NovelToon NovelToon
Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Cinta Pertama Dan Takdir Keluarga

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sandi Wabaswara

Episode 1 – Pertemuan yang Tak Pernah Terduga
Arga Wibawa adalah putra dari seorang ayah yang memiliki perusahaan ternama di Jakarta. Takdir mempertemukannya kembali dengan Alya Putri Kirana, cinta pertamanya yang tak pernah bisa ia lupakan.
Sejak perpisahan mereka di bangku SMA, Arga harus mengikuti kedua orang tuanya pindah ke Bali karena ayahnya mendapatkan proyek besar di sana. Mau tak mau, Arga meninggalkan Jakarta dan melanjutkan pendidikan kuliahnya di Pulau Dewata. Meski waktu terus berjalan, bayangan Alya tak pernah benar-benar pergi dari pikirannya.
Bertahun-tahun kemudian, Arga akhirnya lulus dari kuliahnya. Dengan tekad yang kuat, ia memutuskan kembali ke Jakarta untuk mencari sang pujaan hati. Sebulan setelah kelulusannya, Arga bersiap dan terbang menuju kota yang penuh kenangan itu.
Setibanya di Jakarta, Arga mulai mencari pekerjaan sambil berusaha menelusuri keberadaan Alya.
Sementara itu, kehidupan Alya tak berjalan semulus ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandi Wabaswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 – Pertemuan yang Mengguncang

Pagi itu, Alya terbangun dengan dada yang terasa sesak. Semalaman ia hampir tak bisa memejamkan mata. Bayangan ayahnya yang terbaring lemah di rumah sakit terus menghantui, bercampur dengan ketakutan akan ancaman Rayhan yang semakin nyata.

Saat Arga berangkat kerja, Alya berdiri di depan pintu, menatap punggung suaminya dengan perasaan campur aduk. Ia ingin mengatakan niatnya, namun keberanian itu seolah menguap. Ia tahu, Arga pasti akan melarangnya. Dan justru itulah yang membuat Alya memilih diam.

Begitu Arga pergi, Alya pun menguatkan hati. Ia mengenakan jaket, menutup kepalanya dengan kerudung sederhana, lalu melangkah keluar rumah dengan jantung berdegup kencang. Setiap langkah terasa berat, namun tekadnya lebih besar. Ia harus menemui ayahnya.

Di sisi lain, gerak-gerik Alya tak luput dari pantauan orang suruhan Rayhan. Pria itu segera melapor.

“Tuan, Alya keluar rumah sendirian. Sepertinya menuju ke suatu tempat.”

Rayhan menyunggingkan senyum dingin.

“Terus ikuti dia. Jangan sampai dia sadar. Aku ingin tahu ke mana dia pergi.”

Mobil hitam itu melaju perlahan, menjaga jarak aman. Alya awalnya tak menyadari apa pun. Namun, setelah beberapa menit berjalan, nalurinya mulai memberi sinyal bahaya. Ia merasa ada sepasang mata yang terus mengawasinya.

Langkah Alya semakin cepat. Napasnya memburu. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Beberapa kali ia menoleh, namun tak menemukan apa-apa. Meski begitu, rasa takut terus mencengkeram.

Di sebuah persimpangan, Alya berbelok tiba-tiba, masuk ke gang sempit yang dipenuhi pedagang kecil. Ia menyelinap di antara kerumunan, lalu berhenti di balik sebuah kios tertutup. Dadanya naik turun, jantungnya hampir meledak.

Beberapa saat kemudian, mobil yang mencurigakan itu melintas begitu saja. Orang suruhan Rayhan kehilangan jejak.

Alya menghela napas lega, meski ketakutan belum sepenuhnya hilang.

Dengan tangan gemetar, ia meraih ponselnya dan menekan nomor Arga.

Nada sambung terdengar.

“Hallo…” suara Arga terdengar di seberang sana.

“Arga…” ucap Alya dengan suara bergetar.

“Kamu kenapa, Al?” tanya Arga cemas. “Suaramu terdengar ketakutan.”

“Aku… aku merasa diikuti seseorang sejak tadi,” bisik Alya. “Sekarang aku sudah bersembunyi, tapi aku benar-benar takut…”

Jantung Arga serasa berhenti berdetak.

