"Ya Allah, ini ayah mertuaku... yang memberiku restu... yang kutitipi janji menjaganya."
Pedang di tangannya bergetar. Antara cinta pada Halimah dan cinta pada tanah air, ia harus memilih yang satu.
"Ayah... maafkan menantumu. Bukan karena aku tega, tapi karena tanah ini lebih besar dari cinta kita semua."
Pedang itu melesak. Bersamaan dengan ruh ayah mertuanya, ruh Maringgih pun ikut mati separuh.
---
Suara Nurani Halimah
Ia melihat dari kejauhan. Mulut terbuka, suara mati di tenggorokan.
"Suamiku... kau membunuh ayahku?"
Bukan marah yang pertama hadir. Tapi tanya yang lebih dalam:
"Berapa luka yang kau pendam, Maringgih, sampai kau sanggup melakukan ini?"
Air matanya jatuh untuk dua lelaki sekaligus. Untuk ayah yang rebah. Untuk suami yang kini harus hidup dengan bayangan mayat ayah mertuanya sendiri.
"Aku kehilangan ayah hari ini... tapi aku juga kehilanganmu, Maringgih."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PENGASINGAN SUNYI
Datuk Sulaiman sadar satu hal yang paling mematikan: kampung ini tidak lagi memihaknya.
Pagi itu, Sulaiman berdiri di beranda rumahnya. Matahari baru naik setinggi tombak, sinarnya keemasan menyapu atap-atap rumah di kampung. Biasanya, jam-jam seperti ini ia akan melihat petani berangkat ke ladang, ibu-ibu ke pasar, atau beberapa orang penting yang mengantar anak-anaknya ke sekolah milik Belanda—tempat yang hanya bisa ditempati oleh putra-putri bangsawan dan orang-orang penting pribumi.
Tapi pagi ini, yang ia lihat berbeda.
Para petani berjalan melewati rumahnya tanpa menoleh. Beberapa bahkan menunduk—bukan hormat, tapi menghindar. Seorang ibu yang biasa menyapa kini memilih menyeberang jalan. Dan ketika Halimah keluar membawa tas sekolah Usman dan Hasan, siap mengantar mereka ke sekolah, tidak ada satu orang pun yang membalas tegur sapanya.
Halimah mengenakan baju kebaya berwarna biru muda, rambutnya diikat rapi dengan pita putih. Usman dan Hasan sudah berpakaian seragam sekolah—kemeja putih bersih dan celana panjang hitam yang terawat baik. Mereka berjalan dengan langkah pelan menuju gerbang rumah.
"Kak," ujar Usman pelan, "kenapa orang-orang tidak menyapa kita ya?"
Halimah menoleh, menyentuh kepala adiknya dengan lembut. "Jangan pikirkan itu, Dik. Kita fokus ke sekolah saja."
Hasan mengangguk, tapi wajahnya masih muram. Mereka melanjutkan perjalanan, menyusuri jalan kampung yang sudah mulai ramai dengan aktivitas pagi.
Dari kejauhan, beberapa ibu yang sedang mengangkat air di sumur melihat mereka datang. Mereka langsung berhenti berbicara, menunduk atau mengalihkan pandangan. Seseorang bahkan menyuruh anak-anaknya masuk rumah.
"Kakak..." bisik Hasan, menggenggam tangan Halimah lebih erat.
"Tenang saja, Hasan." Halimah mencoba memberikan senyuman, tapi hatinya terasa sesak. Ia menyapa seorang bibi yang dulu sering memberikan kue pada mereka, tapi wanita itu hanya menggeleng perlahan dan berbalik pergi.
Ini karena aku anaknya 'antek kompeni', pikir Halimah dengan rasa sakit yang mendalam. Mereka tidak melihat aku sebagai Halimah—hanya sebagai anak dari orang yang mereka benci.
Dari balik pagar rumah, Sulaiman menyaksikan semua itu. Matanya menyipit, tangannya mengepal di atas rel beranda. Samsul berdiri di belakangnya bersama dua centeng lain yang masih setia—juga melihat kejadian itu dengan wajah canggung.
"Tuan..." ujar Samsul pelan.
"Saya lihat, Samsul." Sulaiman menghela napas panjang, wajahnya mulai memerah karena kemarahan. "Ini semua kerjaan Maringgih! Dia yang membuat mereka berpaling padaku. Dia yang sengaja mengubah sikap mereka agar aku terpuruk!"
Samsul terdiam, tidak berani membantah. Dua centeng di belakangnya hanya saling pandang.
Di kejauhan, Halimah dan dua adiknya masih berjalan. Beberapa anak lain yang juga akan pergi ke sekolah Belanda melihat mereka, tapi langsung ditarik pergi oleh orang tuanya sebelum bisa menyapa.
Saat sampai di gerbang sekolah, pagar besi yang tinggi dengan tulisan bahasa Belanda terpampang jelas. Beberapa orang tua lain sudah ada di sana, mengantar anak-anaknya—semua berasal dari kalangan penting pribumi atau keluarga pegawai tinggi kompeni.
