Rahmat hanyalah siswa SMA biasa—miskin, bodoh, diremehkan, dan dipaksa menanggung hutang satu miliar yang ditinggalkan ayahnya.
Ibunya terbaring di rumah sakit, deb collector bernama tomy terus mengancamnya, memukuli Rahmat sampai hampir mau mati, ia diberi waktu lagi selama dua bulan.
Waktu hanya tersisa dua bulan. Saat segalanya terasa mustahil, sebuah suara muncul di kepalanya.
[Sistem Analisis Nilai Aktif.]
[Menampilkan nilai sebenarnya dari segala hal]
Dari jam tangan rongsok bernilai jutaan, hingga saham perusahaan raksasa yang diam-diam akan runtuh—Rahmat kini bisa melihat apa yang tak terlihat orang lain.
Namun dunia investasi bukan taman bermain.
Satu kesalahan berarti kehancuran.
Satu langkah terlambat berarti ibunya menjadi “jaminan”.
Bisakah seorang bocah 16 tahun membalikkan nasibnya, menembus dunia finansial yang penuh manipulasi, dan menumbangkan perusahaan yang menghancurkan keluarganya?
(bismillah, ayo ramai, support penulis kecil ini yaallah 😭🙏wkw)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24—Malam Ini Untukmu Akan Kutunjukkan Yang terbaik
Kamar mandi itu mendadak jadi hening, Ramat mengalahkan penyerang dengan waktu sangat cepat sehingga membuat semua orang terkejut.
“Uhuk, uhuk,” Kanaya terbatuk, napasnya baru saja ditekan untuk waktu yang lama sehingga kesulitan untuk bernapas. Kondisi dia juga terlihat sedikit berantakan, rias di wajahnya terhapus oleh air mata, ia pasti ketakutan.
Rahmat menatap si gadis, mengulurkan tangan, membantu kanaya untuk berdiri. “baik-baik saja neng?”
Kanya meraih tangan itu, sedikit tersipu karena ternyata pria yang menyelamatkan dia terlihat muda, mungkin seumuran dia, dan sangat tampan terlihat cocok dengan kemeja hitam tersebut.
“Aman, kak,” ucapnya. “Omong-omong makasih sudah menolongku.”
Rahmat terkekeh. “Gak usah terima kasih, aku cuma melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Mana ada cowok yang membiarkan cewek cantik dijadikan sandar, bukan?”
Pipi gadis itu memerah. Cantik, tentu sebagai idol ia terbiasa akan pujian tersebut, tapi jika pemuda itu yang berkata sedikit berbeda.
Rahmat melihat pria bermasker itu, lalu menghela napas. Barusan jelas-jelas adalah penyerangan dari fans fanatik, pasti bukan satu dua kali ia mengalami hal ini.
Tapi tetap ada yang janggal, pria itu hanya pria biasa. Bukan berasal dari sindikan, tapi sebuah pistol jelas bukan hal yang bisa didapat oleh orang biasa.
Yang artinya—--
Kanaya!!” Manajer dan beberapa staf langsung berlari, sangat khawatir. Bahkan manajer itu sampai memeluknya.
Bagi manajer, kanaya bukan sekedar personil idol, tapi sudah dianggap sebagai adik kecil. “Dirimu nggak apa-apa, kan? Tidak ada yang terluka, kan?”
“Haha, tenang saja, kak kayla,” ucap kanaya membalas perasaan khawatir itu. “Semua berkat kakak di sana, sampai aku bisa aman-aman saja.”
Sadar akan hal itu kayla langsung tersentak. Berdehem, ia berdiri di depan Rahmat mengucapkan rasa terima kasih yang sangat dalam.
“Aku sangat berterima kasih denganmu kak. Terima kasih sudah menyelamatkan idol kami!”
“Iya, sama-sama, kak.” Rahmat tersenyum.
Kanaya belum sempat melanjutkan kalimatnya ketika Kayla lebih dulu maju selangkah.
Wajah manajer itu masih pucat, tapi sorot matanya tegas. Ia menatap Rahmat dengan rasa terima kasih yang benar-benar tulus.
“Tidak… ini tidak bisa dianggap sepele.” Suaranya masih sedikit gemetar. “Kalau kamu tidak datang tepat waktu, entah apa yang terjadi pada Kanaya.”
Ia memberi isyarat pada salah satu staf.
Staf itu langsung membuka tas kecil dan mengeluarkan amplop tebal.
“Aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya dengan pantas,” lanjut Kayla, “tapi tolong terima ini sebagai tanda terima kasih kami. Uang tunai. Anggap saja kompensasi atas risiko yang kamu ambil.”
Suasana mendadak hening.
Beberapa kru mengangguk-angguk setuju. Bagi mereka, ini wajar. Menyelamatkan idol sebesar Kanaya bukan perkara kecil.