“Apa? Kamu di mana sekarang? Kenapa kamu keluar rumah sendiri?”

“Aku… aku ingin ke rumah sakit menjenguk ayah,” jawab Alya lirih.

Arga terdiam sesaat, lalu berkata dengan nada tegas, “Dengarkan aku, Al. Jangan ke mana-mana dulu. Kirimkan lokasimu sekarang. Aku akan menjemputmu.”

“Tapi ayah—”

“Keselamatanmu lebih penting. Aku nggak mau kehilanganmu,” potong Arga dengan suara bergetar.

Air mata Alya jatuh tanpa bisa ia cegah.

“Baik… aku kirim lokasinya.”

Telepon terputus. Alya menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Di sudut kota lain, Arga memutar arah kendaraannya, melaju dengan kecepatan tinggi, hanya dengan satu tujuan: melindungi perempuan yang paling ia cintai.

Sementara itu, Rayhan menerima laporan bahwa jejak Alya sempat hilang.

“Cari sampai ketemu,” perintah Rayhan dingin. “Aku ingin bertemu dengannya… secara langsung.”

Dan pagi itu, takdir perlahan membawa mereka menuju sebuah pertemuan yang akan mengguncang segalanya.

Arga tiba di titik lokasi yang Alya kirim dengan napas terengah. Matanya bergerak cepat, menyapu setiap sudut jalan, mencari sosok yang paling ia khawatirkan. Jantungnya berdetak keras, rasa cemas bercampur takut menyatu menjadi satu.

Tanpa menunggu lama, Arga meraih ponselnya dan menekan nomor Alya.

Nada sambung terdengar.

“Kamu di mana, Al?” tanya Arga dengan suara tegang.

“Aku… aku di toko baju, dekat toko buah,” jawab Alya pelan.

Arga menoleh ke sekeliling. Pandangannya menangkap deretan toko kecil yang berjajar rapat. Ia segera berlari ke arah yang dimaksud.

Beberapa detik kemudian, suara Alya kembali terdengar, kali ini lebih gemetar.

“Arga…”

“Alya, kenapa? Kamu nggak apa-apa?” tanya Arga cemas.

“Aku ketakutan, Ga. Aku merasa seseorang terus mengawasi.”

Arga menggenggam ponselnya semakin erat. “Tenang, dengarkan aku. Aku sudah dekat. Kamu di mana tepatnya?”

“Aku di dalam toko baju warna biru… aku bersembunyi di belakang rak.”

Arga mempercepat langkahnya. Dalam hitungan detik, ia menemukan toko yang dimaksud. Saat masuk, ia langsung melihat Alya berdiri kaku dengan wajah pucat.

“Alya…” panggilnya pelan.

Alya menoleh. Begitu melihat Arga, kakinya seolah kehilangan tenaga. Ia berlari kecil lalu memeluk Arga erat, air matanya jatuh tanpa mampu ia tahan.

“Aku takut…” bisiknya.

“Sudah… aku di sini,” ucap Arga menenangkan. “Kamu tidak apa-apa? Ada yang melukaimu?”

Alya menggeleng. “Tidak… aku hanya ingin bertemu ayah.”

Arga menghela napas lega, lalu menatap keluar toko dengan waspada. Di seberang jalan, tampak seorang pria berdiri terlalu lama, matanya sesekali menoleh ke arah mereka.

“Kita harus pergi sekarang,” ucap Arga pelan namun tegas. “Aku melihat seseorang yang sepertinya sedang mencari kita.”

Alya menegang. “Itu orang suruhan Rayhan?”

“Mungkin,” jawab Arga singkat. “Dan kita tidak boleh mengambil risiko.”

Tanpa membuang waktu, Arga menggenggam tangan Alya erat dan mengajaknya keluar melalui pintu samping toko. Mereka berjalan cepat menyusuri gang sempit, menjauh dari pusat keramaian, berusaha menghilang dari pengintaian.

Di balik langkah tergesa itu, ketegangan semakin memuncak. Alya tahu, sejak saat itu, hidup mereka tak lagi sekadar tentang cinta dan perjuangan, tetapi juga tentang bertahan dari ancaman nyata yang mengintai di setiap sudut.

1
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Maulana Hasanudin
cerita sangat menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!