Namun ketika Halimah sampai, mereka juga memilih untuk tidak menyapa. Bahkan salah satu ibu yang dulu sering berbicara dengan Siti, hanya memberikan pandangan dingin sebelum masuk ke dalam halaman sekolah.
"Kamu dua masuk saja ya," kata Halimah pada Usman dan Hasan. "Jangan lupa perhatikan pelajaran."
Usman mengangguk. "Baik, Kak. Kamu hati-hati pulangnya ya."
Hasan mencium tangan kakaknya. "Aku sayang Kakak."
Setelah melihat kedua adiknya masuk ke dalam sekolah dengan aman, Halimah berbalik untuk pulang. Perjalanan kembali terasa lebih panjang dan sunyi. Beberapa kali ia mencoba menyapa tetangga yang lewat, tapi tidak ada satu orang pun yang mau menjawab.
Ia melihat beberapa petani sedang berkumpul di warung teh dekat pasar. Ketika melihatnya datang, mereka langsung diam dan sebagian pergi meninggalkan warung.
Hatinya hancur berkeping-keping. Ia tidak pernah menyakiti siapapun. Ia selalu berusaha bersikap baik pada semua orang. Tapi hanya karena ayahnya bekerja untuk kompeni, ia harus diterima seperti ini.
Di rumah, Sulaiman masih berdiri di beranda ketika melihat Halimah kembali dengan wajah pucat dan lesu. Samsul dan dua centeng lainnya berdiri agak jauh, menjaga dengan setia.
"Halimah," panggil Sulaiman dengan nada tajam, "kau lihat kan? Ini semua kerjaan Maringgih! Dia telah menghasut seluruh kampung untuk memusuhi kita!"
Halimah mendekat, air mata sudah mulai menggenang di sudut matanya. Ia kenal betul Datuk Maringgih—pria yang dulu sering bermain dengannya dan adik-adiknya, yang selalu memberikan nasihat baik dan pernah membantu keluarga mereka saat kesusahan. Ia tidak bisa percaya bahwa lelaki itu akan melakukan hal seperti yang dikatakan ayahnya.
"Ayah... Datuk Maringgih tidak seperti itu. Dia tidak akan pernah—"
"Kau tidak tahu apa-apa!" potong Sulaiman dengan suara tinggi. Matanya merah. "Dia pandai menyembunyikan wajah aslinya! Semua kebaikannya hanya untuk membodohi orang!"
Samsul dan dua centeng menunduk, tidak berani ikut campur.
Halimah merasa tidak tega untuk melanjutkan pembicaraan. Ia tahu ayahnya sedang marah dan tidak bisa berpikir jernih. Daripada bertengkar atau menyakiti hati ayahnya lebih jauh, ia hanya menggeleng perlahan dan berbalik pergi.
"Maafkan saya, Ayah."
Tanpa melihat lagi wajah ayahnya, Halimah berjalan cepat menuju kamarnya, menutup pintu dengan lembut di belakangnya. Setelah berada di dalam kamar sendirian, air matanya pun keluar deras. Ia menangis sambil menutup mulutnya agar tidak terdengar oleh orang lain—menangis karena keadaan keluarga yang semakin sulit, karena tidak bisa membela orang yang ia tahu baik hati, dan karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah segalanya.
Di luar kamar, Sulaiman menatap pintu yang tertutup dengan wajah campur aduk. Siti yang datang dari dapur melihatnya dan hanya bisa menghela napas panjang.
"Abang," Siti mendekat, suaranya pelan, "apa yang Abang pikirkan?"
Sulaiman tidak menoleh. "Kau lihat sendiri, Siti. Mereka... mereka semua berpaling."
"Aku lihat."
"Aku bukan orang jahat. Aku bekerja untuk VOC. Aku menjalankan aturan. Kenapa mereka—"
"Abang." Potong Siti lembut. "Mereka punya alasan."
Sulaiman menoleh. "Alasan apa?"
Siti ragu. Tapi akhirnya berkata, "Mereka melihat Abang menyiksa Salim. Mereka melihat Abang memukuli Mahmud. Mereka melihat istri Salim ditarik rambutnya. Itu yang mereka lihat."
Sulaiman membeku.
"Aku menjalankan perintah—"
"Perintah dari kompeni." Siti menyelesaikan. "Dan di mata mereka, kompeni adalah musuh. Sekarang Abang adalah bagian dari kompeni."
Sulaiman ingin membantah. Tapi kata-kata itu menggantung di udara.
Siti melanjutkan, "Mereka tidak percaya cerita Abang tentang Maringgih. Karena mereka tahu Maringgih. Mereka lihat sendiri Maringgih turun tangan, menghentikan penyiksaan. Mereka rasakan sendiri harga rempah naik."
Ia menatap suaminya dalam-dalam.
"Abang bisa bicara apa pun di rumah ini. Tapi di luar sana... mereka punya mata dan telinga sendiri."
Hening.
Sulaiman menunduk. Tangannya menggenggam erat kursi kayu.
