NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06 (BONUS) Setelah Diam Itu Dipilih

Malam turun pelan di apartemen kecil Aruna.

Lampu dapur menyala setengah, menyisakan bayangan panjang di lantai. Aruna berdiri di depan wastafel, blazer sudah ia lepaskan, rambutnya diikat seadanya. Air mengalir, tapi piring di tangannya tak benar-benar ia cuci. Pikirannya tertinggal jauh di siang tadi—di ruang rapat kecil, di kalimat Calvin, di keputusan yang tak bisa ia tarik kembali.

Ia mematikan keran.

Sunyi langsung menyerbu.

Aruna bersandar pada meja dapur, menutup mata. Untuk pertama kalinya hari ini, ia membiarkan bahunya turun. Napasnya tertahan sebentar, lalu keluar perlahan. Di kantor, ia adalah perempuan yang tenang dan terkontrol. Di sini, ia hanya seseorang yang sadar bahwa hidupnya mulai bergeser arah.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Hati-hati dengan keputusan yang kamu ambil.

Tidak semua orang seaman yang kamu kira.

Jarinya mengeras di layar.

Tidak ada ancaman langsung. Tidak ada nama. Tapi pesan itu cukup untuk membuat dadanya mengencang. Aruna membaca ulang, mencoba menangkap pola. Cara menulisnya terlalu rapi untuk sekadar iseng. Terlalu tepat waktunya untuk disebut kebetulan.

Ia mengunci layar ponsel.

Di kepalanya, satu kesadaran muncul dengan dingin dan jujur:

diamnya telah diperhatikan lebih dari satu pasang mata.

Aruna berjalan ke jendela. Kota membentang di bawah, lampu-lampu gedung berkelip seperti rahasia yang tak pernah tidur. Ia teringat ibunya, yang selalu berkata bahwa hidup bukan tentang keberanian bicara, tapi tentang tahu kapan harus bertahan.

“Aku bertahan, Bu,” gumamnya pelan. “Tapi kenapa rasanya seperti masuk ke perang lain?”

Pikirannya melayang ke Calvin.

Pria itu tidak pernah menaikkan suara. Tidak pernah memaksa. Justru itulah yang membuatnya sulit dibaca. Ia memberi pilihan, tapi setiap pilihan punya harga. Dan hari ini, Calvin sudah menunjukkan satu hal dengan jelas—Aruna tidak lagi berdiri di pinggir permainan.

Ia ada di papan.

Ponselnya kembali bergetar. Kali ini nama yang muncul membuat langkahnya terhenti sesaat.

Calvin Aryasatya

Tidak ada pesan. Hanya satu notifikasi singkat: missed call.

Aruna menatap layar itu lama.

Ia tahu, panggilan ini bukan tentang pekerjaan yang tertunda atau dokumen yang lupa ditandatangani. Ini tentang sesuatu yang lebih halus—tentang kepercayaan, tentang posisi, tentang jarak yang mulai menyempit tanpa izin.

Ia tidak menelpon balik.

Belum.

Aruna meletakkan ponsel di meja, lalu duduk perlahan di kursi dapur. Di antara keheningan dan cahaya lampu yang temaram, satu hal akhirnya ia akui pada dirinya sendiri:

diam bukan lagi sekadar pilihan aman.

Diam telah menjadi ikatan.

Dan ikatan itu, cepat atau lambat, akan menuntut balasan.

Aruna memejamkan mata sesaat, lalu membuka kembali dengan napas yang lebih teratur. Ia bukan tipe perempuan yang panik karena pesan anonim atau panggilan tak terjawab. Tapi ia juga tidak naif. Terlalu banyak kebetulan yang terjadi dalam waktu singkat.

Ia mengambil buku catatan kecil dari tas kerjanya—yang selalu ia simpan untuk hal-hal penting, bukan jadwal, bukan daftar tugas. Di halaman kosong, Aruna menulis satu kalimat pendek:

Jangan percaya siapa pun sepenuhnya.

Tinta hitam itu terasa berat, seolah menandai garis awal. Ia menutup buku itu perlahan, menyelipkannya kembali ke dalam tas, lalu berdiri. Jika diam adalah langkah pertama, maka bersiap adalah langkah berikutnya.

Aruna tahu satu hal sekarang:

permainan ini sudah berjalan.

Dan ia tak bisa lagi berpura-pura hanya penonton.

...****************...

Kalau diam mulai mengundang perhatian,

apa yang seharusnya Aruna lakukan selanjutnya—tetap bertahan, atau mulai melawan?

🤍 Bab berikutnya akan membawa Aruna pada konflik yang tak bisa ia abaikan lagi.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!