NovelToon NovelToon
Royal Route To Bukit Lawang

Royal Route To Bukit Lawang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / TimeTravel / Komedi / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ranu Kallanie Jingga

Enam tahun pengabdian dan cinta jarak jauh (LDR) berakhir sia-sia bagi Aurora. Ia didepak begitu saja lewat pesan singkat, diblokir dari seluruh aspek kehidupan sang mantan, dan digantikan oleh sosok "penjual kesedihan" yang ahli memanipulasi simpati. Luka itu dibawa pulang ke Medan, terkubur di balik kesuksesan yang ia bangun dalam diam.
​Tiga tahun berlalu, ego sang mantan akhirnya runtuh. Di bawah tekanan kebutuhan penelitian S3 ibunya di pedalaman Bukit Lawang yang keras dan rawan, ia terpaksa menelan ludah sendiri (mengubungi kembali nomor yg dulu ia blokir). Ia mengharapkan bantuan, mungkin sedikit rasa iba.
​Namun, yg ia temukan bukanlah mantan kekasih yg meratapi nasib.
​Aurora menerima permintaan itu dengan senyum paling tenang. Bukan dengan amarah, ia menyambut mereka dengan kemewahan yg tak pernah mereka bayangkan. Sebuah Hiace VVIP dengan kursi pijat elektrik menanti di bandara, dikawal oleh sahabat2 loyal dan seorang fotografer yg siap mengabadikan penyesalan sang mantan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranu Kallanie Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Privasi Mutlak

Di dalam kabin BMW yang mewah, atmosfer berubah menjadi sangat kontras dengan terik matahari Medan di luar sana.

Rico kini duduk di kursi kemudi, mengenakan kacamata hitamnya dengan gaya yang sangat cool. Ia sengaja mengemudi dengan kecepatan stabil, memberikan "ruang" yang cukup bagi dua orang di belakangnya.

Di kursi penumpang belakang, Aurora dan Firan seolah sedang memanfaatkan setiap detik yang tersisa sebelum mereka harus kembali ke realitas sandiwara.

Atap mobil yang tertutup memberikan privasi mutlak. Aurora menyandarkan tubuhnya sepenuhnya pada dada bidang Firan, sementara tangan Firan merengkuh pinggangnya dengan posesif.

Tanpa banyak bicara, mereka kembali larut dalam ciuman yang dalam dan penuh gairah. Ini bukan sekadar kontak fisik, melainkan cara mereka mengisi ulang energi setelah seharian harus berpura-pura di depan Adrian dan Sherly.

Bagi mereka bertiga, ini adalah ritual rahasia. Komitmen backstreet ini memang melelahkan, namun memberikan sensasi kemenangan tersendiri—mengetahui bahwa di mata dunia Aurora mungkin masih "lajang" atau "sedang didekati", padahal kenyataannya ia sudah sepenuhnya milik Firan.

"Ingat ya, dua menit lagi kita sampai di gerbang,"

celetuk Rico dari depan, matanya sesekali melirik spion tengah sambil senyum-senyum sendiri.

"Ayo, sesi 'perpisahan' sementara harus diakhiri. Simpan sisa apinya untuk malam nanti, oke?"

Mendengar instruksi Rico, Aurora perlahan melepaskan pagutannya.

Ia menarik napas panjang, merapikan sedikit lipstiknya yang agak berantakan, dan memperbaiki tatanan rambutnya agar kembali terlihat anggun dan formal.

Firan pun melakukan hal yang sama; ia merapikan kerah kemejanya dan memasang kembali wajah tenang, teduh, namun berwibawa yang menjadi ciri khasnya.

"Siap kembali jadi 'teman baik' yang sopan, Sayang?" goda Firan sambil mengusap pipi Aurora lembut.

Aurora tersenyum licik. "Tentu saja. Mari kita buat mereka bingung dengan ketenangan kita."

Rico membelokkan setir dengan lihai memasuki area parkir Taman Buaya Asam Kumbang.

Ia sengaja menginjak gas sedikit lebih dalam agar deru mesin BMW itu terdengar sampai ke area rombongan Hiace berada.

Saat mobil itu berhenti tepat di dekat pintu masuk, perhatian pengunjung—terutama rombongan Adrian—sontak teralih.

Pintu belakang terbuka, dan Aurora turun dengan langkah yang sangat ringan, disusul oleh Firan yang dengan sigap membukakan pintu untuknya namun tetap menjaga jarak profesional sekitar satu langkah di belakang.

Adrian, yang tadinya sedang mendengarkan penjelasan Arga, langsung mematung. Ia melihat Aurora tampak sangat segar, matanya berbinar, dan auranya terlihat jauh lebih bahagia dibandingkan saat di dapur tadi.