"Jadi... aku tidak bisa apa-apa?"
Siti diam. Tidak menjawab.
Zubaidah yang sedari tadi mengintip dari dapur, keluar. "Abang, mungkin kita bisa—"
"Bisa apa?" potong Sulaiman tajam. "Buka suara? Bilang ke mereka bahwa Maringgih jahat? Mereka akan tertawa."
Zubaidah diam.
"Mereka sudah memberi label padaku." Sulaiman berdiri. Berjalan ke jendela. "Antek kompeni. Pengkhianat. Algojo."
Ia memandang kampung yang dulu akrab, kini asing.
"Dan label itu tidak bisa lepas."
Samsul masuk. "Tuan, saya sudah panggil beberapa anak buah. Yang masih setia ada lima orang. Mereka siap kapan pun."
Sulaiman menoleh. "Lima?"
"Maaf, Tuan. Yang lain... mereka takut. Istri mereka diancam tetangga, anak-anak mereka tidak diajak main."
Sulaiman tertawa pahit. "Lima orang. Cukup."
Samsul mengangguk. "Saya akan jaga Tuan, apa pun yang terjadi."
"Terima kasih, Samsul. Kau boleh pergi sekarang."
Samsul keluar. Sulaiman kembali memandangi kampung.
Lima orang. Dari puluhan anak buah yang dulu selalu siap menjalankan perintahnya. Kini hanya lima yang tersisa.
Ini yang disebut sepi, pikirnya. Sepi di tengah keramaian.
Sore hari, Usman dan Hasan pulang dari sekolah. Wajah mereka muram.
"Kenapa?" tanya Zubaidah.
Usman menjawab lirih, "Teman-teman... mereka bilang Ayah jahat."
Hasan menangis pelan. "Mereka bilang Ayah suka pukul orang. Mereka bilang Ayah... antek kompeni."
Zubaidah memeluk mereka. "Jangan dengar kata orang, Nak."
Tapi Usman melepaskan pelukan ibunya. Ia menatap ayahnya yang duduk di ruang tamu.
"Ayah... itu benar? Ayah suka pukul orang?"
Sulaiman menatap anaknya. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada suara keluar.
Usman menunggu. Tapi ayahnya hanya diam.
Lalu Usman berlari ke kamar. Hasan mengikuti.
Sulaiman masih duduk di tempatnya. Beku.
Halimah yang melihat semuanya dari ambang pintu, hanya bisa diam. Hatinya perih—bukan untuk ayahnya, tapi untuk adik-adiknya yang mulai melihat kenyataan.
Malam turun. Lampu-lampu di rumah Sulaiman menyala temaram.
Tidak ada canda tawa seperti biasa. Usman dan Hasan diam di kamar. Halimah membaca buku di sudut, tapi matanya kosong—pikirannya jauh. Siti dan Zubaidah sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Sulaiman duduk di beranda, sendirian. Angin malam berdesir, membawa dingin yang menusuk tulang.
Samsul mendekat dari balik pagar. "Tuan, sudah malam. Lebih baik Tuan masuk."
Sulaiman menggeleng. "Kau pulang, Samsul. Istirahat. Besok kau harus jaga rumah."
Samsul ragu. Tapi akhirnya mengangguk. "Baik, Tuan. Saya pamit."
Ia pergi. Meninggalkan Sulaiman sendirian.
Sulaiman memandangi kampung yang gelap. Di sana, di balik jendela-jendela yang mulai padam, orang-orang tidur dengan damai. Mereka tidak tahu—atau tidak peduli—bahwa ia sedang terpuruk.
Maringgih, pikirnya. Kau menang. Tapi ini belum selesai.
Ia mengepalkan tangan.
Diam ini bukan kalah. Ini strategi.
Diam menjadi senjata. Dan senjata itu menunggu waktu.
Di dalam rumah, dari balik jendela kamarnya, Halimah mengamati ayahnya. Ia melihat bahu ayahnya yang turun naik, tangan yang mengepal, kepala yang menunduk.
Hatinya teriris. Tapi ia juga tahu—ayahnya tidak akan pernah berubah. Dan ia, Halimah, harus memilih jalannya sendiri.
Ia menutup jendela. Berbaring. Memejamkan mata.
Tapi tidur tak kunjung datang.
Karena di luar sana, ayahnya sedang merencanakan sesuatu. Dan Halimah takut—bukan pada ayahnya, tapi pada apa yang akan terjadi jika rencana itu gagal.
Di kamar sebelah, Usman berbisik pada Hasan, "Kakak, apa Ayah benar-benar jahat?"
Hasan tidak menjawab. Ia hanya memeluk bantalnya erat.
Di ruang tamu, Siti duduk diam, menatap lampu minyak yang mulai redup. Ia berdoa dalam hati—semoga semua ini cepat berlalu. Semoga keluarganya selamat.
Tapi doa itu terasa hampa.
Karena di luar sana, kampung telah memilih pihaknya. Dan pihak itu bukan mereka.
[Bersambung...]