, Kami tertarik padamu.” ucapnya tiba-tiba setelah sampai di hadapan Yuda.
Mendengar itu, Tara pun langsung menyela, dengan suara khas kucingnya.
Meooww— yang artinya adalah “Jangan ikut campur.”
Kedua pria itu pun menatap Tara dengan bingung, lalu akhirnya menatap Yuda.
“Tenang saja, kami hanya mengamatimu, bocah” kata mereka sebelum pergi kembali.
Tara pun mendengus melihat kepergian mereka.
“Kita sudah mulai di perhatikan, bocah bebal.” ucap Tara.
Mendengar perkataan Tara, Yuda hanya terdiam tidak menjawab, wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu.
Pertarungan kedua akhirnya di mulai, tapi Yuda tidak seberuntung seperti pertarungan yang pertama.
Lawan Yuda adalah pemuda kurus dengan gerakan cepat dan teknik rapi, jelas itu menunjukkan bahwa dia adalah murid klan besar.
Sejak awal dimulai, Yuda sudah langsung terdesak.
Setiap serangan dibalas dengan efisien, dan setiap celah akan langsung dimanfaatkan musuhnya.
Yuda akhirnya terjatuh kebelakang
Namun wasit yang melihat itu tidak menghentikan pertandingan, karena Yuda belum melewati batas arena yang di tetapkan.
“Hei bocah bebal, cepat bangun,” suara Tara tajam.
Di arena, Yuda memaksa tubuhnya untuk segera bergerak kembali.
Ia mengingat latihan berdiri diam, menahan napas, dan mengalirkan tenaga perlahan.
Hingga akhirnya satu momen terbuka di hadapannya
Yuda memukul musuhnya dengan cepat.
Tenaga dalamnya bocor, tapi itu cukup untuk menjatuhkan lawannya.
Higga membuat pemuda itu terlempar keluar arena.
Suasana disana seketika langsung berubah menjadi sunyi sesaat, sebelum akhirnya sorak-sorai keras meledak.
Yuda menang lagi!
Namun tubuhnya terlihat sudah hampir menyerah dan lemas.
Melihat itu, Tara menatapnya lama.
“Setelah ini, kau harus berhenti hari ini.” ucap Tara singkat, namun terlihat sangat khawatir.
“Masih ada satu pertarungan lagi Tara,” jawab Yuda terengah.
“Tapi kalau kau lanjut, kau akan terluka lagi bodoh, dasar manusia bebal,” balas Tara dengan kesal.
Mendengar itu, membuat Yuda sedikit ragu.
Namun tiba-tiba saja terdengar sebuah suara asing terdengar.
“Hei.. Biarkan dia bertarung lagi.” ucapnya keras.
Seorang pria berambut panjang dengan jubah biru tua berdiri di tepi arena dengan tatapan matanya yang tajam, dan sebuah senyuman tipis keluar dari mulutnya.
“Siapa kau?” tanya Yuda dengan tegas.
“Orang yang tertarik pada masa depanmu bocah,” jawabnya tenang.
Yuda pun menatap pria itu sedikit lama, mengamatinya dengan cermat, ia khawatir orang di depannya akan menyerangnya dengan tiba-tiba.
Tara disampingnya pun hanya terlihat berdiri tenang, namun kakinya terlihat siap menerjang pira berjubah biru tua itu, jika sewaktu-waktu pria itu menyerang.
"Meoww—" ucap Tara, namun tetap diabaikan Pria berjubah biru tua, karena tidak tahu bahasanya.
Pria berjubah biru tua itu hanya mengira bahwa Tara seekor kucing biasa, dan tidak berbahaya.
Meskipun pada kenyataanya dunia di sini seekor siluman tidak lagi asing, dan hidup berdampingan dengan manusia.
Namun tetap saja, wujud Tara saat ini sangatlah terlihat biasa, sehingga membuat orang lain mengira ia hanyalah seekor kucing biasa dengan kelainan taring yang sedikit lebih panjang.
Dan akhirnya, tanpa Yuda sadari, langkahnya hari ini telah menarik banyak perhatian yang seharusnya belum datang.
......................