Ia tidak tahu bahwa kebahagiaan itu bersumber dari kemesraan yang baru saja terjadi di dalam mobil beberapa menit yang lalu.

"Nah, itu mereka!" seru Siska heboh sambil melambai ke arah BMW.

Kehadiran BMW sport itu sudah cukup mencuri perhatian, namun sambutan yang diterima Aurora jauh lebih mengejutkan bagi keluarga Adrian.

Seorang pria paruh baya keturunan Tionghoa dengan pakaian sederhana namun berwibawa—sang pemilik penangkaran—langsung berjalan cepat menghampiri mereka dengan wajah sumringah.

"Nona Kecil! Akhirnya main ke sini lagi," sapanya dengan suara serak yang ramah. Ia tidak menyalami Aurora dengan formal, melainkan menyambutnya seperti anggota keluarga sendiri.

Aurora tersenyum sangat manis, menyalami pria itu dengan santun.

"Lama tidak berkunjung, Om. Apa kabar 'Si Pompom'?" tanya Aurora menyebutkan nama salah satu buaya legendaris di sana.

Sang pemilik tertawa lepas, ia melambaikan tangan pada petugas loket agar membiarkan rombongan "Elit Squad" (Aurora, Firan, dan Rico) masuk tanpa perlu menunjukkan tiket.

Pemandangan ini membuat Sherly semakin muak hingga ke ubun-ubun. Di matanya, Aurora selalu punya "pintu belakang" di mana pun ia berada, sementara dirinya harus antre dan kepanasan.

Begitu bergabung dengan rombongan besar, Rico seolah menyalakan sakelar "mode centil".

Ia langsung menghampiri Siska dan keduanya mulai berkompetisi siapa yang paling heboh mengomentari buaya-buaya yang diam mematung.

"Ya ampun, Sis! Lihat yang itu! Kulitnya lebih kasar dari hati mantan, ya?" celetuk Rico sambil mengibas-ngibaskan kipas tangannya.

Siska tertawa terpingkal-pingkal, membuat suasana yang tadinya tegang menjadi sangat meriah.

Tepat saat petugas membunyikan lonceng tanda pemberian makan dimulai, ribuan buaya yang tadinya diam mulai bergerak lincah menuju tepian danau.

Suara kecipak air dan moncong yang beradu menciptakan suasana yang mendebarkan.

Di tengah kerumunan yang berebut melihat, Aurora tampak berjalan tenang menepi ke arah salah satu petugas senior.

Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan segepok uang tunai dari tasnya dan menyerahkannya.

"Tolong siapkan pakan tambahan yang paling bagus. Saya ingin tamu-tamu saya merasakannya langsung," ucap Aurora dengan nada tenang namun tegas.

Petugas itu mengangguk patuh. Tak lama kemudian, beberapa petugas lain membawa ember-ember besar berisi daging segar ke area khusus yang lebih tinggi dan aman, namun sangat dekat dengan jangkauan buaya.

"Ayah, Ibu... silakan maju ke depan sini," ajak Aurora sambil melambai pada keluarga Adrian.

"Aku sudah siapkan pakan khusus. Kalian bisa mencoba melempar daging ini langsung ke mulut buaya-buaya dewasa itu. Ini pengalaman yang jarang diberikan untuk pengunjung umum."

Ayah dan Ibu Adrian tampak sangat antusias. Mereka merasa diperlakukan seperti tamu VVIP.

Namun, bagi Adrian, tindakan Aurora ini terasa seperti tamparan halus.

Aurora sedang menunjukkan kekuasaannya—bukan dengan amarah, tapi dengan kemurahan hati yang tidak bisa ia tandingi.

Sedangkan Sherly, ia kini berdiri bimbang.

Ia ingin terlihat berani di depan keluarga Adrian, namun melihat mulut buaya yang menganga lebar di bawah sana membuatnya gemetar.

Riuh rendah teriakan Siska dan Rico pecah di udara saat mereka berebut ember berisi potongan daging. Rico dengan gaya dramatisnya berteriak,

"Awas, Sis! Jangan sampai tanganmu yang mungil itu ikut dicaplok!" Sementara Siska hanya tertawa kencang sembari melemparkan potongan besar ke arah buaya yang paling rakus.

Di sisi lain, Firan sedang menunjukkan baktinya. Ia berdiri dengan sangat sabar di samping Nenek Adrian, memegangi lengan sang nenek agar tetap seimbang saat melemparkan pakan.

Ketenangan Firan membuat para orang tua berdecak kagum, memandangnya sebagai sosok menantu idaman yang sangat mengayomi.

Memanfaatkan perhatian semua orang yang tertuju pada keganasan buaya di danau, Adrian melangkah perlahan mendekati Aurora yang berdiri sedikit menjauh di dekat pagar pembatas yang lebih sepi.

"Ra," panggil Adrian pelan.