Rahmat melirik sekilas ke amplop itu. Lalu ia tertawa kecil. “Waduh, kak… jangan bikin aku kelihatan kayak satpam freelance dong.”
Kayla tertegun.
Rahmat menggeleng pelan. “Aku menolong bukan karena uang … cuma temen saya sudah nunggu acara kak kanaya, dia rewel kalau acara ditunda terus.”
“Tapi tetap saja, aku yang merasa tidak enak, kak, paling tidak terima sebagian—-” kali ini Kanaya yang berkata, ia berdiri.
“Kalau kamu bersikeras. Baiklah. Hadiahku simple, buat acara konser kakak semeriah mungkin,” ucap rahmat. “Temanku yang barusan berjabat tangan dengan kakak sangat antusias, soalnya.”
Mendengar jawaban polos dari Rahmat, Kayla terdiam beberapa detik, lalu menghela napas. “Anak muda sekarang… aneh-aneh ya.”
Di belakang mereka, dua petugas keamanan akhirnya masuk dan membekuk pria bermasker yang masih tergeletak lemas itu. Tangannya diborgol tanpa perlawan berarti.
Pria itu hanya menatap Kanaya.
Tatapan kosong.
Campuran antara penyesalan… dan obsesi yang belum sepenuhnya padam.
“Aku cuma mau kamu ingat…” gumamnya lirih sebelum diseret pergi.
Kanaya terdiam sesaat.
Ada sesuatu dalam kalimat itu yang menusuk—bukan karena takut, tapi karena ia sadar… mungkin ia memang pernah tersenyum pada orang itu dulu. Di masa-masa panggung kecil. Di masa ia bahkan bersyukur jika ada sepuluh orang yang menonton.
Ia adalah orang yang menakutkan dan terobsesi kepadanya, tapi ia bukan tipe kacang lupa kulit.
“Anu, permisi …” Kanya berjalan mendekati si pria itu, semua orang tampak heran, manajernya malah panik.
Pria itu sontak terkejut, matanya terbuka lebar.
“Anu … makasih sudah mendukungku selama ini,” ucapnya tersenyum lalu menundukkan kepala.
Ruangan hening.
Rahmat tersenyum, tampaknya gadis itu cukup rada-rada.
Kalya terkekeh, “dasar anak itu .. entah terlalu baik atau polos.”
Anisa kembali muncul dengan tangan yang dimasukkan kedalam jaket, dia yang memanggil dua petugas barusan.
Kayla menatap Anisa. “Terima kasih sudah cepat bertindak.”
Anisa mengangguk singkat. Lalu menatap rahmat, mendekatinya.
Rahmat mengenal gadis itu, paling tidak secara rumor. Ia adalah ketos SMA-nya, dikabarkan sebagai anak komandan polisi di kota ini.
“Bagaimana pendapatmu mengenai kejadian barusan?” Tanya dia ke Rahmat.
“Janggal, dia jelas pria biasa. Tapi entah kenapa bisa ke sini, memiliki akses di ruang tunggu, dan bahkan punya pistol .”
“Artinya cuma satu ….”
“Ada seseorang di belakang ini!”
“Ada seseorang di belakang ini!”
Annisa terkekeh. Seperti dugaan dia, Rahmat itu orang yang cukup menarik.
“Aku bisa serahkan masalah ini kepada kakak?”
“Ya serahkan padaku. Dia akan diinterogasi habis ini.”
“Baguslah. Kalau begitu aku akan segera kembali, aku masih ada acara kencan dengan seseorang.” Ucap rahmat membalikan badan, lalu berjalan menjauh.
Kanaya terlihat ingin mengejar, paling tidak dia berharap bisa mengetahui nama pria yang menyelamatkannya.
Beberapa kru mulai kembali ke posisi masing-masing. Rundown acara sudah kacau, tapi konser belum bisa dihentikan begitu saja.
Kayla kembali menoleh pada Kanaya. “Kamu masih sanggup tampil?”
Semua orang terdiam.
Kanaya berdiri lebih tegak. Tangannya masih sedikit gemetar… tapi matanya sudah berbeda.
“Aku tampil,” katanya pelan.
“Yakin?”
Kanaya mengangguk. “Kalau aku nggak naik sekarang… dia akan kecewa.”
Kalimat itu membuat Kayla terdiam.
“Semangat, Idol,” ucapnya santai. “Katanya mau nunjukin yang terbaik.”
Kanaya menoleh padanya.
Dan kali ini, senyumnya bukan senyum panggung. Tapi senyum untuk seseorang yang barusan menyelamatkan malamnya.
“Aku nggak akan bikin kamu menyesal udah nolong aku. Malam ini akan kutunjukkan yang terbaik, untuk kamu dan temanmu itu.”