Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 (BONUS) Setelah Diam Itu Dipilih
Malam turun pelan di apartemen kecil Aruna.
Lampu dapur menyala setengah, menyisakan bayangan panjang di lantai. Aruna berdiri di depan wastafel, blazer sudah ia lepaskan, rambutnya diikat seadanya. Air mengalir, tapi piring di tangannya tak benar-benar ia cuci. Pikirannya tertinggal jauh di siang tadi—di ruang rapat kecil, di kalimat Calvin, di keputusan yang tak bisa ia tarik kembali.
Ia mematikan keran.
Sunyi langsung menyerbu.
Aruna bersandar pada meja dapur, menutup mata. Untuk pertama kalinya hari ini, ia membiarkan bahunya turun. Napasnya tertahan sebentar, lalu keluar perlahan. Di kantor, ia adalah perempuan yang tenang dan terkontrol. Di sini, ia hanya seseorang yang sadar bahwa hidupnya mulai bergeser arah.
Ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Hati-hati dengan keputusan yang kamu ambil.
Tidak semua orang seaman yang kamu kira.
Jarinya mengeras di layar.
Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada nama. Tapi pesan itu cukup untuk membuat dadanya mengencang. Aruna membaca ulang, mencoba menangkap pola. Cara menulisnya terlalu rapi untuk sekadar iseng. Terlalu tepat waktunya untuk disebut kebetulan.
Ia mengunci layar ponsel.
Di kepalanya, satu kesadaran muncul dengan dingin dan jujur:
diamnya telah diperhatikan lebih dari satu pasang mata.
Aruna berjalan ke jendela. Kota membentang di bawah, lampu-lampu gedung berkelip seperti rahasia yang tak pernah tidur. Ia teringat ibunya, yang selalu berkata bahwa hidup bukan tentang keberanian bicara, tapi tentang tahu kapan harus bertahan.
“Aku bertahan, Bu,” gumamnya pelan. “Tapi kenapa rasanya seperti masuk ke perang lain?”
Pikirannya melayang ke Calvin.
Pria itu tidak pernah menaikkan suara. Tidak pernah memaksa. Justru itulah yang membuatnya sulit dibaca. Ia memberi pilihan, tapi setiap pilihan punya harga. Dan hari ini, Calvin sudah menunjukkan satu hal dengan jelas—Aruna tidak lagi berdiri di pinggir permainan.
Ia ada di papan.
Ponselnya kembali bergetar. Kali ini nama yang muncul membuat langkahnya terhenti sesaat.
Calvin Aryasatya
Tidak ada pesan. Hanya satu notifikasi singkat: missed call.
Aruna menatap layar itu lama.
Ia tahu, panggilan ini bukan tentang pekerjaan yang tertunda atau dokumen yang lupa ditandatangani. Ini tentang sesuatu yang lebih halus—tentang kepercayaan, tentang posisi, tentang jarak yang mulai menyempit tanpa izin.
Ia tidak menelpon balik.
Belum.
Aruna meletakkan ponsel di meja, lalu duduk perlahan di kursi dapur. Di antara keheningan dan cahaya lampu yang temaram, satu hal akhirnya ia akui pada dirinya sendiri:
diam bukan lagi sekadar pilihan aman.
Diam telah menjadi ikatan.
Dan ikatan itu, cepat atau lambat, akan menuntut balasan.
Aruna memejamkan mata sesaat, lalu membuka kembali dengan napas yang lebih teratur. Ia bukan tipe perempuan yang panik karena pesan anonim atau panggilan tak terjawab. Tapi ia juga tidak naif. Terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam waktu singkat.
Ia mengambil buku catatan kecil dari tas kerjanya—yang selalu ia simpan untuk hal-hal penting, bukan jadwal, bukan daftar tugas. Di halaman kosong, Aruna menulis satu kalimat pendek:
Jangan percaya siapa pun sepenuhnya.
Tinta hitam itu terasa berat, seolah menandai garis awal. Ia menutup buku itu perlahan, menyelipkannya kembali ke dalam tas, lalu berdiri. Jika diam adalah langkah pertama, maka bersiap adalah langkah berikutnya.
Aruna tahu satu hal sekarang:
permainan ini sudah berjalan.
Dan ia tak bisa lagi berpura-pura hanya penonton.
...****************...
Kalau diam mulai mengundang perhatian,
apa yang seharusnya Aruna lakukan selanjutnya—tetap bertahan, atau mulai melawan?
🤍 Bab berikutnya akan membawa Aruna pada konflik yang tak bisa ia abaikan lagi.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/