Suaranya hampir tertelan oleh suara kecipak air dan sorak-sorai Siska.

Aurora menoleh sedikit, namun pandangannya tetap tertuju ke arah danau.

"Ya, Dri? Kamu tidak mau ikut melempar pakan? Itu menyenangkan untuk melepas stres."

"Aku tidak butuh itu untuk melepas stres," jawab Adrian, suaranya mengandung nada getir yang dalam.

Ia berdiri tepat di samping Aurora, namun tetap menjaga jarak agar tidak memancing kecurigaan Firan.

"Ra, aku hanya ingin bicara sebentar. Tanpa penonton, tanpa Rico yang berisik, dan tanpa... Firan."

Aurora menarik napas panjang, ia memutar tubuhnya menghadap Adrian, melipat tangan di dada dengan tenang.

"Bicaralah, selagi mereka masih sibuk."

"Aku melihatmu tadi, Ra," ujar Adrian, matanya menatap tajam ke arah Aurora.

"Saat turun dari mobil BMW itu... kamu terlihat sangat berbeda. Kamu terlihat... bahagia. Sesuatu yang sudah lama sekali tidak aku lihat saat kamu masih bersamaku di tahun-tahun terakhir kita."

Adrian menelan ludah, suaranya merendah menjadi bisikan yang penuh penyesalan.

"Masakan tadi, ingatanmu soal susu favoritmu, cara kita di dapur... aku tahu kamu masih ingat semuanya. Aku tahu hatimu tidak sedingin itu padaku. Apa benar pria itu sudah sepenuhnya menggantikan posisiku? Ataukah kamu hanya sedang mencoba menghukumku dengan kebaikannya?"

Aurora menatap Adrian dengan tatapan yang sulit dibaca. Bukan kebencian yang terpancar, melainkan sebuah rasa kasih yang sudah berubah bentuk.

"Dri," ucap Aurora tenang,

"Kebahagiaan yang kamu lihat sekarang bukan karena aku sedang menghukummu. Tapi karena aku akhirnya menemukan seseorang yang tidak memintaku untuk terus-menerus mengalah demi egonya. Firan tidak menggantikan posisimu, dia membuat posisi baru yang lebih sehat."

Baru saja Adrian hendak membalas, ia melihat dari pancaran kacamata hitam milik Aurora dan langsung beralih ke arah belakang.

Terlihat Firan sudah selesai membantu nenek dan kini berjalan tenang ke arah mereka dengan senyum yang tetap sopan namun memiliki aura "mengambil kembali" miliknya.

1
Anonymous
tuhkan bener kalo authornya ranu pasti plotwisnya banyak banget😍😍
Anonymous
firaannnnn sing eling firaannn😭😭
R_Bell
atasnya wanita surgawi, bawahnya wanita binal juga 🤣🤭
Durrotun Nasihah
karyamu luar biasa kak..../Rose//Rose//Rose/
Ranu Kallanie Jingga: Waah Makasih kak🤭
Tetap pantengin kelanjutannya ya kak😍
total 1 replies
Durrotun Nasihah
luar biasa kak ......semngat....
Ranu Kallanie Jingga: Terima kasih kak🤭😍
total 1 replies
Anonymous
sherly kata gue mending lu beneran tobat deh...
aurora ni kepribadian ganda ato gimana sih kadang dingin kadang welcome😭
Anonymous
sherly jadi kalem malah bikin curiga🙄😬
Ranu Kallanie Jingga: hihi trust issue bgt ya sama sherly😄
total 1 replies
Anonymous
aurora udh jadi mantan aja masih royal ke kluarga nya adrian apalagi kalo belum jadi mantan gak kebawang semewah apa🤭
nyesel banget deh tu si adrian lebih milih ulet bulu kaya sherly
Sinta Harianto
Suka dengan alur cerita nya
Ranu Kallanie Jingga: terima kasih kak
jangan lupa pantengin terus kelanjutanya ya😍🤭
total 1 replies
Andriani
lah katanya orang beriman. dhuha gak pernah tinggal... wih drama x ni cewek🤭
Allea
jalang banget sih si serly😑
Andriani
lanjut kk... bagus ni ceritanya... anak medan kereenn😍
Ranu Kallanie Jingga: siap kakk..
pantengin terus ya kelanjutannya🤭🤭

Salam Anak Medan...
HORAASSSS😍
total 1 replies
Fita Lidya
ak suka sindiranx😄
Anonymous
ayoo buruan lanjut lagi thor😍😍
Anonymous
pasti selalu banyak plot twisnya...
semoga endingnya aurora gak usah balikan sama adrian deh...
Ranu Kallanie Jingga: balikan gak yaaa hihi🤭
total 1 replies
Allea
semoga endingnya Aurora ga balik ma andrian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!